
HAPPY READINGš„°
Dua hari berlalu. Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Tepat hari ini adalah hari dimana keluarga Atmaja akan merayakan pesta anniversary pernikahan Tuan Atmaja dan istrinya.
Ya, Abraham dan Meldi. Umur pernikahan yang sudah menginjak ke-28 tahun membuat Abraham menginginkan pesta di rumahnya.
Seperti saat ini. Para Maid nampak sibuk mempersiapkan taman belakang rumah majikannya. Yang akan menjadi tempat pesta anniversary itu di adakan.
Disaat yang lainnya sedang sibuk berdandan dan merapihkan diri. Lain dengan sosok Elena. Gadis itu nampak hanya berdiam diri di kamarnya, menatap kosong arah hadapannya. Wajahnya terlihat kusut, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Dirinya hanya sendirian di kamarnya. Bryan? entah lah. Pria itu mendadak hilang sejak pagi. Elena tidak tau pria itu kemana. Lagian ia pun tidak mempedulikannya, karena sekarang hanya ada satu nama di pikirannya, yang sedari tadi memenuhi otaknya.
Saat dirinya sedang asik melamun. Tiba-tiba Elena merasakan ada seseorang yang duduk di sampingnya. Ia lantas segera mengalihkan pandangannya.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Elena terdiam. Pria itu adalah Bryan. Entah sejak kapan pria itu ada disini.
"Bukan apa-apa," balas Elena, tak bersemangat.
Menaikkan sebelah alisnya. Bryan tak percaya. "Jangan mencoba berbohong."
"Beneran Dok, saya gak lagi mikirin apa-apa," Elena menatap yakin Bryan. Mencoba membuat pria di hadapannya ini percaya, bahwa dirinya tidak memikirkan apapun.
"Aku tidak percaya."
Helaan nafas terdengar di bibir Elena. "Yasudah kalo Dokter gak percaya," lagi dan lagi, nada suara yang Elena lontarkan nampak menunjukan jika gadis itu sedang banyak pikiran. Membuat Bryan yakin pasti ada sesuatu pada diri Elena.
Bryan berdecak. Sebal dengan balasan Elena. "Pesta akan segera dimulai. Kau belum menyiapkan apapun. Lebih baik kau diam saja disini jika merasa tidak enak badan." Ucap Bryan.
Elena segera menggeleng. "Saya gak sakit kok Dok."
Bryan bangkit dari duduknya. "Aku akan bilang jika kau sakit hari ini sehingga tidak bisa menghadiri pesta di bawah. Kau istirahat saja. Aku tidak ingin kau kenapa-napa jika memaksakan ikut pesta itu," Bryan mulai melangkah. Berniat untuk turun ke bawah. Namun saat kakinya baru melangkah, tiba-tiba ada sesuatu yang menahan pergerakannya.
"Saya gak kenapa-napa kok Dok." Entah kenapa Elena merasa tidak semangat hari ini, namun dirinya tidak sakit ataupun yang lainnya. Mungkin hanya mood-nya yang turun. "Saya bakal tetep ikut pesta itu kok."
Bryan terdiam. Merasakan ada sesuatu yang mencekal tangannya. Ia lantas menatap bawahnya. Sebuah tangan terlihat memegangi tangannya erat.
Elena yang sadar pun langsung melepaskan tangannya dari Bryan. Memang ia memegang tangan pria itu agar Bryan tidak pergi terlebih dahulu. "Ma-maaf."
Bryan menghembuskan nafasnya kasar lalu berbalik. Menatap Elena.
Keduanya sekarang saling berhadapan. Menatap satu sama lain.
Bryan mendekatkan kepalanya pada wajah Elena. Menatap lekat mata gadis itu. Elena hanya bisa terdiam di tempatnya. Tak tau harus berbuat apa.
Elena menelan salivanya kasar. Wajah Bryan makin dekat dengan wajahnya. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Sumpah demi apapun, ia tidak bisa bernafas sekarang!
"Yakin kau tidak apa-apa?" Bryan mengeluarkan suaranya saat wajahnya semakin dekat dengan Elena.
Elena mengangguk singkat. Dengan mata yang mulai terpejam erat. Tangannya terlihat meremas celana yang ia pakai. Menampakkan jika ia sangat gugup.
Wajah keduanya sudah terlihat berdekatan. Hidung mereka sudah nampak saling bersentuhan. Dan saat bibir mereka hampir menyatu,
Tiba-tiba..
Tok tok tok!
"Chaca masuk ya!"
BRAK!
"Kakak ipar uda-" Chaca membulatkan matanya, menatap arah hadapannya. Pemandangan yang seharusnya ia tidak lihat malah terlihat jelas di matanya.
Bryan segera menjauhkan kepalanya dari Elena. Wajahnya nampak kesal, saat ada seseorang yang menghentikan aksinya.
"Eh Chaca ganggu kalian ya?" Chaca menatap tak enak kedua orang di hadapannya. Posisi Bryan yang membelakanginya serta Elena yang tepat berada di hadapan Bryan membuat Chaca memikirkan yang tidak-tidak.
__ADS_1
Bryan lantas mengalihkan tatapannya, menatap Chaca di belakangnya.
Chaca menelan salivanya kasar, saat sepasang tatapan tajam menatapnya. "Chaca gak liat apa-apa kok. Silahkan dilanjut rutinitas-nya. Chaca gak bakal ganggu lagi kok hehe," dengan perasaan tak enak, Chaca segera menutup pintu kamar Bryan dari luar dan berjalan terlebih dahulu turun ke lantai bawah. Menuju taman belakang. Duh! kenapa gue muncul disaat yang ga tepat sih! malu kan!
...***...
"Siapkan dirimu. Aku tunggu di luar," Bryan lantas berbalik, berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar ini. Meninggalkan Elena sendirian.
Elena yang melihatnya langsung menghembuskan nafas lega. Syukurnya Bryan tidak melakukan apapun. Tanpa sadar jari telunjuknya terlihat menyentuh bibir nya. Saat pikirannya sudah menjalar kemana-mana Elena segera menggelengkan kepalanya. Membuyarkan apa yang ia pikirkan.
"Kamu mikirin apa sih Elena! enggak-enggak," Elena menggeleng kepalanya keras. Tak lama ia pun segera melangkah menuju kamar mandi. Untuk menyiapkan dirinya sendiri.
...***...
Hari sudah mulai malam. Terlihat beberapa tamu mulai hadir dan berdatangan. Mulai dari keluarga serta rekan bisnis. Tidak terlalu banyak yang di undang, hanya beberapa. Mungkin hanya orang-orang terdekat saja.
Rencananya pesta akan di gelar besar-besaran oleh Abraham. Namun saat taman sedang di dekorasi, Meldi tiba-tiba menolak untuk diadakan terlalu besar-besaran. Ia tidak ingin pesta terlalu besar dengan banyak tamu undangan. Alhasil hanya pesta sederhana di taman belakang yang terjadi sekarang sesuai dengan keinginan Meldi.
"Cha."
Chaca yang sedang minum dan menikmati hidangan pesta di sisi taman pun langsung berbalik. Ketika namanya di panggil dari arah belakangnya.
"Iya Mah?" Chaca menatap Meldi. Yang nampak seperti sedang mencari sesuatu.
"Kakak sama Kakak ipar kamu mana?" tanya Meldi. Wanita berusia itu nampak cantik dengan balutan dres berwarna merah dan riasan wajah yang tidak terlalu tebal.
Chaca menaikkan kedua bahunya. "Gak tau."
"Loh bukannya tadi kamu samperin Kakak ipar kamu ya ke kamar Bryan?" tanya lagi Meldi.
Uhuk!
"Eh, minum Cha."
Chaca segera meminum minuman yang ada ditangannya. "Hah!" ia nampak menghela nafasnya lega. Chaca kembali menatap Meldi di depannya. "Oh itu ta-tadi tuh hm-" Chaca jadi binggung sendiri harus bilang apa. Apa iya dirinya mengatakan hal yang tadi sempat ia lihat di kamar Bryan?
"Hm itu-"
"Sayang!"
Suara dari arah berlawanan mengalihkan tatapan mereka.
Terlihat sesosok pria tampan mendekat ke tempat kedua perempuan itu. Dengan tersenyum lebar.
"Ck! aku mencari mu kemana-mana taunya kau ada disini," ucapnya menatap Meldi setelah berada di samping wanita itu.
Ya, siapa lagi jika bukan Abraham?
Chaca menatap kedua orang tuanya itu di hadapannya. Keduanya nampak serasi. Seperti sepasang pengantin yang baru saja menikah. Padahal jelas-jelas sudah memiliki buntut tiga.
"Kenapa Mas?" sebal Meldi. Ia sengaja berpisah sebentar dari Abraham karena ingin mencari menantunya, tapi sayangnya suaminya ini malah mencarinya karena sadar jika ia tidak berada di samping Abraham.
"Ada Carlie. Dia bilang ingin bertemu denganmu." balas Abraham dengan raut wajah malas.
Ekspresi Abraham nampak kusut namun ekspresi lain di tunjukan Meldi. Wanita itu nampak berbinar ketika mendengar apa yang diucapkan suaminya ini. "Beneran?"
"Hm."
Senyuman terlihat di bibir Meldi. "Yaudah kalo gitu, aku kesana dulu!" dengan cepat, Meldi segera berlari menuju tempat yang di tunjuk Abraham sebelumnya.
Abraham dan Chaca hanya diam menatap kepergian Meldi.
"Kau liat Mamah mu itu Cha. Mendengar nama mantan SMA nya hadir, malah senang dan berlarian. Ck! siapa juga yang mengundang pria itu kesini. Sudah tau ini acara anniversary bukannya reunian mantan! merepotkan saja."
Chaca terkekeh melihat Abraham yang sepertinya di landa kecemburuan. Padahal Pak 'Carlie' yang notabenya adalah mantan pacar SMA sewaktu Mamahnya muda dulu saja sudah memiliki anak. Bahkan cucu. Tapi Papahnya ini tetap saja cemburuan. Tidak tau umur memang.
__ADS_1
...***...
"Dokter ngapain li-liatin saya kayak gitu," Elena menatap Bryan horor. Seketika tubuhnya meremang merinding. Bryan sedari tadi menatapnya terus. Dengan pandangan yang entah maksudnya apa.
Sekarang keduanya sudah berada di taman. Dimana pesta itu diakan. Bryan dengan jas dan celana yang senada sedangkan Elena dengan gaun berwarna putih polos dengan belahan di kakinya. Yang memperlihatkan kesan elegan di tubuh Elena.
Seakan tertangkap basah, Bryan segera mengalihkan tatapannya dari Elena. "Itu, ada belek di matamu."
Mendengar itu membuat mata Elena membulat. Ia segera menyentuh matanya. Namun tidak ada apa-apa disana. Membuat Elena menatap malas Bryan. Bilang saja pria ini terpukau, malah mengatai matanya ada belek nya segala.
Elena nampak mengedarkan tatapannya menatap depannya. Taman cukup ramai dengan beberapa orang. Ia terlihat sedang mencari seseorang di dalam keramaian itu.
Bryan yang sadar Elena seperti sedang mencari sesuatu pun lantas bertanya, "Sedang mencari siapa?"
Elena melirik sekilas Bryan. "Aiden," balasnya. Sebenarnya bukan pria itu yang ia cari, namun ia asal menjawab saja karena kesal.
"Ck! sudah ada aku disini, kenapa kau masih mencari pria lain!"
Mendapati nada tak bersahabat dari Bryan, membuat Elena langsung menatap Bryan. "Loh emangnya kenapa?"
"Tidak perlu lagi mencari pria itu, aku tidak suka."
Mata Elena makin membulat. Ada apa dengan pria ini?
"Kenapa menatapku seperti itu? terpesona heh?" sahut Bryan menampilkan smrik nya, membuat Elena segera mengalihkan tatapannya dari pria itu.
Menyebalkan!
Lain dengan sosok wanita yang berdiri tak jauh dari tempat Elena dan Bryan berada. Wanita itu nampak mengepalkan tangannya, menatap kedua orang itu. Lebih tepatnya menatap Elena. Matanya nampak menyiratkan arti sesuatu, lain dengan bibir nya yang nampak tersenyum miring. Seperti sedang merencanakan sesuatu.
...***...
Hari semakin malam. Namun keadaan disini masih cukup ramai. Tiba lah saat dimana yang di nanti-nanti tiba.
Chaca tersenyum menatap semua tamu undangan disini. Dengan berbekalan mikrofon ditangganya, gadis itu nampak tenang berdiri di atas panggung.
"Oke! gak perlu lama-lama lagi! untuk penutup malam ini, aku berserta yang lain udah nyiapin sesuatu sebagai hadiah anniversary untuk Tuan besar Abraham dan Nyonya Meldi tersayang." Chaca tersenyum, menatap kedua orang tuanya yang berdiri tak jauh darinya.
Tepukan serta teriakan terdengar menggema di taman ini.
"Langsung aja ya! mulai!" teriak Chaca yang langsung membuat mereka terdiam seketika.
Tiba-tiba sebuah layar besar muncul di panggung tersebut. Sebuah vidio terlihat nampak mulai berputar.
Sebuah album kenangan. Perjalanan kisah cinta Abraham dan juga Meldi. Mulai dari awal pernikahan mereka, saat Meldi mengandung anak pertama dan melahirkannya. Semua berputar dalam rekaman Vidio tersebut, dengan lagu yang terdengar melow membuat Abraham dan Meldi terharu melihatnya. Bukan hanya kedua pasangan itu, para tamu pun ikut terharu melihatnya.
Elena ikut terharu melihat rekaman itu. Saat Bryan terlahir ke dunia dan pria itu mulai bisa merangkak dan berjalan, membuat Elena gemas bukan main. Terlihat saat Bryan masih bayi, pria itu nampak sangat menggemaskan, berbeda dengan sekarang yang malah menjadi lebih menyebalkan.
Setelah beberapa menit Vidio itu berputar. Vidio itu pun berakhir. Dengan sangat terharu sekaligus senang, mereka bertepuk tangan. Bergemuruh. Namun tak lama tepuk tangan itu berubah.
Blam!
Suara tepuk tangan itu tiba-tiba berubah menjadi teriakan serta kaget dari mereka semua. Bagaimana tidak? tiba-tiba seluruh lampu padam. Tidak ada cahaya apapun di taman ini, membuat mereka semua syok.
"It's not over yet. There's still one show you guys have to see." [Semua nya belum berakhir. Masih ada satu pertunjukan yang harus kalian lihat.]
Sebuah suara seketika menggelegar di taman ini. Ucapan yang di lontarkan itu sontak membuat mereka menghentikan kepanikan mereka semua. Suara yang entah berasal dari mana itu membuat mereka menatap satu sama lain, masih dengan keadaan yang cukup gelap.
"Come on, turn it on." [Ayo, nyalakan.]
Layar besar kembali menyala. Satu cahaya yang bersinar terang di taman ini sekarang hanyalah dari layar tersebut.
Pandangan mereka lantas menatap hanya pada layar itu. Sebuah Vidio nampak kembali mulai berputar disana membuat mereka semua terdiam sesaat.
Tak terkecuali Elena. Gadis itu menatap vidio tersebut dengan wajah tak percaya. Matanya nampak membulat, mulutnya menganga. Tampilan di layar tersebut membuat jantungnya seakan mau berhenti.
BRUK!
__ADS_1
Tak lama suara gaduh terdengar dari arah belakangnya. Elena lantas segera berbalik. Menatap asal suara tersebut.
"Kak Putri.."