Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB104: Elena Cemburu?


__ADS_3

HAPPY READING🄰


Bryan melirik Elena yang duduk di samping nya. Perempuan itu sedari tadi hanya diam. Membuatnya binggung, sebenarnya dia kenapa?


Sekarang mereka sudah berada di mobil. Untuk pulang ke penginapan keduanya. Setelah Elena meminta pulang tadi, Bryan langsung berpamitan dengan Mia. Dan meninggalkan temannya itu sendirian di kafe.


"Kau kenapa?" setelah lama hening. Akhirnya Bryan mulai mengeluarkan suaranya. Bertanya terlebih dahulu pada Elena.


Melirik sekilas Bryan. Elena kembali menatap jendela mobil. Melihat pemandangan di luarnya. "Gapapa."


Ucapan 'gapapa' itu terdengar aneh di telinga Bryan. Ia tau, sepertinya perempuan ini menyembunyikan sesuatu darinya.


"Wanita itu mengatakan apa saja padamu?" Bryan yakin pasti kediaman Elena saat ini ada hubungannya dengan Mia. Ia yakin pasti wanita itu berbicara macam-macam pada Elena.


Elena terdiam. Dengan cepat ia mengalihkan tatapannya dari jendela, menatap Bryan. Dengan pandangan tak terbaca. "Dokter Bryan pernah ngapain aja sama Mia?"


Menaikkan sebelah alisnya. Bryan tidak mengerti dengan ucapan yang dikatakan Bryan. "Maksud mu?"


"Dokter Bryan pernah cinta sama wanita itu?" tanya lagi Elena. Dengan pertanyaan berbeda.


Bryan mengerutkan dahinya binggung.


"Perasaan Dokter sama wanita itu sekarang gimana?!" lanjut Elena. Dengan nada kesal. Yang membuat Bryan menarik senyumnya tipis. Setelah peka dengan apa yang diucapkan Elena.


"Kau cemburu?"


Mendengar itu membuat Elena mengubah wajahnya. "Enggak." balasnya kembali mengalihkan tatapannya menatap jendela luar.


"Bilang saja kau cemburu. Ya kan?" goda Bryan yang membuat Elena gugup.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Dok." Timpal Elena.


Bryan menghembuskan nafasnya kasar. "Yasudah. Jawaban pertama, aku tidak pernah melakukan apapun padanya. Yang kedua, ya aku pernah mencintainya. Yang ketiga-"


Elena memejamkan matanya erat. Mendengar jawaban kedua dari Bryan. Entah kenapa hatinya sakit. Ternyata Bryan mencintai wanita itu. Seharusnya ia tau, Bryan mana mungkin bisa mencintainya? pernikahan mereka pun hanya di atas kertas. Kenapa Elena jadi terhanyut dalam keadaan seperti ini? ya, Elena memang mencintai Bryan. Dirinya sudah sadar dengan perasaan ini hanya saja ia tidak mau mengungkapkan nya karena ia tidak tau siapa orang yang dicintai Bryan. Bryan bahkan tidak pernah mengatakan cinta padanya. Jadi ada kemungkinan bukan jika Bryan tidak mencintainya? lebih baik Elena diami perasaan ini. Dirinya tidak mau Bryan tau, karena ia tidak mau pria ini membalas perasaannya dengan terpaksa.


"-Aku sudah tidak mencintainya. Karena aku sudah mencintai perempuan lain." lanjut Bryan, menjawab pertanyaan Elena yang ketiga.


Deg!


Terkejut. Elena kembali menatap Bryan. Dengan penuh tanya. "Siapa?"


Bryan menaikkan kedua bahunya. Lalu mengalihkan tatapannya kearah lain. "Kau akan tau nanti."


Elena mengerutkan wajahnya. Lalu kembali menatap jendela luar. Hiks, ternyata Bryan telah mencintai perempuan lain. Kira-kira siapa perempuan itu?


...---...


Sampai di lobi hotel. Bryan serta Elena bergegas turun. Dan berjalan masuk ke dalamnya, dengan beriringan. Keadaan hotel disini cukup sepi sekarang. Mungkin karena jam masih menunjukkan pukul sore, jadi semua orang masih sibuk berjalan-jalan di luar sana.


Disepanjang jalan. Elena hanya menatap diam Bryan, saat pria itu menatapnya, Elena langsung membuang pandangannya. Dirinya masih kesal pada Bryan. Bukan Bryan sih tapi lebih tepatnya 'teman lama' Bryan. Tapi tetap saja dirinya kesal juga melihat wajah Bryan!


Tak lama keduanya sampai di depan kamar. Bryan lantas menempelkan kartu di gagang pintu tersebut, yang membuat pintu itu terbuka seketika.


Elena masuk terlebih dahulu, disusul Bryan dari belakang yang tak lupa menutup pintunya kembali.


"Saya mandi duluan ya Dok." Elena menatap datar Bryan.


Bryan berdekhem. Menatap binggung Elena juga. Sejak pulang dari kafe tadi, Elena berubah 360° derajat dari sebelumnya. Apa memang Mia berbicara macam-macam padanya? Bryan sepertinya harus menelpon wanita itu. Awas saja jika memang Mia berbicara macam-macam tentang dirinya pada Elena.


Lain dengan Elena, perempuan itu terlihat segera berjalan, menuju lemari untuk mengambil pakaiannya terlebih dahulu lalu melangkah menuju kamar mandi. Namun sebelum itu, ia melihat terlebih dahulu Bryan. Pria itu nampak sudah sibuk memainkan ponsel di sofa. Akhir-akhir ini Elena merasa Bryan selalu sibuk dengan ponselnya. Apa Bryan sedang chatingan dengan Mia? sampai pria itu nampak sibuk sekali? jika benar awas saja, Elena tidak mau tidur dengan Bryan malam ini!


Melangkah dengan wajah cemberut. Elena masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu ruangan itu dengan kencang. Membuat suara pintunya terdengar hingga gendang telinga Bryan.


BRAK!


Bryan yang mendengar itu pun hanya menggeleng kan kepalanya dan kembali memainkan ponselnya. Tanpa menghiraukan Elena lagi, yang entah kenapa.


...---...

__ADS_1


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Elena lalu keluar dari kamar mandi. Dengan wajah yang tentunya masih cemberut.


Namun baru saja membuka pintu Elena sudah melihat Bryan berdiri tepat di hadapannya. Membuat Elena sedikit tersentak.


"Dok-dokter ngapain disini?!" Elena membulatkan matanya. Kaget. Untuk apa Bryan berdiri di depan pintu kamar mandi? "Dokter mau ngintipin saya ya?!"


Ucapan itu membuat Bryan memutarkan bola matanya malas. "Ck! memangnya kalo aku mengintip mu mandi kenapa? toh kita sudah suami istri ini." balas santai Bryan. Membuat Elena menatapnya horor.


"Lagian mandi mu lama sekali! kau sedang apa memangnya di kamar mandi?" Bryan menatap ruangan di belakang Elena. Dirinya sudah menunggu dua jam Elena mandi. Namun perempuan itu masih belum keluar juga tadi. Membuatnya sedikit takut. Ya, dirinya takut saja jika Elena pingsan atau sebagainya. Makannya ia berdiri disini untuk memastikan keadaan Elena. Dan ternyata, saat sudah berdiri disini, Elena malah membuka pintunya. Sebelum ia memeriksa.


Elena sedikit melebarkan pandangan, mendengar itu. Apa iya dirinya dua jam di kamar mandi? pasalnya tadi Elena memang berendam sebentar di bak mandi tapi ternyata dirinya ketiduran dan alhasil ia baru keluar sekarang dan ternyata ia tadi tidur cukup lama.


Terkekeh tak enak. "Saya tadi keasikan berendam Dok." balas Elena. "Maaf."


Menghembuskan nafasnya. "Yasudah, awas. Aku mau mandi." Bryan masuk ke dalam kamar mandi. Elena yang melihat itu segera minggir dan keluar dari kamar mandi. Raut wajahnya nampak kesal. Melihat pria itu yang tidak bisa santai.


Melangkah menuju ranjang. Elena duduk di tepian kasur itu. Menatap diam kamar ini.


Hening, tak ada suara apapun disini sampai pada dentingan sebuah notifikasi masuk dari ponsel yang tersimpan di atas meja samping Elena.


Elena menatap diam ponsel itu. Layarnya nampak menyala, pertanda ada sebuah pesan yang masuk.


Mengalihkan tatapannya menatap pintu kamar mandi yang tertutup, Elena menatap kembali ponsel itu dan mengambilnya.


Mia.


Maaf Bry, tadi aku lagi di jalan pulang. Oh iya, kapan kamu kesini?


Elena terdiam. Menatap pesan tersebut. Ya, ponsel yang berbunyi tadi adalah ponsel milik Bryan. Sebenarnya Elena enggan untuk melihatnya namun ia penasaran dan sekarang? penasaran itu malah membuatnya sakit hati!


"Buat apa Dokter Bryan kesana?" gumam pelan Elena. Menatap layar ponsel tersebut, dengan sedih.


Drtt..drrtt..


Seketika ponsel yang di pegang Elena berdering. Memunculkan panggilan dari seseorang yang familiar di pikiran Elena.


Elena menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup, lalu kembali menatap layar ponsel. Apa ia harus angkat?


Dilema. Elena binggung. Namun dengan keteguhan hatinya, Elena segera menekan tombol hijau, menerima panggilan tersebut. Dan menaruh ponsel itu di telinganya.


"Hallo!"


"Loh? Yan? kok suara kamu jadi perempuan?"


Elena mendumel. "Ini aku. Elena. Istri Bryan." kesalnya.


"Kok malah kamu yang angkat Na?" tanya orang di ujung telpon sana.


Di dalam hati, Elena menggerutu. Hey? memangnya dirinya tidak boleh mengangkat telpon suaminya?! tidak salah dong dirinya mengangkat telpon dari orang lain! apalagi ini perempuan. Mau apa coba Mia menelpon suami orang?!


"Dokter Bryan lagi mandi." Elena menjeda ucapannya sebentar. "Kenapa nelpon?"


"Oh, enggak. Aku cuman mau nanya. Bryan kapan mau kesini. Soalnya tadi Bryan bilang dia mau ke rumah aku hehe, mungkin Bryan kangen kali ya sama aku? atau jangan-jangan dia mau ngenang masa lalunya sama aku? hmm, kira-kira kamu tau gak Na, Bryan mau ngapain disini?"


Meremas ponselnya kuat. Ingin rasanya Elena membanting ponsel ini namun sayang. Mahal ponselnya.


"Gatau." balas Elena dengan nada tak bersahabat.


Terdengar kekehan dari sana. "Yaudah, kamu sampain aja ya sama Bryan, aku nunggu dia di rumah. Alamatnya nanti aku kirim, Bye.."


Bip.


Telpon di tutup sepihak oleh Mia. Elena menurunkan handphone tersebut dan meletakkan nya kembali di atas meja.


Kesal. Elena memajukan bibirnya ke depan. Benar bukan dugaannya Byan sedang komunikasi dengan Mia tadi. Dan ternyata, Bryan mengucapkan akan mengunjungi Mia ke rumahnya. Apa memang laki-laki itu masih menyukai Mia?!


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka lebar. Memunculkan Bryan yang keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


Elena menatap diam Bryan.


Mungkin karena merasa di perhatikan, Bryan lantas menatap Elena. Membuat Elena segera mengalihkan pandangannya dari Bryan. Mengindari tatapan dari pria itu.


Lagi-lagi Bryan menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan menuju lemari untuk mengganti pakaiannya. Namun sebelum itu, ia menatap Elena lagi.


"Aku akan pergi sebentar. Kau sendirian disini tidak apa-apa kan?" tanya Bryan dengan mengambil pakaiannya di lemari.


Memejamkan matanya erat. "Dokter mau kemana?" celoteh Elena. Mencoba tetap tenang. Ternyata omongan wanita itu benar.


Menaikkan sebelah alisnya. Tak biasanya Elena menanyakan dirinya akan kemana. "Aku ada urusan. Kau tidak perlu tau."


Elena masih diam. Tak berniat membalas ucapan Bryan.


Bryan yang tidak mendapatkan balasan lantas menghampiri Elena. Ikut duduk di samping Elena.


"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Bryan.


Melirik sekilas Bryan. Elena menggeleng lemah. "Gapapa Dok."


"Yasudah kalo gitu. Aku pergi dulu." Bryan bangkit dari duduknya Namun sebelum melangkah, Bryan mendapati Elena bangkit dan menghalanginya.


Elena tersenyum manis. Menatap Bryan yang kini sudah ada di hadapannya.


Heran. Bryan menatap binggung Elena. Tadi wanita ini seperti orang kurang semangat namun sekarang malah tersenyum bahagia.


"Kau ini mau apa?" Bryan menaikkan sebelah alisnya.


Dengan wajah tersenyum, Elena mendekati Bryan. Mengalungkan tangannya ke leher pria itu. Membuat Bryan sedikit tersentak.


"Em, Dokter jangan pergi ya?" tanya Elena. Penuh harap.


Bryan terdiam. "Kenapa memangnya?"


Menggeleng pelan. Elena mulai memainkan tangannya di dada Bryan. "Jangan pergi aja."


Bryan menatap Elena yang berubah. Ada apa dengan wanita ini?


"Tapi aku ada urusan." sebenarnya sih urusan ini cukup penting. Namun melihat Elena yang seperti ini entah kenapa Bryan jadi malas untuk keluar.


"Jadi urusan Dokter lebih penting gitu dari saya?" Elena menatap Bryan sedih, lain dengan hatinya yang malah malu!


Bryan terkekeh. Ekspresi Elena saat ini membuatnya ingin tertawa. Hey? bagaimana Elena bisa jadi manja seperti ini?


Drrtt..drrtt


Elena menatap layar ponsel Bryan yang masih tersimpan di atas meja. Layarnya nampak menyala. Memperlihatkan sebuah panggilan. Bryan melirik ponselnya itu namun Elena dengan cepat membuat pandangan Bryan menatap ke arahnya lagi dengan cara mendorong Bryan kebelakang. Membuat pria itu terjungkal kebelakang, ke atas ranjang.


Elena langsung menindihi Bryan. Membuat mata Bryan membulat. Kaget dengan tingkah Elena saat ini.


"Dokter jangan pergi ya. Disini aja" Elena memanjukan bibirnya, dirinya merasa sudah seperti ja lang namun tidak ada cara lain!


"Ck, kau ini mau apa sebenarnya?"


"Saya mau.." Elena memejamkan matanya. Mendekati wajah Bryan.


Cup!


Bryan masih terdiam. Dengan perbuatan Elena. Namun tak lama, ia mulai menikmati permainan Elena. Membalas ciuman wanitanya ini.


Tak lama, Elena melepaskan ciumannya. Menatap mata legam Bryan. Sebaliknya pun sama.


"Kau mau-?" Peka Bryan yang membuat Elena mengangguk mendengarnya.


Menarik smriknya. Bryan segera mengambil alih, memutar tubuh Elena. Membuat Elena yang ada di bawahnya.


"Kau yang memulai baby." Bryan tersenyum lalu mulai melanjutkan aktivitas nya.


Elena yang menerima nya hanya pasrah. Mengigit bibir bawahnya, Elena memejamkan matanya erat. Tidak ada cara lain agar Bryan tidak pergi hari ini. Setelah berpikiran panjang, Elena akhirnya mengambil cara ini. Biarkan saja, biarkan wanita itu menunggu Bryan lama. Karena Elena yakin, Bryan tidak akan meninggalkannya sekarang. Haha!

__ADS_1


__ADS_2