Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB40: Cemburu?


__ADS_3

HAPPY READING❤


"Elena?" panggil Tia ketika melihat Elena yang diam saja.


"Eh." Elena menoleh. Ia kembali mengubah ekspresinya agar tidak dicurigai Tia.


"Kamu kenapa?"


Elena menggeleng menatap Bibinya sembari tersenyum manis. "Gapapa ko Bi." hatinya sakit mendengar fakta ini. Ternyata Wilson sudah menikah. Ia sama sekali tidak tau soal itu. Kenapa dirinya baru tau sekarang?


Tia lalu menatap kosong Elena. "Sebenarnya itu aib bagi keluarga saya." pelanya.


"Aib?" Elena mengerutkan dahinya binggung.


"Iya. Jesi-anak saya berpacaran dengan Wilson sudah melebihi batasnya, alhasil Jesi dinyatakan positif hamil. Untungnya Wilson mau bertanggung jawab dan menikahi anak saya." Tia mengingat masa-masa dimana hatinya hancur. "Sebenarnya saya kecewa sekaligus malu ketika anak saya bersikap yang membuat nama keluarga Atmaja tercoreng. Tapi mau bagaimana lagi? semuanya sudah terjadi."


Elena hanya diam, menunggu kelanjutan cerita dari Tia.


"Tidak banyak yang tau juga jika Jesi menikah karna hamil duluan. Mungkin hanya ada beberapa termasuk keluarga Abraham, suami kamu itu." lanjut Tia.


Elena melihat wajah Tia yang terlihat sedih. Ia tau pasti Bibinya ini merasa kecewa dengan anaknya. Ia turut prihatin dengan kejadian masa lalu yang menimpa sepupu suaminya.


Elena segera merapatkan tubuhnya pada Tia dan mengelus pelan lengan wanita itu. Dirinya merasa bersalah sudah menanyakan prihal figura yang menyebabkan Tia mengingat masa lalu anaknya.


"Maaf Bi. Saya jadi-"


"Gapapa kok Na, kamu juga berhak tau karna kamu sudah menjadi bagian keluarga ini." Tia tersenyum lalu mengelus puncuk kepala Elena.


"Ini salah Bibi karna kurang memperhatikan pergaulan anak Bibi. Makannya hal yang tidak diinginkan terjadi. Bibi dan paman-mu itu hanya sibuk kerja dan kerja tanpa tau teman dan lingkungan pertemanan Jesi." Tia menghembuskan nafasnya pelan lalu menurunkan tangannya dari kepala Elena. "Syukurnya kamu sudah menikah Na. Jadi suami kamu bisa memperhatikan lingkungan sama pertemanan kamu. Ya, menurut Bibi emang lebih baik langsung menikah daripada berhubungan yang tidak jelas statusnya." lanjutnya.


Elena mengangguk. Ya, ucapan Bibinya ini benar. Dirinya memang sedari dulu sudah ber-komitmen ingin langsung menikah saja daripada berhubungan yang tidak jelas statusnya. Memang sekarang dirinya juga sudah memiliki status yang resmi yaitu pernikahan, namun pernikahan ini bukan yang ia harapkan sedari dulu.


"Terus anak Bibi sekarang dimana?" Elena mengedarkan pandangan menatap segala penjuru arah. Dari tadi dirinya tidak melihat penghuni lain disini selain Tia, Arlan dan juga sang Maid yang tadi sempat membuka-kan pintu didepan.


"Semenjak mereka bercerai setahun yang lalu, anak saya pergi dan menetap diluar negri dengan cucu saya."


Mata Elena membulat. Jadi mereka sudah bercerai?


"Ce-cerai?"


Tia mengangguk. "Wilson ketahuan selingkuh saat itu, jadi anak saya menggugat cerai suaminya. Untungnya hak asuh Merry-cucu saya jatuh ke-tangan Jesi jadi saya sedikit lega dengan perceraian mereka."


Elena tak bisa menutupi keterkejutannya. Ternyata selama ini Wilson berstatus duda beranak 1.


Elena dekat dengan Wilson baru beberapa bulan yang lalu. Mereka kenal pun belum terlalu lama mungkin karna itu dirinya belum mengenal lebih jauh tentang masalalu Wilson.


"Huh." Tia menghapus jejak air mata yang sempat turun dikelopak matanya. "Kenapa jadi melow gini." kekeh Tia.


Elena hanya tersenyum membalas Tia. Hatinya masih syok mendengar semua fakta ini. Pantas saja Bryan mengatakan jika dirinya jangan berdekatan dengan Wilson, karna pria itu bukan pria baik.

__ADS_1


"Jesi anak satu-satunya Bibi. Semenjak kepergian dia, rumah ini berubah menjadi sepi." Tia menatap sekitarnya. "Bibi sedih karna dia memilih pergi ke luar negri tapi Bibi paham kondisinya yang mau melupakan mantan suaminya itu."


Tak lama raut wajah Tia berubah menjadi sembringah. "Tapi sekarang Bibi senang karna keluarga Atmaja bertambah." Tia menggenggam tangan Elena erat. "Kamu sering-sering kesini ya? Bibi merasa senang kalo kamu nemenin Bibi disini biar rumah ini gak sepi."


Dengan cepat Elena mengangguk. Entah kenapa dirinya ikut sedih, ia kasian dengan Bibinya ini yang terlihat kesepian.


"Saya akan sering menyempatkan waktu kesini Bi." ucap Elena tersenyum.


Tia mengangguk pelan. "Terimakasih ya Na, kamu gadis yang baik. Bibi senang Bryan bisa menikah dengan kamu."


Elena hanya mengulas senyumnya tipis.


Tiba-tiba dari arah kejauhan terdengar suara, membuat Tia dan juga Elena menatap asal suara itu.


Disana ada Bryan dan juga Arlan yang berjalan menuju tempat dimana kedua wanitanya duduk. Wajah mereka terlihat serius namun ditutup oleh wajah datar keduanya.


"Kita pulang." dingin Bryan.


Elena mengangguk. Lantas ia bangkit dari duduknya dan menatap Tia yang ikut bangkit juga.


Bryan berjalan keluar terlebih dahulu disusul tiga orang lainnya. Sampai didepan pintu mereka terlihat sedikit berbincang sebelum kepergian Bryan dan juga Elena.


"Makasih ya sudah menyempatkan mampir kesini." Tia tersenyum. "Sering-sering ajak istrimu ya Yan kesini, pintu rumah terlalu terbuka buat kalian." lanjutnya menatap Bryan.


Bryan mengangguk singkat. Meng-iyakan ucapan Bibinya.


"Kalo begitu aku dan Elena pamit." ucap Bryan dengan menganggam lengan Elena membuat sang empu terkaget menatapnya.


Kedua pasutri itu berjalan menjauh dari hadapan Arlan dan Tia menuju mobil yang terparkit dihalaman Rumah.


Saat sudah sampai dimobil, Elena berbalik sebentar menatap Arlan dan Tia. Ia melambaikan tangannya pada Tia sebagai tanda perpisahan. Dari arah kejauhan Tia pun melambaikan tangannya membalas lambaian tangan Elena.


Setelahnya mereka masuk kedalam mobil. Suara mesin mobil mulai terdengar, Bryan nampak bersiap untuk berangkat. Dirasa sudah siap Bryan pun meng-gas mobilnya melaju keluar dari halaman rumah Pamannya dan berjalan untuk kembali pulang kerumahnya.


__


Tia menghembuskan nafas pelannya menatap kepergian Bryan. Ia sedih karna kedua orang itu hanya sebentar berada disini.


"Kau kenapa?" sahut Arlan ketika melihat wajah sedih istrinya.


Tia menoleh lalu menggeleng pelan. "Gapapa ko Mas, aku cuma inget Jesi. Kira-kira mereka kapan pulang kerumah ini ya?"


Arlan terdiam. Ia tau pasti Tia merindukan anak semata wayangnya dan juga sang cucu.


"Mereka akan kembali secepatnya. Kau tidak usah sedih berlebihan. Aku memastikan mereka akan pulang secepatnya. Kita tunggu saja." Arlan menatap kosong depannya. Mobil Bryan sudah terlihat menjauh dari rumahnya. Ia pun jadi mengingat sang Anak. Semoga saja ada kabar baik di tahun ini tentang kepulangan Jesi dari luar negri.


__


Didalam mobil nampak terdengar hening. Elena hanya diam sedari tadi dengan pandangan fokus kepada jendela disampingnya lain dengan Bryan yang fokus menyetir.

__ADS_1


"Pak Dokter kenapa gak bilang sejujurnya sama saya?" lirih Elena.


"Apa maksud-mu?" ucap Bryan menoleh sebentar menatap Elena lalu kembali fokus ke hadapannya.


"Dokter kenapa gak bilang kalo ternyata Pak Wilson saudara ipar, Dokter."


Ckitttt!


Bryan menghentikan laju mobilnya. Ia sedikit kaget dengan ucapan Elena Bagaimana dia bisa tau?


"Bibi yang memberitahumu?"


Elena mengangguk.


Bryan mengusap wajahnya pelan. Masa lalu dimana saat sepupunya itu dirampas masa depannya dan di khianati setelah pernikahan, ingatan itu selalu terngiang-ngiang dipikiran Bryan jika sudah bertemu sosok Wilson.


"Tidak penting jika aku memberitahu-mu. Semuanya sudah masalalu." Bryan menatap Elena. "Makannya aku tidak suka jika kau berdekatan dengan pria itu. Dia bukan pria yang baik, aku harap kau tidak berhubungan dengan pria itu lagi dibelakang-ku." ucap Bryan dengan kembali melajukan mobilnya.


Elena terdiam. Ia tidak boleh sedih. Dirinya memang tidak seharusnya menyimpan perasaan pada Wilson.


Beberapa menit perjalan akhirnya keduanya sampai di rumah Bryan. Setelah memakirkan mobilnya, Bryan mematikan mesin lalu menatap Elena yang sedari tadi diam. Ia tau pasti gadis itu masih kaget dengan fakta ini.


"Jangan memikirkan pria lain. Aku tidak suka." dingin Bryan.


Elena melirik Bryan. Tidak suka? apa dia?


"Dokter cemburu?" entah kenapa mulut Elena gatal untuk mengatakan itu.


Mata Elena menangkap gerakan aneh di wajah Bryan. Pria itu nampak gugup?


"Iya aku cemburu."


Elena membulatkan matanya, menganga. Ja-jadi Dokter ini beneran cemburu? jika cemburu berarti?


Ya tuhan ada apa dengan jantungku


Elena merasakan jatungnya berdetak hebat. Kenapa dirinya yang menjadi gugup sekarang?


Bryan sekilas melirik Elena. Tak lama kekehan terdengar dibibirnya.


"Muka-mu lucu." tawa Bryan.


Elena kembali gugup dan salah tingkah melihat pria disampingnya terkekeh. Ini kali pertama ia melihat Bryan tertawa!


"Kau pikir aku benar cemburu? haha. Sudah benarkan lagi wajahmu itu. Aku tidak mungkin cemburu denganmu, karna aku tidak suka dengan perempuan kurus sepertimu. Jadi jangan pede dulu." setelah mengucapkan itu Bryan membuka pintu mobilnya lalu berjalan keluar meninggalkan Elena yang masih terdiam.


Elena menatap kepergian Bryan. Hatinya kesal dengan ucapan terakhir yang dilontarkan Bryan.


"Kurus, kurus! lihat saja nanti jika Dokter beneran suka sama saya! huh." dumel Elena. "Ya Tuhan pasti wajahku sudah memerah sekarang." Elena menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia malu!

__ADS_1


Tbc


__ADS_2