Terpaksa Menikahi Dokter Dingin

Terpaksa Menikahi Dokter Dingin
BAB83: Aiden


__ADS_3

Selamat membaca 🥰🥰


"Ciee xixi."


Elena menatap Rere dengan mulut yang masih terbuka. Ia masih terkejut dengan ucapan Bryan yang membuat pikirannya melayang. Ditambah dengan cie-cie an dari anak kecil ini. Membuat wajahnya memerah.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu dari luar terdengar jelas di telinga mereka bertiga. Bryan segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, untuk membukanya.


Ceklek.


"Maaf Tuan, ini orang tua dari anak kecil yang Tuan temukan di lorong rumah sakit," staf itu menunduk, setelah memberitahukan hal itu pada atasannya saat pintu sudah terbuka lebar.


"Papah!"


Melihat sang Papah yang berdiri tegak di luar pintu, membuat Rere turun dari sofa dan berlarian menuju sosok pria itu.


Elena ikut bangkit, dan berjalan mendekat ke tempat Bryan.


"Duh sayang, maafin Papah ya? Papah lagi cemas sama Mamah kamu jadi ngelupain kamu tadi, "balas pria dewasa itu, dengan menggendong Rere di tangannya ketika sudah saling berhadapan. Sambil mengelus-ngelus puncuk kepala sang anak, ia menatap orang yang telah menemani anaknya hingga ia jemput kesini. "Makasih ya Tuan, telah menjaga anak saya. Maaf sekali lagi ngerepotin."


Posisi mereka saling berhadapan di depan pintu ruangan Bryan.


Bryan menatap pria itu dengan datar, lain dengan ekspresi yang di tunjukan Elena.


"Sama-sama Pak. Lain kali di jaga ya, takutnya malah ketemu sama orang jahat disini. Kasian masih kecil, takut di bawa sama orang yang gak punya hati." jawab Elena, dengan tersenyum hangat. Sedikit melirik Bryan di akhir kalimatnya.


"Iya Nona, maaf sekali lagi. Soalnya Mamahnya lagi lahiran, saya jadi cemas karena ini belum tanggal lahiran yang di tentuin dokter. Karena lalai dan juga anggota keluarga lainnya belum pada dateng akhirnya anak saya hilang dari pantauan saya." lanjut pria yang notabenya adalah Papah dari 'Rere'.


Elena mengangguk. "Gapapa, Kita juga tadi main bareng di dalam, ya kan Re? lincah banget anaknya. Gemes saya jadinya." kekeh Elena.


Pria itu pun ikut terkekeh. "Ya begitulah, anaknya turun temurun sama Mamahnya. Mirip. Hehe."


"Yasudah kalo begitu saya duluan ya Tuan, Nyonya, saya mau lanjut temenin istri saya." Pria itu menatap anak yang ia gendong. "Dadah dulu sama Tante sama Om nya?" ujarnya, memberi perintah.


Rere tersenyum manis. Menatap kedua orang yang telah menjaganya tadi. "Makasih Kakak cantik, Om dingin. Lele doain deh bial bikin dedeknya lancal nanti. Lele pelgi dulu ya? Dadah!!"


Setelahnya, Bapak dan anak itu pergi dan berlalu dari hadapan pasangan pasutri itu. Diikuti staf yang mengantar orang tua dari Rere.


Tersisa lah Bryan dan juga Elena di dekat pintu. Keduanya terdiam, setelah mendengar tuturan dari Rere.


"Aku harus bekerja," Bryan melirik Elena, setelah sekian lama terdiam. "Kau tetap diam disini. Jangan kemana-mana."


Elena mengangguk, singkat. Mencoba menghapus ucapan Bryan soal 'anak' tadi.


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Bryan segera berlalu dari hadapan Elena. Berjalan menjauh dari ruangannya.


Elena yang melihatnya hanya terdiam. Hembusan nafas terdengar di bibirnya. Karena merasa pegal, ia lantas menutup pintu ruangan Bryan dari dalam dan berjalan kembali menuju sofa. Istirahat sebentar tidak masalah bukan?


Sampai di tujuannya, matanya tiba-tiba menangkap sebuah majalah di meja samping sofa, tempat yang sudah ia duduki. sekarang. Penasaran, Elena pun mengambil majalah itu dan membukanya.

__ADS_1


"Dokter Bryan mau beli rumah kali ya?" gumam Elena, menatap majalah yang sudah ada di tangannya. Bukan majalah sih, lebih tepatnya seperti sebuah buku yang isi di dalamnya adalah berbagai macam interior rumah. Tapi untuk siapa?


Tanpa mau berpikir lagi, Elena menaruh kembali buku itu lalu menaikkan kakinya ke atas sofa. Dirinya akan tidur sebentar disana. Semoga saja saat dirinya terbangun nanti, Bryan belum datang ke ruangannya. Agar Elena tidak malu jadinya.


...***...


12:00.


Elena terbangun dari tidurnya. Saat merasakan kram di kakinya.


Dengan bangkit dari tidurnya, Elena meregangkan kakinya ke bawah lantai. Mencoba menghilangkan kram itu.


"Shh, salah tidur kali ya," Keadaan sofa yang sempit membuat kakinya tidak sepenuhnya leluasa bergerak. Elena lantas menatap jam dinding yang menggantung indah di atas nakas di depannya. "Jam dua belas siang?" lanjutnya, pada dirinya sendiri.


Tatapannya mulai mengedar ke sekeliling ruangan ini. Kosong. Pria itu ternyata belum kembali dari kerjaannya. Membuat Elena bernafas lega.


Diam duduk sebentar, Elena langsung bangkit dan melangkah menuju meja kerja Bryan. Tidak ada sesuatu yang menarik disini, membuatnya sangat bosan.


Saat sampai pada meja Bryan. Matanya tak sengaja menangkap sebuah bingkai kecil di atas meja. Lalu ia pun mengambil bingkai tersebut dan mengenggamnya di tangannya.


Mata Elena seketika membulat. Pandangannya tak dapat berbohong sekarang, dirinya terkejut bukan main.


Untuk apa fotonya ada di meja kerja Bryan?


Memandangi figura itu dengan lekat. Untuk apa Bryan memajang fotonya disini? melihat dari tekstur figura itu, sepertinya dirinya kenal.


Elena terdiam sesaat, memikirkan sesuatu. Saat sudah sadar, ia pun membuang nafasnya kasar. Ini adalah figura miliknya. Pantas saja dirinya sampai sekarang tidak melihat keberadaan fotonya di rumah maupun di kamar. Ternyata figura ini dibawa oleh Bryan ke sini.


Menyimpan figura itu kembali ke tempatnya, Elena segera melihat yang lain. Matanya mengarah pada sesuatu amlop yang ada di sebelah figura miliknya.


"Apa ini?" gumamnya pelan, membawa amplop itu ke tangannya lagi.


Ia pun membolak-balikkan amplop berwarna putih itu lalu menemukan tulisan tepat di pojok depan amplop tersebut.


Dari Sarah, untuk Elena.


Deg!


Tulisan itu membuat otaknya mendadak terhenti.


Sarah?


Penasaran kian menyelimuti hatinya. Merasakan ada sesuatu, Elena berniat membuka amplop itu. Tapi sebuah gebrakan pintu yang tiba-tiba membuat niatannya terhenti.


BRAK!


Elena menatap pintu yang berada jauh di depannya, ia segera memasukan amplop itu ke sakunya. Terlebih dahulu ia melipatkannya kecil-kecil, agar muat di sakunya.


"Kakak ipar!"


Dahi Elena mengerut. Mendapati sesosok gadis yang ia kenal tengah menatapnya dengan pandangan seperti khawatir.

__ADS_1


"Chaca?" untuk apa adik iparnya kesini? "Kamu ada disini?"


Chaca nampak menarik nafasnya panjang-panjang. Menatap Elena dalam, seperti orang yang sedang terburu-buru. "Kak Aiden!"


"Aiden? kenapa?" tanya Elena, masih diam di tempatnya.


"Huh..huh.." Chaca terlihat masih menormalkan nafasnya. "Itu, Kak Aiden. Kritis!"


...***...


Elena dan Chaca segera menghampiri sebuah ruangan UGD di rumah sakit ini. Setelah Chaca memberikan kabar soal Aiden tadi, mereka berdua segera berlari menuju ruangan itu. Yang tempatnya tidak terlalu jauh dari ruangan Bryan.


"Mah?" Elena berdiri tepat di samping Meldi. nampak mertuanya itu menatapnya sendu.


"Sayang?" Meldi menatap Elena sedih, terlihat matanya saja sembab, mungkin karena menangis.


Merasa tak tega, Elena segera membawa Meldi di dalam pelukannya. Ia tau, pasti mertuanya khawatir dengan sosok Aiden. Apalagi kata Chaca, Aiden di temukan tidak sadarkan diri di kamarnya dengan busa yang keluar dari mulutnya.


"Mamah yang sabar ya? Elena yakin Aiden pasti bakalan baik-baik aja," Elena mencoba memberi kekuatan untuk Meldi.


Tak lama, Meldi melepaskan pelukannya. Menatap Elena lekat. "Iya, Mamah juga yakin, anak itu bakal baik-baik aja. Aiden orangnya kuat," balasnya dengan menghapus jejak air mata di pipinya. Meldi dan Abraham kesini karena mendapat kabar dari bawahannya jika Aiden masuk UGD, alhasil dengan segera keduanya meninggalkan pekerjaan mereka, dan meluncur ke rumah sakit ini.


Elena mengangguk, mendengar tuturan Meldi. Ia pun menatap Papah mertuanya yang berdiri di hadapannya. Yang nampaknya juga sangat khawatir dengan kondisi Aiden.


Mendadak pintu UGD terbuka dengan lebar. Menampilkan sesosok pria dari dalam. Ya, siapa lagi jika bukan Bryan?


Elena menatap Bryan yang mulai keluar dari ruangan itu. Pantas saja Bryan tidak kembali-kembali ke ruangannya. Mungkin karena mendapati kabar tentang Aiden, Bryan segera memeriksa adiknya itu. Tapi kenapa Bryan tidak mengabarinya juga?


"Gimana Yan?! Itu gimana adik kamu?!" Meldi berjalan mendekat ke tempat Bryan. Dengan pandangan sangat khawatir.


"Gimana keadaan Aiden? dia baik-baik aja kan?" Abraham pun sama.


Bryan menurunkan masker di mulutnya ke dagu lalu menatap keluarganya, termasuk Elena. "Aiden baik-baik aja. Untung dia cepat di tangani dan di bawa ke rumah sakit. Jika tidak, kita gak tau nasib dia gimana nanti." tiba-tiba suara Bryan melemah, ia pun ikut khawatir dengan kondisi sang adik.


"Kak Aiden kenapa bisa sampai gitu Kak?" sahut Chaca, bertanya.


Pandangan Bryan pun teralihkan pada asal suara itu. "Keracunan makanan."


Abraham terlihat mengepalkan tangannya. "Pasti karena ulah maid. Papah akan kasih pelajaran buat mereka semua." tatapan Abraham seketika menghitam.


Meldi yang merasa akan terjadi sesuatu langsung berdiri di samping suaminya, dan memegang tangan Abraham. "Udah Pah, jangan asal nuduh dulu. Lebih baik kita pikirin dulu Aiden, soal kenapa Aiden bisa gitu kita urus belakangan." Meldi takut jika Abraham tidak bisa mengontrol emosinya.


Abraham menatap Meldi lekat. "Ini gak bisa di diemin gitu aja! karena merek-"


Ucapan Abraham seketika terhenti, ketika ada suara yang memotongnya.


"Serahin aja sama Chaca." timpal Chaca, menarik smrik di bibirnya. Menatap sang Papah. "Papah sama Mamah jaga aja Kak Aiden disini, biar ini semua jadi urusan Chaca."


Elena menatap diam Chaca. Menatap gadis itu dengan lekat. Perasannya tiba-tiba di landa ketakutan.


Saat Chaca sudah berpamitan untuk pulang ke rumahnya dengan alasan terselubung, Elena pun diam-diam ikut mundur dari tempatnya dan menjauh dari keluarga mertuanya itu.

__ADS_1


__ADS_2