Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 57 - Amanah Zufar


__ADS_3

Simon sangat kesal dan segera berdiri dari duduknya, menghampiri pria yang telah mengejeknya sembari memelintir tangan Mirza dengan erat, membuat sang empunya meringis dan memberontak.


"Lepas, atau kamu akan celaka!" ancam Mirza yang masih dalam keadaan terpuruk.


"Aku tidak takut pada siapapun, jangan mencoba untuk mengancamku." Tegas Simon yang segera melepaskan cengkraman dan sedikit mendorong pria itu.


Suci tak mengerti dengan dua orang yang baru saja bertemu malah mengibarkan bendera perang, suasana hatinya yang masih sedih atas kondisi Zufar begitu membuatnya terpuruk dan tidak terpengaruh. Memutuskan untuk pergi meninggalkan dua orang yang sedang bertikai. "Hah, mereka hanya menambah kesedihanku." Batinnya yang kembali menuju bangsal tempat suaminya di rawat.


"Apa masalahmu sebenarnya?" tegas Mirza.


"Aku? Bukankah permasalahan itu berasal darimu?" tuduh Simon yang membalikkan keadaan, semakin memelintir tangan rivalnya.


Mirza tak menggubris perkataan dari pria bermata biru, saat kedua mata tak melihat keberadaan Suci. "Dimana Suci?" ucapnya pelan yang pelan masih terdengar oleh pria di sebelahnya. Simon juga celingukan mencari keberadaan wanita pujaan yang tidak ada di tempat, segera menyelesaikan pertikaian mereka dan memutuskan untuk mencari. 


Suci segera melihat kondisi suaminya dari balik kaca yang tembus pandang, begitu banyak alat medis yang menempel di tubuh Zufar. Betapa menyakitkan jika hal itu dia rasakan, menyembunyikan sakit dari orang-orang tercinta. "Aku akan merawatmu hingga sembuh Mas, berjuang sekuat tenaga agar kita bisa bersama." Batinnya tersenyum di hati yang terluka dalam.


****


Beberapa hari kemudian, Zufar di perbolehkan pulang, namun tetap dipantau oleh beberapa tim medis mengecek setiap hari keadaan. Dia bahkan sudah kembali bekerja, bangkit dari rasa sakit yang diderita. 

__ADS_1


"Apa Mas lupa apa yang disarankan dokter? Jangan bekerja di situasi seperti ini," ungkap Suci yang memperingatkan suaminya.


Zufar tersenyum saat melihat istrinya, merindukan perkataan wanita itu yang memperlakukan nya layaknya anak kecil. Kini pria yang berkepala plontos sudah menerima apa yang terjadi, menjalani dengan segenap hati. "Obat lagi?" keluhnya sudah bosan dengan rasa pahit.


Suci menganggukkan kepala, menghampiri suaminya sembari menutup laptop. "Aku hanya ingin Mas sembuh, minumlah!" dia menyerahkan beberapa butir tablet dan juga pil, memastikan jika Zufar minum dan menelan semua obat.


Zufar segera menerima obat dan meminumnya setelah makan sesuap nasi khusus. "Apa kamu sudah puas?" 


"Sangat puas," sambung Suci tersenyum senang.


"Obat tidak akan membantuku, jangan memberikannya lagi. Aku hanya ingin hidup normal walau hidupku tidak sampai enam bulan." Ungkap Zufar yang sudah bosan, bahkan hampir mual di saat obat-obatan hampir setiap saat masuk ke dalam perut.


"Aku tidak ingin mati dalam perawatan tim medis, tapi di sampingmu." Jelas Zufar yang mencoba mengatakan keinginannya.


Suci segera menyeka air matanya, menguatkan diri menghadapi Zufar yang tidak bersemangat dengan pengobatan dan juga kemoterapi yang sangatlah menyakitkan. "Lalu, apa jadinya aku jika Mas tidak ada di sampingku lagi?" 


Zufar membelai lembut rambut istrinya, menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam kamar. "Bagaimana dengan toko kue mu? Selama aku sakit, kamu tidak lagi mengunjunginya." Tuturnya yang menghindari pertanyaan dengan pertanyaan lain.


"Alhamdulillah, toko kue nya berjalan dengan lancar."

__ADS_1


"Hem, itu bagus. Maaf, atas kesalahan yang aku perbuat." Ucap Zufar dengan tulus, tatapan sendu yang membuktikan segalanya. 


"Aku selalu memaafkanmu, Mas."


Zufar memeluk istrinya, mengecup kening dengan sangat lembut. Pelukan yang hanya terjadi beberapa detik saja dan kemudian terlepas, dia memegang kedua pundak Suci dan saling berkontak mata. "Karena aku yang banyak menuntut, malah membuat kita kehilangan. Tidak adanya penerus membuatku tak tenang, aku ingin kamu menjalankan perusahaan!" titahnya.


"Mas, aku tidak mengerti urusan kantor." Protes Suci yang tak ingin bertanggung jawab, membebani diri yang bisa melenceng dari prinsip. 


"Aku ada disini, cepat atau lambat kamu yang akan meneruskan perusahaanku."


"Baiklah, tapi aku ingin Mas menjalankan pengobatan."


"Tidak, aku sudah puas dan tak ingin kembali ke tempat penyiksaan. Aku sudah mengatakan kepada asisten Doni, kamu bisa mempercayai kaki tanganku itu. Jika terjadi masalah kesulitan, kamu bisa menanyakannya. Aku mempercayainya, jangan ragukan niat tulus." Jelas Zufar. 


Suci terdiam, mendapatkan tanggung jawab dan amanah sangatlah menyulitkan. "Aku tidak yakin dengan itu, tapi mengapa kamu memberiku tanggung jawab sebesar itu?" 


"Hanya ingin saja," sahutnya enteng.


Tidak bisa pilihan kedua, memaksanya untuk menerima. "Aku tidak mengerti apa yang Mas katakan, istirahatlah!"

__ADS_1


"Hem." Zufar melihat Suci yang sudah keluar dari kamar, segera dia meraih ponsel dan menghubungi seseorang.


__ADS_2