Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 85 - Apakah ini waktunya?


__ADS_3

Setelah selesai dengan pekerjaan kantor, Suci hendak pulang dan menunggu jemputan. Sabar jika sang sopir yang masih berada di jalan. Satu persatu orang yang ada di kantor mulai pergi dari tempat itu, menciptakan kesunyian. Kesabaran yang kian menipis,  jemputannya belum juga sampai, melirik jam di layar ponselnya yang sudah hampir senja dan sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib. Dia kembali menelepon pak supir, memastikan pria paruh baya yang menjadi supirnya dalam keadaan baik-baik saja. Kecemasannya semakin bertambah, suasana yang mulai gelap dan juga sepi. Hal itu membuat nya sedikit khawatir, mengingat jalanan mulai lengang. 


"Sebaiknya aku memesan taksi," menolognya seraya memesan taksi online, dan sesekali melirik suasana di sekitar yang tampak sunyi. Hanya dirinya yang berada di sana, kembali menghubungi supir dengan mengirimkan pesan singkat. 


Namun, sebelum hal itu dia lakukan. Dia melihat sebuah taksi yang melintas, dengan cepat dia mencegatnya dan masuk ke dalam tanpa rasa curiga. "Antar saya di alamat ini!" ucap Suci yang memperlihatkan alamat yang ada di ponselnya.


"Baik," sahut sang supir sembari membenarkan posisi topinya, tersenyum tipis terukir di wajahnya.


Suci bisa bernafas dengan lega, mengingat dirinya yang akan segera sampai pulang ke rumah. Berdoa di dalam hati agar dirinya selamat sampai tujuan, tak ingin terlalu lama berada di dalam taksi. Menikmati perjalanan, jalanan yang tampak sunyi dan juga sepi. Tak lupa dia membaca ayat kursi dan juga berdzikir, namun hatinya merasa gelisah. Kembali melihat jalanan yang tampak asing, mengingat dirinya pernah dijebak oleh supirnya sedikit menimbulkan kecurigaan pada orang yang tengah mengemudikan taksi. 


"Maaf, ini bukan jalannya. Kenapa anda membawaku kesini?" tanya Suci yang menyebut nama Tuhannya agar dirinya bisa selamat, tak tahu motif apa yang digunakan oleh orang itu. "Aku tidak ingin kesini, anda salah alamat."


Tiba-tiba mobil berhenti secara mendadak, membuat Suci kaget dan menatap pria yang ada di depan. "Saya tidak salah alamat," keukeuh sang supir yang menoleh, pria itu menyeringai. 


"Siapa kamu? Apa kesalahanku padamu? Mengapa kamu membawaku kesini?" begitu banyak pertanyaan yang diajukan oleh Suci, masih shock dengan pria yang tak dikenali tersenyum jahat. Dia menatap pria asing dengan raut wajah ketakutan, karena pria itu menodongkan pistol kecil sebagai alat untuk mengancam. 

__ADS_1


"Jika kamu tidak ikut dengan ku, maka timah di dalam pistol ini akan bersarang di kepalamu. Serahkan ponselmu padaku!"


Tanpa menunggu waktu lagi, Suci memberikan ponselnya. Ancaman dari pria itu membuatnya sangat ketakutan dan juga berkeringat dingin. "Siapa kamu sebenarnya? Ada perkara apa kamu menculikku?" 


"Nama tidaklah penting, mau tidak mau kamu harus ikut denganku. Jika ingin selamat, maka ikuti perkataanku." Sarkas pria itu dengan sinis. 


Suci hanya terdiam dan tak bisa berkutik, bagai sebuah manekin. "Apa kesalahanku padamu?" tanyanya yang berusaha mengontrol rasa takut, bersikap dengan tenang di kala hati masih berdzikir. 


Pria itu menoleh dan menatap Suci dengan tajam, mengeluarkan sebotol minuman alkohol dan meminumnya di hadapan wanita berhijab. Menghabiskan alkohol membuat pikirannya begitu tenang, tertawa jahat membuat siapa saja merinding.


"Tahu apa kamu mengenaiku, hah?" 


"Aku tidak tahu niatmu, sebaiknya kamu melepaskanku."


"Ck, tidak semudah itu." Pria meletakkan minuman yang memabukkan itu dan menodongkan pistol di kening Suci. "Aku ingin melihat dan mendengar jawabanmu, buka kain yang menutupi kepalamu atau aku akan menembakmu!" ancam pria itu.

__ADS_1


Suci menelan saliva, dia tidak ingin jika harga diri dari wanita muslimah di injak-injak oleh seorang pria. "Lebih baik aku mati, dibandingkan harus membuka hijab ini."


Pria itu menarik pelatuk membuat Suci tetap tenang. "Apa kamu yakin?"


"Aku berjuang di jalan tuhanku, jangan merusak apa yang sudah diperintahkan, walau aku harus membayarnya dengan mahal."


"Sepertinya kamu sudah siap ke alam baka."


Suci hanya terdiam dan tak menjawab, tapi hatinya terus saja berdzikir dengan khusuk. 


"Baiklah, aku menerima pilihanmu." 


Suci tersenyum dengan tenang. "Aku tidak takut dengan ancamanmu, jika ajalku sudah tiba dan harus menerima dengan sepenuh hati." Setelah menyelesaikan dzikirnya, dia segera memejamkan kedua matanya. Sudah siap jika peluru akan menembus otak dan menyebabkan kematian. Dia tidak ingin berburuk sangka kepada allah subhanahu wa ta'ala dan menyerahkan hidup dan mati kepada sang khalik. 


"Aku akan mengabulkannya," ucap pria itu yang terlihat senang, hanya karena mempertahankan sebuah kain yang menutupi kepala, membuat wanita itu rela mati di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2