Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB91: Menyendiri


__ADS_3

Elena melepaskan pelukannya dari Bryan. Ia mencoba untuk tetap tenang. Dirinya tidak boleh cengeng di hadapan Bryan.


"Hiks. Dokter pasti udah tau semuanya kan? kenapa Dokter gak bilang aja sama saya!" Elena menatap Bryan sendu. Ia tau pasti Bryan sudah lama mengetahui ini namun tidak memberi tahunya. Kenapa semua orang seperti ini padanya?


Menghela nafasnya kasar. Bryan hanya tidak mau Elena sedih, akibat mengetahui semuanya. Ia hanya mencoba untuk larut dalam permainan ini agar Putri langsung yang memberi tahukannya. Bagaimana pun itu keluarga mereka. Bryan tidak berhak ikut campur.


"Donor mata ini?" Elena menunjuk matanya sendiri. "Kenapa Dokter gak bilang kalo yang donorin Ibu Sarah?!" Elena bersumpah. Jika ia tau yang mendonorkan matanya adalah Sarah. Lebih baik ia tidak menerima donoran tersebut.


"Dokter kenapa gak bilang juga kalo Ibu Sarah meninggal karena operasi mata itu! pasti semuanya karena saya kan? saya yang udah nyebab-in Bu Sarah meninggal?!" ucapan Elena memelan. Sudah cukup Ibu nya Putri yang mendonorkan ginjal untuknya, kenapa harus Sarah juga yang mendonorkan matanya untuknya? keduanya meninggal akibat mendonorkan semua itu untuknya. Apa Elena benar-benar pembawa sial?


"Ibu kandungmu itu bukan meninggal karena operasi pendonoran mata." Bryan mencoba meluruskan. "Ibu Sarah memang memiliki penyakit pada ginjalnya. Hidupnya juga divonis tidak akan lama lagi. Stop menyalahkan dirimu sendiri."


Elena tetap menggeleng. "Semuanya karena saya Dok." Kepergian sang Ibu membuat dirinya terpuruk karena tau jika semua itu karenanya. Dan Ibu Sarah? bahkan dirinya tidak bisa melihat perempuan itu untuk terakhir kalinya sebelum dia wafat. Kenapa disaat semuanya sudah pergi, Elena baru tau fakta ini?


Bryan menggenggam tangan Elena erat. "Ini bukan salahmu. Apa yang di ucapkan wanita ular itu tidak semuanya fakta. Percaya padaku." Mata Bryan menatap yakin Elena.

__ADS_1


Elena melepaskan tangannya dari tangan Bryan. "Gimana saya harus percaya sama Dokter kalo Dokter aja awalnya gak jujur sama saya. Surat dari Ibu Sarah juga Dokter sembunyiin kan? kenapa gak Dokter langsung kasih aja ke saya?" Apa susahnya Bryan mengatakan jika yang mendonorkan matanya adalah Sarah. Dari awal saja pria itu sudah berbohong bukan?


"Kenapa Dokter malah biarin Ibu Sarah donorin matanya buat saya? ka-kalo Ibu Sarah gak donorin matanya pasti Ibu Sarah bakal tetep ada di dunia ini kan?!" Elena menunduk. Sudah lima tahun dirinya kehilangan ibu yang mengasuhnya dari kecil dan sekarang? belum bertemu dan berbincang, dirinya sudah mengetahui fakta bahwa sang Ibu yang melahirkannya ke dunia ini telah meninggal dunia. Meninggalkannya.


Bryan terdiam. Ia hanya menuruti keinginan Sarah yang ingin mendonorkan matanya untuk Elena. Bryan pun ingin jika Elena kembali bisa melihat.


"Kasih waktu buat saya sendiri Dok. Kalo Dokter gak mau pergi dari sini, biar saya yang pergi dari kamar ini." ucap pelan Elena.


"Kau disini saja. Biar aku yang keluar." Bryan bangkit dari duduknya. Menatap Elena datar lalu melangkah pergi dari ruangan ini.


Membuka salah satu amplop tersebut. Lalu membacanya kembali. Surat dari sang Bapak sebelum wafat. Awalnya Elena tidak mengerti arti di balik surat itu dan sekarang Elena mulai mengerti. Saat Putri sudah menjelaskan semuanya tadi.


Amplop kedua. Elena membuka kertas di dalam amplop kedua itu. Surat dari Sarah. Ia mulai membacanya. Sebuah permintaan maaf dan kata menyesal. Kemana selama ini sang Ibu pergi? kenapa Ibu kandungnya itu malah pergi meninggalkan nya? semua itu tertulis disana. Namun hanya satu yang tidak tertulis disana. Yaitu identitas ayah kandungnya. Tapi Elena tidak terlalu memikirkan ayah kandungnya itu. Ia tidak tau nama, siapa dan bagaimana wajahnya? Elena juga tidak mengharapkan ayah kandungnya datang dan menemui nya. Karena Bapaknya hanya ada satu di dunia ini, yaitu Pak Dimas. Walau hanya Ayah angkat, Elena sudah menganggap Pria itu sebagai Ayah kandungnya.


"Maafin Elena Pak." Elena mengalihkan tatapannya. Menatap balkon yang tidak tertutup. "Elena gak bisa ngabulin permintaan Bapak buat jagain Kak Putri." Air matanya kembali menurun deras. "Elena pengin Kak Putri gak nerima hukumannya. Elena udah maafin Kak Putri hiks tapi masalah Kak Putri bukan sama Elena aja Pak. Ada masalah Kak Putri sama keluarga ini. Elena gak bisa apa-apa sekarang. Elena gak bisa nolongin Kak Putri."

__ADS_1


Sebenarnya Elena tidak bodoh. Soal kecelakaan itu? Elena tau itu adalah perbuatan Putri. Dirinya bisa melihat mobil Putri saat detik-detik kecelakaan itu terjadi. Disaat Putri menjenguknya ke rumah sakit. Elena merasa senang, walau hanya berpura-pura dan memasang wajah tak berdosanya, Elena tetap senang sang Kakak khawatir padanya. Soal Putri bilang diusir dari rumahnya, Elena juga tidak percaya. Dan ia akhirnya berinisiatif untuk mengajak Putri kerumahnya. Untuk apa? dirinya hanya ingin bersama sang Kakak. Elena tau Aiden dan Chaca merencanakan sesuatu. Sebelum Putri menerima ganjarannya, ia hanya ingin berdua dengan sang Kakak. Soal apa yang menimpa Aiden? Elena tau. Dari rekaman CCTV yang sempat di masuki Chaca. Ia tak menyangka Putri melakukan itu. Elena tidak sangka jika Putri senekat itu. Sebenci itu Putri padanya?


Ia tau walau sang Kakak membencinya. Ada saat dimana kakaknya itu menyayangi juga sebagai Adik. Elena percaya Putri sayang padanya hanya saja tidak ditunjukan langsung padanya. Bagaiman pun keluarganya hanya tersisa sang Kakak-Putri di dunia ini.


"Tuh kan jatuh! gue juga bilang apa?! berdarah kan! sakit gak? sini gue obatin."


"Baju Lo dekil banget sih! gak pernah di cuci apa? nih gue beliin baju buat Lo! dipake, jangan cuman di pajang!"


"Bapak mana? nih gue bawain kue buat dia. Inget itu kue buat Bapak. Bukan buat Lo. Itu kue soalnya kue kacang. Lo alergi kacang kan? nih buat Lo gue udah beliin roti. Selai-nya ada di dalem kantungnya."


"Bilang sama Bapak, Bapak jangan kerja besok. Kasian lagi sakit. Biar uang bayaran sekolah Lo besok, gue tanggung. Sekalian gue ke sekolah Lo besok. Jangan bilang sama Bapak juga kalo gue bayarin sekolah Lo."


"Ck! rumahnya kotor banget sih! Lo gak bersihin apa?! sini gue bantu bersihin. Anak perempuan itu harus rajin! gini cara bersihinnya!"


Itu adalah percakapan Putri dulu padanya. Elena menyimpan rapat memori-memori nya bersama sang Kakak. Putri yang dulu sangat menyayangi nya. Walau dengan ucapannya sendiri yang terbilang kasar, Elena tetap tau jika ada hati untuknya di hati Putri. Elena tetap menyayangi Putri sebagaimana seorang adik terhadap Kakaknya. Putri? entahlah. Entah sekarang dirinya dianggap adik atau tidak oleh Putri. Yang jelas, Putri tetaplah Kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2