
"Sakit ya Mas?"
"Shhhh. Ck! kau ini tidak lihat apa dahi ku ungu seperti ini?!"
Elena menatap pedih Bryan di samping nya, sembari mengompres dahi pria itu pelan. Membasahinya dengan air dingin.
Setelah insiden Elena yang melihat kecoak di tubuhnya, wanita itu segera bangkit, lalu mendorong Bryan kencang, membuat Pria itu mundur dan membentur pinggiran wastafel.
Niat nya mencium Elena, Bryan malah merasakan di cium lantai. Mana dahinya benjol, ungu lagi. Sudah lengkap penderitaan hari ini karena ulah binatang coklat kecil itu!
"Ma-maaf," Elena menatap sedih Bryan. Masih dengan mengompres benjolan suaminya. "Ini semua karena aku," air mata di pelupuk Elena nampak muncul, mulai bercucuran turun membasahi pipinya.
Bryan menatap Elena datar, masih kesal dengan insiden tadi. Kecoak tidak dapat, kecupan pun tidak dapat. Nasib, nasib.
Melihat Bryan yang diam saja membuat tangisan Elena yang sedari tadi ia tahan runtuh. "Maa-maafin aku Mas, huaaaaa!"
Mendengar tangisan kencang Elena membuat Bryan menatapnya terkejut. "Hey! kenapa kau menangis?!" herannya. Yang seharusnya nangis pun seharusnya dirinya, dirinya yang luka. Tapi kenapa malah wanitanya yang menangis?
"Huaa hiks hiks." Elena menyesap ingus nya kencang. Masih dengan derai air mata yang turun. "In-ini se-semua kar-karena aku Mas, dahi Mas jadi ben-ben jol HUAAA!"
Tangisan Elena makin kencang membuat Bryan mendesah sebal. "****, sudah hentikan tangisan mu itu! aku tidak apa-apa."
Mengelap bawah hidung nya dengan lap kompresan yang ia pegang. "Ta-tapi ka-kalo ga-gapapa, wa-wajah nya ke-kenapa gi-gitu hiks hiks." berucap dengan terbata-bata, Elena masih dengan tangisannya. Membuat Bryan lagi-lagi mengumpat. Kenapa wanitanya jadi cengeng seperti ini?!
"Terus aku harus gimana? memangnya kenapa dengan wajahku?" kesal Bryan.
Jawaban yang di lontarkan Bryan sedikit terdengar membentak di telinga nya. Membuat Elena kembali menangis. "Huaaaaaa! jangan marah-marah!"
Tangisan Elena makin kencang. Mungkin suara nya bisa terdengar juga dari luar kamar.
Bryan yang melihat tangisan Elena tidak mereda-reda langsung memajukan bibirnya. Berinisiatif mengecup pelan bibir Elena.
Cup!
Elena mengerjapkan matanya, menghentikan tangisannya.
Setelah melakukan hal itu, Bryan menjauhkan wajahnya. Menatap manik mata sendu Elena. "Sudah diam. Aku tidak marah."
Menghapus jejak air matanya. "Ta-tapi wajah Mas nya-"
Bryan tersenyum lebar. Membuat Elena terdiam. "Lihat? aku tersenyum, sudah jangan menangis." ia mengelus benjolan di dahinya, lalu sedikit meringis. Benjolannya memang tidak terlalu besar. Tapi sangat terasa sakit. "Sudah lebih baik kau istirahat. Aku tau pasti kau lelah bukan habis jalan-jalan bersama anak itu?" bangkit dari duduknya. Bryan mulai melangkah menuju kamar mandi. Berniat menyiapkan sendiri air panasnya.
Elena yang melihat memajukan bibirnya. Menatap kepergian Bryan. Apa pria itu benaran marah padanya?
Ikut bangkit. Elena segera berlari mendekati Bryan. Memeluk Bryan dari belakang.
"Maafkan aku."
Bryan menghentikan langkahnya. Terdiam ketika merasakan pelukan hangat Elena.
"Jangan marah."
Menghembuskan nafas pelan. Bryan melepaskan tangan Elena lalu memutar tubuhnya, menatap istrinya itu. "Aku tidak marah." menangkup wajah wanita di depannya. "Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Sudah jangan menangis."
Elena menatap manik mata Bryan. Tatapan yang dulu dingin kini berubah menjadi lembut. Sekarang dirinya menyukai tatapan pria ini. Tidak ada lagi tatapan datar ataupun yang lainnya. Mungkin hanya jika Bryan sedang marah padanya, tatapan pria itu langsung berubah. Tapi, selebihnya tatapan ini yang sang selalu di tunjukkan Bryan.
Cup!
Bryan membulatkan matanya ketika Elena menyambar bibirnya. Terkejut? iya! tidak biasanya Elena memulai pertama seperti ini.
Namun, Bryan tetap menyukainya. Ia mulai mengikuti permainan Elena di bibirnya. Tangannya pindah, bergerak kepada tengkuk kepala belakang Elena. Menuntun permainan ini.
Merasakan balasan, Elena mulai mengalungkan tangannya pada leher belakang Bryan. Sebenarnya ia malu, tapi entah kenapa ia ingin melakukan ini. Mungkin sebagai permintamaaf-aan nya?
Keduanya mulai menikmati kegiatan mereka. Merasa dunia hanya milik mereka berdua. Bryan menciumi Elena sedikit menuntut, membuat Elena harus bisa menyeimbangi gerakan bibir Bryan.
Tak lama, tautan mereka pun terlepas. Elena segera menghirup udara dalam-dalam.
"Mau-?" Bryan menatap Elena, masih dengan wajah dekat.
__ADS_1
Dengan malu, Elena menunduk, lalu mengangguk.
Bryan tersenyum lalu segera mengangkat tubuh Elena, hal itu membuat Elena segera mengalungkan tangannya pada leher Bryan, akibat gendongan dadakan itu.
"Mas!"
Cup!
Bryan kembali ******* bibir Elena dengan kaki yang masih berjalan menuju ranjang. Tentunya Elena membalas ciuman itu dengan senang hati.
"Shhh.. emm." Sampai di ranjang. Bryan lantas merebahkan tubuh Elena di atas sana. Masih dengan tautan bibir yang tidak di lepaskan.
Melihat Elena yang sudah kehabisan nafas. Bryan segera melepas bibirnya, lalu turun pada leher Elena. Mengecup kulit itu sedikit keras, memberi tanda bahwa Elena hanya miliknya.
"Ahhh." Elena mengigit bibir bawahnya. Sudah di pastikan leher nya akan ungu nanti.
Menatap sebentar manik mata Elena. Mengelus wajah wanitanya. Bryan kembali pada kegiatannya dengan tangan yang mulai mengelus perut Elena.
******* terus menerus muncul di bibir Elena. Pertanda jika wanita itu menikmati permainan Bryan.
Setelah puas dengan kegiatan nya. Bryan menatap leher serta pundak Elena. Terlihat warna keunguan disana. Membuat Bryan tersenyum, dengan hasil karyanya.
Sedikit menjauhkan wajahnya. Tangan Bryan mulai melepaskan kancing baju Elena. Siap untuk menikmati makan malamnya. Namun, saat kancing terakhir akan di lepaskan Elena mengeluarkan suara membuat Bryan menghentikan tangannya.
"Stop Mas."
Bryan menatap mata Elena. Terlihat jelas dirinya kebinggungan. Ada apa dengan wanita ini?
Meremas sprei. Elena memejamkan matanya, menghembuskan nafas pelan. Lalu membukanya dengan mulut menguap. "Huaa, aku ngantuk Mas, besok aja ya?"
Bryan menganga. Elena segera mengambil kesempatan untuk mendorong bahu Bryan pelan untuk bangkit dari tubuhnya. Dan membenarkan pakaiannya lalu mundur, menuju sisi ranjang.
Masih dengan wajah kebingungan. Bryan menatap Elena yang mulai mengambil bantal dan selimut.
"Lanjut besok ya Mas? mending Mas mandi. Tadi katanya mau mandi kan?" Elena tersenyum menatap Bryan, lalu membalikkan badannya. Menutup tubuhnya dengan selimut, berniat akan tidur.
Masih dengan berdiri. Bryan menatap diam punggung belakang Elena.
Tapi melihat Elena, dirinya jadi tidak tega untuk memaksa di lanjutkan. Apalagi ia tau Elena tadi habis pergi bersama Chaca keluar.
"Ck," mendesah sebal. Bryan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Terpaksa ia melanjutkan ini di kamar mandi sendiri.
Mendengar langkah kaki menjauh. Elena mengintip dari balik selimut. Menatap Bryan yang berjalan menuju kamar mandi.
Merapatkan tangannya. "Maafkan aku ya Tuhan." melirik Bryan yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Elena menutup kembali seluruh tubuhnya di balik selimut.
"Maafin aku Mas. Aku terpaksa. Disuruh Papahhh."
...---...
Malam harinya.
Elena membuka sedikit mata nya ketika mendengar suara dering ponsel berbunyi. Mengerjapkan mata lalu menatap jendela besar di depannya.
Masih gelap.
Ia melirik jam dinding yang berada di atas lemari depan ranjang.
"Setengah dua belas." gumam Elena. Ia lalu melirik ke arah belakang. Terlihat Bryan tertidur disana, sembari memeluk nya dari belakang.
Dengan perlahan. Ia menurunkan tangan Bryan yang melingkar di perut. Sangat hati-hati, agar Bryan tidak terbangun.
Setelah terlepas. Elena segera turun dari ranjang, dan berjalan menuju pintu.
Sampai di pintu kamar. Elena menoleh kembali menatap ranjang. Bryan masih terdiam disana. Membuat lengkungan bibir nya muncul.
"Aman." Memastikan Bryan tidak terbangun, Elena memegang knop pintu, membuka nya. Berniat akan keluar dari sini.
Ceklek!
__ADS_1
"Kakak ipar!"
"Astaga." Mata Elena membulat sempurna, terkejut ketika melihat dua orang sudah berdiri tepat di hadapan nya. "Kalian ngapain disini?"
Chaca berserta Aiden tersenyum.
"Kita mau mastiin Kak Bryan udah tidur atau belum." balas Chaca sedikit berbisik.
"Mastiin?" Elena menatap pintu yang baru terbuka di belakang nya. "Mastiin nya gimana? kan pintu di tutup."
"Lewat lubang kunci pintu lah." tersenyum bangga, Chaca melirik Aiden di sebelah nya. "Yakan Kak."
Tunggu. Elena terbelak seketika. Kunci pintu? Jika melihat dari luar lewat lubang kunci bisa, artinya.. apa bisa saja ada orang yang mengintipnya ketika berada di dalam selama ini?
"Bisa? keliatan emang?"
Chaca menggeleng. Kembali menatap Elena. "Enggak."
Menurunkan wajahnya. Padahal jantung Elena sudah merasa dag-dig-dug ser di buat. "Kirain keliatan." selanjutnya Elena mengelus dadanya tenang, syukur lah, ternyata tidak bisa di lihat. Ia hanya takut saja, ada orang asing yang tiba-tiba melihat kamarnya dari kunci knop pintu. Tidak ada yang tau kan? kali saja dirinya sedang ekhem-ekhem ada yang lihat? bahaya!
"Padahal kamar Chaca bisa. Kok kamar kakak enggak ya?" binggung Chaca. Jika dirinya sedang malas keluar, ia selalu mengintip lewat lobang kunci pintunya. Melihat siapa saja yang lewat di depan kamarnya, agar dirinya bisa memanggil orang itu.
Menaikkan bahunya. "Enggak tau." balas Elena ikut binggung. "Tapi Mas Bryan udah tidur kok, udah aman. Yuk turun." setelah berbicara itu, Elena tersenyum lalu mulai berjalan, menuju tangga bawah. Tak lupa menutup pintunya kembali
Melihat kakak iparnya sudah berjalan, Chaca melirik Aiden. Keduanya masih diam di tempat. "Kenapa ya kak?"
Dengan malas. Aiden memutar bola matanya. "Udah suami istri. Beda!" ia lantas ikut melangkah mengikuti Elena yang sudah di depannya.
Mengerut kan dahinya. "Hah?" Chaca kembali menatap pintu yang sudah tertutup di depannya.
Kenapa bisa beda?
...--...
"Kamu udah bangun Na?" Meldi menatap menantunya yang terlihat turun menuruni tangga.
Mengangguk, berjalan mendekati Meldi. "Udah Mah."
Tersenyum. "Bryan?"
Elena menggeleng lemah. "Bryan masih tidur di kamar."
"Baguslah." mengalihkan tatapannya pada Abraham yang berdiri tak jauh darinya. "Jadi gimana nih Pah?"
Abraham menatap Elena. "Kayaknya kita harus buat pancingan agar Bryan turun."
Elena yang mendengar hanya diam. Tidak mengerti.
"Maksudnya?" Meldi bertanya.
Abraham tersenyum miring, lalu menatap Chaca yang turun dari tangga. "Cha, kamu mau kan bantuin Papah?"
Chaca yang baru menginjakkan kaki nya di lantai bawah langsung menyipitkan matanya. "Bantuin apa?"
...--...
Berjalan tergesa-gesa menaiki tangga. Wajah Chaca kini nampak khawatir, di liputi keringat yang bercucuran di dahinya.
TOK! TOK! TOK!
"KAK BRYAN! KAK BRYAN!" sampai di depan kamar milik Kakaknya, Chaca segera mengetuk pintu itu keras. Membuat suara menggema disini.
"KAK BRYAN! KAKAKKKKK!"
Ceklek.
"Berisik!" dengan wajah setenagh sadar. Bryan menatap Chaca yang berdiri di depan kamarnya. Tengah malam begini. Ngapain sih nih anak? ganggu tidur saja.
"Kak!" Chaca menggenggam tangan Bryan erat. "Kakak ipar!" suaranya kini berubah sendu. "Kak Elena, Kak"
__ADS_1
"Elena? kenapa?" bukannya Elena berada di? saat Bryan menghadap ke belakang, berniat mencari orang yang bernama tersebut. Alangkah terkejutnya jika ternyata Elena tidak berada disana. Kapan Elena pergi dari kamar ini?
"Kak Elena jatuh!"