Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB81: Sindiran Chaca


__ADS_3

HAPPY READING❤️


Sebarapa banyak yang baca ulang lagi biar gak lupa? atau ada yang udah lupa? maaf baru up lagi setelah sekian lama hilang di telan bumi. Binggung mau lanjut atau enggak sebenarnya, dan waktu itu mutusin buat Hiatus tapi aku hadir kembali❤️❤️


Semoga suka ya🥰


Cahaya matahari nampak mulai memasuki sebuah ruangan kamar melewati sela-sela jendela balkon. Cahaya itu telihat mengenai sesosok wajah cantik gadis yang masih lelap dalam tidurnya.


"Eunghhh," keluh gadis itu, ketika merasakan matahari mengenai wajahnya.


Elena mulai mengejapkan matanya. Mencoba menyesuaikan penglihatannya disini. Cahaya yang mengenai wajahnya terlalu terang, membuat matanya sedikit perih ketika akan terbuka.


Saat matanya sudah terbuka lebar. Ia lantas menguap sesekali serta merentangkan kedua tangannya. Khas seperti orang baru terbangun dari tidurnya.


Elena terdiam ketika merasakan ada sesuatu. Ia mengingat kembali kejadian kemarin. Dengan tangan yang masih di rentangkan ke atas, ia segera melirik arah sampingnya dan menemukan sosok pria tampan yang masih memejamkan matanya lelap.


Elena menurunkan tangannya lalu berbalik. Menatap sosok pria itu dalam. Tak terasa, bibirnya mengulas senyum tipis. Menatap wajah pria dingin ini secara dekat. Walau ini bukan kali pertama Elena menatap sedekat ini, tetap saja rasanya selalu ada yang berbeda dihatinya.


Tampan.


Satu kata yang terlintas di pikiran Elena. Hidung mancung, dagu yang kokoh, mata yang lucu. Membuat Elena ingin sekali memegangnya. Namun Elena, tidak mau membangun pria ini. Kasian. Pasti Bryan masih lelah akibat menjaganya akhir-akhir ini.


"Aku tampan bukan?"


Mata Elena seketika membulat. Ketika mendapati Bryan mulai membuka matanya perlahan. Jadi pria ini sedari tadi? ah. Elena jadi malu sendiri sekarang.


Bryan nampak mulai membuka matanya perlahan lalu menatap manik mata Elena dalam. Sedari tadi memang dirinya sudah terbangun, hanya saja dirinya tidak berniat untuk membuka matanya. Masih nyaman dengan posisi mereka saat ini.


"Pede sekali." gumam pelan Elena, dengan wajah yang kembali normal.


Bryan terkekeh. "Memang itu faktanya. Aku tampan, makannya kau memperhatikan wajahku sedari tadi. Benar bukan?" ucapnya sembari menaikkan sebelah alisnya. Bertanya.


Dalam hati Elena. Ia sedikit kesal. Ternyata selain gengsi, Bryan memiliki kepedean tingkat tinggi.


"Tidak benar," singkat Elena. Ia mulai menurunkan selimut dari tubuhnya, berniat untuk bangun, namun ketika tubuhnya tidak bisa bangkit, niatannya pun terhenti. Ia kembali menatap Bryan.


"Saya mau mandi Dok." pelukan Bryan di tubuh Elena ternyata masih belum terlepaskan, membuat Elena tidak bisa bangkit dari tidurnya.


"Kau jawab pertanyaanku dulu. Kenapa tadi kau menatapku?" tanya kembali Bryan, seakan penasaran dengan jawaban Elena.


"Dokter ingin tau?" Elena mengubah tatapannya pada Bryan. Membuat Bryan semakin penasaran.


"Hm."


Elena terdiam sesaat lalu menghembuskan nafasnya pelan. Bryan yang melihat itu semakin penasaran dibuatnya. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat karna menatap Elena sedekat ini ditambah lagi dengan posisi mereka.


"Karna saya.." Elena kembali terdiam.


"Saya?"


Elena mengulas senyumnya tipis. Membuat Bryan ikut tersenyum.


"Punya mata." lanjut Elena polos. "Saya punya mata, mata guna-nya buat melihat Dok. Saya liatin Dokter karna saya punya mata."


Jawaban itu membuat Bryan menurunkan senyumannya. Tangannya pun mulai mengendur pada tubuh Elena, membuat kesempatan untuk Elena. Dengan cepat Elena bangkit dari tidurnya dan segera turun dari ranjang. Menjauh dari Bryan.


Bryan ikut bangkit dari duduknya. Menyandarkan punggungnya pada ranjang. Lalu menatap kepergian Elena dengan diam.


"Huft," Bryan menghela nafasnya pelan. Ia sedikit menarik smriknya. Sebenarnya ia ingin mendengar jawaban lain dari Elena, namun sepertinya jawaban itu tidak akan terdengar di telinganya saat ini.


......***......


Elena segera masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia bergegas berjalan mendekati kaca di ruangan ini dan menatap dirinya disana.


Ya Tuhan.


Elena memejamkan matanya. Menaruh ke dua tangannya di pinggiran wastafel untuk menahan tubuhnya.


Kali ini, untuk sekian kalinya, Elena kembali merasakan jantungnya berdecak kencang usai menatap Bryan. Lagi, dan lagi.


"Apa.." Elena menggeleng keras. Menghapus apa yang ada dipikirannya. "Gak mungkin aku suka sama Dokter Bryan." gumamnya dengan kembali membuka mata. Menatap pantulan tubuhnya di cermin. "Tapi? ah! kenapa jadi begini?" Elena menghembuskan nafasnya pelan. Ia mengingat ini hanya pernikahan di atas kertas. Dirinya tidak boleh memiliki perasaan lebih pada Bryan, karna dirinya tau perasaan ini tidak mungkin akan terbalaskan.


Dengan wajah frustasi, Elena mulai melanjutkan niatnya kesini. Berendam dan memandikan tubuhnya.


...***...


Drtt..Drttt

__ADS_1


Getaran ponsel diatas nakas membuyarkan lamunan Bryan.


Bryan, yang masih diam di atas kasur pun langsung menatap ponsel yang berdering itu. Ia lantas membawa benda pipih itu ke tangannya lalu menatap siapa yang menelpon.


"Ck!" Bryan berdecak. Menatap nama yang ada di layar ponselnya itu.


Ia lantas menatap jam yang ada di atas lemari. Pukul enam, masih terlalu pagi. Tapi ada saja orang yang menganggunya. Membuatnya sedikit kesal.


Tak lama, Bryan pun mengangkat sambungan telpon itu.


"Ada apa?" to the pointnya, pada si penelpon.


"..."


"Sial! kenapa aku bisa lupa," gumam Bryan, ketika mendengar jawaban dari orang di ujung sana.


"..."


"Yasudah. Aku akan kesana sekarang. "


Bip.


Bryan mematikan sambungan telpon lalu bergegas turun dari ranjangnya. Ya, yang menelpon tak lain adalah bawahannya di rumah sakit. Bryan lupa jika pagi ini ada operasi, untung saja diingatkan oleh bawahannya ini.


Dengan segera Bryan berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu ruangan itu dengan keras. Tapi, saat hendak masuk. Ia seketika membulatkan matanya, menatap sosok perempuan yang berdiri tak jauh darinya.


"Aaaa!" teriak perempuan itu.


Membuat Bryan mengumpat, sebal. Kenapa ia jadi sering lupa akhir-akhir ini?


...***...


BRAK!


Elena berteriak, membulatkan matanya mendengar suara pintu dibelakangnya terbuka dengan keras. Ia lantas berbalik, menatap siapa yang membuka pintu kamar mandinya.


"Dok-dokter Bryan?" gugup Elena, memegangi erat handuknya yang menutupi tubuhnya dari dada hingga lutut. Untung saja dirinya sudah memakai handuk. Jika belum? matilah dia.


"Dokter ma-mau ngintip saya mandi?!" lanjut Elena, dengan wajah was-was.


Bryan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Mendekat ke tempat Elena berdiri.


Elena membulatkan matanya kembali. Ia sedikit mengumpat di dalam hati.


Tidak nafsu katanya?! cih.


"Terus Dokter ngapain buka pintu? Dokter tau kan saya lagi mandi? tidak sopan membuka pintu kamar mandi jika ada orang di dalamnya." kesal Elena.


Sekarang Bryan sudah ada di hadapan Elena. Bryan menatap gadis di depannya ini dari atas hingga bawah.


"Heh, lagian ini salahmu sendiri, kenapa tidak mengunci pintunya dari dalam?" tanya Bryan, ikut kesal.


Elena menelan salivanya kasar. "Aku-aku lupa," ucapnya dengan sedikit terkekeh.


"Cih, dasar pelupa." jawab Bryan, tak mengaca. "Yasudah, kau sudah selesai mandi bukan? cepat keluar. Aku ingin mandi."


Elena menatap diam Bryan.


Bryan yang mendapati Elena hanya terdiam pun menaikkan sebelah alisnya. "Hey!"


Mata Elena membulat karna tersentak kaget. Ia lantas menatap kembali Bryan. "Hah?"


"Ck! cepat keluar. Atau kau ingin mandi lagi bersamaku, hm?" Bryan menyeringai, penuh maksud membuat Elena dengan cepat menggeleng.


"Tidak. Aku akan keluar. Se-sekarang," Dengan cepat, Elena segera berjalan keluar dari kamar mandi. Jantungnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Sungguh ia gugup!


Bryan yang melihat Elena keluar dari kamar mandi pun hanya menggelengkan kepalanya. Sungguh menggemaskan Elena, dimatanya.


Tanpa berlama-lama lagi, Bryan langsung membuka pakaiannya dan menjalankan ritual mandinya. Dirinya harus cepat sekarang.


......***......


Elena cepat-cepat keluar dari kamar mandi dan menutup rapat pintu itu. Segera ia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian yang akan di kenakannya hari ini.


Celana jeans serta kaos berwarna hitam sudah melekat di tubuhnya sekarang. Elena pun menatap tubuhnya sendiri di cermin besar dekat lemari.


Tak terasa bibirnya nampak mengulas senyum tipis, dirinya memuji sendiri tubuhnya di dalam hati. Dengan helaan nafas sesekali, Elena kembali melangkah menuju ranjang dan duduk di sisi tempat tidur itu.

__ADS_1


Ia membuka perlahan nakas di sampingnya. Mencari-cari sesuatu di dalamnya lalu mengeluarkannya dari sana.


Sebuah amplop berwarna putih sudah ada di tangannya saat ini. Elena menatap amplop polos itu dalam-dalam, dengan sesekali membolak-balikannya. Tak lama ia pun membuka surat itu, sebuah kertas beserta tulisan di dalamnya terlihat jelas dimatanya.


Tulisan yang mampu membuat matanya memerah. Kembali sedih.


Elena menghembuskan nafasnya pelan. Lalu memasukan surat itu kedalamnya dan kembali menaruhnya di dalam nakas.


Menghapus air matanya yang menetes, Elena segera bangkit. Ia mengusap-ngusapkan wajahnya, agar terlihat kembali normal. Dengan senyuman, Elena mulai berjalan keluar dari kamarnya. Berniat untuk turun ke lantai bawah.


Kamu harus kuat Elena.


...***...


Menatap arah sekitarnya. Elena turun dengan anggunnya menyusuri tangga. Keadaan rumah cukup sepi, hanya ada beberapa pekerja yang berlalu lalang. Selebihnya? entah ada dimana.


"Kak Putri!" Elena sedikit berteriak, ketika melihat ada seseorang yang tengah berjalan tak jauh darinya.


Putri. Sosok wanita yang tengah berjalan itu langsung menghentikan langkahnya, ketika mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.


Elena segera menghampiri Putri, dan Berdiri di dekat wanita itu.


"Gimana malamnya?" tanyanya, mencoba basa-basi. Mengecek bagaimana tadi malamnya Putri. Apakah wanita itu nyaman atau tidak tidur di kamarnya.


Putri menatap Elena. Santai. Seperti tidak terjadi apa-apa. "Nyaman kok. Kasurnya empuk, enak." balasnya, yang membuat Elena tersenyum.


"Hah!" Putri menghembuskan nafasnya pelan. "Kamu enak ya Na, gak perlu capek-capek kerja buat hidup enak kayak gini." lanjut Putri.


Elena terdiam, maksud Kakaknya itu apa?


"Fasilitas sudah tersedia semuanya. Kamu mau apa aja langsung dituruti. Dari kecil, kamu dapet semua kebahagiaan dan kasih sayang dari orang lain, sampai-sampai aku iri sama kamu," kekeh Putri.


"Kakak jangan iri sama Elena. Sebenernya juga Elena gak pantes dapetin ini semua. Semuanya gak pernah Elena bayangin sebelumnya." Elena menunduk sebentar, lalu kembali menatap Putri. "Tapi semuanya udah takdir. Gak ada yang bisa di ubah sekarang," Elena mendekat ke tempat Putri. Memegang tangan wanita itu erat, "Elena yakin kok, Kak Putri juga bakal dapet kebahagiaan yang sama."


Putri mendelik. Berdekhem sebentar. "Kakak punya pertanyaan buat kamu."


Elena menaikkan sebelah alisnya. Penuh tanya. Menunggu pertanyaan dari Putri.


"Kalo misalkan ada orang ngerebut semua kebahagiaan kamu, apa kamu bakal diam aja?"


Elena terdiam. Binggung dengan pertanyaan Kakaknya ini.


"Maksud-" sebelum melanjutkan ucapannya, dari arah kejauhan, datang seseorang. Berjalan mendekat ke arah kedua perempuan itu yang kini berdiri dekat ruang tamu rumah ini.


"Sayang."


Elena dan Putri dengan cepat menatap asal suara itu. Pria bertubuh tinggi, memakai celana katun berwarna hitam serta jas putih lengkap di tubuhnya. Sosok itu terlihat sangat tampan.


"Kenapa kau meninggalkan ku dikamar sendirian hm?" ucap pria berjas putih itu, ketika sudah berdiri tepat di samping Elena.


Elena menganga. "Apa?"


Sosok itu adalah Bryan. Pria tampan yang kini tersenyum manis menatap Elena , merangkul pundak istrinya lembut.


"Padahal setelah kita mandi tadi aku ingin bermesra-mesraan lagi dengan mu. Tapi kau malah hilang entah kemana," Bryan sedikit melirik Putri, lalu kembali menatap Elena yang nampak kaget karna ulahnya. "Tapi tidak apa-apa, aku akan menghukum-mu nanti malam saja." Bryan tersenyum.


Elena masih diam, membulatkan mata, tak percaya dengan tingkah Dokter Bryan. Kesurupan setan apa pria ini? sampai-sampai berubah dari biasanya?


Putri pun ikut terdiam. Menatap kedua orang berbeda jenis di hadapannya.


"Dok-" lagi-lagi ucapan Elena terhenti. Karna ulah Bryan.


"Aku tidak memiliki banyak waktu, kita pergi sekarang," ajak Bryan, mengenggam tangan Elena, erat.


"Ma-mau kemana?" ucap Elena, binggung.


"Huh, kau sendiri yang merengek meminta ikut bersamaku ke rumah sakit karna tidak mau jauh-jauh dariku," Bryan terkekeh kecil melihat perubahan di wajah Elena, wajah itu sangat membuatnya gemas. "Jangan menatapku seperti itu, aku takut tidak bisa mengontrol diriku sendiri disini," lanjutnya tersenyum smrik.


Tuk tuk tuk


Suara ketukan sepatu dari arah kejauhan mengalihkan mereka bertiga. Bryan, Elena serta Putri segera menatap asal suara itu. Suara yang berasal dari hadapan mereka.


Chaca tersenyum manis ketika sedang berjalan menuruni tangga. Ia menatap ketiga orang itu, tidak, lebih tepatnya Chaca menatap sosok yang berdiri sendirian dihadapan kedua orang yang tengah bermesra-mesraan itu.


Chaca tersenyum miring, menatap Putri yang nampak mengubah wajahnya.


"Kak Bryan sama Kakak Ipar jangan mesra-mesraan disini, kasian ada yang kepanasan nanti," kekeh Chaca, masih menatap Putri, setelahnya ia melanjutkan langkahnya kembali, berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Putri yang melihatnya hanya diam. Dalam diam, tangannya terlihat terkepal kuat, menatap Chaca yang sepertinya sedang mengejek dirinya.


__ADS_2