
Suci masih sangat takut, tapi berusaha untuk mengontrol dirinya. "Aku tidak apa-apa," jawabnya tanpa menoleh.
"Tenangkan dirimu, itulah yang aku maksud. Jangan berkeliaran seorang diri, kamu itu seorang wanita yang bisa menjadi mangsa tentara yang berjaga di kawasan yang tak jauh dari sini." Jelas Zaid.
Suci terdiam, karena egonya hampir saja di lecehkan. Tak bisa di pungkiri, jika di hatinya juga tak bisa pergi bersama pria asing yang bukan suaminya. "Aku hanya menjauh dari fitnah, itu saja."
Zaid menghela nafas, tidak bisa menyalahkan sepenuhnya keegoisan pria itu. "Aku sudah memperingatkanmu untuk masalah ini, selanjutnya kamu tentukan sendiri."
"Baiklah, aku ikut denganmu."
"Bagus."
Zaid mengendalikan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengantarkan wanita yang menjadi relawan baru. Tidak ada obrolan di antara mereka, hanya terdengar suara mesin mobil.
Tak butuh waktu yang lama, mobil berhenti. Zaid segera turun dan membukakan pintu, menjadi pusat perhatian semua orang. "Tidak, terima kasih. Aku bisa sendiri!" Tolak Suci yang tak ingin bersentuhan, hanya menyatukan kedua tangan di depan dadanya.
Zaid terlihat kecewa, tepi segera menutupinya. "Baiklah, sesuai perkataanmu."
Suci segera turun dari mobil, dengan cepat disambut oleh Melati. "Terima kasih sudah mengantarnya, Tuan."
"Hem, aku pergi dulu."
__ADS_1
Melati menganggukkan kepala, melihat kepergian pria berkerudung sorban yang hanya menampakan mata biru. Perhatian segera teralihkan pada relawan baru di sampingnya, dengan cepat dia membawa ke penginapan dan mengistirahatkan tubuh lemah dan terlihat pucat.
"Beristirahatlah, aku pergi dulu!" pamit melati yang menutup pintu membiarkan wanita berkerudung pastel untuk beristirahat.
Suci tidak bisa beristirahat dengan tenang memikirkan kondisi janin yang ada di perutnya yang belum diketahui oleh ayah biologis, mengenai harapan untuk kembali bersama dengan sang suami. Namun di hati kecilnya masih ada sebuah penolakan karena tak ingin dimadu, rasa sakit dan bahagia yang dirasakan berpadu menjadi satu. Dia mengeluarkan ponsel yang sederhana bimbang antara ingin menghubungi Zufar atau tidak. "Dia ayahnya, dan aku tidak akan menutupi kabar kehamilan ku. Tapi bagaimana dengan kasih sayang yang akan berkurang, istrinya bukan hanya aku."
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menelpon suaminya, memberitahukan mengenai kabar bahagia yang akan dia berikan. Suci tersenyum senang, karena penantiannya akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis.
"Assalamu'alaikum, aku ingin bicara dengan mas Zufar."
"Maaf, ini siapa? Ada perlu apa dengan suamiku?"
"Mbak Suci?"
"Ya,ini aku. Berikan ponselnya kepada mas Zufar!"
"Begini mbak, mas Zufar tidak ada di rumah dia meninggalkan ponselnya di rumah. Apa ada yang ingin disampaikan, aku akan menyampaikannya kepada suami kita."
"Tidak, aku hanya ingin mengatakan ini kepada mas Zufar."
"Hem, bagaimana kabar mbak?"
__ADS_1
"Aku baik, bagaimana dengan mu?"
"Aku juga, mas Zufar menjagaku dengan baik begitupun sebaliknya. Mbak tidak perlu khawatir, aku akan mengurus suami kita dengan sangat baik."
"Itu bagus, segera telepon kembali setelah mas Zufar pulang ke rumah. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan!"
"Baiklah."
Setelah mengucapkan salam dan memutuskan sambungan telepon, Suci merasa jika perkataan dari adik madunya seakan ingin menunjukkan kedekatan yang romantis, antara suaminya dan istri kedua. Namun, dia hanya bisa berpikir positif mungkin itu hanya bawaan dari sang bayi yang belum lahir, membiarkan hatinya terluka dan mengalah demi bayi di perut Siska.
****
Zufar yang baru keluar dari kamar mandi melihat Siska tengah memegang ponselnya, menatap dengan curiga karena tidak biasanya wanita itu menyentuh barang-barang miliknya. "Lancang sekali kamu menyentuh ponselku!"
Siska memundurkan langkah dan segera mengembalikan ponsel di posisi awal, dia sangat takut jika menyinggung dan membuat kesalahan kecil yang bisa berakibat fatal baginya. "Maaf, aku hanya ingin membersihkan tempat tidur dan tak sengaja melihat ponsel berniat untuk memindahkannya di atas nakas," jelasnya.
"Apa ada yang menelepon?"
"Tidak ada, aku tidak mendengar ponsel itu berdering." Jelas Siska yang berbohong, karena dia tidak ingin istri pertama sang suami kembali ke rumah itu. "Maafkan aku mbak, aku terpaksa melakukan ini karena sangat mencintai suami kita. Ku harap kamu menemukan kebahagiaan dan tidak akan kembali kesini lagi, tidak masalah jika mas Zufar menyiksaku." Batinnya yang tersenyum tipis. Untung saja dia dengan cepat menghapus jejak Suci yang baru saja menelpon.
"Ini untuk terakhir kalinya, jangan masuk ke dalam kamar ini lagi, dan juga jangan menyentuh barang-barang di sini, hanya Suci yang berhak." Tegas Zufar yang mengusir istri keduanya. Dia tidak menyukai keberadaan Siska, hanya menginginkan bayi yang ada di dalam kandungan, itulah yang menyebabkannya menjadi perhatian dan membuat Suci salah paham kepadanya.
__ADS_1