
HAPPY READINGGGGG😍😍
Memakai jubah handuknya. Elena keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuhnya.
Ia menatap sekelilingnya. Keadaan masih terasa sepi disini. Elena yakin pasti Bryan belum datang. Kira-kira pria itu pergi kemana ya? Elena jadi kepo sendiri.
Melangkahkan kakinya menuju pintu. Elena akan melihat keadaan di ruangan Bryan, kali saja pria itu sudah pulang dan ada disana.
Ceklek
"Nona."
Elena terperajat kaget ketika baru saja membuka pintu di depannya. Bagaimana tidak coba? sesosok wanita nampak sudah berdiri di hadapannya dengan menatapnya tersenyum. Elena hanya kaget saja. Sejak kapan wanita ini ada disini? kenapa tidak memanggilnya atau bagaimana gitu?
"Bibi?! bikin kaget aja," balas Elena dengan mengelus dadanya pelan. Ya, Elena tau wanita di depannya ini adalah salah satu maid yang bekerja di rumah keluarga Bryan. Tapi untuk apa maid ini kesini?
Maid itu menunduk. "Maaf Nona, sudah membuat anda terkejut." balasnya merasa bersalah.
Melihat itu membuat Elena jadi ikut merasa bersalah karena nada bicaranya cukup keras tadi. "Maaf Bi. Gapapa kok. Elena tadi cuman sedikit kaget soalnya Bibi tiba-tiba ada disini." sahut Elena tersenyum. "Oh iya Bibi ngapain kesini?" lanjutnya.
Mendongakkan kepalanya. Maid tersebut menaikkan tangannya, memperlihatkan sebuah tas kecil yang ia bawa. "Saya bawa baju untuk Nona. Sesuai perintah dari Tuan Bryan."
Elena terdiam lalu tak lama mengangguk. Ia jadi lupa sendiri. Padahal ia yang meminta Bryan untuk menyuruh Maid membawakan pakaiannya dari rumah.
Menerima tas tersebut. Elena tersenyum. "Makasih ya Bi."
Maid tersebut mengangguk. "Sama-sama Nona."
Elena lalu mengalihkan tatapannya. Melihat sekeliling ruangan yang ada di depannya. Nihil, orang yang ia cari tidak ada disini.
"Dokter Bryan kemana ya Bi?" tanya Elena, menatap kembali sang Maid.
"Saya tadi melihat Tuan Bryan di lobi depan Nona."
Menaikkan sebelah alisnya. "Dia mau kemana?" tanya Elena.
Maid tersebut menggeleng pelan. "Saya tidak tau Nona, soalnya Tuan Bryan menyuruh saya untuk langsung masuk saja ke ruangannya dan menunggu Nona Elena keluar dari kamar. Makannya saya menunggu disini."
Elena ber-oh. Ia jadi kepo Bryan akan pergi kemana. "Sekali lagi makasih ya Bi."
Maid itu kembali mengangguk. "Sama-sama Nona. Kalo begitu saya permisi untuk langsung pulang ke rumah."
"Bibi gak mau istirahat dulu disini?"
Menggelengkan kepalanya. "Tidak Nona. Saya masih punya beberapa pekerjaan di rumah. Maaf tidak bisa menemani Nona disini." jawab Maid tersebut.
Tersenyum Manis. Elena mengangguk. "Gapapa Bi. Maaf ngerepotin."
"Tidak merepotkan Nona. Memang sudah tugas saya. Kalo begitu saya permisi. Mari Nona," setelah berpamitan sang Maid berputar arah, berbalik dan melangkah menuju keluar dari ruangan ini.
Elena terdiam melihat kepergian Maid tersebut. Tak lama ia menghembuskan nafasnya lelah lalu membuka tas kecil yang sudah ada ditangannya. Sebuah dress miliknya terlihat di dalamnya.
"Huh." Elena pun memundurkan tubuhnya. Menutup kembali pintu kamar ini dan masuk lagi kedalamnya. Ia akan mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan pakaian yang Bibinya bawa. Mumpung Bryan belum kembali ke ruangan ini.
__ADS_1
...---...
Setelah selesai berganti, Elena keluar dari kamar dan berniat menunggu Bryan di sofa yang ada di ruangan ini. Namun, saat ia sudah menutup pintu dan berbalik, Elena melihat seseorang yang begitu familiar sudah duduk santai di sofa yang akan ia duduki.
"Dokter Bryan." gumam pelan Elena. Menatap seseorang itu. Ya, Bryan nampak sudah duduk disana dengan pandangan yang nampak fokus memainkan handphone nya.
Merasakan ada seseorang yang menatapnya. Bryan mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan melihat perempuan di hadapannya yang sudah mengganti pakaiannya. Ia lantas bergeser dan menepuk tempat disampingnya.
Elena yang melihat itu pun mengangguk dan berjalan mendekati Bryan. Ia lalu duduk di samping Pria itu yang sedari tadi menatapnya. Entah kenapa jantungnya kembali berdetak kencang. Kegugupan lagi-lagi ia rasakan.
"Makan." Bryan menunjuk sebuah paper-bag di meja hadapannya dengan dagunya.
Elena lantas menatap arah tunjuk suaminya itu.
"Aku tau kau pasti lapar bukan? aku belikan makanan itu untukmu." lanjut Bryan.
Elena tersenyum dalam diam. Walau ucapan Bryan terkesan dingin dan tidak ada romantis-romantisnya, hatinya merasakan ada getaran. Ah, kenapa suasana hatinya jadi sering berubah sih?
"Ayo buka, atau kau mau ku suapi?" Bryan kembali mengeluarkan suaranya ketika melihat Elena yang hanya diam.
Elena dengan cepat menggeleng dan mengambil paper-bag tersebut. Ia membukanya lalu melihat isi dalamnya. Sebuah kotak makanan terlihat disana.
Tatapannya pun kembali teralihkan. Menatap Bryan. "Dokter gak makan?" tanyanya. Karena di dalamnya hanya terlihat ada satu makanan. Apa Bryan memang sengaja membelinya satu? atau pria ini memang tidak ingin makan?
"Aku sudah kenyang memakan mu tadi."
Blush!
Wajah Elena seketika memerah. Pipinya nampak merona ketika mendengar jawaban dari Bryan yang membuat ia merasakan ada gelayar aneh di dalam tubuhnya.
Elena mengangguk pelan lalu mulai membuka makanan tersebut. Ia mencoba untuk membuang rasa gugupnya. Sungguh, ia jadi salting sekarang.
Bryan hanya menggeleng kepalanya. Wajah Elena sungguh lucu jika seperti itu, membuatnya gemas. Ia ingin sekali mencubit pipi tembam perempuan ini namun ia terlalu gengsi untuk melakukannya.
Drrtt...Drtt
Suara ponsel berdering membuat keheningan di antara mereka terganggu. Bryan yang merasakan ada sebuah panggilan di ponselnya pun segera menatap ponsel tersebut. Dan benar, sebuah panggilan dari seseorang tertera disana.
"Kau lanjut makan saja," Bryan bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh dari Elena untuk mengangkat sambungan telpon tersebut.
Elena yang melihat nya hanya menaikkan kedua bahunya lalu kembali menyantap makanan nya.
Bryn menghentikan langkahnya lalu menatap kembali ponselnya. Tak ingin menunggu lama, ia pun mengangkat telpon tersebut.
"Kenapa?"
"Hey! tidak ada sopan-sopannya kau pada ayahmu sendiri." Ya, yang menelpon tak lain adalah Abraham, sang Ayah.
Bryan berdekhem. "Aku sedang sibuk. Papah ingin berbicara apa? aku tidak memiliki banyak waktu."
Terdengar suara berdecih dari ujung sana. "Halah, paling kau sibuk dengan gadis mu itu! eh bukan, bukan gadismu lagi tapi wanitamu. Ya kan? haha.."
Bryan tau apa maksud dari Papahnya itu. Ia lalu menghembuskan nafasnya malas. "Jadi Papah menelpon hanya ingin meledekku?"
__ADS_1
"Bukan begitu anak muda, ada satu hal yang harus Papah sampaikan, ini tentang gadis eh wanitamu itu."
"Apa?"
Bryan seketika terdiam, mendengarkan lanjutan dari sang Papah. Tuturan dari Abraham membuatnya sedikit terkejut, Ia tidak menyangka jika hal itu akan terjadi.
"Yasudah, aku pulang sekarang."
Bip!
Bryan mematikan sambungan telponnya itu sepihak lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja nya. Ia lantas kembali melangkah, menuju tempat dimana Elena berada.
"Kita pulang," ucap dingin Bryan. Menatap Elena datar.
Elena yang masih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya itu langsung menatap Bryan. "Tapi makanan saya-"
"Lanjutkan nanti saja. Ayo."
Elena melihat Bryan yang berbalik dan mulai berjalan terlebih dahulu menuju pintu ruangan ini.
Seketika Elena mendengus. Sebal melihatnya. Kenapa tiba-tiba pria itu berubah menjadi menjengkelkan?
Elena pun segera membereskan makanannya dan memasukkannya lagi ke dalam paper-bag itu. Ia lalu berdiri, dan berjalan menyusul Bryan yang sudah mendahului nya.
Berjalan beriringan, sekarang mereka berdua sudah berjalan di lorong rumah sakit. Sedari tadi Elena hanya menunduk, entah kenapa ia rasa banyak pasang mata yang menatapnya. Apa dirinya terlihat aneh disini?
Bryan, yang merasakan apa yang dirasa oleh Elena pun melirik sekilas gadis di sampingnya itu. "Jangan hiraukan mereka, naikkan kepala mu. Tatap saja jalanan di depan. Jangan pedulikan mereka." bisik tenang Bryan.
Mendengar itu membuat Elena menatap Bryan. Pria itu nampak tenang berjalan dengan banyak pasang yang menatapnya. Bukan begitu, mungkin Bryan sudah biasa dilihat banyak orang. Tapi dirinya? jujur Elena sedikit risih dengan tatapan orang-orang disini. Tatapan mereka seakan memiliki maksud berbeda. Tapi Elena tidak tau maksud dibalik itu.
Sampai pada mobil. Keduanya lantas masuk ke dalam mobil tersebut dengan Bryan dibagian pengemudi sedangkan Elena di sampingnya.
Setelah sudah di rasa siap, Bryan menyalakan mesin mobilnya dan mulai berjalan keluar dari rumah sakit ini.
Bryan nampak fokus menyetir lain dengan Elena yang tengah sibuk dengan makanannya. Ya, wanita itu terlihat memangku sebuah paper-bag yang ia bawa di atas paha nya. Elena terlihat mulai membuka makanan di dalam kantung tersebut dan mulai melanjutkan aktivitas memakannya yang sempat terhenti di ruangan Bryan tadi.
Jangan salahkan Elena, salahkan saja pria di samping ini. Jujur, Elena sebenarnya sedang lapar tapi pria itu malah mengajaknya pulang, alhasil daripada Elena mati kelaparan, ia melanjutkan saja makanannya di dalam mobil ini. Toh Bryan pun kelihatannya tidak keberatan.
Keheningan pun tercipta di mobil ini. Tak lama Bryan menghentikan laju mobilnya, karena ada sebuah lampu merah di hadapannya. Sembari menunggu lampu itu hijau, Bryan mengalihkan tatapannya. Menatap Elena di sampingnya yang sedari tadi terdiam.
Seketika Bryan menggeleng kan kepalanya melihat Elena yang seperti orang kelaparan. Perempuan itu sibuk sendiri pada makanannya.
Namun saat sedang memperhatikan wajah Elena, mata Bryan tiba-tiba terfokus pada bibir Elena. Ia melihat ada sesuatu di samping bibir gadis itu.
Menaikkan tangannya, Bryan mendekatkan wajahnya pada Elena. Tangannya nampak bergerak menyentuh pinggiran bibir perempuan itu. Mungkin karena lahapnya Elena tidak menyadari ada sisa makanan di bibirnya, Bryan pun berinisiatif mengusap sisa makanan tersebut di bibir Elena.
Elena yang merasakan ada sebuah tangan menyentuh wajahnya pun seketika meremang. Tubuhnya tersentak kaget mendapati hal itu. Ia lantas menatap pemilik tangan itu, yang kini ada di dekatnya.
Bryan mengusap bibir Elena dengan bersih menggunakan jempol tangannya. Setelahnya ia nampak menarik smrik nya, menatap Elena.
Keduanya saling menatap satu sama lain, dengan wajah yang cukup berdekatan sekarang.
"Aku jadi ingin merasakan ini lagi." Bryan mengelus bibir Elena pelan, membuat sang empu pemilik bibir melebarkan matanya terkejut.
__ADS_1
Plak!