Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB72: Pernyataan Putri


__ADS_3

HAPPY READING GUYS🥰


Jangan lupa dukungannya dengan, Like, vote dan komennya yup biar yang nulis semangatttt!


Semuanya berkumpul di ruangan Elena sekarang. Ya, hari ini adalah hari dimana Elena akan menjalani operasi. Setelah mengecek keadaan tubuh Elena dan sang pendonor, para Dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi hari ini ketika memastikan semuanya sudah siap.


"Mamah yakin kamu kuat. Semoga berhasil ya sayang," Meldi memegang telapak tangan Elena erat, memberikan kekuatan pada menantunya ini.


Meldi dan Abraham sudah mendengar bagaimana kondisi Elena, mereka sempat syok terutama Meldi yang sempat pingsan kemarin, namun setelah mendengar Elena akan melakukan operasi donor mata hari ini, Meldi pun merasa lega karna Elena akan dapat melihat lagi.


Abraham dan Meldi pun sempat memarahi Chaca, karna anaknya itu lah Elena menjadi seperti ini. Chaca yang tidak merasa bersalah pun membela dirinya, dengan mengatakan jika ini bukan salahnya namun tidak ada yang mau mendengarkan dirinya membuat Chaca mendengus kesal.


Lain dengan Putri. Wajah perempuan itu sedari tadi terlihat redup. Saat ingin menjenguk Elena kembali kesini, ia diberi kabar jika adiknya akan melakukan operasi donor mata dan yang pastinya gadis itu akan bisa melihat lagi.


"Makasih ya Mah." jawab Elena dengan tersenyum tipis.


Aiden sedari tadi hanya diam di dekat pintu. Ia melipatkan kedua tangannya di dada sembari melihat gerak-gerik semua orang yang ada disini. Dirinya harus bisa memecahkan masalah ini secepatnya.


Chaca hanya memutarkan bola matanya melihat kedua orang didepannya. Ya, siapa lagi jika bukan Meldi dan Elena? Chaca hanya malas saja berada di rumah sakit. Padahal dirinya sudah bilang tidak mau ikut, namun tetap dipaksa oleh sang Papah untuk ke rumah sakit dan akhirnya mau tak mau ia pun ikut kesini.


"Jam berapa sih operasinya? perasaan lama banget." keluh Chaca. Ia benar-benar sudah tidak kuat berada di rumah sakit seperti ini.


Putri menatap sampingnya. Dirinya memang berdiri disamping seorang gadis yang ia kenal bernama Chaca, adik dari Bryan.


Abraham yang mendengarnya langsung menatap tajam Chaca, membuat gadis itu langsung terdiam. "Sebentar lagi operasinya dilakukan, tinggal tunggu Bryan kesini. Kamu lebih baik diem aja, jangan bawel."


Chaca memajukan bibirnya kesal.


Putri sedikit memiringkan senyumnya penuh maksud. Sepertinya gadis disampingnya ini tidak suka dengan Elena? mungkin dirinya akan berbincang-bincang dengan Chaca nanti.


Tak lama dari arah pintu ruangan masuk sesosok pria yang sedari tadi ditunggu-tunggu.


"Gimana Bryan?" ucap Meldi menatap sosok itu yang kini melangkah mendekatinya dan Elena.


Bryan mengangguk singkat. "Semuanya sudah siap, operasi akan dilakukan sekarang." Hatinya merasa senang sekarang, ia tidak sabar melihat gadisnya yang sebentar lagi akan kembali bisa melihat namun dibalik ke senangan itu dirinya juga merasa sedih soal mertuanya-Sarah.


Elena mengembangkan senyumannya lagi. Hatinya sedari tadi merapalkan banyak-bayak doa, semoga saja operasinya berjalan lancar dan dirinya akan bisa melihat lagi.


Bryan melangkah mendekat kearah Elena. Meldi yang melihat itu pun segera melangkah sedikit menjauh dari ranjang menantunya, memberi kesempatan untuk kedua orang itu berbicara.


"Aku yakin kau kuat. Tenangkan dirimu ya." bisik Bryan, ketika sampai di sisi Elena.


Elena hanya mengangguk, "Iya."


Beberapa suster terlihat masuk ke dalam ruangan Elena. Mereka menatap Bryan dengan pandangan bertanya, membuat Bryan langsung mengangguk kepalanya pelan.


Para suster pun segera mendekat ke arah ranjang Elena. Mereka akan membawa pasien sekaligus istri dari pemilik rumah sakit ini ke ruang operasi sekarang.


Meldi nampak menyatukan tangannya, memohon doa agar operasi menantunya berjalan dengan lancar.


Ranjang Elena terlihat mulai di dorong oleh para suster ke luar dari ruangan ini. Orang-orang yang berada di ruangan ini pun mengikuti para suster itu yang mengarah pada ruangan operasi, termasuk Putri.


Putri berjalan paling belakang diantara mereka semua. Wajahnya menyiratkan ada sesuatu dihatinya. Entah apa itu.


Sampai di depan ruang bertulisan operasi di atasnya. Mereka serempak menghentikan langkahnya dengan raut wajah cemas.


"Lakuin dengan hati-hati ya Yan." ucap Meldi menatap Bryan yang akan masuk ke dalam ruangan di depannya.


Bryan mengalihkan tatapannya pada Mamahnya dan anggota keluarga yang lain. "Hm, Mamah dan yang lain berdoa saja agar semuanya lancar."


Meldi mengangguk. "Mamah doakan yang terbaik, semoga operasinya berhasil."


Bryan ikut mengangguk singkat mendengar itu, setelahnya ia pun segera masuk kedalam ruangan operasi, tak lupa juga para suster yang menutup pintu ruangannya rapat-rapat.


___


Meldi menghembuskan nafasnya kasar. Ia sekarang duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan pintu ruang operasi Elena. Abraham pun setia berada disamping istrinya itu.

__ADS_1


"Jangan terlalu cemas. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja." sahut Abraham, memecahkan keheningan yang ada disini.


"Tapi kalo nanti terjadi sesuatu bagaimana? Pak Dimas sudah menitipi Elena ke kita, aku cuma gak mau hal yang-"


"Sut." Abraham memotong ucapan Meldi. "Jangan berfikir seperti itu, tenangkan dirimu, kita berdoa saja yang terbaik."


Mau tak mau akhirnya Meldi pun mengangguk. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang dan berfikiran positif.


___


Chaca hanya diam menatap kedua orang tuanya itu. Ia lebih memilih berdiri, sembari menyandarkan punggungnya pada dinding rumah sakit.


"Maaf, kamu adiknya Bryan kan? aku panggil kamu Chaca aja gapapa?"


Mendengar suara dari arah sampingnya, Chaca pun segera mengalihkan tatapannya pada orang yang bersuara tadi.


"Em iya, gapapa kok Kak. Panggil aja gue Chaca." jawab Chaca, menatap wanita yang kini ada di depannya. Ya, siapa lagi jika bukan Putri? Kakak dari kakak iparnya?


Putri pun mengangguk dan tersenyum.


Chaca ikut mengembangkan senyum hangatnya. Namun tak lama, ia merasakan ada sesuatu yang bersuara di perutnya, ia segera memegang perutnya itu dengan pandangan miris.


Melihat itu, Putri pun mengeluarkan kekehannya pelan. "Kamu laper ya?" tanya nya seakan tau apa yang terjadi pada tubuh Chaca. "Operasi bakal makan waktu banyak loh, gimana kalo kita ke kantin aja? sembari nunggu sembari makan. Kebetulan juga aku mau ke kantin, kita bareng aja." ajak Putri antusias.


Chaca memikirkan ajakan dari Putri. Apa dirinya ke kantin saja sekarang?


"Em." Setelah berfikir panjang, akhirnya Chaca pun mengeluarkan suaranya. "Yaudah deh boleh, Chaca juga laper." jawabnya dengan tersenyum.


"Yaudah hayuk."


Chaca mengangguk lalu melangkahkan kakinya mendekat kearah kedua orang tuanya.


"Mah, Pah, Chaca ke kantin ya sama Kak Putri." sahut Chaca, meminta izin pada Abraham untuk pergi dari sini.


Abraham dan Meldi yang sedang duduk pun mendongakkan kepalanya, menatap Chaca.


"Yasudah sana, jangan kabur loh ya, abis dari kantin kesini lagi." jawab Meldi masih dengan raut wajah khawatir.


Putri menatap kedua mertua adik nya itu dengan tersenyum, dan pamit untuk pergi dari sini.


Chaca dan Putri pun mulai melangkah, berjalan menjauh dari ruang operasi. keduanya akan ke kantin sekarang, untuk mengisi perut mereka yang kosong.


Aiden yang sejak tadi berdiri di samping Papahnya itu hanya menatap dalam kepergian mereka. Entah kenapa dirinya menaruh curiga pada kedua perempuan itu.


___


"Ternyata kamu lebih cantik aslinya ya Cha." tanya Putri, dengan kaki yang masih melangkah di samping Chaca.


Chaca tersenyum malu. "Makasih, Kakak juga cantik kok."


Tak lama berjalan, mereka pun sampai di kantin rumah sakit ini. Kantinnya cukup ramai namun tidak terlalu padat.


Mereka melangkah mendekat ke ujung kantin dan memilih duduk di meja yang di ada di pojok kantin ini. Keduanya duduk saling berhadapan sekarang.


Chaca mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Ia melihat-lihat beberapa etalasi berisikan berbagai macam makanan disini.


"Kamu mau makan apa Cha?" tanya Putri.


Chaca mengalihkan tatapannya pada Putri di depannya. "Em, Chaca mau bakso, mie ayam sama kwetiau goreng."


Putri menganga mendengar itu. "Kamu makan sebanyak itu?" Putri tak habis pikir. "Yakin bakal habis?"


Chaca seketika terkekeh. "Enggak kok Kak, bercanda. Gue mau bakso aja deh. Kak Putri mau makan apa?" sebenarnya Chaca mau memakan itu semua, namun dirinya harus menjaga image di depan Kakak dari Kakak Iparnya.


Tak lama dari arah kejauhan terlihat wanita yang memegang kertas dan pulpen ditangannya. Ia berjalan mendekat kearah meja yang di duduki Putri dan Chaca.


"Permisi Nona Chaca, Mbak." ucapnya menatap Chaca terlebih dahulu lalu menatap Putri. Dia tak lain adalah pelayan menerima pesanan dikantin ini. "Em, mau pesan apa?"

__ADS_1


Keduanya pun segera menatap asal suara itu. Mereka melihat ada sesosok wanita di depannya.


"Saya mau Bakso satu, pedes nya banyakin terus minumannya teh tawar aja." sahut Chaca. Ya, bakso adalah salah satu makanan favoritnya yang cukup ia suka karna mudah dicari dimana-mana.


"Kalo saya orange jus aja ya Mbak." timpal Putri.


Chaca segera menatap Putri. "Kakak gak makan?"


Putri menggeleng pelan. "Gak, aku udah makan kok tadi sebelum kesini."


Chaca membulatkan mulutnya ber-oh.


"Baksonya satu, es teh tawar satu sama orange jus nya satu. Ada yang mau di pesan lagi?" tanya kembali pelayan untuk memastikan jika pesanan kedua perempuan ini benar.


"Udah itu aja." Chaca kembali menatap sang pelayan. "Jangan lama-lama ya Mbak."


"Baik Nona. Kalo begitu saya permisi dulu. Mari," setelah itu, pelayan tadi pun berlalu dari hadapan Putri dan Chaca. Ia akan segera menyiapkan pesanan yang di pesan pembelinya ini.


Keduanya sekarang di landa keheningan. Chaca nampak fokus memainkan ponselnya, sedangkan Putri hanya diam sembari menatap sekelilingnya.


Tak lama Putri berdekhem pelan memecahkan keheningan di antara keduanya. "Gimana Elena selama ada di rumah kamu Cha?" pertanyaannya itu mampu membuat Chaca menatap ke arahnya dengan mematikan ponsel yang sedari tadi di pegangnya.


"Ya gitu," Chaca menyimpan ponselnya di atas meja dan menatap serius Putri. "Emangnya kemana Kak?"


"Gapapa kok, cuma nanya aja." kekeh pelan Putri.


Tiba-tiba Chaca merasakan ada sesuatu yang hinggap di otaknya. Dengan raut wajah tak enak, ia pun bertanya apa yang ada di pikirannya.


"Kalo boleh tau Kakak ipar itu orangnya gimana Kak?"


"Elena itu baik kok, cuman-" Putri mengubah ekspresi wajahnya membuat Chaca semakin penasaran.


"Cuman apa Kak?"


"Cuman ya-" Putri mengalihkan tatapannya pada sekitarnya lalu kembali menatap Chaca. "Namanya seorang Kakak mana ada sih ya yang jelek-jelekin adiknya sendiri, cuma kamu harus tau ini sih, kalo Elena itu bukan orang baik-baik."


Chaca mengerutkan dahinya. "Maksud Kakak?"


Putri mendekatkan wajahnya pada gadis didepannya. "Dia itu bukan seperti yang kamu pikirin. Wajahnya sih emang keliatan polos, cuman jauh di dalam dirinya dia itu beda banget."


Chaca diam tak bergeming. Entah kenapa dirinya merasakan ada sesuatu dengan ucapan yang di lontarkan Putri.


"Sebenernya juga Chaca sih dari awal denger Kak Bryan nikah sama Kakak Ipar, udah gak suka sama dia. Gaya nya kampungan banget, keliatannya sok polos gitu. Chaca gak suka." ucap Chaca setelah lama berdiam.


Putri memiringkan bibirnya di balik wajah datarnya. "Kalo gak suka kok kamu panggil Elena, Kakak Ipar?"


"Terpaksa," Chaca memajukan bibirnya kesal. "Kak Bryan minta buat gue hormatin dia sebagaimana gue hormatin Kak Bryan. Jadi gue harus panggil dia Kakak Ipar, kalo enggak bisa habis gue di marahin Kak Bryan."


Putri membulatkan bibirnya ber-oh. "Aku juga sempet kaget denger Elena nikah sama pria seperti Dokter Bryan. Aneh aja gak sih? perempuan kayak Elena bisa nikah sama anggota keluarga kamu?"


Chaca termenung. Ia berpikir ada benarnya juga ucapan Putri. Sedari dulu dirinya tidak pernah melihat Bryan berdekatan dengan wanita, namun kemarin dirinya di kejutkan dengan pernikahan sang Kakak.


"Maksud aku tuh ya, berpikir logis aja gitu, Dokter Bryan yang terkenal dengan cueknya sama perempuan, bisa-bisanya ngambil keputusan menikah sama Elena secepat ini? aku juga gak tau kalo ternyata Elena bisa deket dan kenal sama pria seperti Bryan. Soalnya dulu aku sama Elena gak begitu deket sih, jadi aku kurang tau sama kehidupan asmaranya juga."


Chaca menatap binggung Putri. "Gak deket?" masa ada seorang Kakak beradik yang tidak dekat? bukannya mereka berkeluarga? seharusnya dekat dong? apalagi satu rumah?


"Ya." Putri menghela nafasnya pelan. "Beberapa bulan lalu aku mutusin buat pindah rumah, karna aku gak kuat sama tingkah Elena. Dia suka banget pulang malem sambil dianter cowok kerumah. Tetangga banyak yang ngomongin keluarga kita jadinya, aku malu dan mutusin buat pindah rumah, tapi Elena dan almarhum Bapak lebih milih tetap tinggal di sana, aku udah bujuk mereka buat pindah ke rumah yang lebih besar, rumah yang aku beli dari hasil aku sendiri, cuman Elena tetep keukeuh mau tinggal di rumah lama, dan pastinya Bapak juga mau gak mau ngikutin Elena."


"Dan semenjak aku pergi dari rumah, aku denger Bapak mulai sakit-sakitan. Aku dulu mau ngajak Bapak ke rumah sakit buat periksa cuman Elena gak bolehin. Katanya Elena mau bawa Bapak ke rumah sakit dengan hasil uangnya sendiri. Dulu aku baik hati mau bayarin semua pengobatan Bapak biar Bapak cepet sembuh, cuma Elena tetep gak mau aku bantu. Katanya dia mau usaha sendiri. Egois gak sih? aku cuma mau bantu, apalagi Bapak dia juga kan Bapak aku sendiri? dan saat itu aku hafal dia kenapa begitu. Ternyata dia gengsi dan gak suka karna aku ada diatasnya. Aku lebih kaya dari dia." lanjut Putri.


"Jadi Kakak Ipar iri gitu?"


Putri mengangguk. "Dia emang punya sifat iri dari dulu, egois juga dari kecil. Sampe-sampe dulu almarhum Bapak sama almarhum Ibu dia rebut juga dari aku. Dia seolah-olah narik semua perhatian mereka buat cuman sayang aja sama dia. Sedangkan aku? dulu aku kesepian. Tapi aku tetep sabar sama sikap dia, bagaimana pun dia tetep adik aku. Aku sayang sama dia," Putri menghapus air matanya yang sedari tadi turun membasahi pipinya.


Chaca menatap kasian Putri. "Kakak jangan nangis. Chaca gak nyangka ternyata perempuan itu jahat banget sama Kakak. Seharusnya Kak Bryan tau soal ini, dan Kak Bryan harus tau kalo dia salah pilih pendamping hidup."


"Ya, aku pikir juga gitu. Pria kayak Bryan gak cocok sama Elena. Elena gak cukup baik buat dia. Aku cuman gak mau Kakak kamu sakit hati sama adik aku."

__ADS_1


"Kak Putri tenang aja, aku gak bakal biarin Kak Bryan di sakitin sama perempuan kayak gitu." kesal Chaca dengan pandangan kesal.


Putri terdiam menatap wajah kesal Chaca. Ia segera menghapus kasar air mata di pipinya lalu menatap gadis di depannya dengan datar.


__ADS_2