
"Enghhh."
Elena mengucek-ngucek kan matanya ketika merasakan ada sinar yang menyinari wajahnya.
Membuka matanya perlahan, lalu menatap sekeliling nya.
Elena terdiam sesaat. Ketika merasa pemandangan saat dirinya tertidur tadi dan terbangun saat ini berbeda.
Loh kok?
"Sudah bangun hm?"
Mendengar suara itu membuat Elena mengalihkan tatapannya menatap arah sampingnya. Bryan. Pria itu terlihat sibuk memainkan ponselnya namun tak lama Bryan pun menatapnya.
"Kita dimana Dok?" tanya Elena binggung. Matanya yang salah atau apa sih? bukannya mereka tadi berada di pesawat? kenapa sekarang mereka?
"Kau tidak bisa lihat kita dimana?" balas Bryan. Malas.
Elena menatap Bryan, masih dengan wajah bingungnya. Membuat Bryan gemas melihatnya. "K-kita udah sampai?"
Mengangguk. "Iya." Bryan kembali memfokuskan matanya, menatap layar ponsel nya. Sedari tadi dirinya menunggu Elena terbangun namun wanita itu tak kunjung terbangun juga alhasil Bryan membuka ponselnya kembali dan memainkannya, agar tidak terlalu bosan. Dan sekarang barulah istrinya ini terbangun dari tidurnya.
Membulatkan matanya tak percaya, Elena segera menatap jendela mobil sampingnya. Pemandangan langit malam terlihat di sana. Lampu-lampu gedung dan lampu jalanan nampak terlihat juga menyala. Menerangi malam ini. Membuat kesan indah di matanya.
Ini bukan mimpi kan?
Elena menepuk pipinya sedikit keras.
"Aw." merasakan sakit, Elena lantas melengkungkan bibirnya, bahagia. Benar, ini bukan mimpi. Apa yang ia rasakan sekarang adalah benar-benar kenyataan.
Tapi tunggu. Kapan mereka tiba? dan kenapa Elena sudah berada di mobil saja? bukannya mereka tadi berada di pesawat milik Bryan?
Menatap Bryan kembali. Elena berdekhem pelan. "Em, kok saya udah ada disini Dok, maksud saya kan tadi kita-"
"Aku yang menggendong mu kesini."
Elena membulatkan matanya. Ketika mendengar jawaban dari Bryan.
Bryan terlihat memasukan ponselnya ke dalam saku. Lalu menatap Elena. Posisi keduanya saling menatap satu sama lain sekarang.
"Lihat." Bryan menunjuk lengannya. "Tanganku sampai pegal karena menggendong mu tadi."
"Berat sekali tubuhmu." lanjut Bryan, menatap tubuh Elena dari atas sampai bawah. "Lain kali turunkan porsi makan mu, agar tubuhmu tidak terlalu berat. Kau harus tanggung jawab soal tanganku nanti."
Elena menganga. Hey? dirinya juga kan tidak minta di gendong?
"Aku sudah mencoba membangun kan mu tadi. Tapi tidurmu itu sudah seperti orang pingsan." bohong Bryan. "Makannya aku menggendong mu. Daripada aku tinggalkan disana. Kau harus memberikan hadiah karena kebaikan ku itu."
Elena makin melebarkan matanya. Antara ekspresi marah, kesal dan tak enak. Apa memang dirinya sulit dibangunkan tadi? dirinya jadi merasa bersalah sekaligus kesal karena pria ini jadi meminta imbalannya. Bisa tidak sih menolongnya dengan ikhlas? selalu saja meminta imbalan. Hadiah? memang nya pria ini ingin hadiah apa? Bryan kan orang kaya? bisa saja dirinya membeli barang yang dia inginkan bukan? kenapa harus meminta nya padanya?
"Ayo berikan aku hadiah." lanjut Bryan dengan manarik smrik nya.
Menelan salivanya kasar. Elena tidak tau harus memberikan apa pada Bryan.
"Dok-dokter kan tau saya gak punya uang." balas Elena. Lagipula dirinya juga tidak memiliki uang. Uang darimana untuk membelikan Bryan hadiah?
"Ck." Bryan berdecak. "Aku tidak menginginkan uangmu."
"Maksud saya, saya gak punya uang buat beli hadiah untuk Dokter." ujar Elena membenarkan.
"Kau tidak usah mengeluarkan uang untuk hadiah ku." Bryan tersenyum penuh maksud.
__ADS_1
Mengerutkan dahinya. "Terus hadiah yang dokter mau-" sebelum Elena melanjutkan ucapannya, tiba-tiba Bryan memotong nya.
"Cukup cium saja aku."
"Hah?" Elena menganga. Apa kata pria ini?
"Apa aku harus mengulangnya lagi?" Bryan menaikkan sebelah alisnya.
"Ta-tapi.." Elena menatap arah depannya. Apa Bryan tidak malu?! disini bukan hanya ada mereka tapi ada juga supir!
Bryan menatap arah pandang Elena. Lalu menatap kembali wanitanya ini. "Ayo cepat."
"Tapi itu.." Elena menatap supir di depannya. Seakan-akan mengode Bryan jika mereka tidak hanya berdua. Entah kenapa dirinya jadi kesal dengan Bryan. Apa pria ini tidak kenal tempat?!
Bryan menghembuskan nafasnya lalu menatap orang di hadapannya. "Albert."
"Yes Sir." jawab supir tersebut. Ya, namanya adalah Albert.
"Kau tau bukan akan melakukan apa?" lanjut Bryan.
Supir itu nampak mengangguk. "Saya tidak akan melihatnya Sir, silahkan lanjutkan."
"Kau dengar bukan?" Bryan kembali menatap Elena. "Ayo lakukan."
Gugup. Elena merasakan jantungnya berdebar dengan kencang. Rasanya Elena ingin tenggelam saja dari sini. Dirinya malu!
"Dok-"
"Aku menunggu.." Bryan menatap Elena dengan senyum tipisnya.
Mungkin orang lain melihat Bryan seperti ini, akan terpukau karena ia terlihat sangat tampan jika tersenyum. Tapi tidak untuk Elena. Dimatanya jika pria itu seperti ini, malah membuatnya takut! karena persis seperti pria mesum!
Menghembuskan nafasnya gusar. Elena mencoba untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Saat sudah berdekatan, Elena memejamkan matanya, berniat mengecup pipi Bryan.
Namun..
Cup!
Elena merasakan benda kenyal di bibirnya. Ia lantas membuka matanya. Alangkah terkejutnya ketika melihat wajah Bryan di hadapannya.
Elena merasakan jika Bryan mulai memegangi kepala belakangnya lalu memainkan bibirnya. Ia mencoba untuk melepaskannya namun tenaganya tidak cukup kuat dari Bryan.
Mencoba memberontak, namun nihil. Tenaga Bryan cukup kuat, membuat Elena kesulitan melepaskan bibir Bryan darinya.
Selang beberapa menit. Akhirnya Bryan melepaskan ciumannya. Membuat Elena segera menghirup udaranya dalam-dalam.
"Hah!" Elena menatap Bryan. Pria itu terlihat tersenyum manis menatapnya. Seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
Niatnya tadi hanya mengecup pipi Bryan, namun entah kenapa Bryan malah menatapnya dan terjadilah- ah sudahlah. Seharusnya Elena tau apa yang di mau pria ini. Huh.
"Perjalanan kita ke hotel masih cukup lama. Jika kau mau tidur kembali, silahkan," lanjut Bryan dengan tersenyum manis lalu mengambil ponselnya lagi dan memainkannya.
Elena menatap diam Bryan. Ia tau pasti di balik senyuman itu tersembunyi makna. Ia tau pasti jika nanti dirinya tertidur, Bryan sengaja tidak membangunkannya dan nanti saat tiba Bryan menggendong nya kembali ke dalam hotel. Saat dia terbangun nanti Bryan berbicara yang sama dan meminta hadiah lebih dari sekedar ciuman. Benar bukan!? haha, Elena tidak akan mudah tertipu lagi ferguso.
"Aku tidak mau," Elena mengalihkan tatapannya, menatap pemandangan luar jendela sebelahnya. Menghindari tatapan dari Bryan.
Melirik sekilas Elena, Bryan kembali sibuk pada ponselnya. "Yasudah."
Elena membuka matanya lebar-lebar. Mencoba menghindari rasa kantuk. Tapi lama-kelamaan Elena merasa matanya mulai berat. Memang dasarnya jika berpergian jauh, Elena pasti lebih akan sering mengantuk. Entah kenapa. Apalagi katanya perjalanan mereka masih lama. Tapi Elena tetap tidak mau tidur! Ia berusaha untuk tetap membuka matanya, hingga tiba nanti.
__ADS_1
...---...
Setelah beberapa lamanya perjalanan akhirnya mobil Bryan berhenti di sebuah lobi hotel mewah.
Elena menatap Bryan yang mengangguk. Mengode jika mereka sudah tiba. Akhirnya keduanya pun keluar dari mobil. Dan berjalan sambil berdampingan. Masuk ke dalam hotel yang tidah terlalu ramai ini.
"Barang-barang?" Elena menatap Bryan di sebelahnya.
"Ada bawahan ku nanti yang akan membawanya." balas Bryan ikut menatap Elena.
Elena mengangguk mendengar itu.
Bryan lantas menggenggam tangan Elena dan mulai berjalan masuk ke dalam hotel. Elena yang merasakan itu hanya pasrah. Sudah biasa Bryan menggenggam tangannya, saat ditanya katanya takut dirinya hilang. Padahal Elena sudah besar. Bagaimana bisa hilang coba?!
Tak berlangsung lama. Keduanya akhirnya sampai pada kamar yang sudah Bryan pesan sebelumnya.
Elena cukup terpukau dengan hotel ini. Ia tau pasti hotel ini adalah hotel bintang lima. Karena memang interior disini cukup mewah.
Elena menatap Bryan yang terlihat mulai membuka kunci hotel dengan sebuah kartu yang di genggamannya. Lalu tak lama pintu pun terlihat terbuka.
Keduanya lantas masuk ke dalamnya. Elena lagi-lagi terkesima. Melihat tempat penginapan mereka. Kira-kira berapa biaya yang Bryan habiskan untuk tempat penginapan ini ya? rasanya Elena tidak sanggup membayangkannya.
"Bagaimana, kau suka tempatnya?" Bryan menatap Elena penuh tanya.
Elena yang sedang menatap pemandangan kamar di depannya pun segera menatap Bryan. "Saya suka Dok." Elena melihat ada beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan ini. Tidak lain adalah bawahan Bryan yang membawa koper mereka.
"Yakin?" Bryan menatap tak yakin Elena. "Jika kau tidak suka katakan saja, kita bisa pindah sekarang juga."
Elena menggelengkan kepalanya keras. "Suka kok Dok." hey? apa Bryan tidak terlalu menghamburkan uang jika harus pindah hotel lagi?!
Bryan lalu mengangguk melihatnya. Ia lantas menatap beberapa bawahannya yang berdiri di belakangnya. "Sudah semua? jika sudah kalian boleh pergi."
Beberapa bawahan itu mengangguk. "Sudah Tuan, kalo begitu kami permisi. Mari Tuan, Nona." ucap salah satunya lalu setelahnya mereka pergi dari sini.
Elena menatap kepergian beberapa orang itu lalu melanjutkan langkahnya. Masuk lebih dalam ke ruangan ini. Dan duduk di sisi kasur yang sudah di sediakan.
Elena menatap Bryan yang mulai berjalan mendekatinya. "Dok, saya mandi dulu ya?" sungguh, Elena merasakan tubuhnya lengket akibat perjalanan mereka tadi.
Bryan yang mendengar nya mengangguk. "Hm." Ia lantas duduk di sofa yang ada di hadapan ranjang.
Elena mulai berdiri kembali dan mengambil pakaiannya yang berada di koper setelahnya ia berjalan menuju kamar mandi disini, namun sebelum itu ia menatap Bryan.
"Dokter gak mandi?" tanya Elena, melihat Bryan yang fokus memainkan ponselnya.
Bryan menatap Elena lalu menaruh ponselnya di meja samping sofa. Lalu berdiri. "Ayo."
"Eh! Dokter mau ngapain?!" Elena membulatkan matanya, melihat Bryan yang berjalan mendekatinya.
Bryan berdecak. "Ck. Ingin mandi lah. Bukannya Kau mengajakku mandi bersama?"
Elena menggeleng kan kepalanya. "Saya cuman tanya, bu-bukannya ngajak mandi bareng!" apa pria ini tidak mendengar ucapannya tadi?!
Menarik smrik khas nya. "Yasudah sekalian saja kita mandi bersama." Bryan menaikkan kedua alisnya membuat Elena menganga dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu itu rapat-rapat.
Bryan yang melihatnya menggeleng kan kepalanya. Kenapa wanita itu malah lari?
Lain dengan Bryan yang heran, Elena malah mencoba untuk menormalkan jantungnya.
Ia nampak berdiri di belakang pintu kamar mandi. Dengan mengelus dadanya pelan.
__ADS_1
"Huh!" Elena membuang nafasnya dalam-dalam. Mau tau alasan Elena berlari? ya, apalagi jika bukan untuk menolak ajakan Bryan. Karena Elena tau ada niatan terselubung dari ajakan Bryan tadi.
"Kalo mandi bareng bisa-bisa berjam-jam mandinya!"