
Kabar kecelakaan sampai ke telinga Zaid yang berada di pesantren, dengan terpaksa dia pergi dan ingin mengecek keadaan dari wanita pujaan hatinya. Perasaan yang tidak tenang selalu saja menyelimuti hatinya, bergemuruh di saat dirinya mendengar kabar yang kurang mengenakan.
****
Rasidha terus melantunkan ayat suci Al-Quran dengan khidmat, hal itu dilihat oleh asisten Doni dan juga Nadia. Mereka saling berpandangan, melihat seorang gadis kecil pintar membaca kitab umat muslim di seluruh dunia. Mereka sangat malu dengan diri sendiri, selalu mengejar dunia dan melupakan urusan akhirat yang pasti akan ditempuh.
"Maaf, apa kamu keluarga Suci? Misal sepupu atau kakaknya?" ucapan dari Nadia memecahkan suasana hening di antara mereka.
Asisten Doni menoleh ke sumber suara. "Bukan, aku hanyalah bawahannya saja."
"Sayang sekali, aku pikir kamu adalah keluarganya, apalagi wajah kalian sangat mirip."
"Benarkah?"
"Hem, bahkan golongan darah kalian sama. Apa itu suatu hal yang hanya kebetulan saja?"
"Apa maksudmu?" asisten Doni menautkan kedua alisnya.
"Kau pasti tahu dengan apa yang aku katakan." Nadia kembali terdiam dan tidak ingin bicara panjang lebar, karena dirinya hanya fokus pada anak asuh dan juga wanita yang menyelamatkannya.
Asisten Doni beranjak dari duduknya, namun tak sengaja dia melihat ada tahi lalat besar di siku Suci. "Aku harus pergi!" ucapnya yang bergegas dengan pergi.
Selepas kepergian asisten Doni, masuklah seorang pria bermata biru yang ingin mengecek kondisi.
"Ayah," Rasidha segera memeluk pria yang menutupi wajahnya dengan sorban, seakan mendapatkan semangat.
Zaid melihat kondisi Suci, dan membalas pelukan dari putrinya. "Apa Rasidha tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Aku baik, ibu yang menolong kami. Jika ibu Suci tidak ada? Mungkin akulah yang berada di sana," jawab Rasidha dengan polos.
Zaid tak sanggup melihat wanita yang dia cintai terkapar tak berdaya di atas brankar rumah sakit, beberapa alat yang melekat ditubuh Suci membuatnya lemah.
Nadia menghampiri majikannya. "Masa kritis yang dialami Suci sudah lewat dan berkat asisten Doni yang mendonorkan darahnya." Jelasnya.
Zaid menganggukkan kepala, hati sesuci salju yang dimiliki oleh Suci sangatlah mengesankan. "Tunggulah disini dan jaga Rasidha!" titahnya.
"Tuan mau kemana?" Nadia berusaha untuk mencegah pria bermata biru itu tidak pergi.
"Menyelesaikan yang seharusnya aku selesaikan," jawabnya tanpa menoleh dan melangkah keluar dari bangsal.
Zaid meraih ponsel yang ada di saku dan melihat beberapa panggilan tak terjawab dari asistennya. Dia kembali menghubungi asisten Ben dan ingin mengetahui kabar terbaru dari tersangka.
"Assalamu'alaikum, bagaimana kabar selanjutnya?"
"Mereka dipastikan telah meninggal dunia, mobil mereka masuk kedalam jurang yang cukup terjal."
Zaid segera memutuskan sambungan telepon, dia ingin kembali menunggu kesadaran dari Suci yang belum sadarkan diri.
Dua hari kemudian, Zaid masih setia menemani Suci yang terbaring di atas brankar dan ditemani oleh Rasidha juga Nadia. "Aku harus pergi, kalian di sini dulu. Kabari aku jika terjadi sesuatu!" ucapnya yang segera pergi, ingin menemui asisten Doni yang telah berjasa dalam penyelamatan.
Zaid mencoba untuk mencari keberadaan asisten Doni yang tidak pernah datang setelah mendonorkan darah, mencoba untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan dari pria itu. Bahkan dia sudah mencari ke apartemen, dan juga tidak ditemukan. "Kenapa dia seakan menghilang?" gumamnya di dalam mobil dan kembali.
"Assalamu'alaikum, tuan."
"Wa'alaikumsalam, apa kamu menemukannya?"
__ADS_1
"Tidak, tuan. Tapi aku mendapatkan informasi, jika asisten Doni berada di Kairo."
"Kairo?"
"Benar, tuan."
"Kirimkan alamatnya padaku!"
"Baik, tuan."
Sementara di negara lain, seorang pria memantapkan tekadnya. Mengetuk pintu dan mengucapkan salam, berharap jika lokasi yang dicari itu benar.
Terlihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan kerudung yang mencapai pinggang, menatap dengan mengerutkan kening, dan tidak tahu dan tidak mengenal siapa pria yang ada di hadapan nya.
"Wa'alaikumsalam, maaf anda mau cari siapa?" "tutur wanita paruh baya yang masih saja meneliti setiap inci dari wajah pria yang ada di hadapannya.
"Ada yang ingin saya bicarakan, dan suatu hal yang sangat penting." Ucap asisten Doni dengan penuh kesungguhan.
"Baiklah, silahkan masuk. "
Asisten Doni segera berjalan masuk ke dalam rumah yang terlihat sederhana, namun sangat nyaman jika ditempati. Wanita paruh baya itu mempersilahkan asisten Doni untuk masuk ke dalam rumah dengan raut wajahnya yang masih penasaran, karena tak mengenal pria itu. "Apa maksud dan tujuanmu untuk datang ke rumahku?"
"Begini, aku bernama Doni dan berasal dari Indonesia, mendapatkan kabar jika ini kediaman dari Umi Kalsum. Apa itu benar?"
"Ya, akulah orangnya."
"Syukurlah jika aku menemukan alamat yang benar, ada hal yang ingin aku tanyakan dan ini menyangkut dengan putrimu yang bernama Suci Az-Zahra." Jelasnya antusias.
__ADS_1