
Menyenderkan kepalanya di jendela mobil. Elena menatap keadaan di luarnya. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi juga. Membuat jalan raya cukup renggang untuk di lalui mobil Bryan.
Pikiran Elena mulai melayang sekarang. Entah maksud apa Bryan menyuruhnya seperti ini. Apa Bryan mengundangnya untuk melihat pria itu bersama Mia? apa jangan-jangan Bryan mau berbicara tentang perasaannya pada Mia? dan mengundang dirinya untuk menyaksikan hal tersebut?
Elena tak dapat membayangkan hal itu. Dirinya tidak kuat, melihat Bryan menceraikannya. Hah! entah kenapa matanya malah memerah sekarang.
Elena cepat-cepat menghapus air matanya. Agar make-up yang ia pakai tidak luntur. Sia-sia dirinya berdandan tadi jika harus luntur karena air mata.
Apa kehidupannya akan berakhir seperti drama yang ia lihat tadi?
Menatap jalanan di sampingnya. Elena merasa mobil yang di tumpanginya ini mulai memperlambat jalannya. Membuat mata Elena segera memeriksa keadaan di luar jendela.
Sampai pada satu titik yang membuatnya tertarik, pandangannya lansung tertuju ke arah sebuah plang spanduk besar di pinggir jalan. Ia menatap plang itu, yang menunjukkan sebuah tulisan dengan sebuah lampu kecil di sekitarannya.
...Maafkan aku karena telah membuatmu menunggu lama....
Terdiam. Elena membaca tulisan itu yang ternyata berbahasa Indonesia. Satu plang terlewati, ada sebuah plang besar lagi setelahnya.
...Maafkan aku juga sering meninggalkanmu. Tapi ada satu hal yang harus kau inget, aku tidak mungkin selingkuh darimu, heh....
Makin lama Elena makin penasaran. Ia kembali membaca tulisan setiap plang yang ia lewati.
...Karena saat pertemuan awal kita di Rumah sakit. Aku rasa perasaan itu mulai tumbuh. Tapi sayangnya aku belum menyadarinya....
Elena mengerutkan dahinya. Seperti kenal kisah itu. Pertemuan awal? di rumah sakit?
__ADS_1
...Awal pertemuan aku rasa hanya tertarik padamu. Karena kau berbeda. Aku bertekad untuk memilikimu, namun mungkin setelah bosan aku akan melepas mu....
Elena mengigit bibirnya. Ia penasaran dengan tulisan di plang selanjutnya.
...Tapi ternyata setelah aku memilikimu, aku malah ingin terus bersama mu. Semakin berdekatan dengan mu, semakin aku tidak mau melepaskan mu....
Elena binggung. Sebenarnya tulisan itu milik siapa? untuk apa disana? untuk siapa juga?
...Aku mencintai mu, Elena....
Deg!
Elena menutup bibirnya dengan telapak tangan. Tak percaya dengan tulisan dari plang spanduk itu. Ia melihat-lihat lagi sisi jalan. Namun kosong. Sudah tidak ada lagi tulisan plang tersebut. Yang artinya tadi adalah plang terakhir.
Elena menunduk. Yang dimaksud 'Elena' itu dirinya? atau orang lain? tapi Elena tidak paham. Maksudnya ini bagaimana?
Mobil Bryan seketika terhenti. Di sebuah parkiran. Elena yang mendengar itu langsung menatap sang supir.
Tak lama, pintu mobil terbuka. Elena menatap arah sampingnya. Lalu keluar dari mobilnya itu yang ternyata di bukakan oleh pria berjas hitam. Dengan kacamata hitam yang lekat di matanya.
Menutup pintu mobil, Pria bertubuh besar itu menatap sopan Elena. "Mari Nona, saya antar masuk." ucapnya.
Elena lantas mengangguk. Ia mulai melangkah. Entah dimana dirinya sekarang, namun Elena cukup senang karena pemandangan disini cukup bagus.
Sampai pada sebuah pantai. Elena menatap kagum pantai tersebut. Ya, tempat yang sangat ingin ia kunjungi adalah pantai. Dan sekarang ia ternyata di bawa kesini.
__ADS_1
Melebarkan senyumannya. Elena melanjutkan perjalanannya. Mengikuti pria berbadan besar itu. Yang masih menuntunnya berjalan.
Sampai pada sebuah jempatan yang sudah di tata rapih. Elena cukup terpukau dengan pemandangan di depannya sekarang.
Elena maju mendahului pria yang membawanya tadi. Ia menatap kagum tempat ini. Tak lama, Elena segera menatap pria bertubuh besar tadi, yang berdiri di belakangnya.
"Pak- loh." Elena mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ini, ketika tidak menemukan siapun disini. Kemana pria itu?
Sibuk mencari-cari seseorang disini. Tiba-tiba ada sebuah suara yang membuat Elena tersentak kaget.
"Ekhem."
Elena terdiam. Suara itu berasal dari arah belakangnya. Ia lantas segera menatap asal suara itu.
"Dokter Bryan?" Elena menatap Bryan yang kini sudah di hadapannya. Pria itu nampak tampan, dengan jas yang membaluti tubuhnya.
Bryan terlihat melangkah mendekati Elena.
Posisi keduanya saling berhadapan satu sama lain sekarang.
"Kau mau tau siapa orang lain itu?" Bryan menaikkan sebelah alisnya. Bertanya pada Elena. Membahas persoalan di mobil kemarin.
Elena sontak mengangguk. Ia juga penasaran, siapa orang yang di cintai Bryan.
__ADS_1
Menunduk lalu menatap kembali Elena. Bryan tersenyum manis. "Dirimu."