
HAPPY READINGš
Chaca keluar dari pintu ruang rawat Elena dan tak lupa menutupnya kembali. Saat berbalik, alangkah terkejutnya ia ketika mendapati ada dua orang pria yang berdiri di depannya dengan menatap diam dirinya.
"Om-om pada ngagetin aja sih!" kesalnya sembari mengelus dada. Dua sosok itu tak lain adalah Bodyguard yang tadi berjaga didepan pintu ruang rawat Elena. "Huh! Untung jantungnya belum turun ke paru-paru."
"Maaf Nona." ucap salah bodyguard itu.
Chaca hanya memutarkan bola matanya malas lalu segera berjalan menjauh dari ruangan Elena. Ia akan pulang sekarang, kepalanya sangat pusing, ia ingin tidur di kasur empuk yang ada di kamarnya sekarang.
"Akhirnya bisa pulang juga, lama-lama sumpek di rumah sakit. Gak enak suasananya," gumam Chaca sembari berjalan. Ia terlihat melangkah terburu-buru dengan posisi kepala menunduk.
Bruk!
"Aw!" karna tak melihat depannya, akhirnya Chaca pun seperti menabrak seseorang didepannya. Ia memegang lengan kanannya yang terbentur seseorang itu.
"Maaf, saya gak sengaja."
Dengan rasa amarah, Chaca pun menaikkan wajahnya menatap orang yang menabraknya tadi. "Kalo jalan itu pake-" ucapannya seketika terhenti saat melihat sosok didepannya.
"Maaf Nona, saya benar-benar tidak sengaja."
Sosok itu adalah seorang pria tampan dengan dagu dan tubuh yang kokoh. Dia terlihat memakai jas putih khas Dokter. Chaca menganga tak percaya melihat paras pria didepannya.
Kok suasana Rumah sakitnya sekarang jadi beda ya?
__ADS_1
____
16:00
Bryan sekarang berada di ruangannya. Setelah memastikan Elena tertidur, ia pun langsung pergi ke ruangannya yang ada dirumah sakit ini.
Ya, setiap rumah sakit miliknya pasti memiliki ruang khusus untuk dirinya, walau ia jarang mengunjungi rumah sakit itu.
Ia menatap ruangan yang sangat jarang ia kunjungi. Ruangan ini cukup besar dan terawat dengan rapih, mungkin ruangan ini sering dibersihkan oleh bawahannya.
Tok Tok Tok!
"Masuk."
Bryan melihat ada seorang pria yang membuka pintu ruangannya dan masuk. Ia hanya diam melihat pria itu yang nampak membawa map di tangannya.
Bryan pun mengangguk dan menerima map itu. Tanpa berfikir panjang, Bryan segera membuka Map itu dan melihat isinya.
Ia membaca kertas itu dengan pandangan serius. Saat sudah selesai, wajahnya pun terlihat berubah.
"Panggilkan dia kesini." titah Bryan.
Reno mengangguk. "Baik Tuan," ia pun terlihat berbalik dan berjalan menuju pintu dan keluar dari sini untuk melaksanakan tugas dari atasannya.
Bryan masih menatap kertas didepannya. Ia tidak percaya dengan semua ini. Jadi gadisnya dan wanita itu? ah! kenapa dirinya baru tau sekarang? apa Elena tau soal ini?
__ADS_1
Tak lama pintu pun terlihat terbuka kembali. Dua orang berbeda jenis nampak masuk kedalam dan mendekat kearah Bryan.
"Silahkan duduk." ucap Bryan saat kedua orang itu berada didepannya.
Sosok wanita itu pun segera mengangguk dan duduk dihadapan Bryan.
"Ada apa Dokter? apa semuanya sudah siap? apa kita bisa operasi sekarang?" ucapnya pelan.
Bryan lantas memberikan map yang ia pegang dan memperlihatkannya pada wanita dewasa itu membuat wajah wanita didepannya berubah.
"Jelaskan soal ini." ucap Bryan dingin.
"Ini-" Wanita itu terlihat gugup. Ia melihat semua data dan riwayat hidupnya ada disana.
Bryan mengangguk pelan. "Saya tidak menyangka ternyata selama ini Pak Dimas menutupi semua ini."
Wanita itu menunduk lalu mengangkat kepalanya kembali. "Bagaimana kamu bisa tau soal ini?!"
"Saya bisa mencari tau semua yang ingin saya tau."
"Kamu sudah tau kan? kenapa kamu tanya saya lagi?" lanjut wanita itu.
Bryan berdekhem pelan. "Saya hanya ingin mendengar langsung dari Ibu." ucapnya dengan menaikkan sedikit smrik-nya.
Wanita itu menghembuskan nafasnya pelan. "Saya ingin mendonorkan mata saya untuk dia sebagai tanda perminta maafan dari saya. Saya mau dia tau kalo saya juga sangat menyayanginya. Saya mau memberikan sesuatu yang berharga sebelum saya meninggalkannya."
__ADS_1
"Ya, saya Sarah Widiya. Mantan istri kedua dari Mas Dimas, Ibu kandung dari Elena." lanjutnya.
TBC