
HAPPY READING😍
Mff banget baru up lagi ya guys🤧🤧
Smoga ttp pada nungguin cerita ini ya❤️❤️
Bryan mengelengkan kepalanya, menatap gadisnya. Ia tidak habis fikir dengan permintaan Elena. Kenapa gadis ini masih saja baik dengan orang yang jelas-jelas tak menyukai kehadirannya sedari dulu?
"Aku akan memesankan hotel untuknya," tutur Bryan. Menatap Elena lalu mengalihkan tatapannya pada Putri.
Elena mengerucutkan bibirnya, mendengar penolakan halus Bryan. Padahal dirinya ingin bersama Putri walau hanya satu malam ini. Jika Putri ikut pulang bersamanya, mereka pasti akan menghabiskan waktu bersama di rumah Bryan. Elena hanya rindu tinggal bersama dengan Kakaknya itu.
Elena menatap Putri. Wajah Kakaknya itu terlihat nampak berubah. Mungkin kecewa?
"Padahal aku pengin tinggal berdua sama kamu Na, sebelum aku benar-benar pergi. Tapi gapapa kok, aku tinggal di hotel aja buat malam ini." Jawab Putri, lalu mengalihkan tatapannya menatap Bryan. "Makasih ya Dokter Bryan, mau memesankan hotel untuk saya." lanjutnya, dengan tersenyum tipis, menatap kedua pasangan di hadapannya.
Elena mengerucutkan dahinya. Binggung. "Pergi? Kak Putri mau kemana?"
Masih dengan tersenyum tipis, Putri menjawab.
"Gak tau," Putri menaikkan bahunya. "Yang jelas aku bakal pergi dari sini Na. Jauh dari kamu."
"Kak Putri jangan pergi." Elena menatap Putri memohon, lalu menatap Bryan. "Dok? saya mohon ya? kali ini aja izinin Kak Putri ikut pulang bareng kita, cuma buat satu malam ini. Saya mohon banget," Elena menyatukan telapak tangannya, seakan-akan memohon pada Bryan untuk mengizinkan Putri pulang bersama mereka.
Bryan yang melihat tatapan memohon dari Elena langsung berdecak, sebal. Saat hendak menjawab, tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. Bryan dengan segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana lalu menatap siapa yang menelpon.
Saat sudah menatap nama di layar ponselnya, Bryan pun langsung menatap Elena.
"Ada yang menelpon. Sebentar," ucapnya datar. Setelah itu, Bryan melangkahkan kakinya menjauh dari Elena dan juga Putri, untuk menjawab sambungan telpon tersebut.
...***...
Putri menatap kepergian Bryan. Setelah itu, ia pun kembali menatap Elena sendu.
"Maafin kakak ya Na, kakak benar-benar minta maaf sama kamu. Kakak dulu banyak punya salah sama kamu sama Bapak. Kakak benar-benar menyesal." sahut Putri, menatap Elena masih merasa bersalah.
Elena tersenyum. Padahal ia sudah memaafkan Putri jauh-jauh hari sebelum Putri menyadari kesalahannya, namun Kakaknya ini tetap saja meminta maaf padanya, walau dirinya sudah memaafkan Putri.
"Kak Putri. Elena udah maafin Kakak. Udah ya? jangan ngerasa bersalah terus. Bapak juga pasti maafin Kakak kok di atas sana. Yang penting Kakak udah berubah." Elena menatap hangat Putri.
Putri ikut tersenyum menatap Elena. Tatapannya berubah menjadi hangat menatap adiknya ini. Entah nyata atau palsu ekspresinya itu. Tidak ada yang tau selain dirinya sendiri.
...***...
"Sialan! aku tidak mau!" Bryan berdesis. Mendengar tuturan dari orang yang menelponnya.
Ya, sekarang Bryan sudah berbicara dengan sang penelpon. Setelah mengangkat sambungan telponnya, orang yang menelpon langsung mengatakan to the point yang membuatnya sempat tersentak kaget.
"Ck! apa tidak ada cara lain?" lanjut Bryan, tak setuju dengan apa yang di ucapkan orang di sebrang sana.
"Yasudah!"
__ADS_1
Bip.
Bryan mematikan sambungan telponnya sepihak. Lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Wajahnya nampak berubah. Bryan menghembuskan nafasnya kasar lalu berbalik, kembali berjalan mendekati Elena dan juga Putri yang berdiri tak jauh darinya.
Bryan melangkah mendekat ke tempat Elena lalu berdiri tepat di sampingnya.
"Yasudah, kita pulang." titah Bryan, menatap kedua gadis di depannya dingin.
Elena menatap Bryan, binggung. "Kak Putri ikut Dok?" tanya-nya, menatap gantian Bryan dan juga Putri.
Bryan menganguk singkat, "Hm," setelah itu ia pun berbalik dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan.
Mendengar itu, Elena sontak menatap Putri berbinar. "Ayo Kak. Dokter Bryan ngizinin," ucapnya gembira, yang membuat Putri ikut gembira.
"Makasih ya Na." sela Putri sebelum melangkahkan kakinya.
Elena menganguk. "Kakak kan Kakak Elena. Di dunia ini Elena udah gak punya siapa-siapa lagi, Elena cuman punya Kak Putri jadi Elena gak mungkin biarin Kak Putri jalanin semua ini sendiri. Tapi Kak Putri tenang aja, mungkin sekarang Kak Putri lagi di bawah, di uji sama Tuhan." Elena mengingat ucapan Putri tadi tentang pekerjaannya. "Tapi nanti pasti semuanya bakal baik-baik aja. Apa yang akan terjadi nanti, Elena yakin Kak Putri bakal dapet kerjaan lagi."
Putri mengangguk. "Makasih sekali lagi Na. Padahal Kakak dulu jahat banget sama kamu. Tapi sekarang kamu malah baik gini. Pantes aja Bapak sayang banget sama kamu, ngelebihin sayangnya ke aku."
Elena menggeleng pelan. "Bapak sayang kita berdua Kak. Gak membedakan kita. Bapak sayang Elena, sayang juga sama Kak Putri." Elena tersenyum. "Yaudah yuk kak," Elena pun berjalan terlebih dahulu, menyusul Bryan.
Putri tersenyum dalam diam. "Faktanya Bapak emang lebih sayang sama Lo Na, sampai-sampai Bapak rela ninggalin gue," gumamnya dengan disusul helaan nafas di bibirnya. "Setelah apa yang akan terjadi nanti, semuanya pasti akan baik-baik aja." lanjutnya pelan menatap Elena yang sudah berjalan cukup jauh darinya.
Tak mau ambil banyak waktu, ia pun segera menyusuli Elena. Dan berjalan bersama mendekati mobil yang terparkir di sisi jalan.
......***......
Setelah di rasa sudah siap. Bryan langsung menjalankan mobilnya. Melaju membelah jalanan yang cukup sepi karna hari sudah semakin malam, jalanan pun pastinya sudah mulai cukup rengang memudahkan Bryan sampai dengan cepat ke rumahnya.
Di dalam mobil terlihat begitu hening. Mereka bertiga nampak fokus pada pikiran masing-masing. Bryan fokus menyetir, Elena dengan pandangan menatap jalanan di sampingnya. Lain dengan Putri. Wanita itu nampak fokus pada ponselnya, entah sedang apa, tidak ada yang tau.
Tak sampai beberapa jam. Mobil Bryan pun sampai di depan rumah milik keluarga Abraham. Gerbang langsung terbuka lebar ketika mobil mereka sudah hadir di depan gerbang.
Bryan lantas segera masuk, melewati halaman rumahnya lalu memarkirkan mobil itu.
Elena tersenyum menatap rumah besar di depannya. Ia lantas mengalihkan tatapannya menatap arah belakang.
"Udah sampai Kak." ucapnya, menatap senang Putri.
Putri pun mengangguk.
Ketiganya langsung turun menuruni mobil. Bryan sedikit membenarkan pakaiannya lalu berjalan mendekati Elena yang berdiri di sisi berbeda darinya
Ia tersenyum tipis, mendekat ke tempat Elena lalu berdiri disamping gadis itu.
"Ayo masuk," Bryan mengenggam lengan Elena erat. Lalu berjalan menuju pintu rumah di depannya. Seakan mengabaikan sosok orang ketiga yang ikut pulang bersamanya tadi.
Elena yang merasakan tanganya ditarik pun sontak membulatkan matanya. Mau tak mau ia pun mengikuti kaki Bryan. Sembari melangkah, ia menatap arah belakangnya. Menatap Putri yang masih terdiam di samping mobil.
__ADS_1
"Ayo Kak," ucap Elena sedikit teriak, agar suaranya terdengar oleh Putri.
Putri yang mendengarnya pun langsung mengangguk dan mengikuti Elena dari belakang. Wajahnya nampak terpukau menatap rumah besar di depannya. Rumahnya lebih besar dari yang ia bayangkan selama ini. Sudah dari sejak lama dirinya ingin sekali masuk kedalam rumah keluarga Abraham. Keluarga yang cukup tajir dengan perusahaan dimana-mana.
......***......
Ketiganya masuk ke dalam rumah besar ini. Bryan masih nyaman mengenggam lengan gadisnya. Sedangkan Putri berjalan bersebelahan dengan Elena. Bryan di samping Kiri sedangkan Putri di samping kanannya. Mereka bertiga berjalan beriringan.
"Eh udah pada pulang."
Sosok pria tampan terlihat berjalan menghampiri ketiga orang yang sekarang berada di ruang tamu. Ia nampak mengulas senyum lebarnya mendekati ketiga orang itu.
Bryan menatap dingin sosok pria itu. Karna pria itu lah dirinya terpaksa melakukan ini.
"Mamah, Papah dimana?" tanya Bryan.
Aiden. Ya sosok pria itu tak lain adalah adiknya sendiri.
Aiden sekarang sudah berada tepat di depan Bryan dan juga kedua gadis yang cukup ia kenal. Ia nampak melipatkan tangannya di dada, menyandarkan setengah tubuhnya pada sofa di belakangnya lalu mengeluarkan senyum termanisnya.
"Di kamar. Tapi gue udah bilang kok kalo Kak Elena pulang hari ini dan juga gue udah bilang kalo Kakaknya Kakak Ipar mau nginep satu malam di rumah ini." tutur Aiden menatap Putri di akhir kalimatnya. Lalu ia mengeluarkan smrik-nya kecil, nyaris tak terlihat.
Putri hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan pria bernama Aiden itu.
Bryan mengangguk maklum. Ia tau pasti kedua orang tuanya itu kelelahan. Berhubung dirinya lebih memilih dunia kedokteran alhasil belum ada penerus bagi perusahaan keluarga Atmaja, makannya Abraham dan juga Meldi masih bekerja diusianya saat ini. Aiden ataupun Chaca belum cukup umur untuk memegang perusahaan. Alhasil perusahaan masih dipegang penuh oleh sang Papah Abraham.
Sedangkan Paman dan Bibinya mengurus beberapa hotel milik keluarganya. Lain dengan saudara perempuannya, yang notabenya mantan istri dari Wilson. Perempuan beranak satu itu lebih memilih menjadi seorang pengacara di luar sana.
"Oh ya Kak Putri, kamar Kakak udah gue siapin di lantai dua." ucap Aiden, setelahnya ia terlihat mengedarkan pandangannya. Menatap sekitarnya. "Bi!" lanjut Aiden. Memanggil sesosok wanita dewasa yang sekarang nampak sudah berjalan mendekat kearahnya.
"Iya Tuan." ucap wanita itu, tak lain adalah seorang Maid.
"Tolong anterin Kak Putri ke kamarnya. Yang tadi Bibi bantu beresin." titah Aiden yang langsung di angguki Maid itu.
"Ayo Nona." Maid itu menatap Putri sopan.
Putri menatap maid itu lalu menatap Elena.
Elena mengangguk ketika mendapat tatapan dari dari sang Kakak. "Ikut aja Kak." ucapnya.
"Anterin Kakak juga yuk Na." timpal Putri. Meminta agar Elena ikut juga bersamanya.
Elena pun langsung menatap Bryan. Seakan mempertanyakan apakah dirinya dibolehkan atau tidak untuk mengantarkan Putri ke kamarnya.
"Biar Maid saja yang mengantarkannya. Ini sudah malam. Aku ingin kau ikut bersamaku ke kamar sekarang," Bryan langsung melanjutkan langkahnya kembali. Berhubung tangan Elena masih digenggam oleh Bryan, Elena pun mau tak mau mengikuti lagi langkah Bryan dengan. Sesekali ia melirik ke arah belakang, menatap Putri dengan pandangan seakan meminta maaf.
Putri terdiam menatap kepergian adiknya itu.
"Maaf ya Kak Putri. Kak Bryan emang gitu sifatnya." sahut Aiden, yang langsung membuat Putri menatap ke arahnya. "Namanya juga pengantin baru. Masih panas-panasnya lah ya haha." lanjut lagi Aiden, dengan terkekeh pelan.
Setelah mengucapkan itu, Aiden melihat ada perubahan di wajah Putri membuat ia langsung menarik smrik-nya kecil.
__ADS_1