Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 10 - Komandan Simon


__ADS_3

Semua orang tengah terlelap tidur, hanyut dalam mimpi masing-masing. Udara yang terasa dingin di saat sepertiga malam, Suci sudah terbiasa bangun dan melaksanakan sholat tahajud. Dia menggeliatkan tubuhnya dan sesekali menguap, segera beranjak dari tempat tidur yang hanya beralas tikar. Mengenakan sandal menuju kamar mandi yang dibuat dengan seadanya, melangkahkan kaki dan melawan rasa kantuk yang menghampirinya. 


Kesunyian malam, angin yang menerpa wajah yang terasa sejuk di kulit. Jarak kamar mandi dan penginapan kurang lebih dua puluh meter, Suci memilih untuk menikmati perjalanannya dengan suasana sunyi. 


Beberapa saat kemudian, Suci membuka pintu kamar mandi dan masuk setelah membaca doa. Menimba air sumur dan mengambil air wudhu dengan khusuk, sebelum melaksanakan sholat di sepertiga malam yang tenang. 


Suci hendak keluar dari kamar mandi setelah berwudhu, tapi terdengar suara tapak kaki beberapa orang yang berlari membuatnya penasaran dan juga takut menjadi satu. Berdoa di dalam hati untuk keselamatan semua orang dan juga dirinya, dia bersembunyi di balik pintu. Melihat keadaan sekitar lewat celah dinding, dia sangat terkejut dan segera menutup mulut menggunakan tangan agar tak menimbulkan curiga juga bersuara. "Itu tentara Israel, mengapa mereka ada disini?" batinnya yang sangat ketakutan, tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan semua orang dan berlindung diri dari musuh. 


Tentara Israel membawa perlengkapan, seperti  senapan panjang, dan belati yang terlilit di pinggang. Siapa yang tidak takut dengan situasi dialami Suci. Keringat dingin menyertainya membasahi dahi, tubuh gemetaran melihat ada tiga orang tentara yang berkeliaran di tempat itu.


Suci terus berdoa walau dia tahu jika berada di tempat yang tidak tepat, memohon kepada sang pencipta alam semesta untuk menyelamatkan nyawa semua orang. "Ya Tuhanku, hamba sangat takut jika berada di posisi ini. Tolong lindungi saudara-saudariku, juga anak-anak asuhku disana, berikan keajaiban dan lindungilah kami dari segala marabahaya, Aamiin." 

__ADS_1


Sementara di sisi lain, seseorang mencoba untuk menghentikan ketiga tentara agar tidak menyerang di kawasan itu, mereka fasih dalam berbahasa Ibrani, sudah pasti orang-orang Yahudi Israel. "Siapa kamu? Jangan menghalangi atau kamu akan di tembak!" ancam salah satu tentara Israel yang menodongkan senjata, tatapan tajam dengan wajah sangar. Mengarahkan senapan panjang mengarah pada pria yang memakai jubah, sorban di kepala menutupi wajah yang hanya menyisakan mata. 


"Pergilah ke tempat lain, jangan membunuh mereka!" titahnya dengan lantang, melihat lencana ketiga tentara dan tersenyum tipis. 


Mendengar seorang pria yang juga bisa bahasa Ibrani membuat ketiga tentara Israel saling melirik satu sama lainnya, mengerutkan kening karena rasa penasaran. Selama mereka menguasai beberapa wilayah yang sudah ditaklukkan, ini kali pertama menemukan orang yang juga fasih dalam bahasa Ibrani. "Siapa kamu sebenarnya? Apa kamu Yahudi?" 


Tidak ada cara lain, pria itu membuka sorban yang selama ini menutupi wajahnya, hanya memperlihatkan mata biru. Ketiga tentara itu sangat terkejut, hampir tak percaya dengan apa yang ada di hadapan. "Komandan Simon, maafkan kami yang lancang!" ketiga pria yang berseragam itu segera bertekuk lutut, tak tahu jika pria yang lengkap berpakaian seperti pria islam merupakan sang komandan yang ditakuti. 


"Maaf Komandan, kami tidak akan menyerang mereka juga membantai." Patuh salah satu tentara yang menundukkan kepala.


"Ya, jika itu terjadi? Aku yang akan membantai kalian, sekarang pergilah!" usir Zaid alias Simon, dia sangat marah. Untung saja segera mendapatkan informasi dari informan kepercayaan mengenai penyerangan secara diam-diam, membantai orang-orang dengan keji. 

__ADS_1


Ketiga tentara itu menundukkan kepala, ada guratan kekecewaan dengan perintah itu. Mereka hanya ingin bersenang-senang dengan membantai anak-anak dan juga para relawan, memusuhi umat muslim di negara itu. "Tapi Komandan, kami hanya menjalankan perintah dari pusat untuk meratakan tempat ini!" ucap salah satu pria yang berseragam, mendongakkan kepala bentuk perlawanan. 


Plak


Terdengar suara tamparan yang sangat keras terdengar, begitu nyaring di telinga. Zaid alias Simon sangat marah dengan penuturan bawahannya, membenci pria yang melanggar aturan etos kerja di milikinya. "Lancang sekali lagi kamu mengatakan itu? Aku tidak segan-segan membunuhmu," tekannya.


"Mengapa Komandan melindungi mereka yang jelas-jelas musuh kita?" bantah nya seraya melemparkan tatapan sinis. 


"Itu bukan urusanmu, pergi dari sini! Jangan pernah kalian mendekati kawasan ini jika masih menyayangi nyawa." 


Ketiga tentara itu hanya diam dan segera pergi meninggalkan tempat itu, kecewa dan sakit hati dengan perlakuan Zaid yang berstatus Komandan Simon. 

__ADS_1


__ADS_2