
HAPPY READING đź–¤
Bryan mematikan ponselnya lalu melemparnya ke atas meja. Dirinya lagi-lagi mengusap wajahnya kasar. Tapi tak lama hembusan nafas lega terdengar di bibirnya.
"Syukurlah." gumamnya pelan. Ia bersyukur gadisnya tidak melakukan hal yang ia pikirkan sedari tadi.
Ia tau gadisnya masih bersedih. Saat menyapanya tadi, suara Elena seperti habis menangis. Bryan tau pasti Elena kembali mengingat sang Bapak.
"Aku harus bagaimana?" gumam Bryan pelan. Ia mencoba memikirkan cara agar gadisnya itu tidak bersedih lagi.
Tak lama, tiba-tiba sesuatu hinggap di atas kepalanya. Dengan cepat ia kembali mengambil ponselnya lalu membuka situs internet yang ada disana.
'Cara membuat wanita bahagia'
Bryan menatap layar ponselnya dan membaca satu persatu kata yang muncul. Dirinya jadi binggung sendiri membacanya. Antara malu dan jijik.
Apa aku harus melakukannya?
Bryan menggelengkan kepalanya pelan. Apa dirinya harus melakukan apa yang internet itu suruh? Bryan jadi frustasi sekarang! menatap wajah Elena saja sudah membuatnya gugup, apalagi jika dirinya melakukan apa yang tertulis di situs internet itu?
____
Elena menatap Aiden dengan pandangan sedikit terkekeh.
"Kamu habis mandi ya Den?" kekeh Elena. Melihat jika pria didepannya masih memakai handuk.
Aiden yang memasang wajah kesalnya itu lantas mengangguk. "Gara-gara Kak Bryan tuh. Udah ya Kakak Ipar, gue mau lanjutin mandi." lanjut Aiden dengan tersenyum, menampilkan kedua lesung pipinya.
"Yaudah sana." ucap Elena dengan ikut tersenyum.
Setelah berpamitan, Aiden pun berlalu dari hadapan Elena dan berjalan keluar dari kamar milik Bryan. Pria itu akan kembali melanjutkan mandi siangnya.
Melihat Aiden yang sudah pergi dari sini, Elena pun kembali menghembuskan nafasnya kasar. Ia berjalan mendekat menuju ranjang lalu duduk di tepian-nya.
Dirinya sudah memiliki jawaban untuk semua ini. Mungkin saat Bryan tiba, Elena akan langsung berbicara soal hubungan mereka berdua.
"Huh. Semoga keputusan-ku ini benar ya Tuhan." gumam Elena menunduk. Semoga saja Bryan meng-iyakan ucapannya nanti.
Dengan wajah lusu, Elena mendongakkan wajahnya dan melirik jam dinding yang berada di atas lemari didepannya.
__ADS_1
Jam disana menunjukan sudah waktunya untuk makan siang. Elena sedari tadi memang berada di kamarnya, sarapan-pun ia habiskan di kamar milik Bryan. Dirinya menjadi hilang selera makan akhir-akhir ini. Asam lambungnya pun sekarang sering naik karna seringnya telat makan.
Setiap malam Elena selalu memikirkan sang Bapak. Walau dirinya sudah mengikhlaskannya namun tetap saja hatinya masih tak rela dengan kepergian Dimas.
Tok Tok Tok!
Elena segera mengalihkan tatapannya kearah pintu. Sepertinya ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamar ini dari luar.
Tok Tok Tok!
Dengan cepat, Elena menghapus jejak air matanya lalu menormalkan kembaki wajahnya. Ia lantas bangkit dan berjalan mendekat kearah pintu.
Ceklek!
"Lama banget sih bukanya!"
Saat sudah membuka pintu, Elena menangkap sosok gadis cantik di depannya. Dengan mengulas senyum. Elena pun menyapa gadis itu dengan isyarat wajah. Ya, siapa lagi jika bukan adik iparnya?
Chaca nampak menekukkan wajahnya kesal. "Lo itu bukan siapa-apa disini! tapi makan aja harus pake dipanggilin dulu." kesalnya.
Elena terdiam. Bukannya ia ingin dipanggil terlebih dahulu, namun ia memang belum lapar sekarang, jadi dirinya tidak turun ke lantai bawah untuk mengambil makanan-nya.
Elena pun mengangguk. "Iya, nanti saya ke bawah."
"Jangan nanti Kakak Ipar! Lo harus kebawah sekarang!" Chaca menarik tangan Elena kasar, lalu mengenggam lengan wanita itu dan menuntunnya untuk turun ke lantai bawah.
Elena yang belum siap pun langsung melangkahkan kakinya cepat, mensejajarkan tubuhnya dengan Chaca. Gadis itu menariknya dengan sedikit kasar, membuatnya sedikit merasakan sakit ditangannya.
Chaca berjalan membawa Elena turun ke lantai satu. Saat sudah menuruni tangga, Chaca pun melepaskan genggaman tangannya dan menghadap menatap Elena.
"Shhh." Elena sedikit meringis ketika Chaca melepaskan genggamannya. Tangannya nampak terlihat memerah.
"Gue gak mau nemenin Lo ke meja makan. Disana ada Mamah, Lo kesana aja sendiri. Gue mau keluar dulu sebentar." tutur Chaca menatap sinis Elena. Ia sedikit tersenyum melihat Kakak Iparnya yang seperti menahan sakit. Ya, dirinya memang sengaja menarik tangan Elena kasar.
Dengan memegangi tangannya. Elena pun mengangguk, meng-iyakan ucapan gadis didepannya. "Iya. Hati-hati di jalan ya Cha."
Chaca terdiam sebentar. Otak-nya berfikir keras. Untuk apa dirinya mengatakan jika akan keluar sebentar pada Kakak Iparnya? lagian juga seharusnya Elena marah-marah ataupun mengatai dirinya karna tarikan tangannya yang cukup keras tadi, tapi perempuan itu malah tetap tersenyum dan menatapnya lembut.
"Gue gak butuh perhatian dari Lo." Chaca melongos begitu saja dari hadapan Elena, setelah mengatakan itu.
Elena menatap diam kepergian Chaca. Ia jadi binggung, adik iparnya itu sebenarnya membencinya karna apa? Elena sedikit menggeleng kepalanya dengan terkekeh. Gadis itu sangat lucu jika menatapnya seperti tadi, bukannya menakutkan tapi malah menggemaskan dimatanya.
__ADS_1
Dengan kaki lesu. Elena pun berjalan menuju arah dapur. Mungkin dirinya akan makan sedikit saja hari ini, mood makan di tubuhnya benar-benar turun sekarang.
Sampai di dapur, Elena pun tersenyum menatap sosok wanita dewasa yang nampak sedang menyusun piring di meja makan.
Meldi yang merasakan ada seseorang di belakangnya langsung menoleh dan menatap menantunya yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya. "Eh, Na?" Meldi lantas menaruh piring yang ada ditangannya lalu mendekat ke tubuh Elena.
"Kamu mau makan?" lanjut Meldi lembut, ketika sudah berada di depan Elena.
"Iya Mah," jawab Elena dengan mengangguk.
Meldi meraih pelan tangan Elena, dan menuntun menantunya untuk duduk di meja makan.
"Kamu mau makan sama apa hm? ada banyak tuh menu-nya. Makan yang banyak ya sayang."
Elena tersenyum menatap mertuanya. Ia pun lantas duduk di kursi meja makan. Mertuanya itu sangat perhatian sekali padanya akhir-akhir ini, rasanya sudah seperti di perhatikan oleh Ibu kandungnya sendiri. Memikirkan itu, Elena jadi mengingat almarhum Ibundanya.
"Makasih." lembut Elena.
Meldi pun mengangguk. "Sama-sama. Kamu harus makan yang banyak ya, supaya kamu kuat." Meldi sebenarnya tidak tega menatap Elena yang makin hari makin kurus. Ia tau pasti Elena masih memikirkan soal Bapaknya.
Dengan lembut, Meldi mengelus puncuk rambut Elena. "Kamu harus bisa mengikhlaskan Bapak kamu Na, Mamah tau ini berat. Tapi kamu coba untuk melepaskan Bapak kamu. Mamah jadi gak tenang kalo kamu murung kayak gini."
Mendengar itu membuat Elena terdiam.
"Jangan sedih lagi ya? disini ada Papah dan Mamah. Anggap kami juga sebagai orang tua kamu. Walau bukan orang tua kandung kamu, tapi kami tetap sama menyayangi kamu seperti layaknya anak kandung kami sendiri."
Elena merasakan ada gelayar aneh di hatinya. Ucapan Meldi ternyata mampu membuat hatinya terenyuh.
"Terimakasih ya Mah." Elena menatap Meldi sendu. Dirinya memang sudah menganggap mertuanya sebagai orang tua kandungnya sendiri. Tiba-tiba ia teringat kembali dengan keputusannya di kamar tadi. Apa dirinya yakin bisa melepas semuanya?
"Sekarang kamu makan ya?" ucap Meldi.
Elena pun mengangguk. "Iya."
"Yaudah Mamah ke kebelakang dulu. Inget, makan yang banyak," setelah mengucapkan itu, Meldi pun berjalan menjauh dari Elena dan berjalan menuju arah taman belakang.
Senyum masam masih tercetak di bibir Elena. Tak lama hembusan nafas terdengar di wajahnya.
Huh! semoga keputusan-ku ini adalah jalan terbaik. Amin
Tbc
__ADS_1