
Zaid sangat kesulitan melakukan apapun sendirian, dia hanya mengandalkan asisten Ben untuk keperluan selama pemulihan. Dia hanya terbaring di ranjang berukuran king size, makan makanan yang sedikit hambar. Ya, dirinya makan ikan gabus sesuai anjuran dari calon ibu mertua. "Astaga…apa tidak ada makanan lain?" keluhnya yang menjauhkan makanan itu darinya, sudah dua hari dia tidak bisa memakan makanan favorit demi pemulihan bekas jahitan di bagian sensitif.
"Mau bagaimana lagi? Tuan harus memakannya atau calon ibu mertuamu akan sedih, dan bisa berpengaruh kepada nona Suci." Asisten Ben membujuk dengan caranya sendiri, yaitu mengelola pikiran rasa takut dari atasannya.
"Kau mengancamku dengan mengatakan hal ini?" kesal Zaid yang menatap sang asisten dengan tajam.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, jika tidak mau makan juga terserah Tuan saja. Tapi, jangan salahkan aku saat masakan nona Suci di kembalikan."
"Masakan Suci?" ujar Zaid yang spontan kembali bersemangat hanya dengan menyebut nama calon istrinya.
__ADS_1
"Tentu saja, masakan penuh cinta dari calon istrimu, Tuan."
"Ya sudah, kemarikan makananku. Aku akan memakannya hingga habis, kau lihat bagaimana aku menghabiskan masakan calon istriku." Zaid segera mengambil dan membaca doa, makan dengan lahap walau terasa hambar di lidah.
Asisten Ben tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, hanya dengan menyebut nama Suci membuat atasannya begitu mendapatkan suntikan semangat. "Heh, dasar." Gumamnya segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Selesai makan, Zaid kembali berbaring di atas ranjangnya. Mau bagaimana lagi? Dirinya tidak bisa melakukan apapun selain berkipas mengobati rasa perih di bagian sensitifnya. Ya, dia sengaja meminta sang asisten untuk menyediakan kipas angin dengan kekuatan angin turbo. "Hah, sungguh menyegarkan." Gumamnya yang begitu lega.
Tibalah saatnya kedua mempelai yang akan menikah sesuai dengan anjuran dalam agama islam. Suci tampak cantik menggunakan kebaya berwarna putih yang juga longgar, tak lupa dengan hijab yang menutupi dadanya. Polesan make up yang melekat membuatnya begitu anggun dan mempesona, sengaja mengadakan pernikahan yang sederhana yang disaksikan oleh beberapa Kyai dan juga Gus.
__ADS_1
Sementara Zaid masih menutupi sebagian wajahnya dengan aksesoris, dia tidak ingin jika Rasyidha mengetahui wajah aslinya, dan akan menutup rapat rahasia yang tidak ingin dia keluarkan. Pastinya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya, dan menanggung semuanya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Semua orang tampak antusias dan juga bersemangat, mendukung pernikahan dari dua orang yang menjalin cinta karena Allah subhanallah ta'ala, yang disaksikan oleh beberapa orang penting dan tak lupa dengan wali nikah Suci yaitu Doni selaku kakak kandung.
Suasana begitu hikmat dan penuh haru, di saat Zaid mengucapkan ijab Kabul dengan satu tarikan nafas tanpa ada keraguan yang mengganggu. Hal itu membuat semua orang tampak gembira l, dan juga menyatakan jika pernikahan itu telah sah di mata agama dan tentunya di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.
Suci meneteskan air matanya di saat dirinya mencium telapak tangan sang suami, sementara Zain juga meneteskan air mata merasa beban rumah tangga yang akan dipikul bersama, dengan menyentuh ubun-ubun dan juga berdoa untuk pernikahan mereka.
"Ya Allah ya Rohman, jadikan hamba istri yang sholehah. Jadikanlah keluarga hamba sakinah mawaddah dan warohmah. Amin… ya robbal alamin," batin suci yang berdoa untuk keselamatan rumah tangganya.
__ADS_1
Suasana yang penuh haru begitu membahagiakan bagi sepasang suami istri yang baru sah, tidak ada yang tahu mengenai jodoh dan juga tidak bisa menghindarinya. Kini Suci akan memulai awal kehidupannya yang baru dan akan menjadi Ibu dari Putri angkatnya Rasyidha, menjadi istri dari mantan komandan militer Israel.
...Tamat...