Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB84: CCTV Rumah


__ADS_3

HAPPY READING❤️


Di part ini akan lebih difokuskan ke Chaca dan Aiden dulu. Jadi untuk interaksi antara Elena dan Bryan, mungkin gak akan ada di part ini dan akan berlanjut juga di next part berikutnya.❤️


Chaca berjalan. Keluar dari rumah sakit, berniat untuk mencari taksi di sekitaran sana. Rencananya, dirinya akan pulang hari ini untuk menyelidiki sesuatu.


Kakinya melangkah. Menyusuri halte di dekat rumah sakit. Sampai pada mobil berwarna biru muda melintas tepat di hadapannya, Chaca segera menyetop taksi itu lalu naik ke dalamnya.


Chaca menyebutkan alamat rumahnya, dan mobil yang membawanya langsung melaju, membelah jalanan padat IbuKota Jakarta.


Sepanjang jalan, Chaca hanya berdiam. Memikirkan peristiwa yang menimpa Kakak nya itu. Saat ke kamar Aiden tadi, Chaca terkejut bukan main melihat Aiden yang sudah terkapar tak berdaya di atas kasur dengan busa yang keluar dari mulutnya. Perasaannya sedari pagi memang benar. Dirinya merasa akan ada sesuatu yang tidak beres dan ya, perasaannya benar. Bahwa Aiden sedang tidak baik-baik saja.


"Sudah sampai Nona."


Chaca terperangah. "Eh?"


"Sudah sampai," ucap supir taksi itu lagi, memberi tahu.


Chaca lantas mengalihkan tatapannya, menatap rumah besar di sampingnya. kelamaan melamun membuat dirinya tidak sadar jika sudah sampai.


"Oh iya, ini uangnya," Chaca membuka tasnya, memberikan sejumlah uang untuk supir itu. "Makasih ya Pak," setelahnya ia pun langsung turun. Dan berjalan mendekat ke rumahnya.


Seperti biasa, saat sampai di rumah, beberapa Maid serta yang lainnya menyambut dirinya dengan pandangan khawatir. Mereka menunggu kabar tentang anak dari majikan mereka. Aiden.


Chaca menatap Maid-Maid tersebut. Pandangan mereka seakan ketakutan. Takut terjadi sesuatu yang fatal pada majikannya itu.


"Kak Aiden kritis, tadi juga dimasukin ke UGD," ujar Chaca, dengan pandangan sedihnya. Lain dengan hatinya yang malah tertawa melihat ekspresi dari setiap Maid di depannya.


"Terus bagaimana Nona? Apa Tuan Aiden akan sembuh?" tanya salah satu Maid, dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


Chaca tau. Mereka semua pasti takut dengan sang Papah, Abraham. Papahnya itu tidak akan tinggal diam melihat anaknya sakit ataupun terluka.


"Kata Kak Bryan, Kak Aiden keracunan makanan. Masalahnya cukup berat. Chaca aja ini pulang karena gak kuat denger kelanjutannya. Chaca gak kuat hiks," air mata Chaca nampak turun, membasahi pipinya yang kering.


Para Maid semakin ketakutan. 'Keracunan makanan' berarti mereka akan sepenuhnya di salahkan karena setiap makanan di rumah ini berasal dari masakan mereka.


"Bibi-bibi pada berdoa aja." lanjut Chaca. "Semoga Kak Aiden selamat hiks, karena kata Kak Bryan kemungkinan sembuhnya kecil dan beresiko menjulur ke-" Chaca menggelengkan kepalanya, tak sanggup melanjutkannya. Air matanya pun kian turun deras. "Ke-kematian."


Para Maid cukup terkejut dengan yang di ucapkan Chaca. Mereka tampak ketakutan. Tapi tak lama mereka menatap Chaca lalu menunduk sopan. "Semoga Tuan Aiden baik-baik saja Nona. Terimakasih atas informasinya. Kalo begitu kami permisi dulu untuk melanjutkan pekerjaan. Permisi Nona," ujar salah satu Maid. Berpamitan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, dengan hati yang tak karuan. Disusul dengan Maid yang lain.


Chaca menatap kepergian para Maid tersebut dengan diam. Di ujung matanya, ia merasakan ada seseorang yang berdiri dan menatapnya dari kejauhan. Ia hanya tersenyum dalam hati dan segera melangkah, menuju ke arah belakang rumahnya.


Dirinya akan ke ruangan CCTV sekarang. Untuk mengecek semuanya. Mengecek kegiatan yang di lakukan Aiden sebelum pingsan di dalam kamar.


Ruangan berpintu kecoklatan. Chaca sudah berada di depan ruangan yang ia tuju. Tempat ini berada di bagian belakang rumahnya. Biasanya disini di jaga oleh salah satu penjaga rumah, namun sekarang kenyataannya disini kosong. Tidak ada satupun yang jaga.


Membuka kunci pintu itu lalu masuk ke dalamnya. Tak lupa ia menutup kembali pintunya dari dalam.


Menatap layar di depannya. Chaca mulai mengotak-ngatik keyboard disana.


"Ini buat nyalain pencet mana ya?" Chaca tidak ahli dalam bidang elektronik. "Duh, gue gak tau lagi." Dumel Chaca, berusaha untuk menekan asal tombol di depannya.


Setelah lama berjuang hasilnya layar di depannya menyala. "Nah!" Chaca mulai menatap layar itu dengan serius.


Mencoba untuk menyesuaikan jam kejadian tadi pagi, Chaca berhasil mendapatkan apa yang ia cari. Dengan ponsel yang ia genggam, Chaca segera me-vidiokan layar di depannya. Setelah selesai, ia pun tersenyum puas.


Hasilnya tidak terlalu membuat dirinya terkejut, karena sedari awal memang dirinya sudah tau siapa dalang di balik ini semua.


Setelah selesai, Chaca segera keluar dari ruangan ini. Dirinya mulai berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia akan ke kamarnya terlebih dahulu lalu kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Tanpa di ketahuinya, Sedari tadi ada sesosok perempuan yang melihat pergerakan dari Chaca. Diam-diam, perempuan itu mulai berjalan mendekati ruangan yang sempat di masuki oleh Chaca. Ya, sedari tadi dirinya mengikuti gadis itu hingga menemukan sebuah pintu yang baru ia lihat dan entah ia ketahui isinya apa. Untungnya pintunya tidak dikunci, alhasil dirinya bisa masuk ke dalam ruangan itu.


...***...


"Kamu udah pulang Cha?"


Chaca menghentikan langkahnya. Ketika akan menaiki tangga. Ia pun berbalik, menatap asal suara pertanyaan itu.


"Eh ada Kak Putri." Chaca mengulas senyumnya tipis. "Udah kok Kak. Buktinya Chaca ada disini."


Putri tersenyum. Lalu merubah wajahnya menjadi seperti khawatir. "Soal Aiden? gimana?"


Menundukkan kepalanya. "Kak Aiden- hiks." Chaca menghentikan ucapannya.


"Kakak kamu baik-baik aja kan?"


Chaca kembali mendongakkan kepalanya. Lalu menggeleng dengan lemah. "Kata Kak Bryan, Kak Aiden kritis. Chaca juga gak tau nasibnya gimana. Chaca duluan pulang. Soalnya Chaca gak kuat denger kondisi Kak Aiden." lanjutnya sedih.


Putri ikut sedih dengan apa yang di ucapkan gadis di depannya. "Aku yakin Kakak kamu bakal baik-baik aja Cha. Aku turut sedih pas denger kondisi Kakak kamu." Putri menunduk sebentar sebelum tangannya ia tempelkan pada punggung Chaca. "Kamu yang sabar ya."


Anggukan di perlihatkan oleh Chaca. "Iya Kak." lalu terdengar helaan nafas dari bibirnya, pelan. "Kalo gitu Chaca ke kamar dulu ya. Mau bersih-bersih sebelum ke rumah sakit."


Putri mengangguk. Menurunkan tangannya dari punggung Chaca.


"Eh, Kak Putri gak mau ikut ke rumah sakit?"


"Em," Putri terlihat berpikir. "Kayaknya enggak deh. Aku tunggu di rumah aja." balasnya. Menolak untuk ikut ke rumah sakit.


Chaca membulatkan mulutnya. Ber-oh. "Yaudah. Kalo gitu Chaca ke atas dulu. Chaca duluan ya."

__ADS_1


Putri mengangguk, lagi.


Chaca pun lantas berbalik, memutarkan bola matanya malas sebelum melanjutkan langkahnya kembali. Menuju kamar.


__ADS_2