Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB82: Kode anak?


__ADS_3

Melihat Chaca yang sudah hilang dari pandangannya, membuat Bryan segera berjalan.


"Kita pergi sekarang," Menggandeng tangan Elena erat, Bryan segera berlalu dari hadapan Putri tanpa berpamitan pada wanita itu.


Elena yang merasakan tangannya di pegang erat hanya pasrah mengikuti langkah kaki Bryan. Elena sesekali menengok ke arah belakang, menatap tak enak pada Putri karna dirinya harus meninggalkannya.


Sedangkan Putri masih berdiam diri, menatap Chaca lalu menatap Bryan dan Elena yang berjalan menjauh darinya.


Dalam kediamannya itu, Putri menarik smrik-nya, ketika sesuatu terlintas di dalam pikirannya.


......***......


Sampai di hadapan mobil. Bryan melepaskan tautannya pada Elena. Menatap gadis itu datar tak berekspresi.


"Masuk," titahnya menyuruh Elena masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.


Elena yang melihat wajah tak biasa dari Bryan langsung mengangguk, berjalan mendekati pintu mobil lalu masuk kedalamnya.


Tak lama Bryan pun ikut masuk ke dalam mobilnya, duduk di jok pengemudi dan Elena duduk disampingnya.


Di dalam mobil, keduanya masih diam. Bryan dan Elena terlihat tidak berniat untuk mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.


Sampai pada dimana Bryan menyalakan mesin mobilnya. Bersiap untuk melaju keluar dari rumah ini. Elena yang sedari berdiam pun memberanikan diri untuk bertanya. Bukan apa, sedari tadi dirinya sebenarnya ingin bertanya namun melihat wajah tak biasa dari Bryan membuat dirinya sedikit takut.


"Kita mau kemana Dok?" sahut Elena, bertanya. Melihat penampilan dari Bryan, sebenarnya Elena sudah tau mereka akan kemana hari ini, namun dirinya mencoba untuk basa basi, mencairkan suasana dimobil ini.


Bryan melirik sekilas Elena lalu kembali menatap arah hadapannya. Dirinya sudah mulai melajukan mobilnya, keluar dari rumah ini.


"Rumah sakit," balas Bryan, singkat.


"Dok-dokter ngapain ngajak saya ke rumah sakit? Saya kan gak minta ikut ke rumah sakit?" tanya lagi Elena.


Bryan menghela nafasnya. "Perasaanku tidak enak jika meninggalkan mu dirumah dengan wanita itu."


Dahi Elena mengerut. "Wanita itu? Kak Putri maksudnya?"


Bryan mengangguk, "Hm."


"Memangnya kenapa Dok? Kak Putri baik kok orangnya, gak mungkin dia macem-macem," Elena mencoba membela Putri, walau hatinya berkata lain.


Bryan kembali melirik singkat Elena. "Hanya berjaga-jaga, aku tidak mau kau kenapa-napa."


Denyutan di jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Walau ucapan Bryan yang hanya seperti itu, jauh dari kata romantis tapi tetap saja ucapannya mampu membuat hati Elena bergetar.


"Jangan baper, aku hanya tidak mau dibuat repot olehmu jika nanti terjadi sesuatu lagi." lanjut Bryan, seperti paham apa yang sedang di pikirkan Elena.


Mengerucutkan bibirnya kedepan, Elena mengalihkan tatapannya, menatap jalanan di hadapannya. Pria ini masih saja gengsi, padahal Elena yakin jika dibalik kata 'dibuat repot' tersimpan ke khawatiran pada jiwa Bryan, mungkin.


Keadaan mobil kembali hening. Keduanya terlihat tidak berniat mengeluarkan suara lagi. Bryan fokus menyetir, sedangkan Elena fokus dalam pikirannya. Memikirkan seseorang.


...***...


Chaca berjalan menuju ke arah dapur. Entah kenapa perasannya sedari tadi mendadak tidak enak. Entah kenapa, seperti akan terjadi sesuatu hari ini.


"Bi," panggil Chaca, ketika melihat salah satu maid melintas di hadapannya.


Merasa di panggil, Maid itu pun mendekat ke arah majikannya, menunduk dengan hormat. "Iya Nona?"


Pandangan Chaca menatap sekitaran tempatnya, lalu kembali menatap Maid. "Yang lain kemana? kok sepi?"


"Tuan dan nyonya besar sudah pergi ke kantor sejak pagi Nona, sedangkan Tuan Aiden belum keluar dari kamarnya."


Chaca terdiam. Tumben Kakaknya belum keluar dari kamar?


"Makasih ya Bi," setelah mengatakan itu, Chaca berlarian pergi menuju lantai atas, lebih tepatnya pergi ke kamar Aiden. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Perasaannya sangat tidak enak.


Sampai pada pintu berwarna coklat keemasan. Chaca menatap pintu itu dalam-dalam.


"Kak Aiden?" panggil Chaca, lalu mengetuk-ngetuk pintu di hadapannya.


Hening. Tidak ada panggilan jawaban dari dalam kamar. Membuat hati Chaca seketika dilanda ke khawatiran.


Tok tok tok!


"Ada orang di dalam?" teriak kembali Chaca, dengan menempelkan telinganya pada dinding pintu. Nihil, tidak ada jawaban lagi.


Merasa ada yang aneh, Chaca segera meraih knop pintu, berniat membuka-nya. Dan ya, pintu terbuka. Sedari tadi ternyata pintu tidak di kunci.

__ADS_1


Ceklek!


Saat pintu mulai terbuka lebar dan Chaca masuk ke dalam kamar. Tiba-tiba Chaca menghentikan langkahnya, menatap pemandangan yang cukup membuat hatinya tekejut bukan main.


"Kak Aiden?" Gumam-nya, pelan. Tubuh Chaca seketika melemah, menatap arah hadapannya.


...***...


Mobil Bryan masuk ke dalam parkiran rumah sakit milik keluarganya. Elena masih saja diam, tak bersuara.


Sebenarnya Elena sungguh kesal dengan tingkah Bryan. Pria itu seenaknya membawanya pergi tanpa persiapan. Padahal Elena ingin sekali menghabiskan waktu bersama Kakaknya di rumah. Berdua dengan Kakaknya. Sebelum apa yang ada di pikirannya selama ini terjadi.


"Turun," Bryan melepaskan seatbelt mobil lalu turun dari mobilnya.


Elena masih diam, di tempatnya.


Bryan yang melihat Elena hanya diam segera menatap gadis itu dari luar, melewati jendela mobil yang ia biarkan terbuka.


"Hey!"


"Eh," Lamunannya seketika terbuyar, Elena lantas menatap arah sampingnya. "Kenapa?"


Bryan berdecak, sebal. "Turun, atau aku kunci dari luar?"


Elena menatap sekitarnya. Ternyata mereka sudah sampai. Sedari tadi dirinya melamunkan sesuatu membuat ia tidak menyadari jika ternyata sudah sampai di rumah sakit.


Melihat jendela di sampingnya mulai tertutup, Elena segera membuka pengaman di tubuhnya lalu keluar dari mobil Bryan.


Ia segera berlari, mendekat ke tempat Bryan, berdiri disamping pria itu.


"Kau sedang memikirkan apa?"


"Bukan apa-apa," balas Elena, menatap Bryan yang juga menatapnya tajam. Apa pria itu sadar jika sedari tadi dirinya melamun?


Bryan menghela nafasnya pelan. Dirinya sebenarnya tau jika Elena sedang menyembunyikan sesuatu darinya, namun Bryan tidak mau memaksakan Elena untuk bercerita, dirinya akan mencari tau sendiri nanti.


Bryan segera melangkah masuk ke dalam lobi rumah sakit. Tentunya, dengan tangan yang bertautan dengan Elena.


Elena yang merasakan itu hanya pasrah. Akhir-akhir ini Bryan sering sekali menggenggam tangannya ketika berjalan. Pria itu berasalan jika tidak mau dirinya hilang, tubuhnya yang pendek membuat sulit jika nanti tiba-tiba menghilang di kerubunan orang-orang. Memangnya dirinya anak kecil apa? kadang Elena heran, sifat Bryan mulai berubah. Apa pria ini ketempelan? atau kesurupan sesuatu? hingga sikapnya berubah.


Mereka berdua nampak berjalan beriringan di dalam lorong rumah sakit. Seperti biasa, banyak pasang mata menatap ke arah mereka namun tidak terlalu heboh seperti dulu, saat pertama Elena dan Bryan berjalan bersama-sama.


Suara tangisan serta teriakan anak kecil yang memanggil Mamah-nya mengalihkan perhatian Elena.


Elena menghentikan langkahnya, menatap sesosok anak kecil yang berdiri dengan mengucek-ngucek kan matanya disisi lorong rumah sakit.


Elena menatap Bryan, seperti meminta izin. Bryan yang tau arti tatapan Elena lalu meng-iyakan apa yang akan di lakukan gadis itu.


Elena segera melepaskan tautan tangannya dari Bryan, lalu menghampiri anak itu.


"Eh dek? kamu kenapa?" Elena berjongkok, Ketika sampai di hadapan anak itu untuk mensejajarkan tubuhnya dan menatap anak perempuan yang tengah menangis sendirian.


"Mamah hiks!"


Bryan hanya diam di belakang Elena. Menatap interaksi diantara kedua perempuan itu.


"Dok, kayaknya dia kepisah deh sama Mamahnya," sahut Elena, menatap Bryan sekilas lalu kembali menatap anak kecil dihadapannya. Mungkin umur anak kecil itu sekitaran 5 atau 6 tahunan. "Mamah kamu dimana? kamu kepisah sama mamah kamu disini?"


Anak kecil itu menggeleng. "Tadi Lele mau ke kamal mandi. Tapi malah kesasal, huwa!!" tangis anak itu makin keras, membuat orang-orang yang tengah berjalan di sekitaran lorong ini menatap ke arah mereka.


"Dok?" Elena menatap Bryan, meminta jawaban, harus apa.


Bryan menatap anak gadis itu lekat. "Aku akan memerintahkan staf membuat pengumuman lewat suara. Lebih baik kita bawa dulu anak ini ke ruanganku, sampai orang tuanya menjemput." Usulnya.


Elena terdiam lalu tak lama mengangguk, "Ikut Tante- eh Kakak dulu yuk?"


"Mau kemana? kata Mamah Lele, Lele gak boleh ikut sama olang asing. Takut di culik." balas anak kecil itu dengan sesegukan, membuat Elena sedikit gemas.


"Emang muka Kakak ada tampang penculiknya ya?"


Anak kecil itu lantas menggeleng, lalu menatap Bryan dengan pandangan sedikit takut.


Arah tatapan anak di depannya membuat Elena paham. Ia lantas menatap Bryan. Bryan yang melihat kedua orang di hadapannya menatapnya, hanya membalas dengan datar.


"Apa?"


Elena menatap Bryan dengan senyuman lebar. Ia lalu mengangkat kedua jari telunjuknya dan menunjuk ke arah bibirnya.

__ADS_1


Bryan terdiam. "Apa? kau minta cium?"


Mata Elena membulat. "Bukan Dok!" Dirinya mengode Bryan untuk tersenyum, agar anak kecil ini tidak takut padanya. Tapi bisa-bisanya Bryan mengartikan dirinya meminta ciuman.


"Lalu apa? jangan memakai kode alien seperti itu, Aku tidak paham."


Pantas saja tidak peka!


"Dia eh-" Elena kembali menatap anak di depannya lagi. "Nama kamu siapa tadi?"


"Lele." jawab anak perempuan itu.


"Lele? nama macam apa itu? seperti ikan saja." kali ini, bukan Elena yang membalas namun Bryan. Pria itu nampak sedikit terkekeh, mendengar nama yang di lontarkan anak kecil itu.


"LELE OM!" Anak perempuan itu membenarkan ucapan Bryan dengan tatapan tajam.


"Iya Lele, yang kumis-nya panjang itu bukan?" lanjut Bryan, tak takut dengan tatapan yang di perlihatkan anak perempuan itu.


"Lele Om! L.e.l.e!" balas anak kecil itu, mengeja namanya sendiri.


Elena menatap Bryan serta anak kecil di depannya secara bergantian. Kenapa mereka jadi ribut sendiri?


"Udah-udah." Elena menengahi pembicaraan di antara Bryan dan anak perempuan ini. Sebelum berkelanjutan. Elena kembali menatap anak kecil di depannya. "Nama kamu Rere? iyakan?"


Anggukan di perlihatkan anak kecil itu lagi. "Iya, Lele! bukan Lele!" omel nya, menatap Bryan, kesal.


Bryan yang mendengarnya hanya tertawa di dalam hati. Ternyata anak kecil ini belum bisa berbicara 'R' membuat dirinya sangat gemas dengan ucapannya.


"Yaudah, ikut Kakak yuk? nanti Mamah kamu bakal jemput kamu disana," ajak Elena yang langsung menggandeng anak itu.


Keduanya mulai berjalan menuju ruangan Bryan. Sedangkan Bryan terdiam sesaat terlebih dahulu lalu ikut berjalan bersama kedua perempuan itu.


...***...


Elena, Bryan serta anak kecil bernama Rere itu sudah ada di ruangan Bryan.


Bryan sudah menelpon bawahannya untuk membuat pengumuman anak hilang dan mungkin sebentar lagi akan ada keluarga yang menjemput anak kecil itu.


Elena nampak asik bermain dengan Rere, lain dengan Bryan yang hanya diam menatap kedua manusia itu.


Tak terasa bibir Bryan melengkung indah, menatap Elena yang terlihat senang dengan kehadiran anak itu.


Elena tersenyum bahagia melihat anak kecil di sampingnya tertawa. Suara tertawanya membuat Elena sangat gemas.


"Dok?" panggil Elena.


Bryan menormalkan kembali wajahnya. "Hm."


"Kayaknya rumah bakal seru deh kalo ada anak kecil." Elena mengalihkan tatapannya menatap Bryan.


"Kau ingin?"


Mata Elena nampak berbinar lalu mengangguk membuat Bryan tanpa sadar menarik smrik nya.


"Mau Dok." Elena membayangkan bagaimana dirinya nanti di rumah, dirinya mungkin nanti tidak akan kesepian lagi jika hadirnya anak kecil di rumah. Maklum, kedua adik iparnya sibuk bersekolah, Bryan sibuk bekerja dan juga kedua mertuanya pun sama. Alhasil Elena sering sekali bosan jika berada di rumah.


"Yasudah."


Elena tersenyum. "Dokter mau ke panti asuhan mana?"


Dahi Bryan mengkerut. "Untuk apa ke panti asuhan?"


"Buat adopsi anak lah Dok, kan tadi Dokter yang iyain."


Bryan sedikit berpikir, namun tak lama ia pun mengerti arah pembicaraan Elena.


"Untuk apa adopsi anak jika ada kau disini." balas Bryan, santai.


"Maksud Dokter?" papar Elena tidak paham.


Lagi lagi Bryan menarik smrik nya. "Jika ada kau disini, ngapain harus adopsi anak. Kita buat saja sendiri."


Hah?!


-


Yang rindu mereka berdua mana nih?

__ADS_1



Segini dulu ya, lanjut besok ok! >∆<


__ADS_2