Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 49 - Penyesalan Zufar


__ADS_3

Zufar sangat khawatir dengan apa yang menimpa istrinya, menggendong tubuh lemah itu untuk masuk ke dalam mobil. Dia segera membawanya menuju rumah sakit terdekat, situasi yang darurat membuatnya sangat panik, terlihat jelas di wajahnya. "Bertahanlah sebentar, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." Lirihnya yang melajukan mobil dalam kecepatan tinggi, tidak memperhatikan lampu lalu lintas. 


Suci belum sadarkan diri, hal itu membuat Zufar tak bisa berpikir jernih. Padatnya jalanan tak menyusut semangatnya, agar sampai ke rumah sakit dan segera menangani sang istri. 


Tak butuh waktu lama, mobil berhenti di depan rumah sakit. Segera menggendong tubuh lemah itu dan hendak berlari untuk mendapatkan penanganan dokter. "Bertahanlah!" tuturnya yang menyemangati dirinya sendiri. Tatapannya tak sengaja mengarah pada kaki sang istri, sangat panik adanya darah yang mengalir. 


"Dokter…suster, dimana kalian!" pekik Zufar yang celingukan sembari membawa tubuh istrinya, dia sangat marah dengan kerja staf yang bekerja di rumah sakit itu. "Dokter…suster! Selamatkan istriku!" teriaknya yang mengundang seluruh perhatian.


Dari kejauhan, terlihat satu dokter perempuan dan dua suster. Mereka berlari menuju asal suara dan membawa brankar, sangat panik karena Zufar hampir membuat keributan. "Mengapa kalian lama sekali, hah?" 


"Jangan khawatir, kami akan menanganinya." Jawab sang dokter menyeret brankar menuju bangsal. 


Zufar ikut membantu untuk menyeret bangsal, tapi langkahnya ditahan oleh salah satu suster yang hendak menutup pintu. "Silahkan anda tunggu diluar!"


"Tapi Sus, saya ingin masuk ke dalam dan menemani Suci," tolak Zufar bersikeras untuk tetap masuk.


"Tolonglah, jangan menghalangi pekerjaan kami. Tunggulah di luar." Suster segera menutup pintu membuat Zufar memilih duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Semua karena wanita itu, apa bayinya selamat?" monolognya yang sangat menyesal karena tidak bisa menerima anak yang ada di dalam kandungan sang istri, dan menyadari telah menyakiti hati istrinya. 


Dokter belum keluar dari ruangan, Zufar terus mondar-mandir menunggu kabar dari dokter yang menangani istrinya. Terlihat Tini yang datang bersama dengan Mirza, mendapatkan informasi dari asisten Doni. Mereka berjalan dengan cepat, menghampiri pria yang terlihat seperti benang kusut. 


Zufar segera memeluk ibunya dan menangis, memikirkan nasib kondisi sang istri dan juga penyesalan akibat menginginkan bayi laki-laki, karena di saat itu, dia tidak tahu jika Siska hanya berpura-pura hamil. Bahkan keinginan untuk mempunyai anak laki-laki telah sirna di saat terbongkarnya kebusukan istri keduanya yang sudah menjadi mantan istri, mendekam di penjara. 


"Apa Suci terluka?" tanya Tini yang menatap Zufar dengan sedih.


Zufar menganggukkan kepala, dia sangat menyesal dengan kesalahan yang telah diperbuatnya, begitu terobsesi akan anak laki-laki dan tidak ingin hartanya jatuh pada Siska yang ternyata memalsukan kehamilan. 


Bugh


Mirza langsung membogem wajah sang kakak, sorot mata penuh amarah. Dia juga sangat menyesal telah kabur di saat hari H pernikahan bersama dengan seorang wanita yang menjadi kakak iparnya. Tapi, melihat perlakuan kakaknya yang mempunyai emosi tidak stabil tak segan-segan melayangkan pukulan hingga meninggalkan bekas. Sedangkan Tini berteriak karena terkejut dengan kedua putranya kembali bertengkar. 


"Dasar laki-laki pengecut! Hidupmu tidak berguna sama sekali, menyakiti Suci terus menerus. Apa kamu menyesal sekarang, hah?" Mirza meraih kerah leher sang kakak, mencengkramnya dengan erat. Tatapan penuh kemarahan melihat sang kakak yang tidak bisa memahami apapun.


Zufar sangat kesal dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Mirza. "Apa sebutan laki-laki yang melarikan diri dari pernikahannya sendiri?" balasnya sembari melepaskan cengkraman itu, menatap sang adik dengan sengit.

__ADS_1


"Sudah cukup! Kalian berdua sama saja, Suci masih ditangani dokter dan kalian malah bertengkar." Bentak Tini, sangat pusing dengan kedua anaknya yang tidak pernah akur. 


Keduanya terdiam dan hanyut dalam penyesalan masing-masing, terutama Zufar yang sangat sedih. mengingat noda darah di sela kaki sang istri, hanya bisa mendoakan yang terbaik.


Tak lama pintu terbuka, seorang wanita mengenakan jas putih keluar setelah menangani pasien. "Bagaimana kondisi istriku, Dok?" desak Zufar yang menatap wanita itu dengan penuh harap.


Dokter menghela nafas, menatap tiga orang di dekatnya secara bergantian. "Apa anda suaminya?"


"Iya, saya suaminya. Bagaimana kondisi Suci?"


"Pasien baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Bagaimana dengan anakku?" 


"Maaf, kami sudah berusaha. Tapi kehamilan dari pasien tak bisa ditolong, pasien keguguran di perjalanan menuju ke rumah sakit. Janin itu sudah di kuret!"


Bagai tersambar petir di siang bolong, Zufar memundurkan langkah karena sangat terkejut dengan calon anak yang tidak selamat. Bulir bening membasahi pipi, di saat penyesalan semakin bertambah. "Aku bukan suami dan ayah yang baik," tangisnya dalam keadaan rapuh.

__ADS_1


__ADS_2