
HAPPY READINGš½
"Aaaa! Menantuku!"
Suara teriakan itu membuat keduanya terkaget. Elena segera menatap asal suara tersebut. Disana terlihat ada sesosok wanita cantik yang sedang berlarian mendekati tempatnya.
"Kamu cantik banget," sahut seorang wanita dengan mendudukan tubuhnya disamping Elena ketika sudah sampai diruang tamu.
Elena terdiam. Ia tidak tau siapa lagi ini. Tatapannya beralih pada Bryan yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu nampak menatapnya seperti mengode sesuatu.
"Oh iya, saya Tia. Istri dari paman Bryan." lanjut wanita itu memperkenalkan dirinya ketika melihat Elena yang seperti kebingungan.
Elena menatap kembali wanita disampingnya. Ia tersenyum, ternyata dia adalah istri dari Paman Arlan.
"Saya Elena," ucap Elena, ia meraih tangan Tia lalu menyalaminya.
Tia mengulas senyum hangatnya. Ia mengelus pipi kanan Elena dengan lembut. "Maaf ya saat pesta pernikahan kalian, kami gak dateng." Tia melirik sekilas Arlan.
"Iya Na, saat itu mertua Paman sedang sakit di luar kota jadi kami harus terbang kesana untuk menjenguk." timpal Arlan memberi tahu alasan kenapa mereka tidak datang.
"Iya tidak apa-apa Paman, Bi-bibi." Pantas saja Elena tidak mengenali kedua orang ini karna saat pernikahannya ternyata mereka tidak datang. Dirinya hanya mengenal beberapa anggota keluarga Atmaja yang datang di pesta pernikahan kemarin.
Bryan berjalan menuju sofa. Ia mendekat kearah Arlan dan duduk disamping Paman-nya itu. Wajahnya masih tetap sama. Datar, tak berekspresi.
"Emang gak salah Bryan pilih calon." Tia menatap Arlan. "Iya kan Mas?" lanjutnya bertanya.
Arlan mengangguk singkat dengan menarik smrik-nya menjawab ucapan sang istri.
Elena menatap Bibi-Tia. Wanita itu sudah berumur namun terlihat tetap cantik, ia menjadi kagum dengannya. Keluarga Atmaja ternyata cukup ramah-ramah dan baik. Pikirannya sudah salah menilai keluarga ini saat pertama kali menginjakkan kaki dirumah Bryan.
Bryan hanya diam. Saat bertemu dengan Bibinya tadi, wanita itu langsung menayakan dimana istrinya. Alhasil Bryan mengatakan jika Elena berada di ruang tamu membuat Bibinya langsung berlarian masuk kedalam rumah dan meninggalkan aktivitas di taman belakang yang sempat dia kerjakan.
Mereka mulai masuk kedalam obrolan keluarga. Terlihat wajah Tia yang gembira. Ia senang keluarga Atmaja bertambah, sebentar lagi pasti akan ada anak kecil lagi dikeluarganya.
___
__ADS_1
"Mamah ngapain sih?" Chaca menatap Meldi yang seperti sedang menunggu sesuatu.
Mereka berada di pintu utama rumahnya sekarang. Chaca sedari tadi menemani sang Mamah yang terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya.
Meldi melirik Chaca. "Seharusnya Mamah yang nanya kamu ngapain disini?"
Chaca terkekeh kecil. Ia tidak ada kerjaan sekarang jadi dirinya memilih untuk mengikuti Meldi kemana pun Mamahnya pergi. Chaca pun sedikit kepo dengan apa yang ditunggu Meldi.
"Chaca nemenin Mamah disini. Kata Papah Chaca harus nemenin Mamah kemana pun Mamah pergi." sahut Chaca tersenyum dengan menunjukan gigi putihnya.
Meldi menggelengkan kepalanya. Anak terakhirnya ini bisa saja menjawab setiap ucapan yang ia lontarkan.
"Permisi Nyonya."
Suara itu menghentikan keduanya. Chaca dan Meldi pun segera menatap asal suara tersebut.
"Ini Nyonya, pesanannya." ucap seorang pria tua yang tak lain adalah bawahannya.
Meldi mengangguk dan mengambil sebuah kresek dari tangan pria itu. "Makasih ya Pak."
"Sama-sama Nyonya. Kalo begitu saya pamit. Mari Nyonya, Nona." pria tua itu lalu menunduk dan mundur dari hadapan majikannya. Ia akan melanjutkan tugas-tugasnya lagi.
Meldi menunduk melihat isi dalam kantung tersebut. "Bukan apa-apa kok."
Wajah Chaca mengkerut. Mamahnya ini sepertinya sedang bermain rahasia-rahasian dengannya.
Melihat wajah masam dari sang anak membuat Meldi terkekeh. "Jangan cemberut kayak gitu, kamu gak ada kerjaan-kan ya Cha? mau bantu Mamah?"
"Bantu apa?" tanya Chaca berbinar.
"Cuci piring. Tumpukan didapur banyak tuh, daripada ngikutin Mamah gak jelas mending bantu Bibi di belakang."
"Gamau!" tekan Chaca. Kirain membantu apa, taunya hanya membantu menyuci piring. Padahal maid banyak tapi mengapa dirinya disuruh mencuci piring juga? lagian itu-kan tugas para pembantu, pikirnya.
Helaan nafas terdengar diwajah Meldi. Anaknya ini memang keras kepala dan mau enak-nya saja. Chaca sedari kecil selalu dimanja oleh suaminya-Abraham karna Chaca anak perempuan satu-satunya alhasil Chaca menjadi gadis yang manja dan tidak mau diatur seperti ini.
__ADS_1
"Kamu perempuan loh, belajar sekalian jadi istri yang baik. Ibu rumah tangga yang bisa ngurus rumah." nasehat Meldi. Bagaimana pun Chaca adalah perempuan, sudah tugasnya mulai belajar mengurus rumah.
"Chaca masih sekolah. Nanti aja jadi Ibu rumah tangga yang baiknya kalo udah nikah," setelah mengatakan itu Chaca pun pergi dari hadapan Meldi.
Meldi menggelengkan kepalanya. Semakin lama Chaca semakin tidak bisa diatur. Mungkin nanti ia akan membicarakan ini pada Abraham. Umur Chaca sudah memasuki dewasa, namun sifatnya masih kekanak-kanakan.
Meldi mengalihkan tatapannya menatap kantung kresek yang masih dipegangnya. Ia tersenyum dalam penuh arti sembari memikirkan rencana di otaknya
___
Bryan dan Arlan pergi menjauh dari ruang tamu. Mereka tadi sempat pamit pada Elena dan juga Tia kebelakang. Mereka sepertinya akan membicarakan sesuatu yang serius, entah apa itu.
Tersisalah Elena dan juga Tia disini. Mereka berdua sudah terlihat saling akrab. Elena senang karna ternyata Tia adalah sosok wanita yang royal, enak jika diajak bicara membuat keduanya cepat sekali akrab.
Mata Elena seketika menatap bingkai besar yang di terpajang di-dinding ruang tamu lalu matanya kembali teralih pada Tia.
"Di figura itu siapa aja Bi?" tanya-nya. Di foto tersebut terlihat 4 orang dengan 1 anak kecil. Ia hanya mengenal Tia dan juga Arlan, sedangkan 2 orang lainnya dan 1 anak lagi ia tidak tau. Namun ada sosok pria yang sepertinya familiar dimatanya.
Tia menatap bingkai di-depannya "Itu Bibi, Paman dan Anak kami." Tia sedikit mengangkat jari telunjuknya untuk menunjuk siapa saja orang didalamnya. "Yang perempuan itu, anak Bibi. Nah yang disamping-nya menantu Bibi lalu anak yang dipangku Paman Arlan adalah cucu Bibi."
Elena mengangguk ber-oh. Ia kembali menatap bingkai itu. Matanya menatap intens foto tersebut. Pria yang disebut-sebut sebagai menantu Bibinya ini sangat mirip dengan seseorang.
"Nama anak Bibi Jesi dan cucu Bibi namanya Merry." lanjut Tia.
Mata Elena mencoba fokus pada satu pria tinggi di-sebelah anak Bibinya. Wajahnya mirip sekali dengan pria itu. Apa jangan-jangan?
"Oh iya, satu lagi. Nama menantu Bibi itu.."
"...Wilson"
Deg!
.
.
__ADS_1
.
Tbc..