Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB22: Di Kantin


__ADS_3

HAPPY READING GUYS❤


Elena keluar dari ruang rawat Bapaknya dengan seorang pria dihadapannya. Setelah berpamitan dan memastikan keadaan Dimas baik-baik saja mereka pun segera keluar untuk mengisi perut mereka di kantin rumah sakit ini.


Bryan melangkahkan kakinya terlebih dahulu disusul Elena dibelakangnya. Baru beberapa langkah perjalanan tiba-tiba saja Bryan menghentikan kakinya membuat Elena yang berada dibelakangnya terbentur punggung tegak pria itu.


Elena sedikit meringis kesakitan dibagian dahi. Ada apa dengan pria ini? kenapa berhenti mendadak? apalagi punggung pria itu terasa keras di dahinya membuat kepalanya sedikit sakit. Elena jadi binggung sebenarnya orang ini manusia atau batu sih?


"Ck! aku itu bukan majikanmu jadi jangan berjalan dibelakang-ku." dingin Bryan tanpa melihat Elena, pria itu lebih memfokuskan pandangannya pada lorong didepannya.


"Lalu aku harus jalan dimana?" tanya Elena masih dengan memegang dahinya.


Mendengar jawaban itu membuat Bryan memutar tubuhnya sehingga sekarang posisi mereka saling berhadapan. Mata Bryan nampak melirik tajam gadis itu. "Berjalan disampingku."


Elena sedikit tertekun lalu tak lama menatap kearah sekeliling tempat mereka berdiri. Keadaan disini cukup ramai dengan beberapa pegawai dan pengunjung rumah sakit ini. Tatapannya pun kembali pada Bryan yang masih berada dihadapannya.


"Disini ramai orang Dok, nanti kalo kita jalan beriringan malah membuat pusat perhatian lagi." pelan Elena. Dokter ini adalah pemilik rumah sakit jadi pastinya setiap gerak-gerik Bryan akan dilihat oleh para pekerja ataupun pengunjung disini, bukan?


Bryan nampak menghela nafasnya pelan lalu mengenggam tangan Elena dan membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanan mereka tadi.


Mata Elena membulat ketika merasakan tangannya ditarik oleh pria dihadapannya. Alhasil mau tidak mau Elena pun mengikuti setiap langkah Dokter itu karna tangannya digenggam erat olehnya.


Setelah beberapa menit perjalan mereka pun sampai di depan sebuah kantin. Dilihatnya keadaan disini cukup sepi membuat Elena sedikit bernafas lega.


Bryan menyipitkan matanya menatap sekitarnya lalu kembali berjalan masuk kedalam kantin tersebut dengan tangan yang masih memegangi Elena.


Sampai disebuah kursi dan meja yang berada di tengah-tengah kantin ini Bryan pun langsung melepaskan genggamannya pada Elena lalu duduk disalah satu kursi tersebut.


Elena hanya diam, ia masih berdiri di samping pria ini. Ia hanya binggung akan ikut duduk disini atau tidak.

__ADS_1


"Kau tidak ingin duduk?" dingin Bryan tanpa menatap Elena disampingnya.


"Aku-"


"Hari ini aku yang bayar, kau tenang saja." lanjut Bryan.


Elena sedikit mengulas senyum tipisnya. Dokter ini tau saja apa yang ada dipikirannya. Apa selain seorang Dokter, pria ini juga seorang cenayang?


Elena pun langsung menduduki kursi yang berada dihadapan Bryan. Posisi duduk mereka saling berhadapan sekarang.


Tak lama tiba-tiba saja datang wanita berumur dengan membawa kertas ditangannya menuju kearah meja yang di duduki Bryan dan Elena.


"Permisi Nona, Tuan." ucap wanita itu ramah. "Silahkan di pilih menunya." lanjutnya sembari memberikan kertas yang berisikan menu-menu yang tersedia dikantin ini.


Elena menerima kertas itu dengan tersenyum ramah, lalu ia menatap menu-menu tersebut untuk memilih makanan yang akan dimakannya.


"Tambah lagi."


Mendengar suara itu membuat Elena menatap Dokter didepannya dengan pandangan binggung. "Apa?"


"Tambah lagi makanannya. Kau itu kurus jadi harus menambah porsi makan-mu." dingin Bryan.


"Nasi goreng saja sudah cukup Dok, lagian juga aku tidak mau makan banyak-banyak." jawab Elena dengan nada kesal. Lagi-lagi Dokter ini mengatakan dirinya kurus, ya walau dirinya kurus namun kan ia sehat.


"Kau membantah ucapanku?" Bryan menaikkan sebelah alisnya.


Huh!


Elena kembali menatap kertas-kertas ditangannya dengan raut yang sulit dijelaskan. "Tambah lagi baksonya satu, minumannya air putih aja." setelah mengucapkan itu Elena pun memberikan menu tersebut pada wanita disampingnya.

__ADS_1


"Nasi goreng satu, Baksonya satu, air putihnya satu. Ada lagi Nona? Tuan?"


Elena menatap pria dihadapannya dengan pandangan bertanya. Sedari tadi Bryan hanya menatap dirinya saja tanpa melihat menu-menu yang ada didepannya.


"Itu saja." singkat Bryan.


Pelayan itu pun mengangguk ramah. "Kalo begitu ditunggu sebentar ya Nona, Tuan," ucapnya pamit dan berjalan menjauhi meja Elena dan juga Bryan.


"Dok-dokter gak pesen makanan?" Elena heran, katanya Bryan juga ingin ke kantin tapi kenapa setelah sampai disini pria itu tidak memesan makanan satu pun?


"Tidak. Kau saja yang makan."


Elena hanya menaikkan kedua bahunya acuh lalu menatap kearah sekitarnya untuk menghilangkan rasa gugup di hatinya.


Tak lama pelayan tadi pun datang dengan memegang sebuah nampan berisikan mangkuk dan piring diatasnya. Mata Elena berbinar, Ia sedari tadi sudah menahan laparnya diperut membuatnya merasakan sakit dibagian lambung.


"Silahkan dimakan," ucap wanita tersebut dengan menyimpan makanan yang dibawanya diatas meja. Setelah selesai mengantarkan makanan itu Pelayan tersebut pun pamit untuk melanjutka pekerjaannya yang lain.


"Dokter yakin gak mau makan?" tanya Elena. Bagaimana pun yang membayar ini nantinya adalah Bryan jadi ia menawarkan makanannya pada pria itu.


"Tidak," singkat Bryan dengan membawa ponselnya kedalam kedua tangannya.


"Yasudah." Elena pun segera menyantap makanan tersebut dengan tenang. Walau sesekali ia melihat Bryan menatapnya namun dirinya hanya acuh, pandangannya lebih ia fokuskan pada makanan didepannya.


↔↔↔


Jangan lupa tinggalkan jejak dibawah ini ya❤


Salam manis semuanya😍

__ADS_1


__ADS_2