
Zaid begitu ketakutan saat melihat alat-alat yang digunakan oleh dokter ahli khitan, dia menghela nafas dengan berat dan bahkan berkeringat dingin. "Apa kamu yakin dengan ini? Apa tidak ada tempat lain lagi?" ucapnya yang menoleh.
"Apa? Ini tempat satu-satunya yang terbaik di , kota, khusus dewasa yang belum sunat." Bisik Doni begitu serius, di dalam hati dia terkekeh geli, melihat Zaid yang begitu takut.
"Mana ada sunat menggunakan pisau pemotong daging, aku yakin jika pria tua itu tidak akan melihat dengan benar. Bagaimana jika anuku di potong hingga ke tandan-tandan nya? Apa ada jaminan dan juga tanda tangan di atas materai?"
"Heh, kamu takut? Jika begitu, sebaiknya pernikahan ditunda dan aku juga tidak perlu menjadi wali. Mudah bukan?" sahut Doni dengan mengangkat kedua bahunya enteng.
"Hei, mana boleh begitu? Pernikahan akan berlangsung, dan kamu akan menjadi wali Suci."
"Kamu harus sunat hari ini, jika tidak? Pernikahanmu aku tunda."
"Ya, baiklah. Asal tidak menggunakan pisau pemotong daging, dan tampang pria tua itu juga meragukanku. Bagaimana jika dia rabun?"
__ADS_1
Zaid menelan saliva dengan susah payah, berusaha untuk mengontrol ketakutannya.
Doni tersenyum tipis, merasa momen itu begitu lucu baginya. "Hanya tergores sedikit tidak masalah, akibat faktor umur yang membuat anumu keras dan sulit untuk mengelupaskan kulitnya. Itu tidak akan sakit, setelah kamu selesai menjalani dan mendapatkan adikku yang cantik itu."
Zaid pasrah dengan apa yang terjadi pada dirinya, hingga menyisakan suara teriakan memenuhi ruangan. Sedangkan Doni hanya menyumbat kedua telinganya dan lebih memilih mendengarkan musik klasik.
"Istighfar Nak…Istighfar," ucap pria yang menyunat Zaid.
Zaid segera menarik nafas sebisanya dan mengeluarkan dengan kasar. "Istighfar…Istighfar," pekiknya membuat Doni tertawa, dan mendapatkan reward dari calon kakak iparnya.
"Eh, astaghfirullah hal'adzim." Ralat Zaid, dia sangat malu. Namun, suasana tidak mendukung saat bagian sensitifnya akan mencapai tahap akhir.
Beberapa menit kemudian, Zaid menghela nafas saat khitan yang dilakukan olehnya telah selesai, bahkan dia memberikan uang lebih kepada pria itu sebagai tanda terima kasih. Terpaksa jalannya begitu lambat, sebelah tangannya memegang kain sarung. "Kapan penyembuhan ini selesai?" tanyanya yang menoleh ke arah Doni dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Setelah perban nya terlepas, kamu sabarlah."
"Berapa lama?"
"Mana aku tahu, setiap orang berbeda dan kamu juga sunat di waktu dewasa. Mungkin memerlukan waktu sedikit lama," goda Doni yang tersenyum.
Keduanya berjalan masuk menuju mobil, Zaid begitu penasaran bagaimana caranya duduk, mengingat bagian sensitifnya yang terasa perih.
"Wah, akhirnya Tuan sudah sunat. Dasar lemah, terlihat begitu buruk." Ejek asisten Ben yang menunggu di dalam mobil.
"Kau ingin mengejekku? Jika kamu berani, aku akan membayarmu lima kali lipat dari gajimu sebulan, dengan syarat sunat untuk kedua kalinya." Cetus Zaid yang menatap dengan jengkel.
Segera asisten segera menutupi bagian sensitifnya, dan membayangkan rasa ngilu. "Walaupun Tuan membayarku sepuluh kali lipat pun aku tidak sudi, ini masa depan yang harus dilestarikan." Tolaknya membuat Ben menggelengkan kepala.
__ADS_1
Semua orang sudah tau siapa Zaid yang merupakan komandan Simon, angkatan militer Israel. Dia telah mengatakan identitas aslinya, karena tak ingin menikah dengan kebohongan. Umi Kalsum awalnya tidak setuju, tapi karena keteguhan dan kesungguhan hati pria yang mencintai Suci dengan setulus hati membuatnya menyetujui pernikahan ini dengan restu sebagai seorang ibu. Hanya mengenakan sorban saat berhadapan dengan Rasidha.