
Sudah berhari-hari. Sejak kejadian itu membuat Elena menjadi sosok yang pendiam. Lagi. Setelah kepergian Bapaknya-Dimas, Elena menjadi pendiam namun setelah itu ia kembali lagi ceria namun sekarang, saat sang Kakak pergi untuk menerima hasil perbuatannya. Elena kembali menjadi sosok pendiam. Bukan hanya kepada Bryan. Kepada keluarga ini pun.
Namun Elena tetap masih menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Terkecuali bersentuhan tubuh. Karena emang dirinya dan Bryan masih belum melakukan kontak fisik.
Elena masih menyiapkan pakaian, makanan dan lainnya setiap hari untuk Bryan. Sama dengan Bryan. Bryan pun hanya berdiam. Mungkin diamnya ini sudah tidak asing karena pria itu memang irit bicara.
Dan sampai saat ini keduanya tidur di tempat yang berbeda. Bahkan ruangan yang berbeda. Elena berada di kamar Bryan dan Bryan berada di kamar lain. Keduanya pun tidak saling berbicara banyak. Seperti orang sedang bermusuhan. Keluarganya pun sempat binggung karena keduanya tidak menunjukkan keromantisan nya lagi.
Walau Bryan juga ikut diam di depan Elena dan keluarganya. Dengan diamnya Elena membuat dirinya frustasi. Bagaimana tidak? Elena sudah tidak seperti dulu lagi. Membuatnya resah akibat prilakuan baru nya itu.
Karena frustasi membuat Bryan tidak konsen dalam bekerja dan selalu tersulut emosi saat melihat bawahannya melakukan apapun. Seperti sekarang.
"Ck! sudah ku bilang bersihkan meja itu dengan benar! lihat? masih ada debu! bersihkan atau kau ku pecat!"
"Apa lihat-lihat! kerja! jangan menatap ku seperti itu atau aku congkel mata kalian satu persatu nanti!"
"Kenapa pekerjaan ku banyak sekali?! kau ini bagaimana mengurus datanya! hapus semua pekerjaan ku hari ini! aku sedang tidak mood!"
Sudah seperti orang stres bukan? Rumah sakit menjadi gempar dengan perubahan Bryan yang menjadi pemarah. Mereka tidak tau apa-apa namun saat melakukan apapun selalu salah di mata Bryan.
Brugh!
__ADS_1
Kejadian gempar terjadi kembali. Sekarang Bryan nampak memukul salah satu Dokter yang membuat Dokter itu tersungkur ke arah belakangnya.
"Berani sekali kau membicarakan ku!" Bryan menatap Dokter itu dingin. Dirinya mendengar jika dokter pria itu membicarakannya dengan kata-kata yang menurutnya kurang pantas di ucapkan.
"Maafkan saya Tuan, saya hanya memberi tahu perilaku aneh Tuan hari ini pada yang lainnya. Itu saja." bela dokter tersebut. Dilihat-lihat Dokter itu masih tergolong dokter baru di rumah sakit ini.
Bryan menatap datar Dokter ber-tag Agam. Tangannya nampak terkepal. "Aneh ya? Hm kita lihat. Apa setelah ku sobek mulutmu itu, kau bisa lagi mengataiku aneh atau tidak!"
Brugh!
Semuanya menganga. Melihat Dokter Agam mendapati bogeman mentah dari Bryan lagi.
Bryan kembali melayangkan bogeman mentah pada pria itu. Emosinya kembali tersulut. Tapi saat hendak memberikan pukulannya tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya kebelakang. Membuat Bryan tersungkur kebelakang. Dan terduduk di atas lantai.
"Sialan!" Bryan bangkit dari duduknya itu. "Beraninya-" saat matanya teralihkan, menatap sosok yang telah berani mendorongnya. Tiba-tiba Bryan menghentikan ucapannya.
Sesosok pria yang begitu familiar di matanya sekarang ada disini.
"Ck! dasar anak muda! Kalian, cepat bantu Dokter ini dan untuk Bryan. Ikut Papah ke ruanganmu!"
Ya, pria yang mendorongnya adalah Abraham. Bryan berdecak sebal. Siapa yang menelpon Papahnya untuk datang kesini? Bryan berjanji akan mencari orang itu dan menghabisinya? mungkin bukan ide buruk.
__ADS_1
...---...
Sekarang kedua sosok pria berparas hampir sama itu sudah ada di sebuah ruangan. Duduk saling berhadapan satu sama lain.
"Kau ini kenapa?! berkelahi tidak jelas! memecat begitu saja bawahan rumah sakit hanya karena melakukan kesalahan kecil! ckckck Papah tidak habis pikir denganmu."
Abraham menatap kesal Bryan. Ada apa dengan anaknya ini hingga berubah menjadi pemarah? ya. Dirinya menerima salah satu telpon dari pihak rumah sakit jika ada sesuatu yang di lakukan Bryan dan dirinya langsung kesini dan mendapati Bryan yang sedang memukuli salah satu Dokter. Hampir saja membunuhnya mungkin.
Bryan hanya terdiam, menatap malas Papahnya ini. Dirinya mencoba untuk tetap memedamkan amarahnya. "Dia membicarakan ku! aku tidak terima!" kesal Bryan.
"Terus pemecatan staff rumah sakit?"
"Mereka tidak becus bekerja! aku pecat saja, rumah sakit tidak membutuhkan bawahan seperti itu."
Abraham memegangi kepalanya. "Tiga puluh bawahan yang kau pecat! hanya karena tidak becus membersihkan debu di mejamu itu?! You crazy!" Abraham tak menyangka. Bryan sampai seperti ini. Dirinya mendengar alasan dari orang-orang yang dipecat oleh Bryan. Hanya karena masalah sepeleh itu sampai di pecat? Abraham tak habis pikir. Ia pun menyuruh para staf yang dipecat itu untuk masuk kembali.
"Tadi juga kau berkelahi! bagaimana jika dokter itu mati karena ulah mu?!" lanjut Abraham.
"Aku tidak peduli."
Abraham menghembuskan nafasnya lelah. "Hanya karena di diami istrimu kau sampai seperti ini? Ck pengecut."
__ADS_1