
Happy reading!
Bryan berjalan cepat menyusul Elena di depannya. Saat sudah dekat, ia segera meraih pergelangan tangan Elena, membuatnya menatap ke arahnya.
"Kau kenapa sih?"
Posisi keduanya kini di lantai atas. Tepat di hadapan pintu kamar Bryan.
Elena membuang wajahnya dari hadapan Bryan. Menghindari tatapan suaminya. "Aku tidak apa-apa."
"Jangan bohong." datar Bryan. "Kalo ada yang bicara, tatap matanya." titahnya, ketika melihat Elena memalingkan wajahnya.
Elena memejamkan matanya sebentar, lalu menatap manik mata Bryan. Sok tegar. "Aku tidak apa-apa."
"Ck." Bryan berdecak. "Aku minta maaf jika aku ada salah padamu." ia mencoba untuk mengalah kembali. Kali saja Elena memaafkannya.
Elena menggeleng lemah. Entah kenapa mood nya kadang naik kadang turun. Kenapa ya? dirinya merasa sangat tidak suka menjadi dirinya yang sekarang. "Kamu ga salah apa-apa Mas, udah yuk masuk." beralih menggenggam tangan Bryan. Elena menarik pelan tangan suaminya. Menuntun untuk masuk ke dalam kamar.
Bryan yang mendapati hal itu mengeluarkan ekspresi binggung. Melihat perubahan cepat pada Elena. Sebenernya ada apa dengan wanita ini?
Sampai di dalam kamar, tak lupa Elena menutup pintu lalu berjalan menuju ranjang, diikuti Bryan yang berjalan di belakangnya, masih dengan wajah keheranan.
Duduk di sisi ranjang. Elena menatap Bryan yang masih berdiri. "Duduk Mas." katanya sembari menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelah nya.
"Bukannya kau tidak ingin melihat wajahku lagi tadi?" tanya Bryan bingung.
"Siapa bilang?" Elena menatap Bryan.
"Kau."
Elena sedikit berpikir. "Emang aku bilang gitu ya tadi?" pura-pura tak ingat.
Bryan menatap malas Elena. Lalu duduk di samping perempuan itu. "Sebenernya kau ini kenapa?" tanyanya.
Elena menggeleng. Tetap pada pendiriannya jika dirinya tidak apa-apa. "Aku gapapa Mas, cuman akhir-akhir ini ngerasa ada yang aneh aja sama tubuh aku."
Melihat ekspresi Elena membuat Bryan mengangkat tangannya. Lalu menaruh telapak tangannya pada dahi Elena. Membolak-balikkannya disana. "Kau sakit?"
Menurunkan tangan Bryan dari dahinya. Elena memajukan bibir kesal. "Aku tidak sakit!"
"Terus kau kenapa?" herannya. "Apa jangan-jangan.." Bryan menghentikan ucapannya sekejap, membuat Elena sedikit penasaran.
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan saat pulang liburan kemarin ada yang memasuki tubuhmu, terus mengikuti mu pulang!"
"Ih Mas!" Elena mencubit pelan perut samping Bryan. Membuat pria itu mengaduh kesakitan. "Shit,, ck! kau ini!"
"Jangan ngomong gitu makannya, kalo beneran gimana coba.." Elena melirik ke kanan dan kirinya. Kok dirinya jadi merinding?!
Bryan mengelus tepat dimana Elena mencubitnya tadi. Ia sedikit terkekeh, melihat ekspresi takut Elena. "Sudahlah jangan takut seperti itu, kau tenang saja. Masih ada aku disini. Setan-setan itu akan pergi jika melihat ketampanan ku."
Mendengar itu membuat Elena mendelik. Kepedean sekali suami nya ini! tapi benar sih, emang suaminya ini ganteng, xixi.
"Nah, aku lebih suka melihatmu dengan wajah seperti ini." Bryan tersenyum tipis. "Jangan menunjukkan wajah sedih seperti tadi. Aku tidak suka melihatmu yang tadi."
Elena menunduk. Lalu mengangguk pelan.
"Kau tidak ingin senyum?" Bryan menunjukkan bibirnya. Melebarkan senyumannya, menyuruh agar Elena mengikutinya.
Elena tersenyum lebar. Bukan karena disuruh, tapi ia tersenyum melihat Bryan yang melebarkan bibirnya! baru kali ini ia melihat Bryan sengaja tersenyum lebar, biasanya cuman senyum tipis, senyum lebar pun pasti terlihat di paksa.
Terkekeh singkat. "Gitu kan cantik." goda Bryan.
"Apaan sih Mas!" Memukul pelan bahu Bryan, Elena mengalihkan tatapannya. Kenapa ia jadi salting?! "Udah lah Mas, aku mau tidur."
"Yasudah." Bryan bangkit dari duduknya. Membuat Elena mengerutkan dahi. Binggung.
"Mau kemana?"
Baru saja akan melangkah, Bryan kembali menatap Elena. "Keluar."
"Mau apa?" tanya Elena.
"Tidur di luar."
__ADS_1
"Mas mau ninggalin aku tidur sendiri?" cemberut Elena. Sudah ditakut-takuti tadi, sekarang pria itu akan pergi meninggalkan nya?
Menaikkan sebelah alis. "Hey, bukannya kau yang menyuruhku tidur di luar tadi?" heran Bryan. Tadi istrinya ini meminta untuk dirinya tidur di luar, terus sekarang? malah tidak ingin ditinggal. Bagaimana sih?
Menunduk. "It-itu kan tadi." cicit pelan Elena. "Sekarang jangan pergi. Ti-tidur disini aja."
Tersenyum penuh maksud. Kembali duduk di samping Elena. "Tidur saja? tidak ingin yang lebih gitu?" goda Bryan. Membuat pipi Elena kembali memerah.
Elena cukup paham dengan apa yang di omongi Bryan itu. "Tidur Mas. Emang yang lebih apa coba." pura-pura Elena, walau jantungnya sudah ketar-ketir tak karuan.
"Jangan pura-pura tidak tau." kekeh Bryan.
Elena menggeleng kan kepalanya lalu mundur, merebahkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang. "Udahlah Mas, udah malem, tidur." ia lalu menutup kepalanya dengan bantal. Menyembunyikan wajah memerahnya.
Bryan terkekeh lagi, lalu ikut merebahkan tubuhnya, di samping Elena. Memeluk perempuan itu lembut, walau tangannya mulai menjalar kemana-mana.
"Mas, tangannya!"
...---...
Tengah malam.
Elena menggeliat pelan ketika merasakan ada benda berat yang menimpa perutnya. Ia membuka mata, lalu menatap perutnya. Terlihat sebuah tangan kekar memeluknya dari samping, membuat Elena segera menggeser tangan tersebut pelan, lalu memindahkannya dari perutnya.
Ya, siapa lagi jika bukan tangan Bryan?
Dengan pelan Elena mulai bangkit dari tidurnya, mengikat rambut hingga atas lalu berdiri tegap.
Ia akan ke toilet sekarang.
Melangkah tanpa menimbulkan suara, Elena berjalan menuju kamar mandi di depannya. Ia sungguh kebelet.
Tak menunggu lama, akhirnya Elena selesai melakukan rutinitas nya itu. Ia segera keluar dari kamar mandi lalu berjalan. Saat hendak ke ranjang lagi, Elena tiba-tiba merasakan ingin sesuatu. Sesuatu yang mendadak muncul di pikirannya.
Buah yang di makan dirinya dan Chaca tadi siang.
"Duh, buah nya Chaca masih ada gak ya?" menghembuskan nafas berat, menatap Bryan sebentar. Setelah melihat Bryan yang masih tidur nyenyak. Elena langsung melangkah pelan, menjalankan kaki nya menuju pintu kamar.
Ia keluar dari kamarnya itu, lalu berjalan menuju kamar Chaca.
"Chaca udah tidur belum ya?" saat sudah di depan pintu kamar Chaca. Elena menatap diam pintu tersebut. Ia ragu, takut membangunkan Chaca malam-malam begini. Siapa tau gadis itu sudah tertidur lelap? Elena jadi tidak tega membangunkan gadis itu sekarang.
"Huh." tanpa mengetuk pintu, Elena kembali berjalan. Ia memutuskan untuk ke lantai bawah. Ya, ia tidak mau membangunkan Chaca. Kasian gadis itu. Elena tidak mau mengganggu tidurnya. Kasian.
Sampai pada lantai bawah. Elena melihat keadaan sekitarnya. Sepi dan sunyi. Cahaya di lantai bawah cukup remang-remang. Membuat Elena cukup kesulitan untuk melihat jauh ruangan ini.
Melanjutkan langkahnya, Elena berjalan menuju dapur. Entahlah, Elena akan melihat-lihat saja ada apa disana. Tapi sungguh, ia ingin sekali buah yang di makan Chaca tadi. Tadi siang dirinya baru menggigit sedikit, itupun langsung di muntahkan, sehingga dirinya tidak bisa merasakannya.
Srett..
Sampai di dapur, Elena membuka kulkas disana. Tak lupa saat masuk, Elena menyalakan terlebih dahulu lampunya. Sehingga sekarang terlihat cukup terang.
"Apa ya.." Elena menatap dalam kulkas tersebut. Tapi tidak ada yang menggunggah seleranya. Ia hanya ingin buah, tapi buah yang di inginkan nya tidak ada di dalam sana.
"Kakak ipar!"
"Astaga." Elena menatap arah samping. Lalu menutup kulkasnya. "Cha, kamu ngagetin aja sih." ia mengelus dadanya pelan. Ia terkejut bukan main! mendengar suara yang tiba-tiba itu.
Chaca, si pelaku yang mengangetkan Elena hanya menyengir tak berdosa. "Hehe.. maaf Kak. Lagian Kakak Ipar ngapain malem-malem disini?"
Menghembuskan nafas kasar. "Kamu sendiri ngapain disini?" tanya balik Elena, heran. "Pake masker lagi. Bikin kaget aja."
Chaca menyentuh masker di wajahnya pelan. Kalian tau bagaimana kondisi Chaca sekarang? ya, perempuan itu memakai masker putih yang menutupi seluruh wajahnya, selain mata dan juga mulut. Memakai pakaian tidur hello Kitty, mengulung rambutnya ke atas serta tangan yang masing-masing menyentuh bantal dan selimut. Sungguh menakjubkan bukan?
"Chaca mau tidur di sofa." cemberut Chaca. "Kamar Chaca AC nya bocor. Mana bau lagi, gak enak. Makannya Chaca mau ngungsi. Tadinya mau di kamar Mamah Papah, tapi sama Papah malah gak boleh, di kamar Kak Aiden malah aku dimarahin sama Kak Aiden." curhatnya. Pedih.
"Loh, kenapa gak di kamar tamu?" tanya Elena. Pasalnya disini masih ada kamar tamu, kenapa Chaca malah memilih tidur di sofa bawah?
Menggeleng lemah. "Kamarnya kotor. Kemarin temen Kak Aiden nginep belum di bersihin." jelas Chaca. "Em, Kakak Ipar?" Elena menampilkan wajah penuh tanya ketika melihat Chaca tiba-tiba tersenyum.
"Kenapa?"
"Chaca tidur di kamar Kakak Ipar ya?!" mohon Chaca. "Boleh ya Kakak ipar, boleh ya??! Chaca mohon. Buat malem ini aja. Plis." menyatukan kedua tangannya, dengan tatapan penuh harapan. Kali saja menurut Chaca, Kakak iparnya ini membolehkan nya untuk tidur bersamanya.
"Hah?" kaget Elena. Ia menggaruk tengkuknya. "Aduh, gimana ya Cha.. boleh sih."
__ADS_1
Jawaban yang di lontarkan itu membuat Chaca tersenyum senang.
"Tapi.. kamu yang minta izin sama Mas Bryan ya?" terang Elena. "Nanti kamu tidur di samping aku, terus-"
"Gak jadi deh Kak." wajah senang Chaca mendadak berubah. "Kalo izin dulu sama Kak Bryan mana di bolehin, yang ada baru mau bilang langsung di usir." tuturnya
Elena tersenyum tak enak. "Maaf ya Cha."
Chaca mengangguk lemah. "Gapapa Kak. Masih ada sofa kok, hiks." Chaca mulai berbalik, berniat melangkah menuju sofa. Namun sebelum itu, Elena mengucapkan sesuatu, membuat Chaca kembali menatapnya.
"Cha."
"Iya Kak?" Chaca menatap Elena kembali.
"Em-" Elena menggigit bibir bawahnya. "Soal di meja makan tadi, maafin aku ya." ia merasa bersalah karena membuat hal yang tidak baik pada Chaca tadi malam. Sedari tadi ia memikirkannya, membuat hatinya merasa tak enak pada adik ipar itu.
Tersenyum. "Gapapa kok Kak. Salah Chaca juga tadi yang keceplosan. Chaca juga tau kok, pasti Kakak Ipar mau ngasih tau sendiri soal ini sama Kak Bryan."
Elena mengangguk. "Makasih ya Cha."
Menaikkan jempolnya. Chaca tersenyum lebar. "Oke Kak." ia kembali berbalik, berlalu dari hadapan Elena. Ia masih ngantuk, membuatnya ingin langsung ke sofa.
Elena menatap Chaca yang mulai pergi dari hadapan nya. Sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan lagi, pasal buah tadi. Tapi gadis itu sudah terlebih dahulu pergi darinya. Membuatnya tak enak jika harus kembali bertanya.
Kembali membuka kulkas. Elena menatap isi dalamnya lagi. Memilih-milih buah yang ada disana. Tidak apa-apa lah. Ia memakan buah yang lain saja.
"Elena?"
"Eh?" Elena dengan cepat mengalihkan pandangannya pada asal suara yang muncul tiba-tiba itu. "Mah."
Meldi berjalan menuju Elena. Ia cukup terkejut melihat menantunya ada disini tengah malam.
"Kamu ngapain disini Na?" tanya nya sampai di samping Elena.
"Em, Elena mau buah. Elena minta buahnya boleh?" ragu Elena.
Tersenyum gemas. "Boleh sayang, ambil aja kalo kamu mau apa-apa. Gak usah bilang. Isinya juga kan buat kamu juga."
"Makasih Mah." Elena ikut tersenyum.
Meldi mengangguk.
Elena mulai mengambil apel disana. Lalu membawanya pada meja yang tepat di belakangnya. Ia berniat mengupas dan memotong apel tersebut.
Meldi ikut mengambil susu di dalam kulkas. Lalu kembali mendekat pada Elena.
"Oh ya Na, bentar lagi ulang tahun Bryan loh, kamu udah kepikiran mau ngasih dia apa?" Meldi kembali membuka suara.
Menghentikan potongannya. Elena menatap Meldi. Ia lupa! ia lupa jika sebentar lagi adalah ulang tahun Bryan. "Oh iya Mah. Elena gak inget, Elena belum nyiapin apa-apa." duh, kenapa ia jadi lupa ulang tahun suaminya sendiri?
Menghabiskan susu yang berada di genggaman nya. "Nanti sekalian aja besok sama Chaca pergi ke mall. Chaca juga katanya besok mau beli kado." tuturnya.
Mengangguk. "Iya Mah. Em, ulang tahunnya rencananya mau di rayain atau gimana?"
Meldi menggeleng pelan. "Bryan dari kecil gak suka di rayain ulang tahunnya. Dia nolak sendiri gak mau di pestain. Papah udah bujuk buat digelar pesta walau cuman acara keluarga, tapi Bryan tetep kekeuh gak mau. Bahkan disaat ulang tahunnya, Bryan malah lebih milih tetep kerja. Kayak hari biasa, gak ada spesial-spesialnya gitu. Kayak ngerasa hari biasa aja dia. Mamah juga heran kenapa dia bisa gitu." tak mengerti Meldi. Memang sedari kecil Bryan anti terhadap pesta-pesta seperti itu. Entahlah. Ia pun tidak tau apa alasannya. "Tapi biasanya selama ini kita tetep kasih dia kado. Walau di bukanya gatau kapan. Dia bilang kayak anak kecil aja dikasih kado gitu." Kekeh-nya. Membuat Elena ikut terkekeh.
"Yaudah kalo gitu Mamah ke atas dulu ya." lanjut Meldi. Berniat kembali ke kamar.
Elena mengangguk. "Iya Mah."
Mengelus puncuk kepala menantunya, Meldi lantas berjalan menjauh dari dapur. Meninggalkan Elena sendirian disini.
Elena menatap diam kepergian mertuanya itu. Ia kembali memotong sembari berpikir. Hadiah apa yang cocok untuk Bryan? ia jadi binggung akan mengadokan apa.
"Ya Tuhan Cha.. kamu ngapain disini?"
Elena melirik ke depan sana. Terlihat Chaca dan juga Meldi yang nampak sedang berbicara.
"Chaca mau tidur Mah! banyak nyamuk disini, aaa Chaca mau ikut sama Mamah ke kamar ya? kamar Chaca bocor. Papah jahat gak bolehin Chaca tidur disana."
"Ckckck. Yaudah ayuk ke atas. Kasian anak Mamah, biarin nanti Papah kamu yang Mamah suruh tidur di bawah."
"Yeay, Mamah emang yang terbaik!"
Elena terkekeh pelan sembari menggeleng kan kepalanya. Ia kembali pada pikirannya. Kira-kira hadiah apa yang cocok untuk suaminya?
__ADS_1
Menatap perut ratanya. Elena seketika tersenyum diam, ketika ada selintas pikiran yang muncul di otaknya. Sepertinya ia tau akan memberi hadiah apa pada Bryan.