Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB65: Buta


__ADS_3

HAPPY READING🄰


"Maafkan aku." lirih pelan Bryan. Bryan mengepalkan tangannya erat. Dugaan Dokter Farhan ternyata benar. Elena mengalami ini semua.


Elena masih mengeratkan pegangannya pada Bryan. "Maaf? untuk apa Dok?"


"Matamu-" Bryan tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Mata saya kenapa? tolong nyalain lampunya dulu Dok, saya takut kegelapan." Elena masih memegang erat yang Bryan, mencoba agar pria itu tidak menjauh darinya.


Bryan menahan nafasnya. "Kau sudah tidak bisa melihat lagi."


Deg!


Elena terdiam.


"Maksud Dok-dokter saya?" Elena menghentikan ucapannya sebentar sebelum kembali berucap. "Sa-saya buta?"


Elena segera menggelengkan kepalanya keras. "Gak!" ia pun melepaskan pegangannya pada tangan Bryan. "Dokter jangan bercanda."


"Kecelakaan itu membuat saraf penglihatan mu terganggu. Maafkan aku karna tidak bisa menyelamatkanmu saat kecelakaan itu," Bryan membawa tangan Elena kedalam tangannya, mencoba memberikan kekuatan.


Elena kembali menggelengkan kepalanya. Ia buta? tidak mungkin. Ini tidak mungkin.


Tetesan demi tetesan air mata mulai turun membasahi pipi Elena perlahan. Elena mencoba memejamkan matanya kembali lalu membukanya lagi. Ia lakukan itu dalam beberapa kali. Berharap ketika membuka matanya, ia bisa melihat keadaan didepannya.


"Kenapa masih gelap." air mata Elena mulai turun deras di matanya. "Kenapa masih gelap Dok!! saya gak mau kayak gini!"


Bryan merasakan tangan Elena mengenggam tanganya erat. Dengan sekali hentakan, Bryan segera memeluk Elena. Ia tau pasti gadis ini syok.


Bryan ikut sedih melihat keadaan Elena. Gadisnya seharusnya tidak mengalami peristiwa ini.


"Tolongin mata saya Dok!" Elena segera melepaskan pelukan Bryan kencang. "Saya gak mau kayak gini!!!!" teriaknya histeris.


"Kau tenang!" pundak Bryan nampak naik turun. "Aku juga tidak mau kau seperti ini!"


Bryan kembali memeluk Elena erat. Mengelus puncuk dan punggung gadis itu.


Elena menaruh kepalanya di pundak Bryan. Air matanya masih menurun deras. Ia tidak percaya jika semua ini terjadi padanya.


"Aku berjanji akan mencari cara agar kau bisa kembali melihat. Kau tenang saja, aku akan pastikan kau akan bisa melihat lagi." bisik Bryan, pelan.


____


Chaca melangkahkan kakinya berjalan menyusuri lorong yang cukup ramai. Setelah pembicaraannya dengan Ibu-Ibu bernama Sarah, ia memutuskan untuk kembali mengunjungi kamar Elena untuk melihat bagaimana keadaan Kakak Iparnya itu.


Dengan wajah menunduk, Chaca berjalan perlahan. Hatinya masih takut untuk bertemu Elena. Apa ia akan marah padanya? semua ini karna-nya pasti Bryan akan memarahinya nanti. Namun bodoamat dengan semua itu, yang terpenting ia harus melihat dulu bagaimana keadaan Elena.


Sampai didepan tujuannya, ia menatap sosok pria yang sedang duduk sembari menunduk di kursi tunggu.


"Maafin gue Cha."


Chaca berjalan mendekat kearah pria itu dan ikut duduk disampingnya.


"Ini emang kesalahan gue kok Kak, gue yang salah disini." jawab Chaca, mengulas senyum masamnya.


Aiden mendongakkan wajahnya menatap adiknya ini. Ia menghela nafasnya pelan. "Lo sama Kakak Ipar kenapa bisa kecelakaan?!"

__ADS_1


Chaca membuang wajahnya, menghindari tatapan tajam dari Aiden. "Chaca minta Kakak Ipar ajarin Chaca naik mobil." ucapnya sembari menunduk.


Aiden mengalihkan tatapannya menatap handphonenya lalu menaikkan ponselnya itu, agar Chaca bisa melihat apa yang ada dilayar ponselnya.


"Lo liat? mobil sampai penyok kayak gini. Rusak parah Cha." Aiden kembali mematikan ponselnya setelah menunjukan foto keadaan mobil yang dipakai Chacha dan juga Elena. "Terus pas Lo belajar mobil, Lo kecelakaan gitu sama Kakak Ipar?"


Chaca kembali menatap Aiden. Ia menggelengkan kepalanya keras. "Gak! gue belum belajar mobil! tadi tuh-" Chaca mencoba mengingat-ngingat kejadian tadi. "Saat di perjalanan, mobil tuh dihadang sama mobil hitam gitu."


Aiden menaikkan sebelah alisnya, masih menunggu kelanjutan cerita Chaca.


Chaca mulai menjelaskan kronologis kejadian tadi, mulai dari dihadang dengan empat orang pria, berkelahi dan tembak-tembakan hingga menabrak.


"Mereka bilang mau nyawa gue sama Kakak Ipar." lirih Chaca.


"Lo jujur kan Cha?" tak percaya Aiden.


Chaca mengangguk. "Gue jujur Kak! gue gak mungkin boong! Lo gak percaya sama gue?"


Setelah lama berfikir dan terdiam, Aiden pun mengeluarkan suaranya. "Gue yakin pasti ada orang yang nyuruh mereka."


"Gue juga kepikiran gitu, tapi siapa yang nyuruh mereka? apa untungnya bagi yang nyuruh?" penuh tanya Chaca.


Aiden menatap Chaca serius. "Dendam. Pasti karna dendam."


___


Bryan melepaskan pelukannya setelah merasakan Elena tenang. Ia menangkup kedua pipi Elena. "Aku akan membuatmu bisa melihat lagi. Aku tidak akan membiarkan kau seperti ini."


Elena memejamkan matanya. Hanya gelap yang ia rasakan. Ia hanya diam tak bersuara. Hatinya kacau, pikirannya kacau. Ia belum bisa menerima semua ini. Kenapa takdir begitu kejam padanya?


Elena merasakan tangan Bryan mulai lepas dari pipinya. Ia lantas menunduk. "Maafin saya Dok. Saya keluar rumah tanpa izin." apa ini akibatnya karna membantah ucapan Bryan? tapi kenapa hukuman ini yang ia dpaatkan.?


Jika saja Elena bisa melihat, mungkin ia tau bagaimana ekspresi Bryan saat ini. Pria itu nampak sangat merasa bersalah.


"Aku akan mencari cara agar kau bisa melihat. Kau istirahat ya?"


Elena mengeleng pelan. "Dokter jangan pergi kemana-mana, saya takut sendirian Dok," Elena mengangkat tangannya mencoba mencari dan menggapai tangan Bryan.


Bryan segera merapatkan tangannya pada tangan Elena. "Aku akan meminta yang lain menjagamu disini. Aku harus berbicara pada Dokter lainnya. Aku tidak mau kau merasakan ini terlalu lama," tanpa disadari telapak tangan Bryan yang kosong, terkepal erat.


Tangan Elena masih mengenggam erat tangan Bryan.


"Ya?" ucap sekali lagi Bryan.


Elena mulai melepaskan tangannya pada Bryan. Ia terdiam, membisu pada posisinya.


"Aku akan kembali lagi. Kau harus kuat, jaga dirimu," setelah Bryan mengatakan itu, Bryan pun berbalik dan segera berjalan cepat keluar dari ruangan ini. Ia harus bertanya-tanya pada Dokter Fahri soal hasil pemeriksaan Elena.


Elena masih terdiam. Ia mendengar suara buka dan tutup pintu.


"Dok?" lirih pelan Elena mengenggam sebuah selimut yang cukup tebal yang melingkar di pinggangnya.


Matanya kembali ber-air. Bryan pergi meninggalkannya. Ia takut, ia tidak bisa melihat apapun. Ia takut seperti ini.


"Hiks hiks. Pak, Bu kenapa Elena gak bisa lihat apa-apa. Elena gak mau kayak gini, Elena takut." lirihnya menunduk, mempersilahkan air matanya turun.


___

__ADS_1


Bryan menutup kembali pintu ruangan Elena. Setelahnya ia berbalik dan menangkap ada dua orang yang sedang duduk didepannya, menatapnya juga.


Chaca dan Aiden pun segera bangkit dari duduknya ketika melihat Bryan.


"Maafin Chaca Kak." ucap Chaca menunduk.


Bryan terdiam namun tak lama ia kembali berucap ketika sadar kondisi dahi Chaca.


"Bagaimana kepalamu?" tanya Bryan, tanpa menjawab ucapan Chaca sebelumnya.


Chaca menatap Bryan. "Gapapa kok Kak, gak terlalu sakit." sahutnya. Sebenarnya dahinya cukup sakit, dan Dokter yang memperban kepalanya bilang jika lukanya cukup dalam, namun ia menahan semua itu.


"Tolong jaga Elena dengan baik didalam. Aku ada urusan sebentar." saat Bryan hendak pergi, tiba-tiba tangannya seperti ditahan oleh seseorang. Ia pun menghentikan niatnya untuk pergi.


"Kak Elena baik-baik aja kan?" tanya Chaca. Ya, ia yang menahan tangan Bryan. Setelah merasa Bryan tidak melanjutkan langkahnya, ia pun melepaskan tangannya.


Bryan nampak menghela nafasnya gusar. "Dia sudah sadar tapi dia tidak bisa melihat sekitarnya."


Aiden dan Chaca terdiam, tidak mengerti.


"Maksud Kakak?" timpal Aiden.


Bryan melirik kedua adiknya sekilas. "Aku rasa kalian tau maksudku," setelah itu, Bryan melanjutkan langkahnya, menjauhi Aiden dan Chaca.


Kedua orang itu masih terdiam ditempatnya, namun tak lama mereka pun langsung masuk kedalam kamar ruang rawat Elena untuk mendapatkan jawabannya.


___


Ceklek!


Elena mendengar suara pintu terbuka. Entah siapa yang masuk ia tidak tau.


"Kak."


Elena masih terdiam. Ia hafal dengan suara panggilan itu.


"Kakak Ipar gapapa-kan?" sesosok gadis mendekat kearah ranjang Elena, diikuti seorang pria di sampingnya.


"Cha, itu kamu?" tanya Elena.


Sekarang Chaca dan Aiden sudah ada disisi ranjang Elena.


"I-iya ini Chaca, Kakak Ipar kok-" lirih pelan Chaca, ia merasakan ada yang berbeda dengan Elena.


Aiden memperhatikan wajah Elena lekat. Ya, Aiden bisa membaca ekspresi orang, apa yang orang itu rasakan dan apa yang sedang disembunyikan. Aiden memang berkeinginan menjadi psikolog makannya ia mempelajari itu semua dari duduk di bangku kelas SMA. Ia bisa mendeteksi perasaan seseorang hanya dengan gerakan ditubuhnya, dan sekarang ia tau ada apa dengan Kakak Iparnya.


"Kakak Ipar gapapa kan? Kakak yang sabar ya." timpal Aiden.


Elena tersenyum kecil. "Aku gapapa kok Den."


Chaca menutup bibirnya dengan telapak tangan ketika paham dengan apa yang terjadi. "Kakak Ipar?"


Elena lagi-lagi tersenyum. "Aku gapapa kok Cha."


Air mata Chaca mulai kembali turun. Ia langsung memeluk Elena erat. "Gue minta maaf Kak hiks." ia merasa bersalah. "Gara-gara Gue kakak jadi gak bisa liat huwa."


Elena mengusap pinggung Chaca pelan. "Aku gapapa. Mungkin ini hukuman dari Tuhan buat aku. Aku baik-baik aja kok Cha. Kamu jangan nangis."

__ADS_1


Didalam hati Elena, ia mempertanyakan dosa apa yang ia lakukan hingga Tuhan menghukumnya seperti ini. Kenapa Tuhan memberikan takdir ini padanya? namun Elena tidak bisa menyalahkan Tuhannya, ini semua sudah berjalan sesuai rencana yang diatas jadi ia harus menerimanya.


__ADS_2