
Elena terdiam. Membulatkan matanya tak percaya.
"Maksud Dokter?"
Bryan tersenyum tipis. Melihat wajah kaget dari Elena. Ia tau pasti wanita ini terkejut. "Apa kurang jelas ucapanku tadi?"
Mematung. Antara kaget dan senang. Elena tidak membayangkan jika hal ini akan terjadi. Jadi orang lain itu dirinya? Bryan mencintainya?
"Aku mencintaimu." Bryan mengucapkannya lagi. Penuh tekanan. Agar Elena mendengar jelas ucapannya.
Menelan salivanya kasar. "Ini bukan mimpi kan?" Elena membulatkan matanya, masih syok.
Cup!
Bryan mengecup pelan bibir Elena. "Apa menurutmu ini mimpi?"
Menyentuh bibirnya pelan. Elena menatap dalam Bryan.
"Jadi tulisan yang tadi saya liat itu Dokter yang bikin?" Penasaran Elena.
Bryan menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan."
Membulatkan matanya. Perkiraan dirinya, Bryan yang membuat itu namun ternyata bukan. Lantas kenapa ada namanya disana? apa itu buat 'Elena' yang lain?
"Terus?"
"Bukan aku yang membuatnya, tapi anak buah ku. Aku hanya memerintahkannya saja."
Elena menghembuskan nafasnya kesal. Sama aja!
Terkekeh singkat. "Maafkan aku selalu pergi meninggalkanmu di hotel. Tapi ada alasan di balik itu." Bryan mencoba untuk menjelaskan semuanya pada Elena. Agar perempuan itu tidak berpikiran macam-macam tentangnya.
Elena mengangguk mendengarnya. Ternyata Bryan mengurus semua ini untuknya. Duh, entah kenapa hatinya merasa berbunga-bunga, apalagi Byan mengungkapkan cinta padanya. Membuat wajahnya merona.
"Makasih ya Dok untuk semuanya." Elena tersenyum malu. "Saya gak nyangka Dokter bikin ini buat saya."
Melihat pipi Elena yang memerah membuat Bryan gemas. "Aku senang jika kau menyukainya.
Elena mengangguk, menatap sekeliling tempat yang sudah dihias ini. Udara disini sangat sejuk, pemandangan pantainya pun terlihat sangat indah. Membuat Elena benar-benar bahagia.
Tatapannya kembali menatap Bryan. Elena mengerutkan dahinya, ketika melihat Bryan yang diam menatapnya.
"Dokter kenapa liatin saya kayak gitu?"
Masih mengulas senyumnya. Bryan berdekhem. "Kau cantik."
Malu! Tidak biasanya Bryan memujinya langsung seperti ini. Ah, Elena jadi benar-benar gugup sekarang.
Menggenggam tangan Elena. Bryan menuntun wanita itu melangkah. Mendekati meja dan kursi yang sudah di siapkan. Elena yang merasakan itu hanya pasrah, mengikuti setiap langkah dari Bryan.
Keduanya pun duduk di kursi. Saling berhadapan satu sama lain dengan meja di depan mereka yang terlihat sudah terisi, dengan segala macam makanan. Kesukaan Elena.
Elena menatap berbinar makanan itu. Lalu kembali menatap Bryan. Di hadapan nya. "Dokter kok tau makanan kesukaan saya?" tanyanya.
"Apa yang tidak aku ketahui tentang mu, hm?"
Mendengarnya membuat Elena memajukan bibirnya. Ya ya ya, ia tau. Seorang Bryan bisa saja mencari tau segalanya. Apalagi cuman makanan kesukaannya. Pasti itu kecil bagi Bryan.
Melipat kedua tangannya di atas meja. Bryan menatap Elena serius. "Tutup matamu."
"Hah?" menaikkan sebelah alisnya binggung. "Buat apa?" tanya Elena.
"Sudah tutup saja. Saat aku bilang buka, baru kau buka matamu."
Mengangguk pelan dengan heran, Elena perlahan menutup matanya. Membuat Bryan tersenyum.
Menatap seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Brya melambaikan tangannya. Mengode untuk orang itu mendekatinya. Setelah orang yang di panggilnya ada di sampingnya. Bryan segera mengambil benda yang di bawa orang itu dan menyuruh orang itu untuk pergi dari hadapannya.
Masih dengan mengulas senyumnya, Bryan menatap sebuah benda di tangannya penuh cinta. "Buka matamu."
Elena yang mendengarnya langsung membuka matanya. Alangkah terkejutnya ketika Elena melihat Bryan memegangi sesuatu dan memberikannya padanya.
"Untukmu."
__ADS_1
Sebuah buket bunga mawar, Bryan berikan untuk Elena. Membuat wanita itu mematung. Terkejut.
"Buat saya?" Elena menatap terpukau buket tersebut. Yang cukup indah di matanya.
Bryan mengangguk. "Iya. Siapa lagi?"
Elena segera menerima buket tersebut. Dengan wajah terharu sekaligus bahagia. "Makasih Dok."
Bryan segera mengambil sebuah gitar di sampingnya. Dan memangku gitar tersebut di pahanya, bersiap untuk ia mainkan.
Elena lagi-lagi di buat kaget dengan tingkah Bryan. Mau apa pria ini?
Jrenggg..
Bryan mulai memainkan tangannya di senar gitar itu.
🎶If our love was a fairy tale.
I would charge in and rescue you.
On a yacht baby we would sail.
To an island where we'd say I do.
Bryan menatap Elena. Tersenyum manis. Menyanyikan satu buah lagu yang mungkin bisa menggambarkan perasaannya terhadap Elena.
🎶And if we had babies they would look like you.
It'd be so beautiful if that came true.
You don't even know how very special you are.
Elena hanya diam. Walau sedikit kaget ternyata Bryan beryanyi untuknya. Tapi jika di dengar, Bryan memiliki vokal yang cukup bagus.
🎶You leave me breathless.
You're everything good in my life.
I still can't believe that you're mine.
You just walked out of one of my dreams.
So beautiful you're leaving me...
Bryan menghentikan sebentar suaranya. Menatap Elena penuh cinta. Lalu kembali bersuara.
🎶..breathless.
Elena bertepuk tangan. Setelah Bryan selesai bernyanyi. Mata Elena nampak berkaca-kaca. Melihat Bryan yang memperlakukannya seperti ini. Sungguh, ia terharu.
Meletakkan lagi gitarnya di samping. Bryan kembali menatap Elena.
"Saya gak nyangka Dokter pinter nyanyi." Elena tak menyangka, seorang Dokter seperti Bryan bisa bernyanyi juga. Kenapa pria ini tidak menjadi vokalis band saja?
"Memangnya kau pikir aku hanya pinter memainkan peralatan Dokter saja begitu?" Bryan terkekeh.
Elena menggeleng kan kepalanya pelan. Sembari tersenyum.
"Yasudah, aku tau kau lapar. Ayo di makanan makanan mu."
Bryan mulai menyuruh Elena memakan makanan yang sudah siap di depannya.
Tak menunggu lama, Elena segera mengangguk dan memakan makanan itu.
"Bagaimana?" tanya Bryan, penuh harap. Sembari ikut memakan makanannya.
"Em," Elena melebarkan senyumnya. Merasakan makanan yang kini ia kunyah. "Enak Dok!"
"Syukurlah kalo kau suka. Tidak sia-sia aku harus menghabiskan waktu ku tadi memasak ini semua untukmu."
Menganga. "Dok-dokter yang masak ini semua?" tak percaya Elena.
__ADS_1
Mengangguk. "Hm." balas Bryan.
Ya, Bryan keluar dari hotel hanya untuk memasak makanan ini. Bryan hanya ingin membuat pernyataan cintanya ini istimewa. Walau memang memasak tadi di bantu bawahan Bryan, Bryan tetap bangga dengan hasil masakkannya. Mungkin jika di persen kan, Bryan 60% sedangkan bawahannya 40% membantu.
Elena menggeleng kepalanya. Wajahnya menyiratkan akan kekaguman. Ternyata seniat ini Bryan melakukan semuanya untuk nya.
Keduanya pun mulai larut dalam pembicaraan. Sesekali mereka terlihat tertawa atau bertukar makanan. Keduanya nampak sangat bahagia, seperti pasangan yang sedang di landa asmara.
...---...
Setelah makan tadi. Elena dan Bryan memutuskan untuk berkeliling pantai ini. Menikmati pemandangan disini.
"Makasih banyak ya Dok. Jujur saya gak ngira Dokter ngelakuin semua ini buat saya. Saya gak nyangka Dokter juga kerja keras buat bikin surprise ini. Makasih ya Dok." Elena pikir Bryan selama ini memiliki hubungan lain, makannnya sering meninggalkannya disini. Tapi ternyata, Bryan pergi untuk mempersiapkan semua ini. Elena jadi merasa bersalah pada Bryan.
"Iy-" sebelum melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ada suara teriakan, yang memotong ucapannya.
"Bryan!"
Bryan dan Elena lantas menatap satu sama lain dan segera berbalik. Menatap asal suara itu.
Sesosok perempuan beserta laki-laki di sampingnya terlihat mendekati Elena dan juga Bryan. Dengan posisi saling berjabat tangan.
Sampai pada di hadapan Elena dan Bryan. Kedua orang berlawanan jenis itu tersenyum manis.
"Selamat ya untuk kalian!" Mia. Perempuan itu menatap pasangan suami istri ini dengan bahagia.
Elena yang mendengarnya menatap Mia heran. Apa katanya? terus kenapa perempuan ini malah keliatan senang? bukannya Mia menyukai-?
Lain hal nya dengan Bryan. Pria itu malah ikut tersenyum. "Terimakasih sudah menyempatkan kesini."
Elena menatap binggung interaksi antar keduanya. Apalagi dengan sosok pria di samping Mia. Siapa pria itu?
Mia yang tersadar dengan tatapan Elena langsung menatap wanita itu dengan bergelayut manja pada pria di sampingnya. "Oh iya Na, kenalin." Mia menatap pria di sebelahnya. "Dia Riko. Suami aku."
Deg!
"Suami?" terkejut Elena.
Mia mengangguk. "Aku lupa bilang sama kamu kalo aku juga udah nikah. Emangnya kamu doang yang udah nikah. Aku juga dong." Terkekeh pelan. Lalu menatap suaminya kembali. "Babe, let's introduce your name." [ Sayang, ayo kenalin nama kamu. ]
Pria bernama Riko itu mengangguk. Lalu menatap kedua orang di depannya. "Hi, my name is Riko. I am the husband of this wife." [ Hai, nama saya Riko. Saya adalah suami dari istri saya ini. ] Menatap Mia dengan cinta. Yang membuat wanita itu langsung tersipu malu.
"Ta-tapi kata kamu, kamu suka-?" Elena mengerutkan dahinya binggung. Bagaimana Mia menyukai Bryan? sedangkan dirinya sudah memiliki suami?
"Kau tertipu olehnya. Sudah ku bilang jangan percaya pada wanita ini." Bryan mendelik. Menatap malas Mia. Wanita itu menjelaskan semuanya padanya tadi pagi. Pantas saja Elena berubah kemarin. Ternyata karena ulah Mia. Padahal dirinya dan juga Mia tidak pernah berhubungan lebih jauh dari sekedar teman. Walau Bryan memang pernah menyukainya, namun itu dulu. Sekarang? hatinya sudah jatuh pada sosok Elena.
Soal suami Mia. Bryan memang juga sudah tau sejak lama. Jauh sebelum mereka bertemu kemarin. Sebab jika bertanya alasan mereka berpisah dulu adalah karena Mia yang menikah. Jarak yang cukup jauh membuat Bryan memang tidak bisa datang ke acara pernikahan Mia, karena wanita itu menikah dengan orang asing. Soalnya acara pernikahan digelar di negara suaminya itu yang berasal dari Inggris. Alhasil Bryan belum sempat menatap sosok suami Mia secara nyata. Dan baru sekarang mereka bertemu.
Elena terdiam. Membuat Mia seketika tertawa terbahak-bahak melihatnya.
"Hahaha, maafin aku ya Na. Kemarin aku cuman bercanda kok."
Elena mengubah wajahnya menjadi datar. Bercanda katanya? bercanda?! dirinya hampir prustasi kemarin dan wanita ini mengatakan jika perkataan semuanya kemarin itu hanya bercanda?!
"Sebenernya aku sama Bryan gak pernah ngapa-ngapain. Kita cuman temen deket. Kayak Kakak sama Adik. Gak lebih." Mia tersenyum manis, memperlihatkan gigi putihnya. "Kemarin aku cuman iseng aja, soalnya kesel denger kamu belum hamil Na."
"Maaf ya Na, udah bikin kamu cemburu kemarin. Aku tadi pagi dimarahin tuh sama suami kamu. Gara-gara katanya kamu berubah. Tapi kamu tenang aja, aku gak bakal rebut Bryan dari kamu kok. Lagian juga aku udah punya Riko sama.." Mia mengelus perut nya pelan. Dengan senyum yang kian lebar.
Tentunya pergerakan itu membuat Elena segera mengalihkan tatapannya. Pada perut Mia. Ia baru sadar ternyata perut wanita itu sedikit membuncit.
"Kamu?" Elena membulatkan matanya tak percaya.
Mia mengangguk. "Aku juga disini tuh sebenernya lagi Babymoon. Kemarin juga lagi jalan-jalan sama Riko, cuman gak sengaja kepisah. Eh kebetulan malah ketemu kalian disana. Rencananya mau ngenalin Riko ke kalian juga kemarin cuman kamu-" Mia menatap Elena. "Malah minta pulang. Pas kalian pulang baru deh Riko dateng jemput aku. Maaf ya Na, bikin salah paham. Tapi suer, aku gak ada niatan jadi pelakor. Lagian juga aku gak suka sama suami dingin kamu itu! Udah kaku gak ada romantis-romantisnya lagi. Tapi pas aku liat tadi. Aku rasa Bryan cinta banget sama kamu. Dia gak pernah loh bikin suprise kayak gini buat perempuan, apalagi aku. Mana pernah. Kamu beruntung banget. Kalian berdua emang cocok. Aku doain semoga kalian cepet-cepet dapet momongan kayak aku. Ah! intinya semoga kamu cepet hamil Na, kali aja nanti pas kamu hamil anak perempuan, aku lahiran anak laki-laki, kita bisa jodohin anak kita terus nanti kita besanan, Aaaa gak sabar!! Ya kan Babe?!" Mia menatap senang Riko.
Riko yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu pun hanya mengangguk. Walau tak mengerti ia iyakan saja ucapan istrinya ini. "Yes, darling.."
Mia kembali berceloteh. Berbicara tentang resep agar cepat hamil seperti dirinya.
Bryan yang melihat Elena hanya terdiam segera menggeser kan tubuhnya sedikit pada Elena. Membisikkan sesuatu pada wanita itu.
"Kau dengar bukan? aku tidak mungkin berselingkuh dengan wanita yang sudah memiliki suami dan sedang hamil itu. Jadi jauhkan pikiran negatif mu. Jangan cemburu."
Wajah Elena seketika memerah mendengarnya. Apalagi mengingat kemarin dirinya melakukan hal yang- ah! sudahlah! Ia jadi malu sendiri kan!
__ADS_1
Persiapkan ending guyss 🥺