
Zufar masuk ke dalam ruangan bersama dengan Suci, memeriksa kehamilan dan melihat pertumbuhannya. Sudah menanti kabar yang membahagiakan itu selama delapan tahun yang lalu, menunggu lama saat momen itu terjadi. Sementara Siska masih berada di luar ruangan, masuk bergiliran di temani satu suami membuat orang lain terkesan. Pandangan orang-orang mengenai sang suami yang mempunyai dua istri dan keduanya dalam keadaan hamil.
"Kamu lihat wanita dengan purut buncitnya itu?" gosip Tutik yang mengantarkan anaknya untuk periksa kehamilan.
"Iya, memangnya ada apa?"
"Dua orang istri yang sama-sama mengandung," bisik Tutik semakin membuat pengunjung lainnya penasaran.
"Wah, ternyata suaminya ampuh. Bisa menghamili kedua istrinya, apa yang di luar itu istri pertamanya?"
"Bukan, dia itu pelakor. Aku kenal dengan istri pertamanya yang sholehah, bukan seperti dia. Lihatlah penampilan sang pelakor, dari atas sampai bawah semuanya serba kekurangan bahan, depan belakang menonjol." Ujar Tutik yang sangat antusias, menyukai gosip terkini mengenai dua istri yang tinggal satu atap.
"Mengapa suaminya malah memilih menikah?"
"Mungkin kurang servis."
__ADS_1
Siska sedari tadi mendengar sayup gosip dari salah satu ibu-ibu yang tinggal di komplek yang sama, dia sangat kesal dan geram jika dirinya dikatakan sebagai pelakor. Segera menghampiri tiga orang yang tengah duduk di kursi tunggu, menolak pinggang sembari menunjuk Tutik sebagai biang kerok. "Heh, apa kalian pikir ini tempat bergosip, hah? Urus saja urusan kalian dan berhentilah menggosip," tegasnya.
Tutik hanya mencibir, menatap sang pelakor sinis karena tak menyukainya. "Pasti kamu pakai pelet, bisa mendapatkan suami orang. Dasar pelakor!"
"Itu urusan saya, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan situ. Lebih baik kalian diam," bentak Siska dengan nafas tersengal-sengal, tidak menyukai cibiran dari orang lain, dan segera pergi dari tempat itu.
"Huu…dasar pelakor tak tahu diri," cibir Tutik yang menyoraki kepergian Siska.
Siska pergi dalam kemarahan, telinga terasa panas saat serentetan cibiran dari ibu-ibu komplek yang sedang membawa anaknya ke dokter kandungan.
Sementara Suci tersenyum haru dan meneteskan air mata, menggenggam tangan sang suami yang berada di sampingnya. Gambar yang masih segumpal darah, begitu membahagiakan mereka, tak sabar untuk menunggu kelahiran dari sang buah hati.
Suci dan Zufar saling menatap beberapa detik, mereka senyum terharu. "Itu anakku, Dok?"
"Benar, masih belum berbentuk. Usahakan untuk mengontrol USG sekali sebulan atau tiga kali dalam trisemester, dan di bulan keempat anda bisa mengetahui jenis kelamin dari anak yang dikandung."
__ADS_1
"Semoga saja bayinya laki-laki, Dok. Tentu saja untuk menjadi penerus pekerjaan dan usahaku," terang Zufar yang membuat Suci termenung.
"Tergantung rezeki yang diberikan oleh Tuhan, laki-laki ataupun perempuan itu tidak masalah, yang pasti anaknya sehat di dalam kandungan."
"Entahlah, aku lebih menyukai anak laki-laki dibandingkan perempuan." Zufar terus bersikeras mengenai jenis kelamin calon anaknya yang akan lahir, hal itu membuat perasaan Suci menjadi sakit hati karena sang suami masih saja tidak memahami penderitaannya menjadi calon seorang ibu. Ketidakpekaan dari pria itu, sekali lagi menghancurkan apa yang dia bangun.
"Laki-laki ataupun perempuan bagiku sama saja, yang penting dia sehat dan juga selamat." Suci mencoba untuk mengungkapkan pendapatnya, tetapi pria itu masih tetap bersikeras menginginkan anak laki-laki.
"Tidak sama, Suci."
"Bagaimana jika anak kita perempuan, apa kamu tidak akan menerimanya?"
Zufar terdiam karena sudah menyakiti hati istrinya, namun ego yang besar membuatnya kembali memenangkan dirinya sendiri. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Anak dari Siska itu laki-laki, jika anakmu juga laki-laki aku pasti sangat bahagia."
"Ya sudah, Dok. Terima kasih!" tutur Suci sembari menikah air matanya yang terjatuh, dia keluar dari ruangan dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Siska tersenyum di saat dia menyaksikan kejadian itu, walaupun usaha yang dibuatnya kemarin sempat gagal. "Berarti aku tidak perlu menggunakan cara itu, karena bayi yang ada di dalam perutku ini akan menjadi jembatan antara aku dan juga mas Zufar. Untung saja aku mendapatkan bayi laki-laki, jika tidak entah bagaimana nasibku nanti, dan aku berdoa agar Tuhan memberikan Suci anak perempuan." Dia masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah yang tersenyum sumringah, wajah berbinar cerah dapat terlihat begitu jelas dia meminta sang dokter untuk memeriksa kehamilannya.
Suci menangis sejadinya di dalam mobil, baru saja mendapatkan cinta suaminya kembali, dan kebahagiaan akan menjadi seorang ibu pupus hanya dalam beberapa menit saja. "Apa perkataan mas Zufar yang mencintai ku itu hanya dusta?" monolognya yang sesegukan.