
HAPPY READING❣️
Bryan berjalan keluar dari Rumah sakit dan melangkah cepat menuju tempat parkiran. Ia sesekali menatap pergelangan tangannya dan melirik sekilas jam yang melingkar indah di tangannya.
19:00 A.M
Jam nampak sudah menunjukan pukul tujuh malam. Sekarang Bryan sudah selesai menyelesaikan semua tugas-tugasnnya, jadi dirinya akan pulang hari ini.
Dengan rasa tak sabar. Bryan bergegas masuk kedalam mobilnya dan duduk di bagian pengemudi.
Brum... Brum...
Setelah memanaskan mobilnya sebentar, Bryan pun langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran dan berjalan menuju suatu tempat.
Tanpa di sadari, Bryan sedikit mengulas senyumnya tipis. Entah kenapa pikirannya sekarang hanya tertuju pada gadisnya, Elena. Apa dirinya benar-benar mencintai gadis itu?
Jalanan di malam ini cukup sepi, tidak terlalu padat dengan pengemudi lainnya. Bryan dengan santai mengendarai mobilnya sedikit kencang. Dirinya ingin pulang sampai di rumahnya.
___
Elena menaiki tangga ke lantai atas, menuju kamar bryan. Dirinya tadi sempat membantu para Maid di dapur. Ia jadi bosan lama-lama berada dirumah ini. Saat membantu para Maid, Elena hampir tidak melakukan apapun. Baru mengangkat piring saja langsung ada yang membantunya dengan alasan agar dirinya tidak terlalu capek. Padahal hanya mengangkat piring, kenapa harus capek?
Elena jadi rindu dengan kehidupan dulu. Kehidupan dimana hari-harinya dihabiskan dengan bekerja dan mencari uang. Tak kenal lelah dan tak kenal waktu, dirinya bekerja seharian. Tapi sekarang? Bryan tidak membiarkannya bekerja. Membantu para Maid pun, ia binggung akan melakukan apa. Karna semua pekerjaan sudah di pegang oleh masing-masing Maid.
Dengan kaki yang berjalan menuju kamar Bryan. Elena sedikit berfikir. Jika dirinya tidak bekerja, bagaimana dirinya membayar hutang-hutang Bryan? Elena jadi memikirkan berapa nominal hutangnya pada pria itu. Apa ia mampu membayar lunas?
Ceklek!
Sampai di depan kamar, Elena pun masuk kedalam dan menutup kembali pintunya.
"Berendam kayaknya enak." gumam pelan Elena. Dirinya memang sudah mandi tadi sore, namun sekarang dirinya merasakan panas kembali. Jadi dirinya memutuskan untuk mandi kembali, sekalian berendam di bathtub kamar mandi.
Drttt..Drttt..
Saat baru saja akan masuk kedalam kamar mandi. Elena tiba-tiba di kejutkan dengan deringan ponsel. Dengan langkah cepat, Elena berjalan menuju asal suara tersebut yang mengarah pada atas ranjang.
Elena menatap ponselnya yang tergeletak disana. Ternyata ada panggilan masuk di handphonenya itu. Elena pun mengambil ponselnya lalu mengangkat sambungan telepon dari nomor yang tidak dikenalinya.
"Halo?" ucap Elena, menyapa orang yang menelpon.
Elena menatap layar ponselnya lalu kembali meletakkannya di telinga. "Hallo? ini siapa ya?" ucapnya sekali lagi, karena dirinya tidak mendengar apapun.
__ADS_1
Bip!
"Hallo?" Elena menurunkan ponselnya dari telinganya ketika merasa sambungannya dimatikan. Dahi Elena seketika mengkerut. Ia binggung siapa yang menelpon tadi. Saat sambungan telpon itu masih tersambung, tidak ada suara apapun dari ujung sana. Dirinya sudah berbicara dan menanyai siapa orang itu, namun sayangnya tidak ada jawaban sama sekali.
Dengan heran, Elena kembali menaruh ponselnya di atas ranjang. Setelah lama berfikir, Elena pun akhirnya menaikkan kedua bahunya acuh. Mungkin telpon tadi salah sambung.
Karena badannya sudah sangat gerah, Elena pun bergegas masuk kedalam kamar mandi, dan mulai melakukan ritualnya.
___
Mobil Bryan berhenti di depan sebuah persimpangan jalan. Lampu merah disisi jalan nampak berubah menjadi merah, yang artinya Bryan harus menghentikan laju mobilnya.
Bryan diam dengan menatap fokus jalanan di didepannya. Sesekali ia menatap ponselnya yang sedari tadi berbunyi nyaring, memunculkan sebuah notifikasi pesan masuk. Bryan tau notifikasi itu pasti dari rumah sakit, Bryan pun hanya acuh melihatnya. Dirinya malas untuk membaca pesan-pesan itu.
Tok tok tok
Tiba-tiba kaca mobilnya diketuk oleh seseorang dari luar. Dengan sigap, Bryan pun menatap arah samping dan membuka jendela mobilnya itu.
"Bunga-nya Kakak, untuk pacar atau istri yang lagi nunggu di rumah."
Bryan menatap orang yang berbicara tadi. Ya, ada sesosok anak remaja yang berdiri dan menawarkan bunga di hadapannya.
Bryan menatap lama bunga-bunga yang ada digenggaman remaja itu. Menurut situs internet yang sempat ia lihat tadi siang, jika ingin membuat wanita bahagia, ia harus membawakannya sesuatu seperti bunga.
Anak remaja itu lantas tersenyum. "Satunya tiga ribu aja Kak."
Bryan mengangguk-anggukan kepalanya singkat. "Saya ambil semuanya."
"Hah?"
"Iya, saya borong semua bunga kamu."
Bryan melihat wajah anak didepannya itu seperti kaget, tak percaya.
"Beneran Kak?"
"Hm."
"Alhamdulillah akhirnya laku juga dagangan saya." ucap remaja itu senang. "Ini Kak bunganya," lanjutnya memberikan semua bunga yang ia pegang pada Bryan.
Bryan pun menerima bunga itu dan menaruhnya di samping kursinya, setelahnya ia kembali menatap remaja itu. "Semuanya jadi berapa?"
__ADS_1
"Empat puluh sembilan ribu Kak."
Bryan mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan mengambil beberapa uang lembaran berwarna merah.
"Nih," Bryan memberikan uangnya.
Remaja itu menganga tak percaya. Ia pun menerima uang pemberian Bryan, dan menatap uang tersebut. Ia sekilas menghitung lembaran uang ditangannya yang ternyata totalnya lima ratus ribu. Merasa aneh, dirinya pun menatap kembali Bryan.
"Kelebihan banyak Kak. Harganya cuma empat puluh sembilan ribu."
"Sisanya buat kamu."
Lampu lalu lintas pun seketika berubah warna menjadi hijau. Dengan sigap Bryan mulai melajukan mobilnya dan menutup kembali kaca mobil.
Sebenarnya dirinya kasihan dengan anak yang tadi. Diumur yang masih remaja seperti itu, dia harus mencari uang dengan berjualan di lampu merah. Padahal seharusnya anak seusianya sibuk bersekolah dan bermain dengan teman-teman sebayanya, dan bukan malah berada dijalan.
Dengan menghembuskan nafas pelan, Bryan melirik sekilas bunga yang berada di sampingnya. Bibirnya kembali mengulas senyum tipis, ia akan memberikan bunga itu untuk seseorang dirumah.
___
Elena keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya. Dengan handuk yang melingkar indah di tubuhnya, Elena berjalan mendekat menuju lemari.
Saat sampai didepan tujuannya. Elena pun segera membuka pintu lemari tersebut.
Seketika mata Elena membulat melihat arah hadapannya. Ia menganga tak percaya dengan baju-baju yang tergantung indah di lemari itu.
"Baju-baju siapa ini?" Elena mengambil salah satu gaun tidur yang cukup tipis. "Kok semua isinya kayak gini?" Elena kembali menatap isi dalam lemari. Hanya ada pakaian-pakaian tidur seperti ini di lemarinya, tidak ada yang lain.
Elena mendesah lesu. Baju-bajunya yang dulu sudah dibuang entah kemana oleh Bryan, dan sekarang ia tidak tau mau memakai apa lagi. Dirinya tidak mau memakai ini, tapi jika tidak dipakai dirinya harus memakai apa untuk tidur?
___
Sebuah mobil masuk kedalam perkarangan rumah milik keluarga Atmaja. Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya Bryan sampai juga dirumahnya.
Bryan lantas memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin mobil itu. Dengan ekspresi datar Bryan pun turun dan membawa bunga-bunga yang sempat ia beli tadi. Dirinya langsung melangkah begitu saja masuk ke dalam rumah ini.
Saat masuk, banyak Maid yang menyapanya dengan ramah sekaligus menatapnya binggung. Bryan yang melihatnya hanya acuh dan sesekali menjawab sapaan para Maid dengan anggukan singkat.
Dirinya memilih fokus berjalan menuju kamarnya. Ia tau arti dari pandangan binggung mereka. Pasti para Maid disini binggung melihatnya membawa bunga sebanyak ini, karna dirinya tidak biasa membawa bunga ataupun sejenis lainnya ke rumah ini.
Bryan sekilas menatap jam yang melingkar indah di tangannya. Jam masih menunjukkan pukul delapan malam, ia yakin pasti Elena belum tertidur jam segini.
__ADS_1
Kaki Bryan terhenti ketika sudah berada di depan sebuah pintu. Dengan perlahan, Bryan membuka pintu didepannya lalu masuk kedalamnya.
TBC