
HAPPY READING💕
Elena menatap map yang ada ditangannya. Seketika dirinya langsung mengulas senyum lebar.
"Untung semuanya dibawa." Elena kembali membuka map-nya dan melihat berkas-berkas yang ada disana. Mulai dari ijazah SMA, fotokopy KTP dan lainnya.
Elena sudah menyiapkannya sejak kemarin, jadi sekarang tinggal waktunya ia mencari pekerjaan.
Di dalam hati, sebenarnya Elena bimbang. Ia binggung akan keluar atau tidak hari ini. Bryan menyuruhnya untuk tetap diam didalam rumah, namun Elena tidak bisa diam begitu saja disini.
Helaan nafas terdengar di bibir Elena. Dengan tangan yang masih memegangi berkas, matanya teralih menatap jam dinding yang berada di atas lemari.
Disana menunjukan pukul tepat 12:00 siang, yang artinya sebentar lagi pasti akan ada orang yang mencarinya.
Tok Tok Tok!
Benar bukan? baru saja dibilang sudah ada yang mengetuk kencang pintu dibelakangnya.
Dengan cepat Elena pun berbalik, melangkah menuju asal suara itu dan membuka pintu ruangan ini.
Ceklek!
"Ayo Kak!"
"Kamu bener mau belajar mobil Cha?" yang mengetuk adalah Chaca, adik iparnya. Gadis itu sudah berdiri tepat di hadapan Elena sekarang.
Chaca nampak mengangguk senang. "Iya dong, Chaca udah gak sabar." sembringah nya.
"Tapi Papah-?" Elena hanya takut, mertuanya-Abraham tidak mengizinkannya untuk membawa mobil. Bagaimana jika mobil yang akan di bawanya tak sengaja terkena lecet? jika Bryan tau soal itu? bisa mati ia.
Chaca berdecak sebal. "Soal itu gampang. Kakak ipar sekarang tinggal minjem mobil aja sama supir, nah soal alesan, biar Chaca yang ngomong." lanjutnya dengan tersenyum.
Elena terdiam masih dengan menatap wajah gadis didepannya.
Chaca yang tidak mendapatkan respon langsung memajukan bibirnya. "Ayo dong Kak, Kakak mau ya? Chaca pengin banget bawa mobil."
Chaca memasang wajah memohon, membuat Elena makin binggung. Akhirnya setelah lama terdiam, Elena pun mengangguk meng-iyakan ucapan adik iparnya.
__ADS_1
"Yaudah."
"Yes!" wajah Chaca langsung berubah menjadi bahagia. "Yaudah ayok. Chaca udah siap juga nih."
Mata Elena menatap tubuh Chaca dari atas sampai bawah. Gadis itu memang terlihat sudah siap dengan celana jeans dan kaos pendek ditubuhnya. Mungkin dia sudah tidak sabar?
"Iya," Elena segera berbalik untuk mengambil tas selempang-nya. Setelah itu ia kembali berjalan mendekat kearah tempat Chaca berdiri.
Keduanya pun mulai turun ke lantai bawah. Chaca berjalan duluan paling depan, sedangkan Elena hanya mengikutinya dari belakang.
Entah kenapa Elena merasakan hatinya seperti ada yang mengganjal. Ia merasa tak enak hati. Tapi Elena mencoba untuk tetap berfikiran positif.
Keadaan rumah tampak sepi karna kedua mertuanya dan Bryan sedang bekerja, Aiden pun mungkin belum pulang dari sekolahnya alhasil hanya terlihat beberapa Maid disini.
Sampai didepan pintu, Elena dan Chaca menghampiri supir yang terlihat sedang berada didekat salah satu mobil di halaman rumah ini.
"Pak Deri," ucap Chaca ketika sampai di belakang supir itu.
Elena hanya diam disamping Chaca, dengan pandangan biasa.
"Iya Non," Pria yang disapa Pak Deri itu seketika menunduk sembari mundur beberapa langkah agar tidak terlalu dekat dengan majikannya ini.
Chaca memiringkan wajahnya, menatap Elena dengan mengangguk pelan penuh arti.
Elena yang paham pun langsung menatap pria tua didepannya. Mungkin umurnya hanya berbeda beberapa tahun dengan almarhum Bapaknya.
"Em, saya sama Chaca mau pergi hari ini, berdua. Jadi-" Elena menghentikan ucapannya sebentar lalu kembali berucap. "Boleh minjem mobilnya?"
Chaca tersenyum sembari kembali menatap Pak Deri, bawahan dari Papahnya itu.
"Boleh Non, Nona Elena dan Nona Chaca mau saya antar kemana?" jawab Pak Deri.
"Eh, itu saya mau pergi berdua aja sama Chaca. Sa-saya yang bawa mobilnya jadi Pak Supir gak usah repot-repot nganterin." sela Elena. Mungkin supir ini kurang menangkap ucapannya yang tadi hanya berbicara akan pergi 'berdua' saja.
Pak Deri nampak terdiam dengan raut wajah yang tak tertebak. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu.
"Chaca sama Kakak Ipar mau jalan-jalan berdua Pak. Boleh ya? ini urusan perempuan loh. Bapak gak usah ikut, lagian kan Kakak Ipar bisa nyetir tuh." Chaca melirik Elena sekilas. "Biar Kakak Ipar disini ada gunanya dikit nyupirin Chaca." lanjutnya.
__ADS_1
Elena hanya diam mendengar tuturan dari Chaca. Kakak dan adik memang tidak ada bedanya. Selalu saja memanfaatkan dirinya yang bisa menyetir. Huh.
"Tapi Tuan-?" wajah Pak Deri seketika berubah menjadi raut khawatir. Antara takut dan tidak percaya.
"Papah tau kok kita mau pergi berdua. Jadi Pak Deri tenang aja, Papah gak bakalan marah kok." Chaca Kembali menatap Elena. "Ya kan Kakak Ipar?" ucapnya dengan menaikkan kedua alisnya seperti mengode.
Helaan nafas terdengar di bibir Elena. "I-iya." bohongnya. Entah memang benar atau tidak tuturan dari Chaca. Memangnya adik iparnya ini sudah meminta izin pada mertuanya-Abraham? kapan?
"Nah!" Chaca menatap Pak Deri. "Yaudah Pak, mana siniin kunci mobilnya? Chaca sama Kakak Ipar buru-buru." tuturnya dengan mengangkat telapak tangannya, seperti meminta sesuatu.
Pak Deri masih saja diam. Tapi tak lama, dengan ragu Pak Deri mengeluarkan sebuah kunci mobil dari sakunya dan memberikannya pada Chaca.
"Tuan beneran sudah tau Non?" Pak Deri sebenarnya masih ragu dengan ucapan dari anak ketiga majikannya. Dirinya diperintahkan untuk mengantar dan menjemput anak majikannya ini, kemana saja dan kapan saja.
Chaca yang mendengarnya berdecak sebal. "Beneran Pak. Udah deh kalo ada apa-apa, Chaca janji gak akan ngelibatin Pak Deri. Oke?" Chaca tersenyum manis dan menatap perempuan di sampingnya. "Ayo Kak!"
Chaca menarik lengan Elena, menghampiri mobil yang ada didepannya. Sebelum masuk, Chaca terlebih dahulu memberikan kunci mobilnya pada Elena dan segera masuk kedalam mobil berwarna putih itu, diikuti Elena yang masuk.
Keduanya sekarang sudah berada didalam mobil. Elena duduk dibagian pengemudi, sedangkan Chaca duduk disampingnya.
"Let's go Kak!" Chaca tersenyum, melirik sekilas Elena lalu menatap jalanan didepannya.
Elena pun hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah gadis disampingnya ini. Dengan segala keraguan, Elena pun segera menyalakan mesin mobilnya, memanaskan sebentar lalu melajukannya keluar dari perkarangan rumah besar ini.
Mobil mulai keluar dari rumah milik Abraham. Chaca sedikit melirik kebelakang mobilnya. Dirinya tersenyum kembali, Untung saja ia sudah melakukan sesuatu tadi, agar bodyguard yang ditugaskan Papahnya tidak mengikutinya hari ini.
Chaca hanya tidak mau ada yang mengikutinya sekarang. Jika salah satu bodyguard menangkap dirinya sedang belajar mobil dengan Elena, pasti akan dilaporkan pada Papahnya dan Papahnya itu pasti akan memarahinya.
"Kita belajar di komplek yang disebrang aja Kak." Chaca memalingkan wajahnya dari arah belakang dan langsung menatap Elena, disampingnya. "Disana tempatnya sepi."
Elena hanya melirik sekilas Chaca lalu mengangguk singkat. "Iya," matanya terlihat fokus menatap jalanan didepannya yang cukup padat. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar, dan tidak terjadi sesuatu.
Tapi takdir tidak ada yang tau. Entah apa yang akan terjadi sejam lagi, semenit lagi, atau sedetik lagi. Dan sepertinya sekarang, Tuhan akan mulai mempermainkan takdir Elena.
TBC
Maaf banget baru up😣 Kesibukan Di RL bikin pikiran kacau terus. Jadi aku off nulis untuk beberapa hari, tapi sekarang aku hadir lagi. Semoga masih pada nungguin cerita abal-abal ini ya❣️ Dan gak lupa sama ceritanya:v
__ADS_1