Tolong Lepaskan Aku

Tolong Lepaskan Aku
Bab 76 - Memutuskan ke kantor


__ADS_3

Di pagi harinya, Suci telah bersiap-siap dengan segala kebutuhan mereka, yang akan pergi ke toko roti. Tpi sebelum itu, mereka sarapan bersama dan menciptakan suasana hangat di pagi yang cukup cerah. 


Tini melihat Melati yang mengenakan kerudung syar'i, dia tersenyum melihat wanita itu yang menjadi teman dari menantunya. "Aku senang dengan keberadaanmu, terima kasih sudah mau menjadi teman dari menantuku, inilah keadaan yang ada." Tuturnyayang membicarakan mengenai keadaan yang ditimpa oleh Suci.


Melati hanya menganggukkan kepala dengan pelan, dia tidak ingin merusak hari dari Suci dengan membahas kejadian masa lalu. 


Setelah selesai sarapan pagi, kedua wanita yang mantap berhijab itu segera pergi menuju toko roti. Di mana semangat Melati yang ingin dan sudah tidak sabar mengelola tempat itu. "Sepertinya aku tidak pantas untuk mengelola dalam bisnis ini," ucapnya saat di perjalanan.


"Aku mempercayaimu sepenuh hati, berusahalah untuk mempelajari segalanya." Suci tersenyum dan kemudian kembali mengarahkan pandangan di luar jendela, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya terasa sangat sejuk. Sedangkan Melati juga membalas dengan senyuman dan lebih menatap lurus ke depan, memperhatikan jalan dan juga beberapa gedung yang mereka lewati.


Tak butuh waktu lama hingga mereka sampai, Suci segera membuka pintu mobil, tapi sebelum itu dia mengatakan jika mereka sudah berada di toko roti. Keduanya turun dan berjalan berdampingan masuk ke dalam toko roti yang disambut oleh beberapa karyawan perempuan yang berhijab menyambut sang atasan dengan antusias. 


Melati sangat terkesan dengan posisi yang dimiliki oleh sahabatnya itu tidak tanggung-tanggung. 


"Perkenalkan, ini adalah Melati yang akan menjadi bos kalian nantinya, karena saya tidak bisa mengurus usaha sendirian dan harus bekerja di kantor. Jika terjadi masalah atau apapun, itu kalian bisa mengatakan langsung kepada sahabatku. Jangan sungkan untuk bertanya, dan juga jika dia membuat kesalahan tolong ditegur, begitupun sebaliknya," jelas Suci yang dibalas dengan anggukan kepala oleh beberapa karyawan wanita yang putus sekolah.


"Apa itu artinya ibu Suci tidak akan mengunjungi kami lagi?" ucap salah satu karyawan yang terlihat sedih, tidak ingin berpisah dengan wanita secantik dan sebaik atasannya itu.

__ADS_1


"Aku memang membebankan toko ini kepada sahabatku, bukan berarti aku melepas segalanya. Sesekali aku akan memantau, jika mempunyai waktu luang." Jawab Suci yang tersenyum dan melirik sahabatnya.


Usai perkenalan selesai, Suci membawa Melati menuju dapur, dan memberikan beberapa konsep yang dia miliki Dan juga bagaimana cara membuat adonan kue dan roti. Dibantu oleh beberapa orang wanita dalam pembuatan adonan yang nantinya mempunyai nilai yang tinggi. 


"Aku sudah mengajarimu, tapi tak bisa berlama-lama karena aku harus ke kantor." Suci melirik jam di tangannya, merasa terdesak dengan waktu yang harus dikejar.


"Eh, katanya kamu ingin mengajariku dua atau tiga hari ke depan. Tapi baru sehari, dan malah pergi ke kantor itu tidak adil untukku!" keluh melati yang menggoda sahabatnya.


"Ya, tadinya begitu, tapi aku tidak bisa meninggalkan amanah suamiku. Kamu bisa menanyakan di saat terasa kesulitan, aku akan membantumu nanti, Ada banyak hal yang harus aku urus bersama dengan asisten Doni." Jelas suci yang mengungkap segalanya.


"Hem, jika itu sudah menjadi keputusanmu, jangan salahkan aku jika teleponmu selalu saja berdering menanyakan ini dan itu."


"Hati-hati, telepon aku jika kamu sudah sampai di kantor."


"Tentu saja, aku akan mengirimkan pesan singkat nantinya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Balas Melati yang tersenyum, melambaikan tangan di saat mengiringi kepergian sahabatnya.

__ADS_1


Suci sudah memikirkan tanpa mengingat waktu yang dia minta sebelumnya, karena menjalankan perusahaan membutuhkan waktu dalam memahami segalanya. Dia tidak bisa menunda lebih lama, lagi mengingat perusahaan Mitra group membutuhkan seorang pemimpin. Dia mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dibawanya menghubungi seseorang yang sudah tercantum di daftar kontak. 


"Halo, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, ada apa menghubungiku?" 


"Begini, aku telah memutuskan segalanya dan menimbang jika perkataanmu itu benar. Aku ingin menjalankan bisnis suamiku, dan memintamu untuk mengajariku sebagai guru yang juga asisten."


"Aku senang mendengarnya,bkapan kamu akan mulai bekerja?"


"Hari ini, aku sekarang berada di jalan menuju kantor. Tapi aku sedikit gugup, karena tidak terlalu memahami bisnis yang dijalani oleh mas Zufar."


"Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, akulah yang akan menjadi gurumu nantinya."


"Hem, aku tutup dulu teleponnya."


Suci kembali meletakkan ponselnya di tas kecil, menghela nafas dengan panjang dan mulai berkonsentrasi dengan rutinitas barunya. "Semoga aku bisa menjalaninya ya Allah, bimbing aku ke arah yang benar." Batinnya yang ikut terhanyut dalam arus kehidupan.

__ADS_1


Mobil berhenti tepat di hadapan gedung yang menjulang tinggi ke atas, Suci tercengang melihat tempat sang suami mencari nafkah. "Ini awal yang akan aku mulai," gumamnya sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam. Beberapa orang karyawan yang sudah menunggu kedatangan istri dari mendiang bos mereka, yang akan menggantikan posisi menunduk hormat dan memberikan sambutan selayaknya.


__ADS_2