
Mirza tersenyum dengan sikap dari kakak iparnya, jika wanita berhijab itu sangat kesal dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba. Segera berjalan menghampiri. "Kamu mendapatkan setengah harta milik Zufar berhasil kamu dapatkan. Belum lama juga kakakku meninggal, dan kamu malah jalan dengan pria lain. Apa itu kekasihmu?" tanyanya dengan penuh penyelidik, dia tahu jika Suci menghabiskan waktu di restoran karena dirinya mengawasi wanita itu.
"Kamu membicarakan harta di hadapanku? Tidak ada rasa malu yang timbul dan terbesit di hatimu, apa karena itu kamu datang ke sini?" balas Suci sembari menatap pria berjas di hadapannya.
Mirza tertawa dengan puas, mendapatkan jawaban dari apa yang dia inginkan, walau tidak dikatakan oleh Suci secara langsung. "Kamu wanita yang munafik, hanya mengintai harta dari kakakku. Untung saja aku tidak jadi menikah denganmu."
"Aku sangat kasihan kepadamu, menilai sesuatu dari luarnya saja. Kau bahkan tidak mengetahui apapun mengenai diriku, dan malah menuding jika aku wanita yang munafik. Aku tak mempermasalahkan hal itu, hanya saja sebelum menilai seseorang lihatlah dulu apa yang sebenarnya terjadi!" tukas suci dengan raut wajah yang datar, dia tidak ingin terlibat dengan pria itu.
"Seharusnya kamu bersyukur bukan malah menjadi semakin sombong, kamu pasti bahagia dengan kematian dari kakakku, sungguh pria yang sangat malang. Bahkan kuburannya masih basah, tetapi istrinya malah jalan dengan pria lain, dasar wanita murahan dan tidak tahu malu!" tekan Mirza yang mengejek, tanpa menghiraukan bagaimana perasaan di hati Suci
"Sudah cukup jika kamu hanya ingin memfitnahku, sebaiknya pergilah dari sini. Aku tahu, kamu pasti kesal karena tidak ada warisan yang tersisa dari suamiku. Aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan mengenai diriku, dan aku juga bersyukur karena pada saat itu kamu pergi di hari pernikahan, sekarang aku melihat watakmu yang asli." Jelas suci yang mencoba untuk memberi pria itu perkataan dengan membalasnya pedas.
__ADS_1
Mirza saya sangat kesal hingga merapalkan kedua tangannya dengan erat, jika wanita berhijab di hadapannya bukanlah wanita yang dia cintai, sudah pasti dia memukulnya dengan sangat keras. "Kamu membuat kesabaranku habis, apa hebatnya Zufar bandingkan aku? Katakanlah dia menggantikan posisiku di saat itu, jangan menutupi kesalahannya yang begitu fatal. Membawa wanita asing kebrumah dan mengakuinya sebagai istri kedua." ucapnya dengan penuh selidik, sembari memojokkan posisi dari wanita berhijab yang berada di hadapannya.
Suci membalas itu dengan senyuman di wajahnya, tidak mengerti pikiran dangkal dari adik ipar. "Aku harap kamu mengerti, entah itu sampai kapan. Tapi, aku sangat mengharapkannya kamu berubah menjadi lebih baik lagi. Karena apa? Du satu sisi kamu menginginkan harta suamiku, dan di sisi lain kamu juga menginginkan jika kita masih bersama dengan menuduhku. Apa keuntungan yang kamu dapatkan dari ini? Apa karena harta yang membuat egomu semakin besar?"
Mirza berdecak kesal, karena Suci mengetahui niat yang sesungguhnya. dia sangat cemburu jika wanita itu jalan dengan pria lain selain dirinya, padahal dia sudah mempunyai rencana untuk melamar kakak iparnya itu. "Ya, kau berkata benar."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, hubungan kita hanya sebatas adik dan juga kakak ipar, jangan melampaui batas lebih dari itu. Mengenai permasalahan harta, itu sudah menjadi wasiat suamiku dan akan aku jaga amanatnya!" tegas suci yang segera berlalu pergi meninggalkan Mirza yang semakin geram dengan perkataannya, tapi dia tidak menghiraukan dan juga menggubris.
Mirza melihat kepergian dari Suci dan sangat kesal jika wanita itu menolaknya secara mentah-mentah tanpa disadari. "Aku akan membuatmu menjadi milikku, kamu begitu membanggakan suami penyakitan mu itu. Lihat saja!" batinnya yang juga segera pergi dari toko roti.
Satu bulan berlalu dengan begitu cepat, Suci yang tengah bersantai di rumah tiba-tiba mendapat tamu yang datang ke rumahnya. Terlihat seorang pria yang selama ini menemani suaminya, yaitu asisten Doni. Dia segera mempersilahkan pria itu untuk masuk dan menjaga jarak.
__ADS_1
"Ayo duduklah, aku akan menyajikan teh untukmu,"tawar suci yang disetujui oleh asisten Doni.
Suci segera berlalu pergi menuju dapur, menyeduh teh dan juga cemilan kecil untuk pria yang telah menemani suaminya. Setelah selesai, dia segera berjalan menghampiri asisten Doni dengan membawa nampan menyajikan teh dan juga cemilan kecil. "Silakan diminum."
"Iya, terima kasih." Sahut asisten Doni yang menyeruput teh.
Setelah beberapa saat, Suci mulai menanyakan kedatangan dari pria itu, dia tidak tahu mengenai maksud dan tujuan. "Maaf sebelumnya, apa yang membuatmu datang ke sini?"
Asisten Doni meletakkan cangkir teh di atas meja, mulai tersenyum dan mengeluarkan beberapa berkas yang sudah menjadi milik Suci. "Aku datang hanya ingin menyampaikan amanat dari mendiang tuan Zufar, dia ingin jika kamu memegang tanggung jawab di kantor. Semua surat-surat kepemilikan sudah pindah nama," jelasnya.
"Apa? Jadi aku yang akan menjadi bos di perusahaan itu?"
__ADS_1
"Benar, mulai sekarang kamu adalah penerus perusahaan Mitra Group, dan aku akan membimbingmu sebagai guru dan juga asisten."
"APA?"