
HAPPY READING GUYS😽
Elena berjalan kembali menuju ruangan Bryan dengan membawa kantung kresek berisikan jus permintaan pria itu. Untung saja dirinya memiliki sedikit uang yang berada di kantung celana, jadi dirinya bisa membeli jus tersebut dengan uang nya.
Sampai didepan pintu ruangan, Elena segera masuk kedalamnya. Ia melihat sesosok pria yang masih terduduk disebuah sofa yang tadi sempat ia duduki juga. Elena berjalan dan mendudukan dirinya disamping Bryan yang masih fokus mengenggam ponsel.
"Ini Dok jus-nya," Elena menyerahkan jus tersebut pada Bryan. Ia membelikan jus alpukat, bisa dibilang itu juga adalah jus kesukaannya. Jadi berhubung Bryan bilang terserah rasa apa saja alhasil Elena membelikan jus yang ia suka. Semoga saja Bryan menyukainya.
Bryan mematikan ponsel miliknya dan memasukannya pada jas miliknya. Ia menatap Elena dengan pandangan datar. "Kau minum saja. Tubuh mu terlalu kurus, aku tidak mau dibilang suami yang tidak pernah memberimu makan hingga tubuh mu tidak berkembang. Jadi kau habiskan saja jus itu sendiri," ucapnya dengan bangkit dari duduknya.
Elena ikut bangkit dengan tangan yang masih memegang kantung kresek tadi. "Tapi kan ini pesenan Dokter tadi, ko malah jadi nyuruh saya yang minum?"
"Jika ku bilang minum kau minum saja. Jangan banyak membantah."
Elena menunduk. Pandangan yang ditunjukan Bryan terkesan datar namun tajam di matanya. Ada apa sebenarnya dengan pria ini?
"Aku harus pergi bekerja lagi. Kau jangan pergi kemana-mana tanpa seizinku, paham?" lanjut Bryan.
Elena mendongakkan wajahnya. "Iy-iya."
"Yasudah," Bryan melangkah menuju kearah pintu untuk keluar dari ruangan ini. Ia akan melanjutkan tugasnya kembali, jadwalnya cukup padat hari ini.
Sebelum Bryan keluar, Elena terlebih dahulu membuka suara membuat pergerakan dari pria itu terhenti.
"Ka-kalo saya keruangan Bapak saya lagi gapapa kan Dok?" tanya Elena.
Bryan berbalik menatap Elena yang berdiri agak jauh darinya. Ia mengangguk singkat. "Hm," lalu setelah itu Bryan kembali berbalik dan berjalan menuju keluar dari ruangan ini, meninggalkan Elena sendiri diruangannya.
Setelah Bryan keluar, Elena menatap jus yang digenggamnya dan memutar-mutar kreseknya. Yasudahlah, jika Dokter itu tidak mau jus ini lebih baik Elena meminumnya, daripada mubazir bukan?
"Huh," Elena membuang nafasnya kasar dengan kembali mendudukkan tubuhnya disofa. Ia menarik tasnya dan menaruhnya di atas paha.
Elena membuka tasnya dan mencari ponsel yang ia simpan didalamnya. Setelah mendapatkannya Elena membuka ponsel tersebut dan melihat-lihat isi didalamnya, siapa tau saja ada notif atau sebagainya.
Elena membuka kotak pesan diponselnya. Disana terlihat ada sebuah pesan masuk yang sudah dibaca. Elena tak merasa jika membuka pesan sedari tadi, tapi kenapa pesan itu menunjukan jika sudah dibaca?
"Jalan cempaka putih?" gumam pelan Elena saat membaca pesan itu. Itu adalah pesan yang dikirimkan mantan bosnya-Wilson. Ia jadi memikirkan apa yang akan dibicaraka pria itu, katanya sesuatu hal yang penting untuknya, memangnya hal penting apa?
Elena kembali mematikan ponselnya dan memasukannya kedalam tas tanpa menjawab pesan dari Wilson. Ia sudah mencatat baik-baik jalan dan jam kapan mereka akan bertemu. Mungkin nanti dirinya akan izin terlebih dahulu dengan Bryan untuk menemui pria itu, semoga saja diizinkan.
__ADS_1
Dengan menyeruput jus yang digenggamnya, Elena bangkit dari duduknya dengan tas yang sudah melingkar di pundaknya. Ia akan kembali ke ruangan Dimas untuk mengecek keadaan sang Bapak sekaligus mengatakan jika Bapaknya itu sebentar lagi akan sembuh, pasti Dimas akan senang.
Udara yang panas menambah rasa segar di minuman yang Elena bawa. Panas-panas gini memang enaknya minum jus, itu pikir Elena. setelah keluar dari ruangan Bryan ia langsung melangkah menyusuri lorong panjang rumah sakit untuk sampai pada tujuannya.
Keadaan disini cukup aman, tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu sepi membuatnya berjalan dengan santai.
Sampai diruangan Dimas, Elena mengetuk perlahan lalu masuk kedalamnya.
"Na? kamu darimana aja?"
Saat baru masuk Elena sudah disuguhkan dengan pertanyaan dari sang Bapak. Ia tersenyum dan menutup pintu ruangan ini sebelum mendekati Dimas.
"Dari ruangan Dokter Bryan Pak," Elena berjalan menuju ranjang Dimas. "Maaf ya, Elena gak izin dulu tadi sama Bapak. Soalnya tadi Bapak tidur jadi Elena takut ganggu kalo harus bangunin Bapak buat minta izin kesana." lanjutnya.
Dimas tersenyum hangat. Ia cukup maklum dengan sang anak karna sekarang status anaknya sudah berubah menjadi seorang istri dan memiliki suami yang harus diurus. "Gapapa Na, Bapak cuma nanya kok."
"Elena punya kabar gembira buat Bapak." Elena tersenyum bahagia disamping Dimas.
"Kabar apa?" Dimas jadi ikut penasaran dengan kabar baik dari anaknya.
"Bapak bentar lagi bakal sembuh. Penyakit Bapak sudah mulai hilang. Bapak bakal sehat lagi kayak dulu." ucap Elena. Ia sudah tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya sekarang.
Elena memajukan bibirnya mendapat sang Bapak yang hanya biasa-biasa saja mendengar tuturannya. "Bapak kok ekspresinya kayak gitu."
Dimas terkekeh. Ya, mendengar kondisi tubuhnya membuat ia juga ikut senang namun dirinya bukan menunggu kabar baik ini. Dirinya malah menunggu Elena mengatakan kabar baik prihal calon cucunya.
"Iya Bapak senang kok Na, kirain kamu mau ngomong kabar baik soal cucu Bapak."
Dahi Elena mengerut. "Cucu? cucu siapa? dari siapa?"
"Dari kamu lah, darimana lagi? Kakak kamu itu belum menikah, anak Bapak cuma kamu yang udah nikah." kekeh Dimas.
Pipi Elena memanas. Ia pastikan wajahnya sudah memerah sekarang. Mereka kenapa jadi membahas soal ini? Elena belum siap menjadi seorang Ibu, apalagi menjadi Ibu dari anak-anak Bryan. Ia sama sekali belum memikirkan hal itu.
"Bapak udah makan?" Elena mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dimas tau pasti anaknya ini malu dan tidak mau menjawab ucapannya tadi. "Daritadi kamu nanya Bapak udah makan belum." Dimas menggelengkan kepalanya. "Bapak udah makan Na, kan tadi Bapak udah bilang."
Elena tertawa renyah. Dirinya lupa jika tadi sebelum tidur Bapaknya ini mengatakan jika sudah makan. Ia hanya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, namun sayangnya dirinya malah menjadi malu sendiri.
__ADS_1
___
Chaca menatap Mamah nya yang tersenyum penuh arti sembari menatap ponsel yang digenggamnya.
"Mah?" sapa Chaca dengan pandangan kepo dan heran.
Meldi mengalihkan tatapannya pada anak yang berdiri disampingnya. "Kenapa Cha?"
"Mamah ngapain senyum-senyum depan ponsel? wah jangan-jangan Mamah-" Chaca menaikkan kedua alisnya seperti mengode sesuatu. "Chaca bilangin Papah ah." lanjutnya dengan menyalami tangan Meldi.
Meldi menerima uluran tangan anak terakhirnya ini dan segera mematikan ponselnya lalu menatap Chaca. "Apaan sih Cha. Jangan aneh-aneh deh."
"Mamah ngapain sih? Chaca kepo nih."
Sekarang mereka sedang berada diruang tamu. Chaca yang baru saja pulang sekolah langsung menghampiri Meldi yang duduk disofa dengan pandangan fokus menatap layar pipihnya.
Meldi tersenyum penuh arti. Ia sedang merencanakan sesuatu sekarang. "Kepo kamu Cha. Anak kecil diem aja." ucapnya dengan terkekeh.
Wajah Chaca mulai mengkerut. "Mamah main rahasiaan." ia memajukan bibirnya kesal.
Mendapati wajah kesal dari anaknya membuat Meldi mengelus pelan puncuk kepala sang Anak. "Mamah punya rencana." ucapnya berbinar.
"Rencana apa? Mamah mau nyingkirin istri Kak Bryan ya? kalo itu Chaca setuju Mah." Chaca tersenyum manis hingga menyipitkan kedua matanya.
Elusan hangat dikepala Chaca seketika berubah menjadi tepukan pelan di pundak Chaca. Anak itu seketika mengaduh kesakitan mendapat tepukan dari sang Mamah.
"Aw," Chaca memegang pundak yang dipukul Meldi.
"Kamu ini malah mikir kayak gitu. Mamah itu punya rencana bagus buat Kakak Ipar kamu itu." Meldi mengenggam erat ponselnya.
"Emangnya rencana yang Mamah pikirin, pengaruhnya buat perempuan itu apa?" Chaca mendekatkan tubuhnya pada Meldi saking penasarannya.
Meldi melirik sekilas Chaca. "Bukan cuma buat Elena tapi juga pengaruhnya besar banget Cha buat keluarga ini."
Chaca makin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Mamahnya ini. "Maksud Mamah itu rencana apa sih?"
Meldi menghadap Chaca dengan menggenggam kedua tangan anak itu dengan sedikit menggoyangkannya pelan. "Mamah punya rencana buat Kakak Ipar kamu itu, biar kita cepet-cepet punya anggota keluarga baru."
"Hah?!"
__ADS_1
Tbc...