
HAPPY READING GUYS😽
Bryan berjalan dengan sesekali menatap jam yang melingkar indah dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukan pukul setengah 3 sore dan Bryan sudah selesai menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Sekarang ia akan pergi menemui Elena, pasti gadis itu ada diruangan Bapaknya-Dimas yang tak lain adalah mertuanya.
Banyak pasang mata yang menatap kagum Bryan terutama kaum wanita. Mereka tak segan-segan menyapa dan menggoda Dokter muda yang sedang berjalan itu. Namun Bryan hanya diam dan cuek menanggapi semua orang disini, ia tidak peduli dengan keadaan sekitar. Bryan hanya terfokus pada jalan yang ada didepannya.
Ceklek!
Saat sudah sampai, Bryan dengan segera membuka pintu ruangan dihadapannya lalu masuk ke dalamnya.
Bryan tersenyum tipis ketika melihat Dimas yang juga menatapnya. Ia langsung mendekati ranjang mertuanya itu dan menyalami tangannya.
"Bagaimana kabar Bapak?" ucap Bryan setelah menyalami tangan Dimas.
Dimas tersenyum hangat menatap menantunya ini. "Bapak baik Nak."
"Syukurlah."
"Kamu kesini pasti mau cari istri kamu kan?" goda Dimas.
Bryan tersenyum singkat, tau saja jika dirinya sedang mencari Elena. Bryan segera mengedarkan pandangan kearah sekitar, ia baru sadar jika tidak ada Elena disini. Kemana gadis itu?
"Elena izin ke-kamar mandi tadi. Sebentar lagi anak itu pasti kesini." sahut Dimas seakan tau apa yang ada dipikiran Bryan.
Mendengar ucapan Dimas membuat hati Bryan lega. Ia kembali menatap mertuanya yang terduduk diatas kasur dihadapannya. "Gimana kondisi tubuh Bapak?" Bryan mencoba menanyakan kondisi tubuh Dimas. "Apa bekas jaitan operasi kemarin masih terasa?"
"Masih lumayan sakit cuma enggak terlalu seperti kemarin." ucap Dimas dengan gelengan singkat dikepalanya.
"Kepala Bapak?"
"Masih sedikit pusing, penglihatan mata Bapak juga sering kabur Nak." jelas Dimas. Ia lalu memegang dan mengusap-ngusap kaki kanan-nya. "Kaki Bapak juga kayak yang mati rasa, kaku." lanjutnya.
Bryan terdiam. Penjelasan-penjelasan Dimas memang salah satu gangguan yang dialami pasien penderita tumor otak. Tapi seharusnya setelah operasi kemarin, gangguan tersebut sudah mulai tidak terasa atau sudah mulai hilang jika operasi kemarin berhasil. Namun nyatanya Dimas masih merasakan hal itu. Sepertinya Bryan harus kembali mengecek lebih dalam kondisi kepala Dimas. Bryan juga menangkap setiap ucapan mertuanya. Pria itu seperti memaksakan untuk berbicara.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Bapak, semoga Pak Dimas cepat sembuh." jawab Bryan, ia akan berusaha untuk menyembuhkan mertuanya ini.
___
Elena berjalan keluar dari kamar mandi khusus wanita yang berada di Rumah sakit ini.
"Huh," ia merapihkan pakaiannya lalu melangkah untuk kembali ke ruang rawat sang Bapak.
Elena berjalan dengan santai dan tersenyum sesekali jika ada yang menyapanya dengan sebutan 'Nona' entah kenapa orang-orang disini menyapanya dengan sebutan itu, sebenarnya Elena ingin membenarkan panggilannya namun sekarang dirinya tidak memiliki banyak waktu. Sekarang Elena harus bergegas menemui sang Ayah dan juga bersiap-siap untuk pergi menemui Wilson.
Saat sampai didepan pintu ruang rawat Dimas, Elena segera masuk dan tak lupa pula menutup kembali pintu ruangannya
__ADS_1
"Pak, Elena-" ucapan Elena terhenti ketika mendapati sesosok pria yang ia kenal sedang berdiri di-samping ranjang Dimas.
"Sudah Na? ke-kamar mandinya?" tanya Dimas ketika melihat Elena sudah berada tak jauh darinya
Elena tersenyum. "Udah Pak, Elena udah selesai kok," ia lantas berjalan mendekati Dimas yang sedang terduduk sembari menyenderkan punggungnya pada sandaran bantal dibelakangnya.
Sampai di ranjang Dimas. Elena menatap pria yang berdiri tepat didepannya. Ya, siapa lagi jika bukan Bryan-suaminya? entah mau apa pria itu kesini. Elena tidak tau dan tidak mau tau.
"Saya izin bawa Elena pulang tidak apa-apa Pak?" suara itu membuyarkan keheningan diruangan ini.
Elena menatap diam Bryan. Dia akan pergi juga menemui Wilson, tapi pria ini malah mengajaknya untuk pulang, Elena jadi binggung bagaimana meminta izin untuk menemui mantan atasannya itu.
"Tapi Dok saya-" baru saja Elena membuka suara tiba-tiba sana Bryan sudah memotong ucapannya sebelum ia selesai bicara.
"Pak Dimas tenang saja, saya berjanji akan menjaga Elena dengan baik." Bryan menatap Dimas dengan senyuman tipis, tanpa menatap Elena yang tepat ada didepannya.
Dimas mengangguk. Ia percaya dengan menantunya jika dia bisa menjaga anaknya dengan baik. "Bapak percaya sama kamu Nak Bryan." Dimas mengalihkan tatapannya pada Elena. "Kamu harus nutut kata suami Na, gak boleh membantah. Sekarang kamu pulang, ikutin ucapan suami kamu." lanjutnya.
"Tapi Elena mau-"
"Saya pamit keluar duluan ya Pak, nanti saya akan menyuruh suster dan Dokter untuk menjaga dan merawat Bapak selagi saya pulang." Bryan menyalami tangan Dimas. "Permisi." Bryan pun menatap Elena sekilas lalu berjalan keluar dari ruangan Dimas.
Elena menatap kepergian suaminya itu. Ia menghela nafasnya pelan. Jika seperti ini bagaimana ia bertemu Wilson?
Mendengar itu Elena kembali menatap Bapaknya. "Iya, Elena pulang dulu ya Pak. Bapak baik-baik disini. Besok Elena kesini lagi." ia pun menyalami tangan Dimas dan pamit untuk menyusul Bryan yang sudah terlebih dahulu keluar.
Dimas menatap kepergian Elena dengan senyuman yang tak pernah luntur diwajah lemahnya. Semoga saja Elena bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya. Air mata Dimas tak terasa turun membasahi pipi. Anak keduanya sudah menikah, yang artinya tanggung jawabnya sudah berpindah pada suaminya itu. Hanya tinggal satu tanggung jawabnya yaitu Putri. Semoga saja dirinya bisa kuat hingga anak pertamanya menikah. Jika semua tanggung jawabnya sudah terselesaikan, Dimas yakin dirinya akan tenang jika sewaktu-waktu Tuhan menyabut nyawanya.
___
Elena keluar dari ruangan Dimas. Ia menengok kanan-kiri lorong disekitarnya. Kenapa pria itu?
Ting!
Saat merasakan ada notifikasi masuk, Elena segera mengambil benda pipih yang berbunyi tadi lalu membuka pesan yang muncul dilayar ponselnya.
087657867543
Aku tnggu d mobil.
Dahi Elena mengerut. Ia binggung siapa yang mengirim pesan ini karna memang nomornya tidak dikenali.
From: Elena
To: 087657867543
__ADS_1
Ini siapa ya?
Sembari menunggu jawaban dari pesan yang dikirimnya, Elena duduk di kursi tunggu yang ada didepan pintu ruang rawat Dimas. Kali saja Bryan sedang pergi sebentar lalu akan kembali lagi kesini jadi Elena ber-inisiatif untuk menunggu dikursi ini.
Ting!
Mendapatkan notifikasi lagi, Elena segera membuka ponselnya dan membaca balasan dari nomor yang tidak ia kenal.
087657867543
Ck! kau tidak menyimpan nomorku? aku hitung sampai tiga jika kau tidak datang ke parkiran aku tak segan-segan memberi tambahan bunga di setiap hutang-hutang mu padaku.
Mata Elena membulat. Elena hanya memiliki hutang pada satu orang. Jadi orang ini? dengan cepat Elena bangkit dari duduknya dan berlari menuju parkiran. Ia melangkah dengan tergesa-gesa takut jika omongan dari Bryan benar-benar menjadi nyata. Hutangnya belum lunas tapi sudah akan ditambah dengan bunga? Elena tak habis fikir berapa jumlah uang yang harus ia bayar.
"Huh huh huh." sampai didepan sebuah mobil, Elena segera menghentikan kakinya. Ia segera menghirup udara lebar-lebar. Perjalanan tadi membuat nafasnya terengah-engah.
Tinnn...!
Elena tersentak kaget ketika mendengar suara klakson dari mobil dibelakangnya. Ia segera mengalihkan tatapannya pada pengemudi didalamnya. Mendapat isyarat dari dalam mobil, Elena degan cepat berjalan kembali dan masuk kedalam mobil itu.
"Kau telat 5 hitungan."
Baru saja duduk, Elena langsung mendapatkan tatapan datar dari pria disampingnya. Ia menelan salivanya kasar. "Ma-maaf Dok." Elena menunduk. "Saya gak tau kalo tadi yang ngirim pesan, Dokter." lanjutnya membela diri.
Bryan memegang setir dimobilnya dengan pandangan yang menatap arah depannya. "Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat."
Mobil Bryan masih berada di parkiran. Pria itu nampak belum niat untuk menjalankan mobilnya ini.
Elena mendongakkan kepalanya menatap Bryan. "Syarat? Syarat apa?"
Bryan mengalihkan tatapannya pada Elena. Ia sedikit mengulas senyumnya tipis, nyaris tak terlihat. "Jangan pernah menemui mantan atasanmu itu lagi. Dia bukan orang baik, aku takut kau kenapa-napa."
Deg!
Elena tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar hebat. Bukan rasa takut yang ia dapat namun ada rasa aneh lainnya yang hinggap di jantungnya.
"Jangan baper. Aku hanya tidak mau menjadi duda di usia muda. Walau banyak yang mengantri ingin menjadi istriku tapi aku tidak tertarik dengan mereka semua."
Elena mengubah wajahnya menjadi kesal. Siapa juga yang baper? lagian juga dirinya tidak baper.
Jika Bryan tidak tertarik pada wanita yang ingin menjadi istrinya, lalu aku? aku sudah sah menjadi istrinya, berarti tak lain pria ini tertarik padaku?
Elena langsung menggelengkan kepalanya. Mana mungkin gadis kampung sepertinya bisa membuat Bryan tertarik, tapi apa mungkin?
Tbc..
__ADS_1