Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB64: Elena tersadar


__ADS_3

HALPY READING GUYS❣️


Bryan melangkah mendekat ke sebuah ranjang yang berada di tengah-tengah ruangan ini. Ia menatap dokter yang berdiri tepat disamping ranjang itu.


"Bagaimana keadaannya?" ucap Bryan masih dengan pandangan menatap Elena yang terbaring lemah diatas ranjang.


Dokter ber-tag Fahri itu menggeleng pelan.


"Nona Elena pingsan akibat benturan keras di kepalanya. Saraf otak yang berperan dalam penglihatan pun terkena imbas-nya. Saya hanya takut dugaan saya terjadi." jawab Dokter Fahri.


Bryan terdiam. Ia tau maksud dalam ucapan bawahannya itu.


"Tidak boleh terjadi." Bryan menatap tajam Dokter Fahri. "Dia tidak mungkin buta!"


"Saya juga belum bisa menyimpulkan apa Nona Elena buta atau tidak. Perbandingannya sama, lima puluh persen, lima puluh persen. Kita bisa tau semua itu setelah Nona Elena sadar nanti."


Mata Bryan masih lekat menatap Elena. Gadis itu menutup matanya erat, membuat hatinya sakit. Tubuhnya pun terlihat lemah. Semua ini karna-nya, ia tidak bisa menjaga Elena dengan baik.


"Keluar." dingin Bryan setelah lama terdiam.


Tau apa yang dimaksud Bryan, Dokter Fahri pun mengangguk. "Baik Tuan, kalo begitu saya permisi," setelah berpamitan, ia pun berjalan keluar dari ruang rawat ini dan menutup pintu ruangannya rapat.


Tersisalah dua orang disini. Hanya ada Elena yang tertidur lemah diatas ranjang dan Bryan yang memandanginya.


"Maafkan aku." Bryan menunduk menatap wajah istrinya.


"Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Seharusnya aku lebih memperketat penjagaan mu. A-aku minta maaf." Bryan membawa tangan Elena kedalam tangannya. Ia merasakan jika tangan Elena terasa dingin. "Ku mohon kau sadarlah. Jangan seperti ini. Kau tau apa yang ku rasakan sekarang ketika melihatmu seperti ini? jadi ku mohon kau harus sadar!"


Bryan sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri. Sedari tadi ia berbicara sendiri walau ia tau orang didepannya tidak akan mendengar setiap ucapnya.


___


Chaca menoleh ke arah samping ketika merasakan ada sesosok orang yang duduk disampingnya.


"Kamu kenapa nangis?"


Disampingnya sekarang ada seorang wanita dewasa dengan memakai pakaian khas rumah sakit. Mungkin orang ini adalah salah satu pasien disini. Namun wajahnya nampak familiar di matanya, wajahnya itu sepertinya mirip dengan seseorang.


"Chaca gak nangis kok." jawab Chaca dengan kembali menghapus jejak air matanya. Didepannya adalah seorang wanita dewasa yang lebih tua darinya, jadi ia harus menjaga ucapannya.

__ADS_1


"Saya tau kok kamu habis nangis. Kamu kenapa? lebih baik cerita daripada di pendam seperti itu." lanjut wanita dewasa itu.


Chaca menggeleng lemah. Mulutnya tertutup rapat, tak berniat mengucapkan apapun.


Wanita itu tersenyum maklum. "Saya tau, saya memang orang asing. Tapi saya orang baik kok, kalo kamu gak mau cerita gapapa. Tapi saya cuma pesen sama kamu. Jangan bersedih seperti ini. Kamu harus kuat menjalani hidup dan takdir yang Tuhan berikan, semuanya sudah sesuai rencana yang diatas. Tapi pasti di balik semua itu ada hikmahnya."


Chaca hanya diam, mendengarkan nasehat wanita ini.


"Oh iya." lanjut wanita itu. "Pekenalkan nama saya Sarah, kamu pasti Chaca kan?"


"Kok Ibu tau kalo nama saya Chaca?" tanya Chaca penuh heran. Bagaimana Ibu-Ibu ini tau namanya?


Sarah terkekeh. "Tadi kamu jawab ucapan saya pake nama kamu." jelasnya yang langsung di angguki Chaca.


Chaca lupa jika tadi ia memang berbicara nama dirinya sendiri.


"Kamu kenapa?" lanjut Sarah ketika melihat kepala gadis di depannya di perban.


Seakan tau, Chaca langsung memegangi dahinya. "Kecelakaan." Matanya kembali ber-air. Ia mengingat sang Kakak Ipar.


"Kecelakaan?" Sarah nampak kasihan melihat gadis didepannya. "Pasti sakit ya?" ucapnya perhatian, seakan memberikan perhatian pada anak kandungnya sendiri.


Sarah menaikan salah satu alisnya. "Ya Tuhan. Jadi kamu kecelakaan bareng Kakak Ipar kamu sendiri?"


Chaca nampak mengangguk.


Sarah segera mengelus lembut kepala Chaca. Seperti memberi kekuatan. "Jadi kamu nangisin Kakak Ipar kamu?"


"Iya hiks."


"Kamu yang sabar ya. Saya yakin Kakak Ipar kamu akan baik-baik aja." Sarah mengulas senyumnya tipis.


Chaca mengeleng pelan. "Chaca juga berharap Kakak Ipar baik-baik aja hiks. Chaca ngerasa bersalah, semua ini karna Chaca, Kak Elena jadi kayak gini karna Chaca." seandainya saja dirinya tidak meminta Elena mengajarkannya mobil, dan keluar secara diam-diam dari rumah. Seketika Chaca mengingat sesuatu. Ia ingat saat dimana ada orang yang bilang jika mereka mau nyawanya dan nyawa Elena. Ini pasti bukan murni kecelakaan. Pasti ada orang dibalik ini semua.


Sarah terdiam mendengar nama yang disebutkan gadis didepannya.


"Siapa nama Kakak Ipar kamu?"


Chaca membuyarkan lamunannya. "Kak Elena."

__ADS_1


Deg!


___


Beberapa jam kemudian, Bryan masih setia menunggu Elena sadar dari pingsannya. Ia duduk disamping ranjang dengan kursi yang sempat dibawakan kesini. Kedua orang tuanya pun sempat masuk kedalam sini namun tak lama karna keduanya masih ada beberapa urusan penting. Alhasil dirinya lah yang menunggu dan menjaga gadisnya disini.


Dengan memegangi tangan Elena, Bryan sesekali mengecup pelan telapak tangan Elena. Didalam hati, ia merapalkan doa agar gadisnya baik-baik saja.


Setelah lama menunggu, akhirnya harapannya muncul. Ia melihat mata Elena yang mulai terjajap seperti akan terbuka.


Bryan terbangun dari duduk nya ketika melihat pergerakan. Senyumnya terbit, melihat Elena yang sebentar lagi akan terbangun.


"Eunghhh"


"Kau sudah sadar?" tanya Bryan.


Elena membuka matanya perlahan membuat Bryan senang bukan main. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama ketika melihat gerakan aneh dari Elena.


Elena memegangi kepalanya yang sedikit pusing dengan bangkit dari tidurnya, mencoba untuk terduduk.


"Lebih baik kau tidur saja. Tubuhmu masih lemah," ucap Bryan, membantu Elena untuk duduk diatas ranjang.


Elena mengeleng pelan. Sembari mengambil posisi duduk tegap, ia menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang, Elena mengenggam tangan Bryan yang juga membantunya untuk terduduk.


"Dokter Bryan?"


"Iya, aku disini." balas Bryan lembut.


Elena kembali mengenggam tangan Bryan erat. "Dok, kita ada dimana? kok disini gelap?"


Deg!


Bryan membalas genggaman tangan Elena dengan jantung yang berpacu cepat. Ia menatap sekitarnya. Disini cerah karna lampu dan cahaya dari luar jendela.


"Gelap?"


Elena nampak mengangguk pelan. Matanya sakit. Ia tidak bisa melihat apapun. Hanya warna hitam yang ia lihat. "Tolong nyalain lampunya Dok, saya takut kegelapan. Sa-saya gak suka gelap seperti ini Dok."


TBC

__ADS_1


__ADS_2