
Elena terpaku diam. Mendengar ucapan yang di lontarkan Putri. Ja-jadi?
"Dengan seenaknya Ibu Lo minta Bapak gue tanggung jawab! Padahal bukan Bapak gue yang berbuat!" air mata di mata Putri mulai turun deras. Mengingat kejadian saat dimana umurnya yang masih kecil harus menerima kenyataan tentang semua itu. Walau dia masih kecil, Putri mendengar dan mencerna semua kejadian saat itu, barulah ia mengerti ketika dirinya sudah dewasa. "Mentang-mentang Ibu Lo dan Bapak gue sahabatan, dengan gak berdosanya Ibu Lo minta Bapak gue buat nikahin dia dan minta izin sama Ibu gue. Hiks lo mau tau rasanya hati ibu gue saat itu? saat dimana seorang wanita terang-terangan minta di nikahin sama suami yang udah punya istri. Sakit. Apalagi Bapak gue dengan bodohnya mau tanggung jawab. Saat Ibu Lo mohon-mohon biar Lo lahir dengan ada nama Bapak di akte kelahiran Lo."
Wajah Putri memanas. Wajah Elena dan Sarah hampir mirip jika di bandingkan. Walau Sarah sudah meninggal tetep aja ia melihat ada sosok Sarah di diri Elena. Yang membuatnya benci pada sosok dihadapannya ini. Kejadian saat itu terus terngiang-ngiang di otaknya saat melihat sosok Elena di dekatnya. Makannya ia selalu bertindak kasar pada gadis ini, karena keluarganya retak dan hancur karena ulah Elena. Kehadiran Elena yang membuat keluarganya hancur.
"Dulu gue masih kecil. Gue gak ngerti. Saat dimana ngeliat Bapak duduk berdua dengan wanita lain di depan gue dan ibu gue. Wanita itu pake baju kebaya sedangkan Bapak pake baju koko. Dengan seseorang di depannya yang ngejabat tangan bapak erat. Gue liat ibu gue netesin air mata. Dia cuman pegang tangan gue erat. Dengan ngomong kalo semuanya bakal baik-baik aja." Putri menghapus kasar air matanya.
"Dan sejak hari itu. Gue gak pernah lagi liat Bapak gue ada di rumah. Gue selalu nanya sama Ibu gue. 'Bapak kemana?' tapi Ibu gue cuman bilang kalo Bapak gue punya tanggung jawab lain di luar sana. Gue gak ngerti tapi gue tetep anggukin kepala gue di depan Ibu gue. Sejak itu juga ibu gue berubah jadi pendiem, ibu jadi sering ngelamun, ibu sering nangis, ibu sering ngigau nyebut nama Bapak. Dan Ibu sakit. Dan gue mikir, gue mulai mencerna semuanya. Dan saat itu gue benci sama Bapak. Bapak ninggalin gue sama Ibu gue setelah wanita itu datang! Ibu Lo ngerebut Bapak gue. Bapak gue ninggalin gue sama Ibu gue dan lebih milih tinggal sama si ja lang itu dan Lo!" teriak Putri. Menatap tajam Elena. Sakit hatinya belum pulih sepenuhnya.
"Sejak itu hidup gue mulai mandiri. Umur gue masih kecil, tapi gue harus ngelakuin semuanya sendiri. Disaat itu juga Ibu mutusin buat kerja dan gue harus bantuin Ibu kerja, biar gue sama ibu gue bisa makan. Bapak ninggalin gue sama ibu begitu aja, sampai berbulan-bulan, Bapak gak pernah pulang, ataupun jenguk gue, ngeliat keadaan gue sama Ibu, gak pernah sama sekali," Putri berjalan, memutari Elena. Dengan mata yang tertuju pada Elena.
"Tapi, setelah hampir satu tahun Bapak ninggalin gue. Dia dateng lagi. Bapak gue pulang ke rumah. Tapi gak sendirian. Dia bawa anak kecil di gendongan nya. Ibu nyambut Bapak dengan senang. Tapi gue enggak. Disaat gue sama Ibu gue udah mulai bisa mandiri. Bapak dateng gitu aja sama sosok anak kecil, Dulu gue berpikir, pasti anak kecil itu yang bikin Bapak gue ninggalin gue. Bapak gak peduli lagi sama gue karena ada anak kecil itu. Dan anak kecil itu Lo mau tau? itu siapa?" Putri menarik smrik-nya. "Itu Lo." ucapnya tepat di samping telinga Elena.
Putri kembali berdiri di hadapan Elena. "Bapak dateng minta maaf sama gue dan Ibu gue. Tapi bodohnya, ibu gue maafin Bapak gue setelah dia ninggalin gue sama ibu gue tanpa alasan. Ibu gue nerima gitu aja kehadiran Bapak dan lo!" Putri menghembuskan nafasnya kasar. "Gue pikir setelah hari itu, gue bisa dapetin lagi kasih sayang seorang ayah. Tapi ternyata enggak. Bapak gue malah lebih perhatian sama lo. Dan Ibu gue? Ibu gue juga lebih perhatian sama lo. Dengan alasan gue udah besar, sedangkan Lo masih kecil. Bisa-bisa nya ibu gue baik sama anak dari pelakor yang udah ngerebut suaminya. Lo ngerebut semua yang gue punya!"
Mata Elena memerah. "Jadi karena semua itu, Kakak benci sama Elena?" Elena tak pernah menyangka. Jika ternyata Putri memiliki alasan membencinya.
__ADS_1
"Stop panggil gue Kakak!" teriak Putri. "Gue gak sudi punya adik kayak lo!"
Elena menunduk. Air matanya turun deras membasahi pipinya. Dirinya merasa sangat bersalah. Karena dirinya keluarga Putri hancur. Jadi selama ini dirinya yang salah?
"Bapak minta gue buat jadi Kakak yang baik buat lo. Dia minta gue harus selalu ada buat lo. Gue iri, Bapak selalu lebih perhatian sama lo, nurut semua yang Lo mau. Disaat gue minta sesuatu dan Lo minta juga, Bapak lebih mementingkan yang Lo minta. Dan gue? gue cuman dapet nasehat. Bapak minta buat gue ngalah sama Lo. Dengan alasan gue udah gede sedangkan Lo masih kecil! Lo juga mau tau alasan Bapak nyekolahin gue tinggi? sampai kuliah? karena Bapak pengin gue bisa dapet kerja layak. Yang gaji nya tinggi. Biar saat Bapak udah gak mampu cari uang buat sekolah Lo, gue yang biayain. Apa yang Bapak gue kasih buat gue itu ada alasannya, yang pastinya untuk kehidupan Lo. Gue iri karena Bapak lebih mikirin Lo daripada gue."
"Kalo emang yang di ucapin Kak Putri itu benar. Elena minta maaf sama Kak Putri," setelah lama Elena terdiam, akhirnya ia mengeluarkan suaranya.
"Apa dengan Lo minta maaf, semuanya bisa kembali?" Putri mengepalkan tangannya. "Gue pikir dulu, gue bisa aja maafin Lo dan mulai nerima semuanya. Tapi, ada satu hari yang bikin gue makin benci sama Lo."
"Bapak minta gue buat nyembunyiin ini dari lo. Bapak gak mau buat Lo kepikiran dan ngerasa bersalah. Tapi menurut gue itu gak adil." Putri menahan dirinya untuk tidak menyerang Elena. Sungguh ia tidak kuat sekarang. Tapi ia mencoba untuk menahan diri. "Saat Lo kecelakaan lima tahun lalu. Dan ketika Lo udah sadar. Bapak bilang kan kalo Ibu meninggal karena penyakit? Lo percaya gitu aja?"
Dibalik mata sembab Elena, Elena menatap Putri dengan bertanya. "Bu-bukannya iya?"
"GAK!" Putri kembali histeris. "Ibu meninggal karena Lo! Sarah dateng lagi saat itu, dia minta Ibu gue buat donorin darah dan ginjal nya buat Lo karena Lo kecelakaan parah dan butuh donor darah dan ginjal! padahal ibu kandungnya itu dia! bukan ibu gue! dan Bapak juga mojokin ibu, minta buat ibu gue nolongin Lo! karena darah dan ginjal Ibu gue itu cocok sama Lo sedangkan punya Bapak enggak. Bodohnya ibu gue mau. Tapi sayangnya hiks Ibu gak kuat dan dia berakhir meninggal. Setelah ngedonorin semuanya buat Lo."
Elena menutup bibirnya dengan tangannya. Tak percaya dengan apa yang di lontarkan Putri.
__ADS_1
"Lo itu perempuan pembawa sial! Ibu meninggal karena Lo! bapak juga meninggal karena Lo! dan Ibu kandung Lo sendiri juga meninggal karena Lo!" Putri tertawa melihat wajah Elena yang kaget. "Hahaha, binggung ya? nih gue jelasin. Lo pikir Lo bisa ngeliat dan dapet donor mata secepat itu darimana heh? ya dari ibu Lo lah. Sarah, Ibu ja lang Lo itu yang donorin matanya buat anak kesayangannya."
Putri kembali menghentikan tertawanya. Kembali pada wajah sedihnya. "Gue sedih saat Ibu gue meninggal. Walau gue juga benci sama Bapak, gue tetep sedih saat Bapak meninggal." Putri menghapus matanya. "Lo udah tau kan alasan gue benci sama Lo? Alasan gue mau nyelakain Lo? karena wajah Lo mirip sama Sarah. Lo anak dari wanita yang gue benci. Karena Lo hidup gue berantakan. Gue gak mau Lo bahagia. Gue pengin Lo ngerasain apa yang gue rasain dulu. Itu aja."
Dua kepolisian langsung mengenggam tangan Putri kembali. Putri pun tidak melawan lagi. Mengingat masalalunya membuat tubuhnya melemah. Masih dengan menatap Elena. Putri tersenyum masam. "Maafin gue karena belum bisa ngabulin permintaan Bapak buat jadi Kakak terbaik buat Lo. Satu hal lagi yang harus Lo inget, ada rasa dimana gue juga sayang sama Lo sebagai kakak, tapi rasa benci nutupin perasaan itu di diri gue. Gue titip kuburan Bapak sama Ibu. Lo anak kesayangan mereka."
Polisi itu mulai membawa Putri keluar dari rumah ini. Untuk mempertanggung jawabkan semua yang ia perbuat.
Elena masih terdiam ditempatnya, menatap kepergian dari sang Kakak. Semua tamu pun masih terlihat diam.
Keadaan mendadak hening. Bryan berinisiatif untuk mendekat dan memeluk Elena yang nampak syok. Namun sebelum medekatinya, Elena terlebih dahulu menatap Bryan, membuat Bryan menghentikan pergerakannya.
"Saya butuh waktu sendiri Dok. Jangan ganggu saya," setelah mengatakan itu, Elena pergi dari taman ini. Meninggalkan semuanya. Dirinya butuh ketenangan untuk hatinya.
-
Jadi kalo kalian ada di posisi Putri, apa kalian juga bakal ngelakuin hal yang sama?
__ADS_1