Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB59: Kesal Elena (2)


__ADS_3

"Beuh pagi-pagi udah curigaan kerja Lo Cha. Mulutnya tajem bener." sahut Aiden dengan pandangan mengejek.


Chaca menatap tajam Kakak keduanya itu. "Gue cuma ngeluarin pendapat aja sih. Secara pasangan suami istri tapi panggilannya masih formal, so? patut dicurigakan dong?" selidiknya.


"Panggilan bukan menjadi prioritas dalam suatu hubungan." Bryan menatap Chaca dengan datar. "Yang harus diutamakan dalam hubungan itu, hatinya."


Elena terdiam.


"Jika tidak saling mencintai untuk apa memulai suatu ikatan yang sakral?" Bryan melirik Elena sekilas. "Walau tidak cinta pun, seiring berjalannya waktu, pasti cinta itu akan hadir di dalam dua hati seiring keduanya bersama."


Abraham menaikkan smrik-nya mendengar ucapan dari Bryan. Ia tidak menyangka anaknya akan mengucapkan itu.


Bryan kembali menatap Chaca. "So? anak kecil diam saja. Ini urusan orang dewasa, seumuran-mu itu seharusnya fokus belajar. Jangan mengurusi yang namanya cinta."


Chaca mengeratkan tangannya pada garpu yang ia pegang. Niatnya ingin mempermalukan Elena, malah dirinya yang jadi malu sendiri.


Aiden menahan tertawanya ketika melihat ekspresi dari adiknya itu. Wajah merah padam serta gertakan dibibir Chaca membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.


"Kalo mau ketawa, ketawa aja." sinis Chaca melihat Aiden yang seperti menahan sesuatu.


Mendapat izin dari orangnya membuat Aiden segera membuka mulutnya lebar-lebar.


"Hahaha! kasian deh yang kena savage! makannya mulut itu diasah dulu sebelum ngomong. Jadi malu sendiri-kan! Hahahah Uhuk!" Aiden segera menutup mulutnya. Dirinya segera mengambil air dan meminumnya. Ia jadi terbatuk-batuk akibat tertawa tadi.


"Makannya jangan nge-tawain orang! kena azab kan." Chaca terkekeh pelan lalu menatap Elena sinis. Dirinya jadi malu karna wanita itu.


Elena hanya diam. Dirinya menatap orang-orang yang ada disini. Dirinya binggung akan berbicara apa, jadi ia lebih baik memilih diam saja.


Bryan kembali menatap Elena yang nampak diam sedari tadi. Ia tau pasti gadisnya tidak merasa nyaman disituasi ini.


"Makan."


Elena segera mengalihkan tatapannya. Ia menatap Bryan ketika mendengar suara itu.


"Makan saja. Jangan dengarkan gadis itu." Bryan tersenyum. "Oke, Sayang?"


Elena menganga. Jantungnya lagi-lagi bergetar hebat. Kata 'Sayang' yang diucapkan Bryan ternyata berefek besar pada jantungnya. Sebenarnya jantungnya kenapa?


Tapi tak lama Elena segera mengangguk. Ia anggukan saja tuturan pria itu.

__ADS_1


"I-iya."


Chaca terdiam, dirinya sedari tadi kesal. Kemarin malam ia mendengar ucapan kedua orang tuanya tentang dirinya. Sekarang dirinya dipermalukan lagi disini. Hal apa lagi yang akan membuatnya kesal nanti?


Abraham menatap Bryan dengan penuh arti. Ucapannya kemarin mungkin berpengaruh pada anak pertamanya. Dirinya hanya bisa mendoakan agar Bryan dan menantunya bisa hidup bersama karna cinta. Abraham tau semuanya, dirinya hanya berpura-pura saja tidak tau, agar semuanya berjalan seperti yang dipikirkan Bryan.


___


Setelah sarapan selesai, semua orang mulai berhamburan untuk melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Bryan dan Elena pun sama. Kedua orang itu sekarang berjalan menuju pintu utama rumah. Bryan nampak berjalan didepan sedangkan Elena berjalan dibelakangnya.


Sampai di depan pintu. Bryan berbalik menatap Elena. Posisi mereka sekarang saling berhadapan.


"Kau jangan baper dengan panggilan sayang yang ku katakan tadi." datar Bryan.


Elena menghela nafasnya pelan. Kata 'baper' yang selalu diucapkan Bryan ketika selesai berbicara romantis padanya, selalu saja membuat dirinya sedikit kesal. Apa tidak bisa jika Bryan mengucapkan hal itu dengan tulus?


"Iya, saya tidak baper." kusut Elena.


Bryan menarik senyumnya kecil. Gadis didepannya nampak terlihat kesal. Wajah itu sangat lucu dimatanya.


Tiba-tiba Elena mengingat sesuatu. Dengan cepat ia menatap Bryan, Elena sedikit mendongakkan wajahnya keatas karna tinggi Bryan melebihi ukuran tubuhnya.


Bryan menaikkan sebelah alisnya. "Anak? kau ingin punya anak?" jawabnya seakan tidak mengerti ucapan dari Elena.


"Bu-bukan, maksudku itu yang tadi dikamar Dok, yang soal pekerjaan saya jadi babysister. Dokter bilang-"


"Aku tidak mengizinkan-mu bekerja." timpal Bryan.


Elena memajukan bibirnya kesal. Jika ia tidak kerja bagaimana dirinya membayar hutang-hutang pada pria ini?


"Kenapa kau memajukan bibirmu seperti itu? kau mengode-ku?" Bryan tersenyum kecil.


Elena segera menggeleng sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Cih, tidak usah ditutup seperti itu. Memangnya aku akan mencium-mu? Pede sekali kau ini."


di dalam hatinya, Elena mengumpat kesal. Bagaimana bisa ia bertemu dengan sosok pria seperti ini?


Elena kembali menurunkan tangannya. "Sudah jam masuknya kerja. Dokter gak mau berangkat?"

__ADS_1


"Kau mengusirku?" tajam Bryan.


"Bu-bukan. Saya gak mau aja Dokter terlambat."


"Rumah sakit itu milikku, jika terlambat pun tidak akan ada yang berani memarahiku."


Elena berbicara tadi karna ingin agar Bryan menjauh dari hadapannya dan pergi dari sini. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab tuturan dari pria dihadapannya.


"Jalanan semakin siang semakin macet Dok. Nanti Dokter kejebak macet kalo berangkat kesiangan."


"Memangnya apa peduli-ku jika jalanan macet?"


Elena kalah telak sekarang. Jika saja status mereka bukan suami istri, sudah dipastikan tangannya menampar keras dipipi Bryan. Elena mencoba untuk tetap sabar menghadapi sikap pria ini. Lagian ia heran, sikap Bryan hari ini sedikit aneh. Ada apa sebenarnya?


"Huh, aku sebenarnya malas harus bekerja sekarang." entah kenapa Bryan tidak ingin pergi jauh dari wanitanya. "Bagaimana kalo kita habiskan waktu bersama dikamar, hm?" lanjutnya dengan pandangan penuh arti.


Mata Elena membulat. "Dok-dokter jangan macam-macam ya! Dokter kan udah setujui peraturan dari saya, jangan sampai ada hubungan badan diantara kita." kesal Elena.


Bryan terdiam. Tak lama kekehan muncul di bibirnya. "Heh? memangnya aku akan melakukan apa? memangnya aku bilang, dikamar kita akan melakukan kontak tubuh?" Bryan menyentil dahi Elena pelan, membuat gadis itu nampak meringis kesakitan. "Buang pikiran kotor-mu itu."


Elena memegang dahi yang terkena sentilan dari Bryan. Kenapa juga ia berfikiran aneh kearah sana?


"Saya kan hanya-" sebelum Elena melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Bryan terlebih dahulu memotong.


"Sudah, aku akan bekerja sekarang. Ingat, jangan pergi dari rumah tanpa seizin ku." pandangan Bryan kembali datar.


Elena diam. Dirinya tetap akan mencari pekerjaan sekarang, mungkin ia akan mencarinya secara diam-diam.


"Iya." jawab Elena, berbohong.


"Satu lagi."


Elena menatap Bryan dengan pandangan penuh tanya. "apa?"


"Ganti panggilan-mu padaku. Jika kau terus memanggilku dengan sebutan itu, mereka akan semakin curiga." sahut Bryan datar. "Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik," setelah itu Bryan berbalik dan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir indah di halaman rumah.


Elena menatap kepergian Bryan dengan dalam. Dirinya harus memanggil Bryan dengan sebutan apa? Kakak? Tuan? Om? rasanya tidak cocok. Jadi ia harus memanggil Bryan apa?


〰️〰️〰️

__ADS_1


Lebih suka aku up tiap hari satu part atau crazy up tapi gak up tiap hari? hayo dipilih👉👈


__ADS_2