Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB94: Artikel tentang Elena


__ADS_3

"Mah?" Chaca mendekati Meldi yang nampak senyam-senyum di ruang tamu dengan fokus menatap TV di depannya.


Mendengar namanya di panggil membuat Meldi mengalihkan tatapannya. "Kenapa sayang?" balasnya pada sang anak.


Chaca duduk disamping Meldi. Menatap Mamahnya lalu menatap TV di depannya.


Sebuah berita musibah. Chaca menatap sang Mamah dengan aneh. "Mamah ngapain senyam-senyum sendiri liat TV?" dirinya hanya heran. TVnya menampakkan sebuah orang yang terkena musibah, namun kenapa Mamahnya malah senyum-senyum? apa Mamahnya senang melihat penderitaan orang lain?


"Oh engga, Mamah cuman lagi kepikiran Kakak kamu." balas Meldi.


Chaca ber-oh, ternyata Mamahnya tadi sedang melamun. "Emangnya Kak Aiden kenapa?"


Dahi Meldi mengerut. "Aiden? kenapa emangnya?"


Chaca menatap heran sang Mamah. "Lah bukannya Mamah lagi mikirin Kak Aiden? Kan tadi Mamah yang bilang lagi mikirin Kakak Chaca."


"Kakak kamu kan gak cuman Aiden loh, Cha."


Terkekeh singkat. "Hehe iya sih. Kalo bukan Kak Aiden berarti Kak Bryan. Kenapa sama Kak Bryan Mah?" tanya Chaca.


"Kepo aja kamu." balas santai Meldi, yang membuat Chaca mengerutkan bibirnya.


Meldi kembali menatap TV di depannya. Begitupun Chaca. Ia ikut menonton TV bersama Mamahnya ini tanpa menanyakan hal itu lagi. Toh, Chaca tidak terlalu kepo dengan urusan Kakaknya.


Brak!

__ADS_1


"Eh ayam!" Chaca tersentak kaget mendengar suara gebrakan dari pintu yang tak jauh dari ruang tamu. Kebetulan ia sedang mengambil sebuah toples kripik ayam di meja. Alhasil ia menjadi latah.


Meldi memukul pelan lengan Chaca. Suara anak nya ini sama-sama membuatnya kaget.


Keduanya langsung menatap arah pintu depan. Sesosok pria tampan yang mengenakan jas hitam dengan celana katun senada nampak berjalan masuk ke dalam, mendekati kedua perempuan itu dengan wibawanya.


"Cepet banget pulang nya?" Meldi menatap pria itu yang kini berjalan menuju sofa di seberangnya.


"Capek Mah. Makannya Aiden pulang aja." ucapnya dengan menurunkan tubuhnya, duduk di sofa tersebut. Ya, pria itu adalah Aiden.


"Cih, baru setengah hari aja udah capek. Papah tuh yang kerja pagi pulang pagi, biasa aja tuh. Tetep kerja keras, gak ngeluh capek." Sindir Chaca. Aiden hanya memutarkan bola matanya malas. Mendengar tuturan dari sang adik.


Karena sebentar lagi Aiden akan lulus dari masa SMA nya, sang Papah-Abraham meminta Aiden agar mulai belajar untuk mengurus perusahaan. Abraham sedikit-sedikit mengajari Aiden tentang bisnis karena Aiden lah yang nantinya akan meneruskan perusahaannya. Lalu Bryan? Sebenarnya Abraham ingin jika Bryan lah yang meneruskan perusahaannya, namun karena Bryan lebih memilih dunia kedokteran alhasil Bryan hanya mengurusi semua rumah sakit milik keluarga ATMAJA di kota ini maupun rumah sakit di luar kota. Dan hanya tersisa Aiden, yang menjadi harapan Abraham untuk melanjutkan perusahaan keluarga ini.


"Gue kan masih belajar. Lagian juga Papah gak keberatan tuh buat gue pulang sekarang. Kenapa malah Lo yang sewot?" balas Aiden. Menatap Chaca tajam.


"Udah-udah." Meldi menggelengkan kepalanya. Kedua anaknya ini memang sering sekali bertengkar membuatnya pusing. "Ouh iya, gimana di kantor tadi Den?" tanya Meldi, menatap anak keduanya itu.


"Asik kok Mah."


"Iya asik kan cuman liat-liatin cewek cantik. Godain karyawan di sana. Iyakan Kak?" timpal Chaca, menarik senyumnya menatap Aiden.


"Enak aja! Sok tau lo!" wajah Aiden mengerut. Adiknya ini selalu membuat darah tingginya naik. Ada yang ingin adopsi anak? adopsi saja ini adiknya. Sungguh, Aiden lelah menghadapi Chaca.


Meldi menghembuskan nafasnya lelah. Anaknya padahal sudah besar-besar, tapi masih saja sikapnya seperti anak kecil. "Yaudah kamu istirahat dulu aja Den, Mamah mau ke dapur dulu sebentar. Yang akur, jangan berantem kalian." Meldi bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari kedua anak nya ini.

__ADS_1


Meldi memang hari ini tidak bekerja karena dilarang oleh Abraham. Sang suaminya itu meminta agar Meldi beristirahat saja untuk hari ini di rumah karena sudah kelelahan membantu Abraham di kantor kemarin.


Setelah kepergian sang Mamah. Aiden merebahkan tubuhnya di punggung sofa dengan mengganti-ganti saluran televisi dengan remot yang sudah ada di tangannya.


Chaca? gadis itu mulai di sibukkan dengan ponselnya. Tiba-tiba ponselnya tadi bergetar, memberi tahukan jika ada sebuah notifikasi yang muncul.


"WHAT?!" Chaca berteriak histeris.


Mendengar teriakan itu membuat Aiden mendengus. "Berisik! apaan sih Cha."


Chaca membulatkan matanya menatap Aiden. "Kak." Ia bangkit dan berpindah duduk di sofa yang di duduki Aiden. "Liat!" ucapnya setelah duduk di sebelah Aiden.


Dengan malas Aiden mengalihkan tatapannya menatap Chaca. "Apaan?"


"Inii." Chaca mengacungkan ponselnya. Memperlihatkan apa yang ia lihat.


Ikut tersentak kaget. Aiden menegakkan tubuhnya. Mengambil ponsel Chaca secara paksa dan menatap sebuah artikel di layar ponsel itu. "Kakak Ipar?" ia kembali menatap Chaca horor.


Sebuah artikel yang menunjukan potongan vidio saat di taman belakang rumahnya. Aiden menekan Vidio itu dan muncullah sebuah percakapan antara kedua orang yang Aiden kenal. Setelah melihat Vidio itu, Aiden melihat komentar-komentar disana. Banyak yang mengatai dan membicarakan sesuatu yang menjelek-jelekkan sang Kakak Ipar.


"Sialan." Aiden menutup ponsel Chaca. Menatap kesal Chaca. "Ternyata ada penyusup yang sengaja vidioin peristiwa kemarin."


Vidio yang menunjukan sesosok perempuan yang berbicara jika Elena adalah anak haram dan anak dari seorang pelacur, perebut suami orang. Ya, Putri. Vidio Putri dan Elena saat di taman belakang kemarin tersebar. Bahkan Vidio itu terpotong, hanya di bagian Putri yang berbicara jika Elena telah merebut Ayahnya hingga sang Ibu meninggal. Sontak Vidio itu membuat banyak orang yang mulai mencari tentang sosok Elena. Yang notabenenya adalah Istri dari seorang Bryan, Dokter muda yang cukup banyak di sukai orang kaum wanita.


Keluarganya cukup di hormati, namun mendengar hal seperti ini pasti banyak orang yang akan membicarakannya dan menjatuhkan keluarganya. Aiden tau, yang merekam dan menyebar tersebut pasti adalah orang yang membenci keluarganya. Dan ia tau, orang itu adalah salah satu orang yang hadir di taman kemarin.

__ADS_1


"Terus gimana Kak?" Chaca mengerucutkan wajahnya. "Kalo sampe Kakek tau, pasti Kakek bakal ke sini. Kakak ipar bisa dalam bahaya!" Chaca mendengus sebal. Mengingat sang Kakek yang memiliki mulut pedas. Kakeknya itu pun tidak akan kenal diam jika ada yang mencemarkan nama baik keluarganya. Dan satu lagi. Kakek nya itu terkenal dengan kewibawaan nya. Sang Kakek tidak ingin memiliki hubungan dengan kalangan bawah ataupun yang keluarganya memiliki riwayat kotor dan tidak jelas asal usulnya. Makannya sang Kakek sering menjodohkan anak-anaknya dengan orang kalangan tinggi. Sedangkan Kakak Iparnya? bahkan saat pernikahan Bryan, Abraham sengaja tidak memberi kabar pada sang Ayah, Kakeknya Bryan. Karena Abraham tau, bagaimana watak sang Ayah.


Nextt? like nya jangan lupađź–¤


__ADS_2