Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB73: Kegembiraan


__ADS_3

Maaf banget baru up ya guys🥺 Jangan lupa tetep dukung cerita ini dengan like, vote dan komennya!


langsung aja><


HAPPY READING!🥰


"Duh," Chaca tiba-tiba memegangi perutnya, dengan raut wajah mules. "Chaca ke kamar mandi dulu ya Kak?"


Putri mengangguk. "Iya, aku tunggu kamu disini ya Cha."


Chaca ikut mengangguk singkat lalu segera bangkit dari duduknya. Ia perlu ke kamar mandi sekarang. Entah kenapa perutnya mendadak mules seperti ini.


Chaca berlalu dari hadapan Putri dan melangkah cepat menuju kamar mandi di rumah sakit ini. Tempatnya tidak terlalu jauh dari kantin, sehingga memudahkan nya untuk cepat sampai.


Saat sudah ada di depan tujuannya, belum sempat masuk kedalam, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganya dari arah belakang membuat pergerakannya seketika terhenti. Ia segera berbalik, menatap tangannya yang digenggam oleh seseorang itu lalu menatap siapa pelakunya.


"Lo ngapain sih!" Chaca menghempaskan tanganya keras, membuat genggaman ditangannya tadi terlepas begitu saja.


"Lo ngomongin apa sama Kakaknya Kakak Ipar?"


Chaca mendengus sebal, "Gue rasa Lo tau deh apa yang gue omongin sama Kak Putri tadi."


Aiden nampak terkekeh pelan. Ya, yang menarik tangan Chaca adalah dirinya. Dan sekarang posisi mereka sudah saling berhadapan satu sama lain.


"Lo ngomong sama gue jangan suka dengerin pembicaraan orang lain, sedangkan Lo sendiri dengerin pembicaraan gue tadi. Dasar tukang kepo."


Aiden memutarkan bola matanya malas. "Terus sekarang gue tanya sama Lo. Lo percaya sama apa yang di ucapin Kak Putri tadi?" sedari tadi Aiden memang mendengarkan ucapan Putri dan Chaca dari arah kejauhan, ia hanya ingin tau ucapan keduanya dan benar saja, ada sesuatu yang aneh pada Putri.


Chaca nampak berfikir, tak lama ia memiringkan senyumnya. "Percaya!"


Pletak!


"Aw!" keluh Chaca, memegangi kening nya yang di jitak keras oleh Aiden. "Lo ngapain sih jitak kepala gue."


"Biar otak Lo bener lagi," santai Aiden, melipatkan kedua tangannya di dada sembari menatap tajam gadis di depannya. "Lo semudah itu percaya sama dia?"


Chaca menatap Aiden tak kalah tajam. "Iya! lagian juga gue rasa Kak Putri yang lebih cocok sama Kak Bryan, bukannya perempuan itu."


"Ah! sakit Kak!" Rintih Chaca, memegangi kedua tangan Aiden yang menggoyang-goyangkan kepalanya.


Aiden menurunkan tangannya dari kepala Chaca. Ia gemas dengan adiknya ini. "Kek nya otak Lo emang lagi salah tempat deh, Lo percaya gitu aja sama perempuan itu? gue jelasin nih ya, mana ada sih seorang Kakak yang jelek-jelekin adiknya sendiri di depan iparnya?"


"Ada tuh Kak Putri," jawab Chaca, tak terlihat bersalah.


Aiden menghela nafasnya pelan. "Gue gak ngerti lagi sama jalan pikiran Lo Cha."


"Yaudah jangan ngertiin pikiran gue, gitu aja susah," Chaca segera berbalik dan berlalu dari hadapan Aiden. Ia mengambil ponselnya dari saku celana lalu segera menyalakannya. Ia terlihat mengeluarkan smrik-nya kecil, ketika layar ponselnya memunculkan aplikasi rekaman suara.


...***...


Setelah menunggu beberapa jam lamanya, akhirnya Meldi dan Abraham bangkit dari duduknya ketika melihat ruangan di depannya terbuka.


Bryan nampak keluar dari ruangan operasi lalu dan tak lupa menutupnya kembali.

__ADS_1


"Bagaimana Bryan?" Meldi mendekat ke tempat anaknya, diikuti Abraham juga di sampingnya. "Operasinya gimana?"


Bryan tersenyum tipis. "Operasinya berjalan lancar."


"Alhamdulillah." Meldi terlihat menghembuskan nafasnya lega, tak lupa memanjatkan banyak-banyak bersyukur.


"Tapi kita belum memastikan apa operasi ini berhasil atau tidak. Kita bisa lihat hasilnya setelah Elena sadar dan perban di matanya dibuka." lanjut Bryan.


Meldi menghembuskan nafasnya kasar. "Ya, semoga aja Elena bisa melihat lagi, kasian kalo dia terus-terusan seperti ini."


Bryan mengangguk. "Kita berdoa saja. Sekarang Elena akan dipindahkan ke ruangannya."


Meldi dan Abraham ikut mengangguk.


Tak lama setelah Bryan berbicara itu. Pintu operasi kembali dibuka, memperlihatkan seorang wanita keluar dari dalam sana.


"Sudah beres semuanya Dokter." ucapnya menatap Bryan.


Bryan berdekhem. "Pindahkan Elena sekarang."


Wanita yang tak lain suster itu mengangguk. "Baik Dok."


Pintu operasi terbuka lebar, Bryan menyingkirkan tubuhnya dari depan pintu operasi. Nampak brankar Elena melaju keluar dari ruangan ini.


"Yasudah Mamah sama Papah ke ruangan Elena dulu, kamu kalo mau bersih-bersih tubuh, bersih-bersih aja dulu. Biar Elena yang jagain Mamah sama Papah." ujar Meldi.


"Ya, aku akan menyusul nanti." jawab Bryan pelan. Mungkin dirinya akan ke kamar mandi dulu. Pikirannya sangat pusing sekarang prihal Elena dan juga sang pendonor mata.


Meldi dan Abraham berlalu dari hadapan Bryan, mereka akan menemani Elena sampai gadis itu tersadar. Mereka tau Bryan pasti ingin membersihkan tubuhnya karna operasi tadi.


"Jadi bagaimana mana Dok?" seseorang pria muncul dari balik pintu operasi. Ia sekarang berdiri di hadapan Bryan dengan pandangan penuh tanya.


Bryan menghela nafasnya kasar. "Makam kan dia di samping Makam almarhum Pak Dimas."


"Apa Dokter tidak ingin memberitahu keluarganya pasal ini?"


"Aku akan memberitahu keluarga-nya nanti." Bryan hanya tau dua orang keluarganya tapi ia tidak yakin bisa memberitahu soal ini pada kedua orang itu.


Pria dihadapan Bryan itu tak lain adalah bawahan dari Bryan dan juga dokter disini. "Baik Dok." ucapnya dengan mengangguk. "Kalo begitu saya permisi untuk menyiapkan semuanya," setelahnya ia nampak berlalu dari hadapan Bryan.


Bryan memilih diam dan termenung. Ia menunduk, mengambil sesuatu dari saku jas dan menatapnya.


Ditangannya sekarang terlihat ada sebuah amplop kecil berwarna putih.


"Berikan pada Elena ketika dia sudah tau semuanya."


Bryan membolak-balikan amplop ditangannya. Ucapan itu terngiang-ngiang di pikirannya. Ya, itu ucapan Sarah padanya ketika memberikan amplop ini. Ucapan terakhir Sarah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


"Apa Elena bisa menerima semuanya?" gumam pelan Bryan.


...***...


Sekarang semuanya sudah berada di ruangan Elena. Chaca dan Putri pun sudah selesai memakan makanan siang mereka, Bryan pun sama. Ia sudah kembali setelah membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Elena sudah sadar sejak tadi. Wanita itu sudah duduk di ujung ranjang dengan beralaskan sebuah bantal di belakang punggungnya.


"Bagaimana? kau sudah siap?" ucap Bryan pada Elena.


Elena mengangguk. "Siap." ucapnya tersenyum. Perasannya sudah sangat senang sekarang. Ia akan bisa melihat lagi, kegembiraannya sudah tidak bisa di definisikan dengan kata-kata lagi.


Bryan mulai mengunting ujung perban Elena, lalu segera memutarkannya di wajah Elena. Ia dengan perlahan membuka perban di mata gadis ini. Di dalam hatinya ia juga ikut berdoa agar semuanya berhasil.


Semuanya nampak mengeratkan tangannya. Mereka berdoa untuk kesembuhan Elena agar gadis itu bisa melihat lagi.


Putri juga sama. Ia mengeratkan tangannya. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia mengatakan hal lain.


Perban yang mengelilingi mata Elena sudah terbuka sepenuhnya. Bryan sekarang membuka perlahan perban yang menempel tepat di kedua mata Elena. Ia membuka perlahan perban itu lalu menaruh sisa perban di meja samping ranjang Elena.


"Buka matamu perlahan." titah Bryan saat sudah tidak ada perban di wajah Elena.


Elena mengeratkan tangannya. Ia mulai membuka matanya perlahan. Cahaya terang mulai terlihat di penglihatannya. Elena mengatup-ngatupkan bola matanya ketika merasakan matanya sedikit perih karna cahaya itu.


Elena kembali membuka matanya, mencoba untuk terbuka lebar. Saat sudah terbuka, Elena mulai menatap depannya. Awalnya terlihat buram, namun tak lama penglihatannya semakin jelas.


Ia lalu menatap sosok pria di sampingnya.


"Bagaimana?" cemas Bryan.


Elena melebarkan senyumannya. "Saya udah bisa lihat lagi Dok." Ia pun mengedarkan pandangannya pada orang-orang disini. "Saya udah bisa liat lagi." gembiranya.


"Syukurlah." ucap semua orang di ruangan ini, termasuk Bryan.


Bryan segera memeluk Elena. Membuat semua orang disini menatap keduanya dengan sedikit terkejut.


"Syukurlah kau bisa melihat lagi." ucap Bryan, memeluk gadis di depannya erat.


Elena yang merasakan itu ikut terkejut, namun ia hanya tersenyum tanpa membalas pelukan Bryan.


"Ini juga karna Dokter. Makasih ya Dok." ucap Elena berterimakasih atas bantuan Bryan sehingga dirinya bisa melihat lagi. Dirinya pun berterimakasih pada Tuhannya, karna masih mengizinkannya untuk bisa melihat lagi.


Bryan melepaskan pelukannya lalu menatap intens Elena. "Mulai sekarang, kau harus menjaga dirimu. Aku tidak mau kejadian ini terjadi kembali padamu."


Elena mengangguk lemah dengan bibir yang masih senantiasa tersenyum.


Putri menyipitkan matanya. Menatap nanar kedua orang di depannya itu. Dengan segala perasaan yang aneh, ia menepuk kan pelan tangannya dan tersenyum manis.


"Yes! syukurlah operasinya berhasil." tutur Putri bahagia membuat semua orang menatap ke arahnya.


Putri berjalan mendekat kearah Elena, membuat Bryan terlihat segera menjauh dari samping gadisnya itu.


"Aku khawatir banget sama kamu Na," Ucap Putri membelai puncuk kepala Elena. "Tapi syukurnya kamu bisa melihat lagi." lanjutnya tersenyum.


"Makasih udah khawatirin aku Kak, iya alhamdulillahnya masih ada orang yang mau donorin mata buat aku." ucap Elena. Ia masih tidak percaya sang Kakak menjenguknya kembali disini. Apa mungkin Putri benar-benar berubah?


"Em." Putri menatap sekitarnya lalu kembali menatap Elena. "Kalo boleh tau, yang donorin mata kamu itu siapa, Na?"


Elena segera menatap Bryan yang berdiri sedikit jauh di belakang Putri. Entah kenapa pria itu terlihat menghindar.

__ADS_1


"Oh ya Dok, saya juga mau tau siapa ya yang donorin mata buat saya. Dokter pasti tau kan orang itu?"


__ADS_2