
HAPPY READING GUYS❤️
Sudah berminggu-minggu setelah kematian Dimas, Elena masih saja bersedih dan berdiam diri. Senyuman diwajahnya pun sudah lama menghilang dari bibirnya semenjak hari itu.
Banyak yang menenangkan Elena dan menyuruhnya untuk mengikhlaskan Bapaknya. Elena pun meng-iyakan dan berucap jika ia sudah mengikhlaskan Dimas. Namun ucapan dan sifatnya berbanding terbalik. Bibir berucap sudah mengikhlaskan tapi gerakan wajah dan tubuhnya mengatakan jika gadis itu belum mengikhlaskan kepergian Dimas.
Bryan pun turut sedih melihat kondisi Elena yang semakin hari semakin kurus. Gadis itu selalu saja telat makan. Jika makan pun mungkin hanya beberapa suap dan mengatakan jika dia sudah kenyang padahal porsi makan yang Elena makan menurutnya belum mampu membuat seseorang untuk kenyang.
Sekarang Bryan berada di ruangannya. Jam sudah menunjukan pukul 12 siang, namun ia sama sekali belum berniat untuk bangun dari duduknya.
"Huh!" Bryan menghembuskan nafasnya kasar. Ia sesekali mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Akhir-akhir ini pekerjaan Rumah sakit menyuruhnya untuk lembur, alhasil dirinya jarang sekali berada dirumah dan bertemu Elena.
Bryan lantas mengambil ponselnya lalu mencari nomor seseorang di sana. Setelah menemukannya ia pun segera menelpon orang tersebut, namun tak lama ia kembali mematikan sambungannya sebelum tersambung dengan orang itu. Ia menghembuskan nafas gusar. Bryan bimbang untuk menelpon Elena atau tidak. Disatu sisi ia ingin mengetahui bagaimana keadaan gadis itu, disisi lain ia gengsi untuk menelpon duluan.
"Kenapa aku jadi khawatir dengannya?" gumam pelan Bryan masih dengan menatap layar ponselnya.
Kesibukannya dengan Rumah sakit membuatnya jarang menyapa dan bertemu Elena. Kalau pulang pun mungkin Bryan akan pulang larut malam, dan sudah menemukan Elena yang tertidur di atas ranjang.
Dengan memutar-mutarkan ponselnya. Bryan nampak memikirkan sesuatu. Tak lama dari itu, Bryan pun segera membuka kembali ponselnya dan mencari nomor Elena.
Ya, ia akan menelpon gadis itu, persetanan dengan rasa gengsi. Sekarang yang ia pikirkan hanyalah kondisi gadisnya.
____
Elena terdiam menatap langit biru diatasnya. Dirinya sekarang berada di balkon kamar milik Bryan. Wajahnya nampak lesu, tak bersemangat.
Hari ini tepat satu bulan kepergian Bapaknya, namun rasa tak rela masih hinggap dihatinya. Ia selalu berfikir jika Bapaknya itu masih ada disekitarnya, walau tak bisa terlihat olehnya.
"Pak, Elena kangen." gumam Elena pelan.
Dirinya seketika mengingat kebersamaan-nya dulu dengan sang Bapak-Dimas. Mulai dari memasak hingga membersihkan rumah bersama. Kenangan-kenangan yang sangat manis untuk tidak dilupakan.
Elena bimbang dengan kondisinya sekarang. Beberapa hari ini pun Bryan nampak sibuk dengan pekerjaannya dan jarang sekali menemuinya.
Ada niatan dihatinya untuk menghentikan semuanya, dan melepaskan apa yang terjadi sekarang. Namun Elena masih ragu, ia masih memikirkan baik-baik keputusan yang ada dihatinya.
"Huh." Elena menghela nafasnya pelan. Ia menatap arah depannya, menikmati indahnya rumah besar ini. Elena tidak menyangka dirinya bisa terjebak dalam situasi rumit yang membuatnya harus mau menikah dengan Dokter Bryan, pria yang sama sekali tak ia kenal.
"Apa aku yakin dengan keputusanku?"
____
"Ck! kenapa dia tidak mengangkat telponku!" Bryan menurunkan ponselnya dengan kesal lalu menaruhnya di atas meja.
Elena tidak mengangkat sambungan telpon darinya. Memangnya sedang apa gadis itu? sampai-sampai tidak mau mengangkat telpon darinya?
Tok Tok Tok!
Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara ketukan dari luar membuat Bryan mengalihkan tatapannya ke asal suara tersebut.
"Masuk!" ucapnya dengan kesal.
Ceklek
Pintu ruangan pun terbuka menampilkan sesosok pria yang terlihat cemas.
"Ada apa?" to the poin Bryan, dengan pandangan datar.
Pria tua itu segera berjalan mendekati Bryan, wajahnya nampak cemas dan khawatir.
"Maaf Tuan, sa-saya meminta izin untuk pulang lebih cepat hari ini. Sa-saya sudah meminta izin pada staf lainnya tapi mereka tidak mengizinkan saya untuk pulang dengan alasan ini masih dalam jam kerja. Ja-jadi saya berinisiatif untuk meminta izin langsung pada Tuan Bryan." ucapnya gugup.
Pria itu adalah Pak Reno, yang tak lain adalah cleaning service di Rumah sakit ini.
Dengan raut wajah yang masih dingin, Bryan menaikkan sebelah alisnya penuh tanya. "Memangnya ada apa?"
Pak Reno menunduk. "Is-istri saya mencoba membunuh dirinya Tuan dan sekarang dia sedang ada di puskesmas dekat rumah, jadi saya meminta izin untuk pulang cepat hari ini." wajahnya terlihat sangat khawatir. Ia sangat mencemaskan kondisi istrinya itu.
"Bunuh diri?" tanya Bryan sekali lagi.
__ADS_1
Pak Reno mengangguk. "Beberapa Minggu lalu an-anak saya kecelakaan dan meninggal dunia. Semenjak hari itu istri saya berubah menjadi pendiam dan sering melamun. Sa-saya tidak menyangka jika istri saya se-depresi itu dengan kematian anak saya hingga mencoba untuk membunuh dirinya sendiri."
Deg!
Bryan terdiam seketika. Apa yang diucapkan oleh bawahannya itu membuat hatinya seketika dilanda ke-khawatiran. Semenjak kematian mertuanya, Elena berubah menjadi sosok pendiam dan sering melamun. Hari ini pun gadis itu tidak bisa ditelpon, apa jangan-jangan?
Dengan cepat Bryan meraih ponselnya kembali dan menelpon seseorang.
Pak Reno yang melihatnya hanya terdiam. Kenapa atasannya itu terlihat khawatir? seharusnya kan dirinya yang khawatir, kenapa jadi Tuannya ikut khawatir juga?
"Shit! kenapa orang rumah tidak mengangkat telponku?!" ucap Bryan dengan fokus pada ponselnya, mengabaikan pria yang masih berdiri tegap di hadapannya.
Pak Reno bingung sekarang. Ia harus apa? dirinya sedang terburu-buru tapi atasannya malah tidak memberikan jawaban untuknya.
"Ma-maaf Tuan, jadi saya-" sebelum Pak Reno melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba Bryan memotongnya terlebih dahulu.
"Yasudah, kau pergi sana." sahut Bryan tanpa menatap lawan bicaranya. Ia masih fokus pada ponselnya.
"Jadi saya di izinkan?" penuh harap Reno.
"Hm. Jika kau mau cuti untuk mengurus istrimu juga, kau cuti saja." lanjut Bryan.
Pak Reno pun bernafas lega mendengarnya. Ternyata Tuannya baik sekali padanya.
"Terimakasih Tuan. Terimakasih." tutur Pak Reno dengan sembringah. Ia mungkin akan mengambil cuti beberapa hari, untuk menjaga istrinya.
Bryan hanya berdekhem menjawab ucapan terimakasih bawahannya.
Setelah berpamitan. Pak Reno pun berbalik dan berjalan keluar dari ruangan Bryan. Ia akan berganti pakaian dan akan langsung segera pulang.
Bryan sedikit melirik sekilas Pak Reno yang sudah keluar dari ruangannya. Lalu menatap ponselnya kembali.
Sedari tadi tidak ada yang mengangkat sambungan telponnya. Sekarang ia kesal bukan main, untuk apa mereka semua memegang ponsel jika tidak digunakan?!
Dengan tatapan emosi, Bryan kembali memainkan ponselnya, mencari-cari nomor seseorang lagi dan segera menelpon orang tersebut.
"Hallo?!" sentak Bryan ketika sambungan telponnya terangkat. "Ck! mengapa aku telpon semua orang rumah tidak ada yang mengangkatnya?!"
___
"Kenapa Kakak jadi marah-marah padaku? aku mana tau!" jawab Aiden tak kalah kesal.
Saat sedang asik memandikan tubuhnya di bathtub, tiba-tiba ia dikejutkan dengan deringan ponsel yang berbunyi nyaring. Dengan handuk yang melingkar di pinggang, Aiden pun segera berlarian keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya yang tergeletak diatas ranjang lalu mengangkat sambungan telpon yang tertera dilayar di handphonenya itu.
Ia heran, tumben sekali Kakak-nya menelponnya. Memangnya ada apa sebenarnya? ia jadi sedikit kepo.
"Ada apa Kakak menelpon?" lanjut Aiden penuh tanya.
"Gadisku dalam bahaya! cepat kau ke kamarku!"
Dahi Aiden mengerut binggung. Bryan terdengar seperti orang yang sedang khawatir.
"Maksud Kakak apa? kakak Ipar dalam bahaya begitu?" ucap sekali lagi Aiden. Ia masih tak mengerti dengan ucapan Kakaknya di ujung telpon sana.
"Iya! gadisku akan bunuh diri! cepat kau ke kamarku sekarang!"
Mata Aiden seketika membulat. "Bu-bunuh diri?"
"Cepat berlari!"
"I-iya!"
Aiden segera berlarian menuju keluar kamarnya dengan raut wajah khawatir. Namun baru saja beberapa langkah melewati pintu, ia kembali lagi masuk kedalam kamarnya.
Dirinya lupa jika masih memakai handuk!
"Hey! mengapa lama sekali! bagaimana keadaan gadisku?!" ucap Bryan khawatir dari ujung telpon.
Masih dengan memegang ponselnya. Aiden segera memakai pakaian ditubuhnya. Ia mengabaikan teriakkan dari seseorang di ujung telpon sana. Masa bodo dengan ucapan Kakak nya itu, yang ia pentingkan sekarang hanyalah memakai pakaian untuk segera pergi ke kamar Kakaknya.
Setelah memakai kaos berwarna hitam polos, Aiden pun kembali keluar dari kamarnya dan berlari menuju lantai atas.
__ADS_1
Kamarnya memang berada dilantai satu. Dirinya malas sekali jika harus menaiki tangga setiap hari jika harus pergi ke kamar. Jadi Aiden memilih untuk memiliki kamar sendiri dilantai bawah.
Dengan langkah cepat, Aiden berlarian ke kamar Bryan. Raut wajah-nya sudah tak karuan. Ditambah lagi dengan wajah serta rambutnya yang masih basah.
Sampai didepan tujuannya. Aiden segera masuk kedalamnya tanpa mengetuk ataupun mengucapkan salam. Dirinya sudah sangat khawatir mendengar Kakak Iparnya yang akan bunuh diri.
___
Brak!
Elena tersentak kaget mendengar suara gebrakan dari arah belakangnya. Ia lantas segera memalingkan wajahnya kebelakang dan menatap siapa ulah dibalik gebrakan itu.
Aiden nampak berlarian menuju tempat dimana Elena berdiri. Raut wajahnya masih sama seperti tadi, penuh ke khawatiran.
"Kakak Ipar gapapa-kan?!" ucap Aiden cemas ketika berada di depan Elena. Ia menatap kakak iparnya itu dari atas sampai bawah mencari dimana letak luka ataupun lainnya.
Dahi Elena seketika mengerut binggung. Kenapa Aiden menanyakan hal itu? memangnya ia kenapa?
"Aku gapapa kok." ucap Elena tersenyum.
Mendengar itu membuat Aiden mengubah wajahnya kesal. Ia lantas mendekatkan ponselnya kembali dan menyapa orang yang membuatnya khawatir setengah mati.
"Hallo kak Bryan?" sahut Aiden.
Elena menatap Aiden dengan pandangan binggung. Bryan? jadi Aiden sedang bertelponan dengan suaminya?
"Bagaimana gadisku?!" jawab Bryan masih dengan nada cemas.
"Kakak Ipar baik-baik saja." Aiden heran. Bagaimana Bryan bisa menyimpulkan jika Kakak Ipar akan bunuh diri?
"Berikan ponselmu padanya." lanjut Bryan.
Mendengar titahan dari Kakaknya, Aiden pun segera menatap Elena.
"Kak Bryan mau bicara sama Kakak Ipar," tutur Aiden dengan memberikan ponselnya.
Elena yang tidak mengerti pun mau tak mau menerima ponsel itu. Dengan rasa gugup, Elena mendekatkan ponsel Aiden ke telinganya.
"Hallo?"
"Kau tidak apa-apa kan? kau tidak terluka kan?!"
Elena menatap Aiden dengan pandangan yang sulit diartikan. Kenapa Bryan menanyakan hal yang sama dengan Aiden? sebenarnya ini ada apa?
"A-aku tidak apa-apa Dok. Memangnya aku kenapa?" tanyanya polos.
Seketika Elena mendengar helaan nafas dari ujung telpon sana.
Tiba-tiba suara hening tercipta diantara mereka. Elena masih terdiam menunggu jawaban dari Dokter Bryan, namun sayangnya tidak ada suara apapun yang menjawab ucapannya tadi.
"Hallo Dok?" ucap sekali lagi Elena, memastikan jika sambungan telponnya masih tersambung.
"Apa?"
Lagi-lagi Elena dibuat heran dengan tingkah pria di ujung telpon sana. Dia mengatakan apa? seharusna Elena yang- ah sudahlah. Elena jadi pusing sendiri sekarang.
"Ada apa Dokter menanyakan kondisi ku?" lanjut Elena penuh tanya.
"Kau itu hobi sekali membuat orang khawatir! sudah lah aku tutup. Aku sedang sibuk hari ini, kita lanjutkan saja nanti di rumah."
Bip!
Sambungan telpon pun terputus sepihak. Elena lantas menurunkan ponsel Aiden lalu memberikannya pada pemiliknya.
Aiden yang melihatnya pun langsung menerima ponsel tersebut.
Elena seketika memajukan bibirnya kesal. Sebenarnya ada apa dengan pria itu? sampai-sampai mengatakan jika aku meng-khawatirkannya?
TBC
Bonus pict lagi nih❤️
__ADS_1