Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 38 - Rencana licik


__ADS_3

Siska kembali memakai pakaiannya, menatap pria yang tengah tersenyum ke arahnya. "Kau brengsek!" umpat nya kesal, karena pria itu selalu saja menang darinya.


"Semua adil, karena akulah yang menjadi pemain di balik layar. Berhentilah mengeluh, dan jalani saja apa yang sudah kamu dapatkan." Jawab pria itu yang masih tersenyum kemenangan, menyukai wajah kesal dan pelototan mata dari wanita itu.


"Cukup mudah dalam berbicara, kamu selalu saja menekanku. Berhentilah meminta uang dariku!" 


"Itu harga yang pas, butuh biaya yang sangat besar untuk melancarkan rencanamu yang sangat licik. Pertemuan mu, kehamilanmu, semuanya aku yang mengatasinya. Untung saja aku bisa menyabotase situasi itu, dan kamu malah menyalahkan aku?" Anton menunjuk dirinya sendiri dan menggeleng. Dia berdecak kesal tak memahami pola pikir Siska yang hanya menghitung tindakannya dibandingkan dirinya yang sangat kesulitan menangani masalah.


"Sudahlah, percuma aku berdebat denganmu." Ketus Siska tak ingin berdebat, lebih tepatnya tak ingin membuat Anton yang bisa melawannya kapan saja. "Jika saja jasanya tidak di butuhkan, sudah aku pastikan pria ini menjadi gembel." Batinnya tersenyum miring.


Anton dan Siska merupakan pasangan kekasih dari desa, dimana pertemuan mereka dengan Zufar yang juga berada di desa yang sama. 


Mereka membuat rencana untuk menjebak pria kaya dengan tipu muslihat, dan menjebaknya hingga dirinya agar hamil anak pria kaya itu. 


Siska meminta pertanggungjawaban dari Zufar dan juga mengancamnya, karena banyak bukti yang menyalahkan dirinya yang terpaksa menikah. Sekarang sudah menjalani bahtera rumah tangga selama setahun, menerima semua pukulan, hinaan, dan caci maki tak memundurkan langkahnya. 


Sikap yang kasar membuat Siska kehilangan bayinya, hal itu ingin dimanfaatkan Zufar agar bisa bercerai. Namun, dirinya sangatlah licik hingga masih bertahan dan kembali dinyatakan positif hamil, menghalalkan segala cara untuk mencengkram suaminya. Lagi dan lagi janin yang berada di perutnya kembali keguguran akibat kekerasan dalam rumah tangga, tak ingin semua rencananya sia-sia dengan terpaksa menggunakan kehamilan palsu atas bantuan kekasihnya. 

__ADS_1


Anton juga memberi sejumlah uang dengan memalsukan kehamilan Siska, begitu banyak upaya agar rencana mereka berhasil. Menyewa seorang wanita di balik ruangan untuk melakukan USG dan membayarnya, layar monitor memperlihatkan hasil yang sebenarnya milik wanita di sebelah.


Seolah-olah di layar monitor itu anak yang dikandung oleh Siska. 


Zufar memang menemani istri keduanya untuk USG di kali pertamanya, bisa mengetahui jenis kelamin karena hasil pemeriksaan palsu yang pernah diberikan Siska. Sebenarnya dia sangat enggan untuk melihat anak itu, tidak tertarik dan tidak fokus di saat pemeriksaan. Perhatiannya hanya pada ponsel dan sesekali melirik monitor untuk memastikan apa yang dijelaskan oleh sang dokter, hal itu malah semakin membuat Siska bergerilya dengan memanfaatkan situasi. 


"Kamu wanita yang sangat angkuh, uang yang kamu berikan juga tidak cukup menyogok dokter itu." Anton menatap Siska, mengeluh dengan uang yang hanya sedikit.


"Ck, aku juga sudah memberimu kartu atm." Ucap Siska tak ingin mengalah. "Ingat! Jangan meneleponku!" ancamnya yang segera pergi dari tempat itu. Dia sangat kesal, kekasihnya itu selalu saja mengancam dirinya. "Lihat saja, bagaimana aku akan menyingkirkan Anton. Menjadi istri Zufar sangatlah menyenangkan, aku bisa berbelanja apapun itu. Tapi satu masalahnya, Suci. Wanita sok alim itu, aku harus menyingkirkannya demi mendapatkan tujuanku." Batinnya tersenyum smirk. 


****


Keesokan harinya, Suci kembali memasak untuk sarapan pagi, dia menyiapkan segalanya dengan sangat baik. Sarapan yang sudah dibuat sejak subuh, karena tak ingin suaminya bekerja dalam keadaan perut kosong. 


Setelah semua sudah tersaji, dia mengelus perutnya. Merasa mendapatkan kekuatan untuk bertahan demi sang calon buah hatinya yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah.


Tak lama, Zufar berjalan ke arahnya sambil tersenyum, dia segera melayani suaminya dengan sangat baik saat sarapan. Mengambil makanan dan meletakkannya di atas piring, memberikan secangkir teh sudah menjadi rutinitasnya. 

__ADS_1


"Siska tidak turun?" tanya Suci yang celingukan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin masih tidur, biarkan saja."


"Hem, iya Mas."


"Suci, apa kamu jadi membuka toko kue dan roti?" 


"Jadi Mas."


Zufar segera mengeluarkan kartu atm khusus untuk Suci, karena selama ini uangnya tidak pernah di foya-foyakan oleh istri pertamanya, sangat berbeda dengan istri kedua. "Selama ini kamu belum pernah meminta uang banyak padaku, simpan saja kartu itu. Jika kurang, kamu bisa memintanya lagi."


"Terima kasih, Mas." Suci sangat senang, mengingat dirinya akan menjalankan hobi baru. Membuat kue dan beberapa jenis roti untuk tabungannya di masa depan. 


Suci juga menyiapkan pakaian kantor suaminya, tak lupa mengantarkan sampai di depan pintu utama. Dia mencium tangan Zufar yang menghargai status pria itu, dan tak bisa menolak jika keningnya di kecup. Melambaikan tangan di saat sang suami masuk ke dalam mobil yang mulai menjauh.


"Aku tidak punya pilihan lain selain menerima kartu ini," gumamnya yang ingin bangkit dari rasa keterpurukan, demi sang buah hati. 

__ADS_1


__ADS_2