Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB63: Tuduhan


__ADS_3

HAPPY READING🄰


Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Jantungnya seakan ingin berhenti sekarang. Hatinya berkecamuk, antara marah dan takut.


Bryan tidak dapat berkata apapun lagi. Setelah mendengar seseorang menelpon, ia langsung berlari cepat masuk kedalam mobil dan meninggalkan semua pekerjaannya di rumah sakit. Masa bodo dengan semua itu. Yang terpenting sekarang hanyalah Elena, gadisnya.


Tadi ia mendapatkan telpon jika Elena dan adiknya masuk rumah sakit. Entah apa yang terjadi sampai keduanya itu masuk kedalam rumah sakit.


Dengan rasa marah sekaligus takut, Bryan dengan cepat meng-gas mobilnya. Persetanan dengan keselamatan. Dipikirannya hanya ada nama Elena. Ia pun khawatir dengan kondisi adiknya-Chaca.


Sampai didepan tujuannya. Bryan segera masuk kedalam perkarangan rumah sakit itu dan mencari parkiran untuk mobilnya.


Tempat ini juga adalah salah satu cabang rumah sakitnya. Memang tidak terlalu besar seperti rumah sakit milik keluarga Atmaja, namun rumah sakit ini pun memiliki fasilitas yang lengkap dan sama.


Brak!


Bryan keluar dari mobilnya dan menutup kencang pintu mobilnya. Ia segera bergegas masuk kedalam rumah sakit itu.


Sepanjang jalan masuk kedalam rumah sakit. Banyak yang menyapa dan tersenyum hangat padanya. Mereka semua terlihat kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba kesini, karna memang Bryan jarang berkunjung ke rumah sakit ini.


Bryan mengambil ponselnya dari dalam saku jas putihnya lalu menekan nomor seseorang disana, dan langsung menelponnya. Tak lama sambungannya pun terangkat.


"Dimana mereka?!"


"Kamar anggrek nomor seratus empat, Tuan."


Bip.


Sambungan pun terputus sepihak oleh Bryan. Ketika sudah tau mereka ada dimana, ia pun segera melangkah ke tempat yang dibilang sang penelpon tadi.


___


Chaca terduduk dikursi tunggu dengan pandangan menunduk didepan sebuah ruang rawat.


Air matanya tak kunjung berhenti. Dengan dahi yang diperban, Chaca mengusap-ngusapkan wajahnya perlahan. Ini salahnya, semua ini salahnya.


"Hiks maafin gue Kak. Maafin gue," Chaca merapatkan tangannya, memohon doa untuk Elena agar wanita itu baik-baik saja.


Chaca segera mendongakkan wajahnya menatap arah pintu didepannya. Dirinya tidak terlalu parah, hanya dahinya saja yang sedikit terbentur. Namun berbeda dengan Elena. Kakak Iparnya itu pingsan di tempat kejadian.


Ya, karna ban mobil yang bocor akibat tembakan itu membuat mobil mereka oleng dan berakhir dengan menabrak keras pohon yang cukup besar.


Chaca menutup matanya kembali. Kejadian demi kejadian tadi terngiang-ngiang di kepalanya. Ada rasa bersalah yang dalam dihatinya.


Maafin gue Kakak Ipar


___


Bryan melangkah terburu-buru dengan wajah dingin penuh amarah. Tangannya sudah terkepal kuat. Ia sangat emosi.

__ADS_1


Bryan mendekat kearah sosok pria bertubuh tegap, berbaju hitam. Ketika sudah berada didepan orang itu, Bryan segera menatapnya tajam.


Pria yang ditatap pun hanya diam menunduk. Ia tau ada apa dengan orang didepannya ini.


Bugh!


"Ah!" pria bertubuh tegap itu tersungkur kebelakang dengan tangan yang memegangi perutnya. Sakit, itu yang ia rasakan sekarang.


Bryan menatap tajam pria yang terduduk di hadapannya.


"Dasar tidak becus! sudah ku bilang jaga dia! jangan sampai terjadi sesuatu padanya!" tajam Bryan.


Pria yang terduduk itu bernama Cahyo. Dia adalah Bodyguard yang disuruh Bryan untuk menjaga Elena dari jauh.


"Berdiri!" titah Bryan kembali.


Cahyo pun terbangun dengan tertatih-tatih. Ia tau ini salahnya karna tidak bisa menjaga Nona-nya dengan baik.


"Ma-maaf Tuan." Cahyo menunduk.


Dengan tangan terkepal. Bryan kembali siap untuk memberi bogeman pada pria di depannya. Namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba dari arah belakang Bryan ditahan oleh seseorang.


"Sialan! lepas!"


"Hey! berani sekali kau berkata itu padaku!"


Bryan mencoba melepaskan genggaman Abraham namun sayangnya Papahnya itu menggenggam tangannya erat membuat Bryan sedikit memberontak.


"Sudah! ini rumah sakit! kau mengundang keributan jika seperti ini!"


"Gadisku terluka karna Bodyguard sialan itu! dia tidak becus menjaga gadisku! aku tidak bisa diam begitu saja!" Bryan maju kembali siap untuk memberi pelajaran pada bawahannya, namun Abraham kembali mencegah pergerakan Bryan.


"Ck! dengarkan dulu penjelasannya! kau ini kenapa jadi emosi seperti ini?!" kesal Abraham. Bryan jarang-jarang bersikap seperti ini. Biasanya dia hanya diam dengan pandangan datar dan acuh pada sekitarnya.


Bryan melepaskan tangan Abraham dan menatap Papahnya itu.


"Bagaimana tidak emosi!? orang yang ku cintai terluka sampai masuk rumah sakit!" Bryan mengretakkan giginya kesal. "Aku harus memberi pelajaran setimpal padanya!" nafas Bryan bergemuruh.


Mendengar itu, Abraham terdiam namun tak lama ia pun menarik smrik-nya.


"Gadis yang kau cintai ya?"


Bryan langsung terdiam ketika sadar dengan ucapannya. Ia berdiri membisu, kepalan ditangannya pun mulai melemah.


Chaca hanya diam berdiri disamping Meldi. Ya, kedua orang tuanya itu menyusul dirinya kesini karna ia memberitahu jika dirinya dan Elena kecelakaan. Chaca masih sadar saat itu, jadi dirinya memberi tahu Meldi dan Abraham. Namun ternyata saat sedang menelpon di tempat kejadian, beberapa Bodyguard datang dan membantunya membawa Elena kerumah sakit terdekat. Entah darimana Bodyguard itu tau jika dirinya dan Elena berada disitu.


"In-ini bukan salah para Bodyguard, Kak." setelah lama diam, Chaca pun mengeluarkan suaranya membuat semua orang menatap ke arahnya.


Bryan masih diam, menatap adiknya-Chaca.

__ADS_1


"Ini salah Chaca." Chaca pun menunduk takut.


Meldi menatap gadis disampingnya dengan pandangan bertanya. "Maksud kamu apa Cha?"


Chaca menelan salivanya kasar sebelum berbicara. "Chaca nga-ngasih obat pelancar ke semua para Bodyguard biar mereka gak ikutin Chaca sama Kakak Ipar keluar dari rumah." jujurnya. Ya, sebelum mendatangi Elena, Chaca terlebih dahulu memberikan obat itu agar para bawahannya sibuk bolak balik ke kamar mandi, sehingga tidak mengawasi mereka keluar dan pergi dari rumah.


Tangan Bryan kembali terkepal.


"Kamu kenapa lakuin itu Cha?" Meldi menghela nafasnya pelan. Anak ketiganya ini berani berprilaku seperti itu.


"Chaca cuma mau Kakak ipar ajarin Chaca naik mobil tanpa diawasi Bodyguard. Tapi ternyata semua diluar dugaan Chaca."


Bryan tau bagaimana sifat adiknya. Tidak mungkin hanya mengajarkan mobil. Pasti ada maksud dibalik itu.


"Kau pasti sengaja melukainya kan?!" tajam Bryan menatap Chaca.


Aiden datang dengan nafas terburu-buru. Ia menyusul kesini ketika sedang bermain di rumah temannya tadi. Ia kaget ketika mendengar Chaca dan Kakak Iparnya kecelakaan.


Chaca menggeleng keras. "Chaca gak mungkin ngelakuin itu sama Kakak ipar! ini murni kecelakaan!"


"Lo kan gak suka sama Kakak ipar. Lo pasti ngerencanain ini semua kan Cha?" timpal Aiden, seakan tau apa yang terjadi disini.


Chaca menatap kearah sampingnya. Ia melihat Aiden yang sudah ada disana dengan menatapnya tak tertebak.


"Gak! walau gue gak suka sama Kakak Ipar, gue gak mungkin nyelakain orang!" air mata Chaca sudah tak terbendung. Ia menangis.


"Namanya orang gak suka pasti nge-halalin segala cara buat nyingkirin orang yang ga disukainya." lanjut Aiden.


"Hiks! gue gak ngelakuin apapun! kenapa kalian malah nyalahin Chaca?!" Chaca menatap orang-orang sekitarnya. Mereka hanya menatapnya diam "Kalian gak ada yang percaya sama Chaca!" setelah itu, Chaca berlari menjauh dari keluarganya.


Meldi menatap tajam Aiden. "Kamu gak boleh gitu Den! kasian adik kamu, seharusnya dengerin dulu penjelasannya." ucapnya menatap orang-orang disini.


Aiden menaikkan kedua bahunya acuh. "Kalo gak salah, kenapa dia harus marah coba?"


Bryan masih terdiam dengan tangan terkepal, dengan mencoba meredakan emosinya. Tanpa berbicara apapun, Bryan berjalan mendekati pintu didepannya dan masuk kedalamnya.


___


Chaca berlari berjalan menuju taman rumah sakit, Kepalanya masih sedikit pusing, namun ia mencoba untuk tetap kuat berjalan.


Kenapa semua orang malah nyalahin gue?!


Ia mengusap pipinya, menghapus jejak air matanya yang turun.


Sampai ditaman. Chaca pun duduk di sebuah kursi taman. Dirinya juga sangat khawatir dengan kondisi Elena, ia tidak melakukan apapun. Ia tidak mungkin menyelakai Kakak Iparnya.


Maafin gue Kak


Tanpa diketahuinya, sedari tadi ada yang mengawasi pergerakan Chaca. Orang itu melepaskan kacamata hitamnya dan tersenyum miring dibalik sebuah tembok penghalang.

__ADS_1


__ADS_2