Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 41 - Kemarahan yang mereda


__ADS_3

Setelah membeli semua bahan-bahan yang diperlukan, Suci segera pulang ke rumah. Mengingat waktu yang sudah terlambat, yang pastinya akan ditanya oleh suaminya. Di sepanjang perjalanan, dia terus saja mendapatkan pesan singkat dari Zufar, menanyakan dia sudah sampai di mana, dan bersama dengan siapa.


Suci meremas kedua tangannya dengan rasa kegelisahan di hati, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia pulang ke rumah. Ada beberapa kata ancaman di dalam pesan, yang membuatnya sedikit takut. "A-apa mas Zufar akan marah?" begitulah yang dipikirkan olehnya di saat gugup. 


Sesampainya di rumah, Suci melangkahkan kaki masuk ke dalam, melihat dua pasang mata yang tengah memandangnya dengan begitu sengit. "Kamu dari mana saja?" tanya Zufar dingin, sementara Siska tersenyum bahagia.


"Aku membeli bahan-bahan kue, di tengah jalan ada beberapa preman yang mencegatku. Makanya aku sedikit terlambat," jawab Suci yang menundukkan wajahnya.


"Benarkah? Atau menemui pria lain?" selidik Zufar dengan tatapan intimidasi.


"Aku tidak berbohong Mas, karena preman itu aku harus membawa pak supir ke rumah sakit." Jelas Suci.


"Lalu, siapa pria ini? Kamu tersenyum padanya." Zufar memperlihatkan sebuah foto lewat ponselnya, dimana dia mendapatkan foto sang istri yang secara sengaja diberikan oleh Siska. Foto yang diambil dalam keadaan terdesak, hanya melihat punggung Simon dan Suci yang tersenyum. 


Suci melihat foto itu, lalu kemudian mengangguk. "Iya, pertemuanku dan pria itu hanya kebetulan saja. Dia yang menolongku di saat para preman itu ingin melukaiku," jelas Suci yang mengatakan yang sebenarnya. 


"Bagus juga karanganmu," sela Siska yang mulai membuka suara, menatap kakak madunya dengan sinis. "Untung saja ada temanku bekerja di sana, jadi bisa melihat perlakuan kakak maduku di luar. Lalu, apa gunanya hijab itu?" 


"Astaghfirullah, kalian salah paham. Mas, aku juga tidak mengenal pria itu, pertemuan kami tidak di sengaja." Suci berusaha untuk menjelaskan keadaan sebenarnya, mencoba untuk mendapatkan kepercayaan dari suaminya.


"Tidak mengenal? Lalu, mengapa Mbak tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta pada pria berjas itu?" tuding Siska yang melipat kedua tangan di depan dadanya, masih mempertahankan tatapan sinis dan juga meremehkan.

__ADS_1


Suci tidak menghiraukan tudingan itu, dia segera mengejar Zufar yang salah paham padanya. "Mas, jangan seperti ini. Semuanya hanya salah paham saja, kita bicarakan ini baik-baik ya!"


Zufar menghentikan langkahnya, segera menoleh karena rasa cemburu masih menghantuinya. "Apa kamu tidak mengenal pria itu?" tanyanya dengan penuh selidik.


"Tidak Mas, aku tidak kenal. Mas masih marah?" 


Zufar berpikir sejenak, merentangkan kedua tangannya, meraih tubuh sang istri dan memeluknya. "Jangan tinggalkan aku!" lirihnya seraya mengecup kening sang istri.


Suci tersenyum lega, kesalahpahaman akhirnya sudah terselesaikan dengan sangat baik. "Mau aku buatkan kopi?" tawarnya dengan senyuman indah. 


"Hem, seperti biasanya."


"Baiklah, tunggu sebentar." Suci berjalan menuju dapur, ingin membuatkan kopi untuk suaminya. Zufar melihat sang istri yang sudah menjauh, segera mengangkat telepon yang berdering saat melihat nama sang asisten di layar pipih itu.


"Hem, ada apa?" 


"Hanya mengingatkan rapat dengan perusahaan SA Group."


"Katakan!"


"Besok, jam sepuluh pagi. Kita tidak boleh terlambat, karena yang saya dengar, bahwa pimpinan perusahaan itu akan menemui tuan secara langsung."

__ADS_1


"Eh, bukankah perusahaan itu selalu saja di wakilkan asisten nya?" 


"Ya, itu benar. Hanya saja, pimpinan perusahaan SA Group sudah mengambil alih."


"Hem, persiapkan segalanya dengan baik."


"Baik, tuan." 


Setelah selesai menelepon, Zufar melangkahkan kakinya ke ruang kerja. Menyelesaikan pekerjaan dengan sangat baik, sifat yang perfeksionis membuatnya ingin semua pekerjaan berjalan dalam jalurnya.


"Ini kopinya, Mas." Suci tersenyum dan menatap suaminya yang tengah fokus bekerja.


"Terima kasih," Zufar tersenyum dan menyeruput kopinya, kembali bekerja untuk mempersiapkan pertemuannya dengan perusahaan lain.


Sementara Siska sangat kecewa jika perselisihan mereka tak terjadi, malah sebaliknya membuatnya kesal. "Mengapa ini berbanding terbalik? Apa yang harus aku lakukan sekarang, bahkan nasi yang setiap aku sajikan pada mas Zufar juga tidak bekerja. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa cara kotor itu tidak bekerja lagi? Hah, percuma saja aku melakukannya. Meminta bantuan Anton juga percuma, dia hanya meminta imbalan lebih." batinnya segera pergi dari tempat itu. 


Di saat menoleh, dia terkejut mendapati mertua yang tiba-tiba berada di belakangnya. "Mama."


"Apa yang kamu rencanakan kali ini?" ketus Tini yang menatap menantu keduanya dengan menyelidik.


"Tidak ada rencana apapun," elak Siska yang gugup.

__ADS_1


"Benarkah? Lalu, mengapa kamu mengintip mereka? Dasar tak tahu malu, pergi sana!" usir Tini yang segera dipenuhi oleh Siska.


"Wanita tua itu selalu saja menggangguku," batin Siska yang sangat kesal.


__ADS_2