Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB29: Bertemu Wilson


__ADS_3

HAPPY READING GUYS🍁


"Eh kamu udah sampe sini?" ucap seorang wanita yang memakai dres hijau. "Oh ya kenalin Ibu-Ibu ini anak pertama saya, namanya Wilson." lanjutnya dengan menatap teman-temannya sembari tersenyum.


Wilson tersenyum menatap wanita-wanita yang seumuran dengan Mamahnya ini. Sampai pada sesosok gadis yang berdiri disebelah wanita berumur. Ia sedikit tersentak kaget karna tak menyangka akan bertemu mantan pekerjanya disini.


"Elena? kamu kok ada disini?" tanya Wilson dengan pandangan heran. Untuk apa Elena berada dirumah ini?


Mendengar itu membuat Elena tersenyum tipis. Ia harus menjawab apa sekarang?


Ibu-Ibu disini mulai bergantian menatap kearah Elena dan juga Wilson, mereka binggung sekaligus heran karna ternyata kedua orang ini saling mengenal.


Baru saja akan menjawab tiba-tiba saja ada seorang wanita yang berbicara membuat Elena mengurungkan niatnya untuk membuka suara menjawab pertanyaan dari mantan atasannya tadi.


"Loh kalian udah saling kenal?" sahut wanita ber-dress hijau yang tak lain adalah Ibu kandung dari Wilson.


Wilson mengangguk singkat dengan senyuman manis dibibirnya. Ia memang heran untuk apa Elena berada disini namun tak ayal dirinya juga merasa senang karna bisa bertemu gadis itu lagi.


"Dia teman-ku Mom." jawab Wilson dengan mengalihkan tatapannya pada Elena.


Elena hanya diam dengan mengeratkan jas yang menempel di punggunggnya. Hawa dingin disini semakin menyeruak membuatnya kembali merasa kedinginan. Elena tidak biasa memakai pakaian terbuka seperti ini karna biasanya ia memakai kaos panjang dan juga celana katun alhasil ini kali pertama dirinya memakai gaun seperti ini.


"Temen apa temen?" goda salah satu Ibu-Ibu dengan sedikit terkekeh.


"Masih temen." ucap Wilson menatap Elena dengan senyum penuh arti. "Em Na? kita bisa bicara berdua? ada yang mau saya bicarakan dengan kamu." lanjutnya.


Elena menatap Meldi yang masih berdiri disampingnya. Seakan tau apa yang dipikirkan menantunya, Meldi pun mengangguk memberi izin Elena untuk berbicara berdua dengan anak temannya.


Meldi menatap Elena dan juga Wilson secara bergantian. "Yasudah kalo kalian mau berbicara berdua, silahkan." Meldi mengusap puncuk kepala menantunya pelan. "kalo sudah selesai kamu kesini lagi aja ya Na. Mamah masih mau ngobrol sama temen-temen Mamah disini soalnya." lanjutnya dengan menurunkan tangannya dari kepala Elena.


Elena mengangguk. Tatapannya kembali menatap Wilson didepannya.


"Kalo begitu kami permisi dulu." Wilson berpamitan dengan Ibu-Ibu disini. "Ayo Na." setelah mengucapkan itu Wilson berbalik dan melangkah menuju ke arah suatu tempat.


Elena yang melihat itu pun menatap wanita-wanita teman mertuanya ini. "Permisi ya," pamitnya dengan tersenyum lalu berjalan mengikuti langkah Wilson.


Wilson berjalan menuju kearah bagian taman yang memang tidak terlalu ramai dengan para tamu sedangkan Elena setia melangkah dibelakang punggung bidang milik Wilson. Entah akan kemana pria ini membawanya namun Elena hanya berdoa semoga Wilson tidak bermacam-macam padanya.


Sampai disebuah tempat yang berjarak sedikit jauh dari keramaian para tamu. Wilson segera menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Elena. Sekarang posisi keduanya berdiri dengan saling berhadapan.

__ADS_1


"Ada apa Bapak bawa saya kesini?" Elena pun membuka suara terlebih dahulu. Ia menjadi sedikit kepo dengan apa yang akan diucapkan pria dihadapannya.


Wilson pun tersenyum. Ia sudah mencari keberadaan Elena saat mendengar jika gadis itu dicepat dari restaurant nya. Memang mereka sempat bertemu saat berada di rumah sakit tadi siang namun sayangnya ada seorang pria yang menarik tangan Elena membuatnya tidak bisa mengobrol banyak dengan gadis ini.


"Saya cuma mau nanya kamu ngapain disini? akhir-akhir ini juga saya sulit untuk ketemu kamu dan jujur saya merasa senang karna bisa bertemu kamu disini." sahut Wilson masih dengan tersenyum manis.


Elena berdekhem singkat. Ia merasa gugup sekarang. Entah kenapa jika bertemu dengan mantan atasan-nya ini Elena merasakan jantungnya sedikit berdetak cepat. Rasa ini berbeda dengan dektuman jantung jika bersama Bryan, ketika bersama Dokter itu jantungnya berdetak kencang karna takut dengan tatapan tajam yang dimiliki Bryan namun saat bertemu Wilson yang notabenya adalah mantan bos nya sendiri itu ia malah merasakan jantungnya berdetak hebat dengan hawa hangat yang menyentuh hatinya.


"Bapaknya juga mau ngapain disini?" tanya balik Elena. Ia hanya mengucapkan apa yang terlintas dikepalanya.


Kekehan terdengar dari bibir pria tampan dihadapannya. "Saya nanya kamu, kamu malah balik nanya. Kebiasaan," Wilson sedikit mencubit hidung Elena gemas membuat sang pemilik hidung sedikit kegaduhan.


Elena menjauhkan tangan Wilson dari wajahnya. Ia tidak tahan dengan sikap pria dihadapannya yang terbilang cukup membuatnya semakin baper. Elena memang tipikal gadis yang baperan, ia mudah sekali jatuh cinta dengan seseorang yang bersikap manis dengannya seperti mantan bosnya ini. Ya, jujur Elena menyukai Wilson namun perasaannya ini ia simpan dalam-dalam karna dirinya cukup sadar diri dengan status keluarga yang ia miliki. Wilson terlahir dalam keluarga serba ada berbeda dengan dirinya.


"Disini banyak orang Pak, ga enak." pelan Elena saat sudah menurunkan tangan Wilson dari wajahnya.


"Kalo sepi? enak?" sahut Wilson masih dengan kekehan dibibirnya. Elena menjadi sedikit kesal dengan sikap pria dihadapannya ini.


Hubungan antara keduanya memang cukup terbilang dekat. Walau mereka adalah atasan dan karyawan namun Elena dan Wilson terbilang cukup akrab di tempat kerja maupun diluar pekerjaan. Elena sering menghabiskan waktu bersama Wilson ketika dirinya masih bekerja di restaurant pria itu.


"Bapak sebenarnya kesini mau apa?" ucap Elena mengalihkan pembicaraan. Jika melanjutkan ucapan Wilson tadi pasti tidak akan ada habisnya. Jika terus meladeni yang ada malah membuat Elena diam seribu bahasa jika sudah tidak tau harus menjawab ucapan Wilson apa.


"Oh itu saya niatnya mau jemput Mamah saya untuk jadwal chek-up rutin ke dokter tapi ternyata juga ketemu kamu disini." jawab Wilson.


"Sedangakan kamu kenapa ada disini? kebetulan saya denger jika pesta ini adalah syukuran atas pernikahan. Kamu tau Na ini pernikahan siapa?" lanjut Wilson dengan penuh tanya.


Elena dibinggungkan kembali dengan pertanyaan pria dihadapannya ini. Ia harus menjawab apa? apa ia jujur saja jika dirinya adalah pengantin dipesta ini? namun Elena tak enak mengatakan itu.


___


"Ckckck kau tidak ingin apa menghampiri mereka berdua? Terlihat sekali pria itu tertarik dengan gadis mu. Apa kau tidak merasa cemburu?" Abraham melirik sang anak yang berdiri disampingnya.


Sekarang Abraham dan juga Bryan sedang berdiri tak jauh dari tempat keberadaan Elena dan seorang pria dihadapannya.


Bryan menatap dingin arah kedua orang itu. Ia tidak menyangka Wilson datang ke pesta pernikahannya. Untuk apa pria itu kesini? Bryan menatap Wilson dengan geram. Ia sama sekali tidak menyukai pria itu semenjak kejadian beberapa tahun lalu.


"Mesra sekali ya kedua orang itu, nampaknya menantu ku juga nyaman dengan pria yang berdiri dihadapannya itu." lanjut Abraham dengan tangan yang dimasukkan kedalam kedua saku celananya. Ia masih menatap kedua orang yang berdiri tak jauh darinya.


Bryan masih diam menatap setiap gerak-gerik kedua orang itu. Sebenarnya ia ingin kesana namun ia mencoba untuk menahannya ketika melihat jika Elena dan juga Wilson sibuk berbicara, entah apa yang dibicarakan mereka bryan tidak tau namun kayaknya pembicaraan itu cukup serius.

__ADS_1


"Sepertinya keduanya sedang berbicara serius, kau tidak ingin tau apa yang mereka bicara kan? kau juga tidak ingin tau hubungan dari kedua orang itu? ckckck tidak perhatian sekali pada istri sendiri." Abraham sedari berbicara sendiri dengan mata yang menatap tenang Elena dan juga pria dihadapannya.


Bryan sedari tadi hanya diam mendengar celotehan sang Papah. Ia merasa Papahnya ini sengaja berbicara itu, entah memanasi dirinya atau mengomporinya.


"Elena terlihat senang ya, Papah yakin pasti pria itu pernah menjadi orang penting dikehidupan gadis mu." Abraham tak berhenti-hentinya berbicara dengan presepsinya sendiri.


"Atau jangan-jangan mungkin saja menantu-ku menyukai pria itu? atau sebaliknya?" lanjut Abraham dengan tersenyum miring menatap Bryan.


"Maksud Papah?" Bryan melirik sekilas Abraham lalu kembali menatap Elena.


"Ya siapa tau saja pria itu menyukai gadismu. Terlihat jika dia mencari perhatian dari Elena, memang keduanya cocok sih jika disandingkan bersama karna yang satunya ramah dan yang satunya romantis." diakhir kalimat Abraham sedikit menekan kalimatnya membuat Bryan sedikit mengumpat.


Tanpa berbicara apapun Bryan melangkahkan kakinya berjalan menuju ke tempat kedua orang itu. Abraham yang melihat anaknya bergerak langsung tersenyum miring, sepertinya anak pertamanya itu masih kurang peka dengan perasannya membuatnya harus menuntun agar Bryan bisa sadar dengan hatinya sendiri.


___


"Na? kok gak jawab?" tanya sekali lagi Wilson ketika melihat gadis dihadapannya diam tak menjawab.


Lamunan Elena seketika buyar. "Eh iya Pak." Elena sedari tadi memikirkan bagaimana mengucapkan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Wilson tadi.


"Kamu ini malah ngelamun. Saya nanya kamu tau siapa yang jadi pengantin disini?"


Jantung Elena kembali berdetak kencang. Gugup, takut, binggung menjadi satu dipikirannya. Ia harus bagaimana?


Aku harus jawab apa sekarang? ya tuhan ku mohon bantu aku


"Ekhem, kau ingin tau siapa pengantin nya?"


Tiba-tiba suara terdengar dari arah belakang Elena membuat kedua orang yang berbicara tadi menatap asal suara tersebut.


Mata Elena membulat ketika tau siapa orang yang berdekhem tadi. Tau dari mana pria itu jika dirinya berada disini?


Bryan maju dan berhenti tepat disamping Elena. Masih dengan memasang wajah dinginnya ia menganggam telapak tangan Elena erat dan sedikit mengangkatnya untuk memperlihatkan sesuatu pada pria dihadapannya.


"Kami pengantinnya." ucap Bryan dengan mengulas senyum devilnya sembari memperlihatkan cincin ditangannya yang ia kepalkan bersama tangan Elena.


↔↔↔


Terimakash sudah membaca❤

__ADS_1


Ikutin trs certanya ya!


salam manis semuanya😗


__ADS_2