Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB23: Kedatangan Abraham


__ADS_3

HAPPY READING GUYS😍


Elena mengelus perut ratanya pelan. Makanan dihadapannya sudah habis olehnya jadi Elena sudah merasa kenyang sekarang.


"Sudah?" ucap Bryan masih dengan menatap ponselnya.


Elena lantas mengangguk menatap Dokter didepannya. Entah pria itu melihat anggukannya atau tidak karna sedari tadi Bryan fokus memainkan benda pipih ditangannya.


"Kita keruang Bapakmu lagi sekarang," ucap Bryan dengan mematikan layar ponselnya lalu meletakkannya pada saku jas nya dan segera bangkit dari duduknya.


Elena yang melihat itu lantas ikut bangkit. Ia menatap Bryan yang sudah mulai berjalan keluar dari kantin ini membuatnya dengan cepat mengikuti langkah Dokter itu.


"Dok." panggil Elena.


Bryan yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis yang memanggilnya.


"Apa?"


Elena memasang wajah herannya. "Makanan tadi belum dibayar Dok." ya, ia mengingat jika makanannya belum dibayar namun Bryan sudah berjalan keluar duluan dari kantin ini.


"Ck! kau ini bodoh atau lupa? kau tidak tau siapa pemilik rumah sakit ini?" jawab Bryan.


"Eh-" Elena lupa jika rumah sakit ini milik Bryan, jadi pria itu tidak seharusnya bukan membayar makanan disini?


Bryan tersenyum kecil melihat ekspresi lucu yang ditunjukan Elena. Senyumannya nyaris tidak terlihat karna memang Bryan hanya tersenyum kecil. Lalu setelah itu Bryan pun berbalik untuk kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tujuannya.


Elena menghela nafasnya pelan lalu kembali berjalan mengikuti Bryan. Ia mencoba menyeimbangkan langkahnya seperti kaki Bryan agar dirinya tidak tertinggal pria itu.


Baru beberapa perjalanan tiba-tiba saja Elena seperti merasakan ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.


"Elena!"


Karna mendengar namanya dipanggil membuat Elena menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi.


Bryan ikut berhenti ketika merasakan gadis disampingnya berhenti. Ia mendengar suara yang memanggil Elena jadi dirinya ikut menatap asal suara tersebut.


"Elena!"


Tiba-tiba saja seorang pria tampan datang menghampiri Elena dan juga Bryan yang masih berdiri ditempatnya. Mata Bryan tajam menatap pria itu dengan pandangan menyelidik.


"Pak Wilson?" Elena tersenyum ketika melihat pria tampan yang sudah berada tepat dihadapannya.

__ADS_1


"Saya cari-cari kamu dari kemarin tapi baru sekarang saya ketemu kamu." ucap pria yang disebut-sebut adalah Wilson.


Bryan hanya diam, ia masih melihat gerak-gerik pria dihadapannya ini. Walau sebenarnya ingin sekali ia meninggalkan tempat ini dan membawa Elena pergi jauh dari pria itu.


"Ada apa Bapak cari saya?" tanya Elena binggung.


Pria dihadapannya ini adalah Wilson Pratama yang tak lain adalah pemilik Restaurant tempat dimana ia bekerja kemarin. Wilson adalah pengusaha muda yang cukup sukses di kota ini. Cabangnya pun cukup banyak yang terletak di berbagai daerah, apalagi parasnya yang lumayan tampan membuat banyak para perempuan diluar sana menginginkan pria itu.


"Saya mau minta maaf soal pemecatan kamu, saya gak tau ada kejadian seperti itu kemarin dan saya sudah memberi peringatan pada orang yang mecat kamu agar tidak seenaknya memecat pegawai." jelas Wilson dengan menatap Elena tak enak.


Elena membulatkan mulutnya ber-oh. Kirainnya ada masalah apa sampai atasannya ini mencarinya. "Gapapa Pak, saya tau itu juga kesalahan saya karna saya mengangkat telpon pada jam kerja dan pergi meninggalkan Restaurant gitu aja."


"Enggak, ini bukan salah kamu Na. Saya denger kamu itu pergi untuk menjenguk Ayah kamu yang sedang sakit bukan? jadi ini bukan kesalahan kamu." ucap kembali Wilson untuk mempertegas kalo ini bukan kesalahan Elena.


Elena hanya tersenyum. Atasannya ini memang sangat baik padanya selama ia bekerja disana, membuatnya merasakan sedikit getaran dihatinya ketika mendapatkan perhatian dari Wilson.


Bryan mengumpat dalam hati ketika melihat Elena tersenyum manis menatap pria dihadapannya.


"Sebagai tanda permintaan maaf dari saya, saya menerima kamu lagi bekerja di Restaurant. Kamu mau kan?" lanjut Wilson.


"Ma-"


"Dia sudah bekerja pada saya jadi dia tidak akan mau lagi kembali bekerja di Restaurant anda," Bryan memegang tangan Elena erat lalu melangkah pergi dari sana.


Elena membulatkan matanya lalu ikut melangkah bersama Bryan karna tangannya digenggam oleh Dokter itu. Elena sesekali melirik Wilson dengan tak enak lalu kembali menatap jalannya.


Bryan berjalan dengan langkah cepat membuat Elena sulit mengimbangi langkah pria itu.


Elena sedikit kesal. Ada apa dengan pria ini? kenapa tiba-tiba mengajaknya pergi begitu saja? dirinya jadi tak enak pada atasannya tadi.


Sampai didepan sebuah ruangan Bryan pun melepaskan genggamannya dari tangan Elena. Lalu menatap gadis itu.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk bekerja di Restaurant itu." dingin Bryan.


Elena mengerutkan dahinya binggung. "Memangnya kenapa?" seharusnya pria ini mengizinkannya bukan? jika ia bekerja pasti dengan cepat dirinya akan membayar lunas pengobatan Bapaknya dan juga hutang-hutangnya.


Bryan menatap Elena lama penuh arti lalu berbalik untuk masuk kedalam ruangan dibelakangnya tanpa sepatah katapun.


Elena lagi-lagi dibuat kesal dengan tingkah pria itu. Kenapa Bryan sering kali meninggalkannya dengan tanpa mengatakan apapun? membuatnya sedikit penasaran dengan jawaban Dokter itu. Elena menghirup nafasnya pelan lalu segera masuk kedalam ruangan yang dimasuki Bryan tadi. Ya, ruangan itu adalah ruang rawat Dimas-Bapaknya.


Bryan masuk kedalam ruangan itu. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika melihat ruangan ini dipenuhi beberapa orang.

__ADS_1


Elena yang berjalan dibelakang Bryan pun kembali menabrak punggung keras Dokter itu. Ia mengeluh kesakitan dibagian dahinya karna hentian tiba-tiba dari orang dihadapannya.


Dengan kesal Elena memiringkan badannya dan menatap arah didepannya yang membuat Bryan menghentikan kakinya. Seketika matanya membulat ketika tau siapa yang ada dihadapannya sekarang.


Elena lantas merapatkan kembali tubuhnya di punggung Bryan, ia takut dengan beberapa tatapan orang didepannya.


"Mamah? Papah? kalian ada disini?" tanya Bryan menatap Abraham dan juga Meldi, kedua orang tuannya itu sedang apa disini? dan tau darimana jika Bapaknya Elena dirawat diruangan ini?


"Papah kesini mau jenguk calon besan." ucap Abraham dengan tersenyum miring menatap anak pertamanya lalu mengalihkan pandangannya pada pria yang terbaring lemah di brankar ruangan ini.


Dimas ikut tersenyum. "Kenapa kalian gak bilang kalo sebenarnya kalian mau menikah?"


Elena menatap Bapaknya dan berjalan perlahan menuju tempat Dimas. Ia sedikit berasa bersalah sekarang.


"Maafin Elena Pak, Elena gak kasih tau Bapak." ucap Elena ketika sudah berada disamping dimas. Jika saja Bapaknya tau kenapa dirinya mau menikah Dokter itu akan pasti Dimas tidak akan tersenyum seperti ini.


Dimas membelai pipi anak keduanya itu. "Gapapa sayang, Bapak tau pasti kalian binggung kan bilangnya gimana?" Dimas menatap Abraham sekilas lalu kembali menatap Elena. "Pak Abraham sudah menjelaskan semuanya, Bapak restuin kok pernikahan kalian. Kalo Elena bahagia Bapak juga akan bahagia." lanjut Dimas.


Mata Elena sudah berkaca-kaca, sebenarnya ini bukan kemauannya, ia tidak bahagia jika hidup seperti ini namun mau bagaimana lagi? demi sang Bapak Elena akan melalukan apapun.


Meldi tersenyum manis menatap calon menantunya. Ia tau gadis itu adalah gadis baik-baik jadi ia sangat mendukung pernikahan ini.


Abraham menatap Bryan yang masih diam berdiri disana lalu menatap Elena yang berada disampingnya.


"Kalian harus bersiap-siap." ujar Abraham dengan pandangan penuh arti.


Elena melepaskan pelukannya dari sang Ayah lalu menatap Abraham dengan pandangan tanya.


"Siap-siap?" tanya Bryan, ia tau pasti Papahnya ini sedang merencanakan sesuatu.


Dari arah pintu ruangan Dimas tiba-tiba saja masuk beberapa orang yang memegang benerapa pernak pernik ditangannya masing-masing.


"Penghulu sedang dalam perjalanan sekarang jadi kalian silahkan persiapkan diri kalian sendiri."


Mata Elena dan Bryan membulat. Apa katanya? penghulu? untuk apa?!


↔↔↔


Nextt?


Jangan lupa tinggalkan jejak juga ya, Like, Vote dan komennya!❤

__ADS_1


__ADS_2