Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 30 - Hubungan Mirza dan Suci


__ADS_3

Keesokan harinya, Suci memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Mengurangi beban di pundaknya, membeli beberapa alat-alat untuk membuat kue. Berpikir untuk hidup mandiri tanpa bantuan orang lain, menyediakan payung ketika dia sewaktu-waktu dicampakkan oleh sang suami. Untung saja mendapatkan resep saat tinggal bersama Umi Kalsum, ibu angkat yang mengajarinya. 


"Mungkin aku akan melihat pemanggang kue dan pengacaunya, itu bagian penting dari langkah pertamaku." Monolognya seraya melihat yang sesuai di hati. Begitu banyak model dan juga kecanggihan yang berbeda pula, sesuai dengan harga tertera.


Setelah menentukan pilihan, dia segera membayar dan membawa alat-alat untuk bertempur membuat adonan kue, memulai langkah awal dan berharap berjalan dengan lancar. "Semoga saja mas Zufar mengizinkanku untuk membuka toko berbagai macam kue," batinnya yang mempunyai tabungan sendiri dari sisa uang belanja bulanan, tersenyum dengan barang bawaannya. 


Suci berjalan terburu-buru untuk masuk memburu barang yang sudah diincar sejak lama, sebuah mukenah dan sajadah baru. Namun di perjalanan, dia tak sengaja menabrak seseorang hingga barang-barang yang dibawanya. Dengan segera dia memungut barang-barang yang terjatuh di lantai, dan mendongakkan kepala saat menatap seorang pria yang sangat dia kenal. "Mirza?" 


"Wah…suatu kebetulan yang sangat pas. Kita bertemu disini, merupakan suatu kehormatan untukku. Sepertinya kau sangat sibuk!" 


Suci tak menggubris perkataan dari adik iparnya, ingin meninggalkan tempat itu karena keberadaan Mirza membuatnya merasa risih. 

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu menghindar dariku?" tanya Mirza yang menghentikan langkah kakinya, segera menoleh sepersekian detik. 


"Kita hanya masa lalu, dan statusmu sekarang hanyalah adik ipar." 


Ya, mereka dulunya pernah bertunangan tapi dikarenakan pria itu melarikan diri di saat hari H pernikahan, hingga Suci terjebak dengan kakak sang calon tunangan, yaitu Zufar. Perasaan yang sangat sedih kecewa dan juga terluka mencampur menjadi satu, hingga dia memutuskan untuk melupakan segalanya. 


"Aku sangat yakin, kamu masih mencintaiku. Kembalilah!" ungkap Mirza dengan mata sendunya, sangat menyesali perbuatannya dulu. Perasaannya tak lagi berguna saat mantan tunangannya sudah menjadi milik sang kakak yang sudah sah, nasi yang sudah menjadi bubur, begitupun perasaan hati yang tersakiti tak mudah disembuhkan dalam sekejap mata.


Mirza mengusap wajahnya, rasa penyesalan karena sudah melepaskan wanita sebaik Suci demi ambisinya yang belum siap untuk menikah, dan sekarang dia sangat membenci kakaknya yang sebagai hero dalam menyelamatkan sang mantan tunangannya. "Tidak lama lagi, aku akan membongkar kedokmu, mas Zufar." batinnya penuh tekad.


Setelah selesai berbelanja, Suci menyusun barang yang baru saja dibeli di atas meja. Senang dengan awalan yang bagus untuk dirinya, tidak akan mengharapkan hal lebih mengingat sang suami kembali berubah di saat dia tak melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Hanya rongsokan, apa bagusnya membeli itu? Lihatlah, apa yang diberikan oleh mas Zufar untukku!" ucap seseorang yang berniat pamer, dengan sengaja dia memperlihatkan satu set perhiasan yang melekat di tubuhnya. "Apa aku terlihat cantik?" 


Suci tersenyum dan mengangguk. "Benar, kamu sangat cantik dengan perhiasan yang sudah aku pakai satu bulan yang lalu. Jika suka, kamu boleh menyimpannya," balas Suci yang tahu niat wanita itu sangatlah buruk, kepercayaannya pupus saat Siska memfitnah dirinya.


Seketika raut wajah bahagia Siska berubah menjadi tersenyum kecut, merasa perhiasan bagai benda yang menjijikkan setelah menyentuh kulit. "Mbak pasti bohong, mana mungkin mas Zufar memberiku perhiasan yang sudah dipakai olehmu," sergahnya yang membantah.


"Ya, itu perhiasan milikku. Aku banyak menyimpan perhiasan, kamu simpan saja! Pakailah sepuasnya, karena itu hanyalah bekasku. Orang sepertimu sudah sepatutnya mendapatkan bekas, sama seperti mas Zufar yang telah kamu rebut." Suci menatap sang pelakor dengan tatapan menantang, tidak ada rasa takut di hatinya. Wanita itulah yang terlebih dulu mencari perkara, tidak tahu siapa yang sedang dihadapi.


Suci berjalan menuju dapur, membawa barang-barang untuk di tes, membuat adonan kue dan berharap berhasil karena sudah lama tak mempelajari cara yang tepat membuat kue. Lain halnya dengan Siska yang meremas ujung pakaiannya, sangat kesal jika kakak madunya tidak selemah apa yang dipikirkan selama ini. "Darimana dia mendapatkan keberanian?" gumamnya sambil menautkan kedua alisnya, menatap bingung dan juga tak mengerti. 


Siska kembali ke kamarnya, ingin menyelesaikan rutinitasnya untuk menaklukan Zufar menggunakan cara yang tidak masuk logika. "Percuma mengurusinya, lebih baik aku membuat nasi kangkang untuk mas Zufar." batinnya tersenyum smirk, berlalu pergi menuju kamarnya. Mempunyai cara untuk menaklukkan sang suami yang pastinya melupakan istri pertama.

__ADS_1


__ADS_2