Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB86: Aksi Chaca


__ADS_3

HAPPY READING❤️❤️


Chaca melangkahkan kakinya, berjalan mendekati kursi di pinggiran taman belakang rumahnya.


Setelah sampai, ia pun duduk di kursi tersebut. Tangannya nampak memegangi sebuah majalah. Dengan senang ia membuka majalah tersebut. Melihat barang-barang ataupun make-up yang terpampang jelas di setiap lembarannya.


Ya! Chaca sekarang sudah berada di rumahnya. Baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah bersih-bersih dan mandi untuk ke tiga kalinya. Chaca menyempatkan diri untuk menghirup udara segar di taman ini terlebih dahulu, sebelum tidur.


Hari sudah nampak gelap. Keadaan di taman ini cukup sepi, karena memang sudah malam.


Chaca menatap setiap lembaran-lembaran majalah yang ia bawa. Tak sesekali ia membuka kamera di ponselnya dan memotret setiap barang yang ia anggap bagus.


Sampai pada dimana ia merasakan ada seseorang yang melangkah mendekatinya. Chaca segera mendongakkan kepalanya, menatap siapa orang yang mendekatinya.


"Kak Putri?"


"Cha." Putri nampak tersenyum saat sudah berdiri di hadapan gadis itu. "Boleh ikut duduk?"


Dengan semangat, Chaca mengangguk. "Boleh. Duduk aja Kak."


Setelah mendapatkan izin, Putri pun duduk di samping Chaca. Menatap gadis itu dengan tersenyum. penuh maksud.


Chaca lantas kembali masuk ke dalam dunianya. Membuka setiap halaman majalah serta kembali memotret setiap barang bagus di majalahnya.


"Em, kamu pernah bilang, kalo kamu gak terlalu suka sama Elena, kamu bilang kalo yang lebih pantes jadi Kakak ipar kamu itu, aku? ya kan?" setelah keheningan menyergapi mereka berdua, tiba-tiba Putri membuka suaranya dengan ucapan yang pernah di lontarkan Chaca padanya dulu.


Chaca mematikan ponselnya. Menaruh ponsel tersebut di atas pahanya. Menatap Putri dengan pandangan biasa. "Iya, kenapa emangnya Kak?"


"Enggak sih, cuman nanya aja hehe." Putri terkekeh pelan.


Chaca ikut terkekeh mendengarnya. "Aku emang gak terlalu suka sama kakak ipar eh maksud aku perempuan itu."


Salah satu alis Putri terangkat. "Kenapa?"


"Gak suka aja sih. Dulu, saat Kak Bryan belum nikah. Banyak perempuan yang deket sama Kak Bryan. Cantik-cantik lagi. Hampir semua nya itu dari kalangan model ataupun artis. Tapi ternyata Kak Bryan malah milih nikah sama Kakak ipar. Tipenya malah turun drastis. Chaca gak suka aja karena menurut Chaca perempuan itu kurang 'menarik'. Apalagi Kakak ipar bakal hasilin penerus buat keluarga ini. Kan gak banget." balas Chaca. Dengan jijik. "Chaca juga kan punya karakter kakak ipar tersendiri yang perfect buat Kakak Chaca. Lagian juga kata Kak Putri, Kak Elena itu gak sebaik yang kita pikirkan kan?"


Putri mengangguk. "Iya. Dia emang gak sebaik apa yang kita pikirin. Cuman wajahnya aja yang polos, kelakuan beda jauh sama wajahnya." balasnya, sinis.


"Tapi Chaca juga pengin nanya deh sama Kak Putri." Chaca menatap Putri serius. "Keliatannya Kak Putri sama Kak Elena itu kok beda jauh ya? maksud aku tuh kan kalian adik-kakak tapi dari wajah, style, kehidupan, kalian berbeda? Chaca denger kalo Kak Putri itu kerja di perusahaan besar gitu, tapi Kak Elena malah kerja jadi karyawan di restoran milik orang."


Putri lagi-lagi terkekeh. "Kita emang beda Cha, aku sama Elena itu emang gak sama." ucapan yang lontarkan Putri itu seakan memiliki maksud lain, di mata Chaca.


"Oh," Chaca mengangguk. Paham. Walau sebenarnya ia sedikit tidak mengerti maksudnya. Namun ia hanya pura-pura paham saja. "Sayang ya, Kak Bryan malah ketemu sama Kak Elena duluan. Coba kalo ketemu sama Kak Putri duluan, pasti Kak Bryan nikahinnya sama Kakak, bukan Kak Elena."


"Jadi kamu dukung aku sama Kakak kamu? Bryan?"


Dengan sigap, Chaca mengangguk.


"Iya, kalo boleh milih sih mending Kak Putri daripada Kak Elena. Tapi sayang semuanya udah terjadi. Kak Bryan udah nikahnya sama Kak Elena, bukan Kak Putri." ujar Chaca, sedih.


Chaca menundukkan kepalanya. Mengotak-ngatik ponselnya yang berada di atas pahanya. Keheningan kembali terjadi diantara mereka berdua. Putri nampak masih terdiam, belum menjawab ucapan yang di lontarkan Chaca tadi. Namun tak lama, Putri membuka suaranya lagi, yang mampu membuat Chaca terkejut, bukan main.

__ADS_1


"Kalo begitu, kamu mau bantuin aku? buat dapetin Bryan?"


Chaca membulatkan matanya. Mengalihkan tatapannya menatap Putri. Kaget. "Hah?"


Pandangan Putri teralihkan. Ia terlihat menatap ke arah depannya. Menghindari tatapan dari Chaca. "Iya, kata kamu, kamu lebih suka kalo aku yang jadi Kakak Ipar kamu. Jadi bisa kamu bantu aku?" Putri kembali menatap Chaca. "Buat dapetin Bryan dan singkirin wanita itu. Kalo perlu lenyapkan dia dari dunia ini?"


Chaca menormalkan kembali wajahnya. "Kak Putri suka sama Kak Bryan?"


Putri mengangguk. "Mana ada sih yang gak suka sama Dokter Bryan? pas Elena nikah sama Bryan itu aku gak tau. Karena Elena gak bilang apa-apa sama aku. Sempet kaget, karena Elena nikah sama Bryan. Yang notabenya pria yang aku sukai juga." Putri menghembuskan nafasnya kasar. "Kamu bisa bayangin rasanya lihat adik sendiri nikah sama pria yang kamu sukain juga. Sakit kan?"


Chaca mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya sih, pastinya sakit. Tapi Chaca binggung, Kak Putri mau singkirin Kak Elena. Berarti Kak Putri juga gak suka dong sama perempuan itu?!"


"Hm."


"Ke-kenapa?"


"Dia udah ngerebut kebahagian aku." Putri tersenyum kecut. "Dia udah ngerebut semuanya dari aku."


Chaca mengerjapkan matanya. "Kakak ipar ngerebut apa dari Kak Putri?"


"Aku gak bisa bilang. Intinya, kamu harus bantuin aku. Kata kamu, kamu juga gak suka sama dia. Kita punya misi yang sama. Lebih baik kita bekerja sama, biar bisa cepat singkirin wanita itu." sahut Putri, tatapannya berubah menjadi serius.


Chaca mengangguk. "Oke." senyuman terlihat di bibir Chaca. "Chaca juga gak suka ngeliat perempuan itu lama-lama disini."


Putri nampak menarik smrik nya.


"Tapi tunggu. Kalo Kak Putri gak suka juga sama Kak Elena, kenapa Kak Putri keliatan baik sama Kak Elena?" tanya Chaca, penasaran.


"Jadi Kak Putri selama ini pura-pura baik? Chaca gak nyangka." Chaca menjeda ucapannya, sebelum melanjutkannya lagi. "Apa masuk sama nginap di rumah ini udah bagian dari rencana Kak Putri?"


Putri mengetuk-ngetuk kursi di sampingnya. "Iya. Ini semua udah aku rencanain. Lebih mudah nyelesain rencananya, jika aku berada di sekitar perempuan itu." Putri ber-dekhem. "Tapi sayangnya, ada orang yang ternyata tau rencana aku. Menyebalkan."


"Jangan bilang Kak Aiden?"


"Itu kamu udah tau jawabannya."


Mulut Chaca kembali terbuka. "Kak Putri ngeracunin Kak Aiden? karena Kak Aiden tau rencana Kakak?"


Putri menganguk. "Gak ada pilihan lain. Aku gak mungkin tinggal diem. Aiden pasti bakal ngungkapin semuanya, rencana aku bisa gagal total." Putri menatap Chaca sendu. "Maafin aku ya Cha? Aku gak maksud buat nyakitin Kakak kamu, tapi Kakak kamu duluan yang ngusik aku. Aku gak akan diem gitu aja ngeliat ada penghalang buat rencana aku."


"Iya Kak, aku ngerti kok. Lagian juga bagus kan, Dengan gak adanya Kak Aiden, kita bisa nyingkirin perempuan itu dari sini tanpa ada halangan."


Keduanya tersenyum penuh arti.


"Eh, bukannya Kak Putri cuman nginep sehari ya?"


Putri mengangguk. Meng-iyakan. "Elena masih ngizinin aku buat nginep sampai aku nemuin rumah yang pas buat aku pindahan. Jadi aku masih bisa lama-lama disini."


Chaca ber-oh. "Kak Putri kan gak suka sama Kak Elena, berarti gak mungkin dong kalo Kak Putri selama ini diem aja? pasti Kak Putri udah coba ngerencanain sesuatu sama Kakak Ipar? ya kan?" Chaca mencoba mengulik sesuatu.


Lagi-lagi Putri mengangguk. "Kamu tau siapa dalang di balik kecelakaan Elena?"

__ADS_1


"Itu..?" Chaca menutup bibirnya. Dengan telapak tangannya.


"Iya. Itu gue. Gue yang ngerencanain itu. Tapi sayangnya perempuan itu cuman buta. Padahal gue pengin dia mati. Dan sayangnya gak lama, Elena malah dapet donor mata dari perempuan ja lang itu." nada suara Putri tiba-tiba berubah. Lebih sinis.


"Jadi kecelakaan itu, orang-orang yang nyetop mobil Chaca sama Kak Elena, itu suruhan Kak Putri?"


"Iya. Maaf ya Cha, kamu jadi terlibat waktu itu. Tapi untungnya kamu gapapa kan?"


"Iya sih, Chaca cuman luka kecil aja. Gak kayak Kak Elena."


Putri menghela nafasnya gusar. "Padahal aku pengin dia mati," menaikkan bahunya, menatap Chaca. "Tapi ternyata takdir ga ngizinin itu terjadi. Tapi aku gak bakal diem gitu aja. Aku bakal tetep ngejalanin apa yang udah aku rencanain. Kalo emang pun dia belum di takdirin mati di tangan aku, setidaknya aku bakal.."


Chaca masih diam menatap Putri. Masih menunggu kelanjutan dari perempuan itu.


"Buat bikin dia gak bahagia seumur hidupnya." Putri tersenyum sinis, menatap Chaca yang juga menatapnya.


Chaca ikut tersenyum sinis menatap Putri. Kalo kalian berpikir Chaca memiliki pikiran yang sama dengan Putri, kalian salah.


"Kak Putri udah punya rencana buat perempuan itu?" balas Chaca. Penuh tanya.


"Udah. Dan aku butuh tangan kamu, buat ngatasin ini. Kamu dukung aku kan?"


Chaca mengangguk. "Rencananya apa Kak?"


Tiba-tiba Putri mendekati telinga Chaca. Sontak Chaca pun mendekatkan tubuhnya pada Putri.


Putri membisikan sesuatu. Chaca cukup terkejut dengan ide yang di lontarkan Putri.


"Oke?"


Chaca hanya mengangguk. Matanya nampak menyiratkan sesuatu, menatap Putri dengan dalam.


"Yaudah, udah malem. Aku harus balik lagi ke kamar," Putri bangkit dari duduknya. Diikuti Chaca. "Aku percaya sama kamu Cha," ia menaikkan tangannya. Menyentuh pundak gadis di depannya. Menepuk-nepukkan nya beberapa kali, seakan memberikan kepercayaan pada Chaca.


Setelah itu, Putri pun berlalu dari hadapan Chaca. Pergi menuju kamarnya. Untuk menyusun strategi lagi sebagai hadiah untuk adik tersayangnya itu, Elena.


Lain dengan Chaca yang masih diam di tempatnya. Menatap kepergian Putri dengan smrik di bibirnya.


"Kadang kita perlu menyelinap sebagai 'teman' dan mendukung segala apa yang akan di perbuat temannya itu. Seakan-akan mendukungnya." Chaca mengikuti ucapan Putri tadi. "Tapi saat kita udah tau kelemahannya, kita bisa pegang kartu merahnya." Chaca terkekeh pelan, lalu membuka ponselnya yang sedari tadi ia pegang.


Chaca segera menekan tombol tengah di layar ponselnya. Menghentikan apa yang sedari tadi di nyalakannya di dalam ponsel tersebut. Dan ya, rekaman-nya sudah ada di tangannya.


"Bodoh," Chaca menatap kepergian Putri yang perlahan-lahan sudah hilang dari pandangannya.


Chaca lantas berbalik, menghadap sebuah pohon yang berada tak jauh darinya. Ia lantas mengangkat jempol tangannya ke atas, masih tertuju pada pohon itu.


Nampak sesosok pria berjubah hitam terlihat muncul dari balik pohon. Tangannya nampak membawa sebuah kamera. Dengan sigap, pria itu pun ikut menaikkan jempolnya, menatap Chaca.


Chaca tersenyum puas. Sedari tadi memang ia menunggu Putri di taman ini, mencoba untuk mencari informasi langsung dari mulut perempuan itu. Dan untungnya, rencananya berhasil.


Rekaman yang Aiden minta, sekarang sudah ada di tangannya. Tinggal tunggu saat permainannya tiba. Semuanya akan terungkap. Dan boom!

__ADS_1


Detik-detik ending, persiapkan guys🥰


__ADS_2